javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
Merry Chrismast and Happy New Year 2018

cari di blog ini

Jumat, 05 Agustus 2011

Tol Semarang-Ungaran Beroperasi Jelang Arus Mudik 2011

ilustrasi : akses 1 (bukit ceper) akses keluar ungaran
JAKARTA (IFT) - Ruas tol Semarang-Ungaran siap diope­rasikan menjelang Lebaran tahun ini sehingga kemacetan akibat meningkatnya jumlah kendaraan pada masa arus mudik di jalur tersebut dapat diminimalisasi. Namun, ruas tol sepanjang 14,1 ki­lometer itu baru bisa dilewati oleh kendaraan kecil.

Djoko Murjanto, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, menjelaskan sejak amblas ruas jalan di STA Km 5500-5700 Gedawang, pada April lalu, sejumlah pekerjaan konstruksi sudah dilakukan un­tuk mengatasi patahan dan long­­soran, seperti pemasangan borepile.

“Persoalan longsor dan patah­an sudah dideteksi oleh Direktorat Bina Tekni Kementerian Pe­kerjaan Umum. Pekerjaan kon­struksi untuk mengatasi itu juga sudah dilakukan dengan pemasangan borepile. Sehingga ruas sudah memungkinkan un­tuk dilewati, walaupun baru kendaraan kecil,” ujar Djoko, di Jakarta, Kamis.

Meskipun sudah ada alternatif jalan tol tersebut, Djoko pengguna jalan masih akan menemui ke­macetan ketika keluar di pintu tol Ungaran yang langsung mengarah ke jalan nasional.

Ruas Tol Semarang-Ungaran adalah seksi pertama dari rencana pembangunan tol Semarang-Solo yang terdiri dari lima seksi. Panjang keseluruhan ruas tol mencapai 75,7 kilometer dengan nilai investasi Rp8 triliun.

Adityawarman, Direktur Operasi PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mengakui seksi pertama dari proyek jalan tol Semarang-So­lo itu memiliki medan yang paling berat jika dibandingkan dengan keempat seksi lainnya. Pasalnya, lokasi ruas tersebut memiliki medan yang berbukit-bukit dengan lembah curam di kedalaman sekitar 50 meter dan rawan longsor.

Jalur tol Semarang-Ungaran sen­diri diperkirakan dapat me­nampung kapasitas sebanyak 23 ribu-27 ribu kendaraan setiap harinya. Sementara ruas Semarang-Solo sekitar 32 ribu ken­daraan setiap hari. De­ngan adanya ruas tersebut, rute Semarang-Solo dapat ditem­puh hanya dengan satu jam per­jalanan.

“Kalau melalui jalan nasional butuh waktu tiga jam. Belum lagi ditambah kepadatan lalu lintas. Jalan tol ini dapat mempercepat waktu perjalanan hingga satu jam. Sehingga distribusi barang, terutama kebutuhan pokok se­hari-hari bisa dipercepat,” imbuh Adityawarman.

Pembangunan ruas tol yang dimulai sejak 2009 lalu itu juga dinilai memiliki fungsi stra­tegis sebagai penghubung Sema­rang dengan kawasan industri Ungaran, Jawa Tengah, serta dapat meningkatkan pertumbuhan eko­nomi provinsi tersebut dan dae­rah sekitarnya.

Ruas tol Semarang-Ungaran sebelumnya ditargetkan selesai pada April 2011 dan dapat mulai dioperasikan setelah Badan Pengatur Jalan Tol menuntaskan uji kelaikan terhadap ruas itu.

“Namun hingga kini belum dihitung tarif untuk ruas tersebut,” kata Ahmad Ghani Gazali, Ketua Badan Pengatur Jalan Tol.

Djoko menambahkan, jalur mudik Lebaran dari Sumatera hingga Jawa sudah fungsional 100% walaupun jalan belum sepenuhnya dalam kondisi man­tap. Panjang ruas utama yang dilalui pemudik sekitar 13 ribu kilometer dan sekitar lima ribu kilometer masih dilakukan pe­kerjaan perbaikan. “Jalur Le­baran bisa dilalui dengan aman dan nyaman,” katanya.

Menurut dia, tujuan utama pe­mudik yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, Banten, Jawa Barat dan Jakarta adalah ke wilayah Jawa Tengah dan Ja­­wa Timur. Untuk wilayah Jawa, paling krusial adalah da­ri Jakarta, Cirebon sampai Se­marang. Setelah semarang arus lalu lintas pe­mudik akan terpecah.

“Kepadatan juga terjadi di pintu keluar Tol Kanci. Untuk menangani kepadatan, kami ber­koordinasi dengan kepolisian.”(*) 
sumber :