javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
INFO : REUNI AKBAR SMP N 2 SIMO BOYOLALI 2017 BULAN DESEMBER 2017....AYOO BERGABUNG (Info&Pendaftaran : 085727059929)

cari di blog ini

Kamis, 31 Mei 2012

Bukit di Sekitar Retakan Dikepras Lagi

  • Tol Semarang-Ungaran
SEMARANG- PT Trans Marga Jateng (TMJ) akan mengeruk lagi bukit di dekat pilar jembatan tol Semarang-Ungaran di Penggaron, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Pengeprasan itu untuk mengurangi daya dorong jika terjadi pergerakan tanah. Hal ini diungkapkan penasihat PT TMJ Muhrozi di hadapan anggota Komisi D DPRD Jateng saat meninjau pilar retak di Jembatan Penggaron, Rabu (30/5).

”Solusi rekayasa teknik jembatan tol Penggaron sebenarnya sudah selesai waktu pemasangan pondasi bore pile dan pemasangan inclinometer (alat untuk mengukur pergerakan tanah-red). Hanya kami ingin menambah safety lagi. Memang ada rencana pengeprasan bukit untuk mengurangi daya dorong,” kata Muhrozi. Volume pengeprasan setidaknya mencapai 63 ribu meter kubik. Anggaran untuk pengeprasan sekitar Rp 2 miliar.

Namun, rencana pengeprasan akan dikaji lebih lanjut oleh antara TMJ dan tim ahli gabungan akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Katholik ParahyanganBandung, dan Undip Semarang.

“Hari Jumat (1/6), tim ahli akan datang dan meninjau lokasi. Tim sudah mengitung dan menganalisa sejauh mana bore pile kuat menahan dorongan. Pengeprasan hanya untuk lebih mengamankan,” tandasnya.

Selain pilar jembatan retak, juga ada longsor di kawasan jembatan Penggaron. Beberapa pohon bahkan masih tergetak setelah tumbang akibat tanah longsor tersebut. Retakan vertikal dan horisontal di pilar kelima dan cat putih penanda retakan sudah hilang. Padahal, TMJ sebelumnya menegaskan tak akan menghilangkan retakan atau cat putih agar mudah mengetahui jika ada retak tambahan.

Direktur Teknik dan Operasi PT TMJ, Ari Nugroho, membantah telah ’’menghapus’’ retakan tersebut. Dia mengaku hanya menggosok retakan dan cat penanda. Menurut dia, keretakan pilar kelima sudah terjadi sejak November 2010. Berdasarkan saran teknis dari 11 ahli konstruksi dan hidrologi yang dikoordinasi Kementerian Pekerjaan Umum, dibuatlah saluran di bawah permukaan tanah dan drainase vertikal. Bukit di sekitar jembatan pun dikepras 10 meter.

Selain itu, di bawah pilar nomor lima yang semula dipasang 20 bore pile dengan diameter 120 cm, ditambah perkuatan pondasi bore pile berdiameter 1,5 meter dengan kedalaman 40 meter.

Pemantauan

Sementara itu, Badan Pengusahaan Jalan Tol (BPJT) terus mengawasi retaknya jalan tol Semarang-Bawen di Penggaron. Hal itu dikatakan Kepala BPJT Achmad Gani kepada Suara Merdeka di Jakarta semalam.

“Menurut laporan, itu retak yang dulu. BPJT tetap melakukan pemantauan supaya tidak terjadi retakan baru,” katanya.

Soal belum bolehnya kendaraan berat melintasi tol Semarang-Ungaran, Achmad Gani mengatakan, kendaraan berat belum diperkenankan karena akses di Ungaran padat perumahan. Jadi bukan karena kualitas jalan yang tidak bagus.

“Programnya nanti setelah Bawen tersambung, baru diperkenankan,” kilah dia.

Pada Maret 2011, tol ini juga amblas sepanjang 200 meter di Gedawang, Kota Semarang, tepatnya pada STA 5+ 500 hingga STA 5+700.

Jalan tol Semarang-Ungaran merupakan bagian dari jalan tol Trans-Jawa, yang dibagi menjadi tiga seksi. Seksi I Semarang-Ungaran sudah selesai dibangun, Seksi II adalah Ungaran-Bawen, sepanjang 9 kilometer. Sedangkan seksi III Bawen-Solo masih menunggu dana pemerintah pusat.

Pemerintah setuju mengucurkan anggaran sebesar Rp 3,85 triliun melalui APBN 2011 untuk penyelesaian sembilan ruas tol Trans-Jawa yang diharapkan selesai 2014.

Sembilan ruas tol Trans-Jawa itu adalah Cikampek-Palimanan (116 Km), Pejagan-Pemalang (57,5 kilometer), Pemalang-Bata¤ng (39 kilometer), Batang-Semarang (75 kilometer), dan Semarang-Solo (75,7 kilometer).

Ruas lain adalah Solo-Mantingan-Ngawi (90,1 kilometer), Ngawi-Kertosono (87 kilometer), Kertosono-Mojokerto (40,5 kilometer), dan Surabaya-Mojokerto (36,27 kilometer). Pembebasan lahan untuk jalan tol Cikampek-Palimanan sudah mencapai 90%. (J17,H68,bn-43)
 
sumber :

Selasa, 29 Mei 2012

Pantau Retakan, Kerahkan Ahli Geoteknik

Jalan Tol Semarang-Solo

SEMARANG- Retakan pada pilar ke-5 Jembatan Penggaron di ruas tol Semarang-Ungaran harus terus dipantau. Pasalnya, retakan tanah seluas 10 sentimeter saja dapat merobohkan tiang jalan tol.

”Ahli geoteknik harus dikerahkan untuk menyelesaikannya. Kalau mengubah rute jalan tol atau desain menghabiskan banyak dana, yang sekarang dipertahankan dengan pengawasan ketat,” kata pakar Undip, Dr Robert Kodoatie, kemarin.

Untuk mecegah tanah gerak dipelukan pengeboran hingga menembus tanah keras yang menurut peta hingga 400 meter. Namun biaya yang diperlukan mahal dan membuat pengerjaan proyek dapat terhambat. Sebelumnya, bore pile yang dibor belum dapat maksimal membantu mengatasi tanah gerak.

Robert mengatakan, untuk pemantauan harus terus dilakukan pada tanah yang bergerak kembali. Pasalnya, bulan lalu dia melihat di stasiun 5,5 tol ruas Gedawang-Pengaron tidak bergerak.

Tanah Labil

Robert menambahkan tanah gerak yang terjadi bukan disebabkan beban, tetapi kondisi tanah yang labil. Berdasar identifikasinya, tanah itu merupakan formasi kerek. Tanah gerak di sekitar stasiun 5,5 jalan tol pada ruas Gedawang-Penggaron menurut peta geologi yang ada, sebetulnya diapit oleh tiga patahan.

Jika dari arah Semarang, patahan sebelah kiri ada satu, dan dua patahan lagi di kanan jalan. Dia menduga tanah gerak itu akibat air hujan yang meresap ke dalam tanah. Dimungkinkan juga tanah bergerak merupakan lanjutan dari temuan bulan lalu, tetapi melebar akibat gerakan tanah.

Sementara itu, berita retaknya jembatan tidak menyurutkan minat pengguna jalan tol. Kasubsi Divisi Pelayanan Lalu Lintas PT Trans Marga Jateng

Sabilillah mengatakan, arus lalu lintas tetap seperti biasa tanpa ada penurunan kepadatan. Setiap harinya kendaraan yang melintas di ruas jalan tersebut antara 12.200 unit dan 12.500 unit. Pada hari libur bahkan meningkat hingga 17.000 unit.

Dia menjelaskan, penurunan jembatan itu terjadi sudah lama, yakni November 2010. Pihaknya kemudian meminta saran para ahli dan sudah melakukan perbaikan secara cepat. Hasilnya jembatan telah stabil dan tidak ada lagi retakan baru.

Pimpinan proyek tol Semarang-Bawen Indriyono berjanji akan memperketat pengawasan pada jembatan untuk memantau kemungkinan adanya pergerakan tanah. ’Saat ini sudah tidak masalah,” tandasnya.(H74,H68,J17-71)

sumber :
suaramerdeka 

Kamis, 24 Mei 2012

Jembatan Tol Semarang-Solo Rawan Longsor


Foto: Angling/detikcom
Semarang, Anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah, Hadi Santoso memperoleh laporan warga adanya kerusakan pada struktur jembatan Penggaron yang merupakan pilar penyangga jalan tol Semarang-Solo. Dalam laporan tersebut diketahui terdapat kerusakan pada pilar nomor empat dan lima.

Dari foto yang terdapat dalam laporan warga, terlihat jelas adanya penurunan dan retakan pada pilar nomor lima. Dalam tinjauannya ke Jembatan tersebut, Hadi mengaku melihat tidak hanya satu retakan, bahkan ada retakan horisontal yang memanjang.

"Perlu adanya analisa dari PT Trans Marga Jateng apakah jembatan tersebut berbahaya atau tidak untuk dilewati," kata Hadi di rumahnya, jalan Tanjung Sari, Semarang, Kamis (24/5/2012).

Sementara itu pada bagian bawah pilar nomor empat jembatan yang terletak di Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang tersebut sudah mengalami longsoran sehingga bore pile terlihat hingga 320 centimeter.

"Pilar juga sudah mengalami kemiringan. Bagian bawah sudah mengarah ke arus longsor," imbuh Hadi sambil menunjukkan foto dari laporan warga tersebut.

Dari tanah longsoran yang berada di bawah jembatan terdapat mineral silikat yang biasanya berada di bagian dalam lapisan tanah. Hal itu menandakan longsor di bawah jembatan Penggaron sudah cukup dalam.

"Mineral yang berasal dari endapan vulkanik Gunung Ungaran tersebut butuh waktu sekitar 1000 tahun lebih," terang Hadi.

Pria lulusan Teknik Undip tersebut menambahkan, pada pilar-pilar yang mengalami kerusakan terdapat coretan-coretan yang mengikuti arah retakan, kemungkinan coretan tersebut adalah hasil tinjauan dari PT Trans Marga Jateng.

"Ada juga kaca yang tertempel pada retakan pilar, namun pilar itu juga sudah ikut retak. Itu artinya retakan sudah sampai ke dalam pilar," ungkapnya.

Anggota Fraksi PKS tersebut khawatir keadaan jembatan Penggaron akan semakin parah dan berbahaya jika pembangunan jalan tol seksi II Ungaran - Solo selesai dibangun. "Jika pembangunan jalan tol selesai maka akan semakin banyak kendaraan berat yang melintas. Perlu segera ditindak lanjuti oleh pihak terkait" tutup Hadi.
 
sumber :

Pilar Jembatan Penggaron Retak


TOL SEMARANG-UNGARAN: Salah Satu Pilar Penyangga Jembatan Retak

suaramerdeka.com - Pilar nomor lima jembatan Penggaron, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang mengalami keretakan. Pilar tersebut juga mengalami penurunan, kondisi itu terlihat jelas dibandingkan bangunan pilar lainnya.
Bukan hanya itu, tanah di kawasan jembatan Penggaron juga terlihat longsor. Hal tersebut diduga terjadi akibat adanya pergerakan tanah di daerah yang dikenal rawan longsor. Keretakan pilar nomor lima jembatan Penggaron itu diketahui dari hasil laporan masyarakat kepada anggota Komisi D DPRD Jateng Hadi Santoso. Laporan ini dilengkapi dengan foto dan penjelasan terkait retaknya pilar nomor lima serta kondisi sekitar jembatan Penggaron

Menurut Hadi, keretakan pilar dan tanah longsor di sekitar jembatan Penggaron perlu dicek dan dianalisa PT Trans Marga Jateng (TMJ). "Perlu dikaji apakah jembatan ini (Penggaron-Red) berbahaya atau tidak. Terlebih lagi, jika jalan tol seksi II Ungaran-Bawen selesai dibangun maka jembatan Penggaron bakal dilewati kendaraan berat," kata anggota Fraksi PKS DPRD Jateng lulusan Teknik Sipil Undip Semarang tersebut.

Longsornya tanah ini juga diketahui terjadi di pilar nomor empat jembatan Penggaron. Di mana, bore pile (pondasi paku bumi) yang semula tertutup kini menjadi terlihat dengan ketinggian sekitar 320 cm. Pihaknya mengaku sudah mengecek langsung ke jembatan Penggaron untuk melihat adanya keretakan pilar.

Retakan pilar dinilainya cukup banyak, hal ini ditandai dengan garis cat putih. Hasil pantauannya, retakan sudah lebih banyak dibandingkan garis cat putih tersebut. Indikator pergerakan tanah ini juga terlihat dari retaknya kaca yang terpasang di badan pilar. Keretakan pilar itu bisa jadi sudah diamati TMJ dengan memasang kaca di badan pilar. Namun, keretakan perlu diwaspadai karena kaca di badan pilar pun ikut retak.

"Ini menunjukkan retakan sudah sampai ke dalam pilar. Jika diamati modelnya, keretakan diduga terjadi akibat beban ditarik yaitu longsornya tanah di sekitar jembatan," ungkapnya. Pergerakan tanah itu bukan hanya menjadikan pilar retak, melainkan beberapa pohon posisinya miring menuju arah longsoran.

Sementara itu, Direktur Teknik dan Operasi PT TMJ Ari Nugroho membantah adanya pergerakan tanah di kawasan jembatan Penggaron. Terkait pecahnya kaca, hal itu sudah terjadi sebelum ada penguatan dengan pemasangan bore pile di jembatan. "Setiap hari, kondisi jembatan kami cek dan tidak ada pergerakan. Garis cat putih yang retak-retak ini sudah lama, pohon miring memang posisinya seperti itu," jelasnya.
sumber :
suaramerdeka 


Selasa, 01 Mei 2012

Dua Bangunan Belum Bisa Dibebaskan TPT

SEMARANG–Pembebasan lahan untuk tol ruas Ungaran- Bawen masih menyisakan dua perusahaan. PT Jati Kencana Beton (JKB) dan PT SFA di Karangjati Kabupaten Semarang saat ini belum dilakukan penghitungan ganti rugi oleh panitia pengadaan tanah (P2T).


“Sebenarnya PT JKB minta segera ditaksir ganti rugi bangunan. Tinggal harga standar bangunannya kayak apa, kita terganjal dengan satgas bidang bangunan P2T,” ungkap Ketua Tim Pembebasan Tanah (TPT) Jalan tol Ungaran-Bawen, Waligi kemarin. Pihaknya pada Kamis (3/5) mendatang mengagendakan pertemuan dengan P2T untuk koordinasi terkait pembebasan lahan lanjutan.

Sedangkan di PT SFA adalah bangunan tua bekas gudang kayu lapis yang berada di depan PT JKB. Selain dua perusahaan, masih ada 68 warga di Lemahireng Bawen yang belum bersedia melepaskan lahannya karena minta penawaran harga tinggi. Sampai sekarang P2T belum melakukan konsinyasi. “P2T belum teken penetapan harga.

Secepatnya kalau P2T sudah selesai semua,akan kami serahkan ke pengadilan, ”imbuhnya. Lebih jauh dijelaskan, untuk tanah kas desa yang terkena tol masih dalam proses pencarian tanah pengganti. Sedangkan untuk proses ganti rugi tanah milik PTPN IX saat ini hanya tinggal bayar saja.Pihaknya menginginkan agar BUMN tersebut bisa menunjukkan sertifikat tanah ataupun dokumen bukti kepemilikan lahan.

Sedangkan untuk tanah kas desa,masih dalam proses pencarian tanah pengganti. “Sertifikatnya belum diserahkan. Total saat ini baru 91 persen yang terbebaskan,” paparnya. Kendati demikian,Waligi optimistis pembebasan lahan ini akan rampung Agustus mendatang. Hal ini sesuai dengan schedule yang telah direncanakan. Direktur Teknik PT Trans Marga Jateng (TMJ) Ari Nugroho mengatakan, proses pembangunan jembatan darat di Lemahireng saat ini masih terganjal pembebasan lahan.

Pembangunan jembatan tersebut hingga kini belum menyelesaikan satu pondasi. “Sebagian besar tanah di Lemahireng belum terbebaskan. Baru satu pondasi yang dikerjakan,”kata Ari. Sementara itu,anggota Komisi D DPRD Jateng Sri Praptono mendesak kepada TPT agar melakukan langkahlangkah percepatan kepada warga yang belum bersedia melepaskan lahannya. “Jika musyawarah sudah menemui jalan buntu,sebaiknya dilakukan konsinyasi agar pekerjaan fisik bisa secepatnya dimulai,” sarannya. arif purniawan
 
Sumber :