javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
INFO : REUNI AKBAR SMP N 2 SIMO BOYOLALI 2017 BULAN DESEMBER 2017....AYOO BERGABUNG (Info&Pendaftaran : 085727059929)

cari di blog ini

Jumat, 28 Agustus 2015

Pembangunan Jalan Tol Bawen-Salatiga Masih Terkendala Enam Bidang Tanah Belum Terbebaskan


ilustrasi
SALATIGA – Pembangunan konstruksi jalan tol Semarang – Solo seksi III Bawen – Salatiga hingga kini masih mengalami kendala. Salah satu kendalanya, penyedia jasa konstruksi pelaksana pembangunan jalan tol belum dapat melakukan perataan sejumlah bidang tanah dan bangunan yang terkena proyek tol di daerah Watu Agung, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Hal itu karena, lahan tersebut belum terbebaskan.

Akhirnya, bidang tanah dan bangunan tersebut dibiarkan meski berada di tengah lokasi pembangunan jalan tol. Untuk perataan tanah dan bangunan akan dilakukan setelah pembebasan lahan tuntas seluruhnya. Bangunan yang belum terbebaskan diantaranya berupa kandang ayam serta masjid, gereja maupun jalan umum.

“Untuk yang memang belum terbebaskan, kami tidak berani membongkarnya. Sementara ini, bangunan dan tanah itu kami biarkan saja dan akan meratakan setelah sudah terbebaskan,” kata Karsidi, perwakilan penyedia jasa konstruksi pembangunan jalan tol kepada Rakyat Jateng (Fajar Grup), Kamis (27/8).

Sementara itu, khususnya pembebasan lahan pembangunan jalan tol Semarang – Solo seksi III Bawen – Salatiga di wilayah Kota Salatiga hingga kini juga belum rampung seluruhnya. Sampai sekarang masih ada enam bidang tanah yang juga belum terbebaskan.

“Untuk lahan yang belum terbebaskan itu karena ada kendala pada bidang administrasinya. Keenam tanah itu hingga sekarang belum bersertifikat dan status tanahnya masih Letter D. Kondisi ini akhirnya mempersulit pembebasannnya,” tandas Drs Y Tri Priyo Nugroho, Wakil Ketua Panitia Pembebasan Tanah (P2T) Kota Salatiga, yang juga Asisten Sekda Kota Salatiga kepada Rakyat Jateng, Kamis (27/8). (hes)

sumber :

Senin, 10 Agustus 2015

Astra Jajaki Akuisisi 43,32 Persen Saham Nusantara Infrastructure


Ilustrasi jalan tol (Antara)
Jakarta– PT Astra International Tbk (ASII) melalui anak usahanya, PT Astratel Nusantara, serius menjajaki akuisisi 43,32 persen saham PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) milik Grup Rajawali dan Eagle Infrastructure. Sebelumnya, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) juga mengincar saham tersebut.

Direktur Astratel Arya N Soemali mengatakan, akuisisi tersebut mampu meningkatkan bisnis Astra di sektor jalan tol. Perseroan memilih akuisisi ketimbang mengikuti proses tender ruas jalan tol baru. Dengan akuisisi, waktu yang diperlukan cenderung tidak terlalu lama, dibandingkan mengikuti tender yang digelar pemerintah.

“Nusantara Infrastructure punya ruas jalan tol yang sudah beroperasi. Hal itu sejalan dengan bisnis kami. Selama ini, kami selalu melihat peluang akuisisi jalan tol baru,” kata Arya kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Arya mengakui, pihaknya telah menyatakan minat akuisisi kepada Rajawali melalui letter of interest. Sampai saat ini proses due diligence masih berlangsung. Namun, perseroan belum dapat menyatakan berapa besar dana akuisisi yang disiapkan. “Mudah-mudahan prosesnya selesai pada kuartal III ini. Sementara dana akuisisi akan dibantu oleh Astra sebagai induk kami,” jelas dia.

Seperti diketahui, Rajawali memiliki 21 persen saham Nusantara Infrastructure. Sedangkan Eagle Infrastructure mengantongi 22,32 persen saham.

Sebelumnya, Managing Director Rajawali Corpora Darjoto Setyawan membenarkan kabar Eagle Infrastructure yang juga berniat melepas kepemilikan sahamnya. Dengan begitu, jumlah saham Nusantara Infrastructure yang ditawarkan kepada investor baru mencapai 43,32 persen.

Namun, Darjoto membantah Eagle Infrastructure adalah perusahaan yang terafiliasi dengan Rajawali. "Meski nama perusahaan itu ada Eagle-nya, perusahaan itu tidak ada hubungan apapun dengan Pak Peter Sondakh atau Rajawali," ujar dia.

Sebelumnya, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) juga mengincar hingga 43,32 persen saham Nusantara Infrastructure. Surya Semesta akan mendorong perusahaan patungan (joint venture/JV) PT Lintas Marga Sedaya (LMS) untuk mengambilalih saham yang akan dijual oleh pemilik saham Nusantara Infrastructure.

Astratel telah menuntaskan akuisisi 25% saham PT Trans Marga Jateng (TMJ), operator yang memiliki dan mengelola ruas tol Semarang-Solo sepanjang 72,64 kilometer. Dengan demikian, kepemilikan jalan tol tersebut berubah menjadi PT Jasa Marga sebanyak 73,9 persen, Astratel 25 persen , dan PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah 1,1 persen. “Dana investasinya sekitar Rp 900 miliar. Ini adalah salah satu contoh bagaimana kami sukses mengakuisisi ruas tol. Proses akuisisinya cukup singkat, yakni sekitar tiga bulan,” kata Arya.

sumber :

● Pembebasan Lahan Tol : Ganti Rugi Selesai Pekan Ini

TOL SEMARANG - SOLO


PASANG PERINGATAN: Salah satu WTP Tol Semarang-Solo, Winarni (40)
 memasang papan peringatan di gerbang kandang ayam yang bakal
terkena proyek tol. (suaramerdeka.com/Ranin Agung)

TUNTANG – Ketua Panitia Pembebasan Tanah (P2T) Kabupaten Semarang, Gunawan Wibisono menyatakan, proses pencairan dana ganti rugi tanah milik 33 warga terkena proyek (WTP) Tol Semarang-Solo, Sesi III Bawen- Salatiga di Dusun Rembes, Desa Watuagung, Tuntang, Kabupaten Semarang akan selesai pekan ini.

Keterlambatan pembayaran tersebut, menurutnya, lebih dikarenakan imbas molornya pencocokan administrasi. “Proses administrasi dan pemberkasannya memang lama, apalagi tim kami juga mengalami kendala, seperti pemilik tidak ada ditempat. Tetapi saya yakin pekan ini selesai,” katanya melalui sambungan telepon, Minggu (9/8).

Selain kendala pemilik tidak ada ditempat, tim juga harus menunggu kajian tentang bukti sah kepemilikan tanah. Semisal, berkas C desa yang belum dipecah, padahal lahan yang dimaksud adalah tanah warisan keluarga. Disamping mengeluarkan kebijakan tadi, pihaknya jauh-jauh hari telah menerapkan teori nyebul balon.

Menyusul, kata dia, jalur tol seksi III dan IV berdasarkan data akan mengenai lahan milik PTPN IX sekitar 26 hektare, lahan milik perusahaan daerah (Perusda) Jawa Tengah seluas 13 hektare, sejumlah lahan bengkok milik desa, dan lahan perkebunan milik perorangan. “Hal itu harus diselesaikan dahulu agar akurat dan tidak melanggar ketentuan,” tandasnya.

Guna memantau perkembangan, sejumlah instansi dan perwakilan yang masuk dalam tim akan diundang setiap minggu untuk koordinasi membahas progres capaian.

Data dari Bagian Tata Pemerintahan Pemkab Semarang, menyebutkan, tol seksi III dan IV setidaknya akan mengenai sejumlah fasilitas umum dan fasilitas sosial, seperti masjid, mushala, gereja, dan sekolah. Ada satu sekolah dasar, satu madrasah, satu gereja, dan dua mushala yang terkena tol. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kata dia, pihaknya mengaku tidak ingin kecolongan, seperti yang terjadi di seksi II.

Status Kepemilikan

Terpisah, Kepala Desa Watuagung, Heryu Cahyono memaparkan, di desanya ada 337 bidang tanah yang terkena proyek tol.

Luasnya bervariasi, begitu pula dengan status kepemilikannya. “Ada yang satu orang pemilik satu bidang, ada pula seorang pemilik mempunyai lima bidang.”

Seperti diberitakan sebelumnya, aktivitas sejumlah alat berat dan pekerja yang bekerja dalam proyek Tol Semarang-Solo Sesi III Bawen-Salatiga terganggu karena belum dibayarnya uang ganti rugi tanah WTP. (H86-71)

sumber :

Pemilik Lahan Demo, Pengelola Tol Klaim tak Ada Penyimpangan Ganti Rugi


Pembangunan Jalan Tol

REPUBLIKA.CO.ID,UNGARAN--Menyusul adanya aksi protes 33 warga terkena proyek (WTP) jalan tol Semarang- Solo seksi III ruas Bawen- Salatiga, di Desa Watuagung, panitia pengadaan tanah membantah ada 'penyimpangan' pada proses ganti rugi.

Sejauh ini, proses ganti rugi obyek lahan maupun bangunan yang terkena proyek diklaim telah dilaksanakan sebagaimana mestinya. Hanya saja ada tahapan administrasi yang harus dilalui dalam proses yang masih berjalan ini.

"Tidak ada masalah apapun dalam proses ganti rugi yang telah disepakati oleh WTP di Desa Watuagung ini," ungkap Ketua Panitia Pengadaan Tanah (P2T), Gunawan Wibisono di Ungaran, Ahad (9/8).

Menurutnya, proses ganti rugi lahan maupun bangunan milik WTP di Desa Banyuagung ini sebagian sudah beres. Di luar yang telah rampung juga ada sebagian yang masuk dalam tahap pemberkasan, seperti milik warga Dusun Rembes.

Tahapan pemberkasan inipun juga tidak dapat dilakukan secara cepat, seperti harapan para WTP yang akhirnya melakukan aksi protes. “Jika proses administrasi ini rampung, pada saatnya uang ganti rugi juga dibayarkan,” jelasnya.

Karena itu, masyarakat diminta untuk tenang, karena apa yang menjadi hak mereka tidak akan hilang. “Ini hanya persoalan waktu karena proses pemberkasan masih dilakukan.” tambahnya.

Seperti diketahui, sejumlah WTP di Dusun Rembes, Desa Watuagung ‘menduduki’ lahan mereka yang akan segera diratakan dengan alat berat untuk pembangunan fisik proyek jalan tol ruas Bawen- Salatiga.

Mereka mengaku tidak akan melepaskan haknya tersebut jika uang ganti rugi belum diterimakan. Karena kesepakatan besaran harga ganti rugi obyek yang terkena proyek ini sebelumnya telah disepakati.

Namun belum tuntas proses ganti rugi ini dilakukan, lahan dan bangunan mereka sudah akan digusur. WTP pun meminta para operator alat berat untuk tidak beroperasi terlebih dahulu.

Sementara itu, perwakilan kontraktor PT Bumi Sentosa Dwi Agung (BSDA), Agung Nugroho berharap pihak terkait dapat mendukung proses percepatan proyek tol Bawen-Salatiga.

Sehingga poses pekerjaan untuk melakukan pembukaan lahan ini dapat segera dimulai. “Sehingga target pekerjaannya juga tiak molor,” tambahnya.

sumber :

Jumat, 07 Agustus 2015

TOL SOLO-KERTOSONO : 65 Bidang Tanah di Karanganyar Bermasalah

Tol Solo-Kertosono masih menyisakan 65 bidang tanah bermasalah

sumber foto : skyscrapercity
Solopos.com, KARANGANYAR--Sebanyak 65 bidang tanah di Kabupaten Karanganyar belum berhasil dibebaskan untuk proyek pembangunan jalan tol Solo-Kertosono (Soker). Jumlah bidang tanah yang harus dibebaskan di Bumi Intanpari yaitu 1.484 bidang. Penjelasan itu disampaikan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Karanganyar, Dwi Purnama, ditemui Solopos.com, di sela penyerahan ganti rugi, Selasa (4/8/2015).
sumber foto : skyscrapercity
“Dari total 1.484 bidang tanah yang harus dibebaskan untuk proyek jalan tol [Soker], tinggal 68 bidang yang belum. Hari ini berkurang tiga bidang karena pemiliknya menerima ganti rugi. Jadi sisanya tinggal 65 bidang saja,” tutur dia.

Dwi optimistis penyelesaian 65 bidang tersebut bisa sesuai target, akhir Desember 2015. Pendekatan persuasif akan dilanjutkan kepada pemilik bidang-bidang tanah tersebut. “Kami terus lakukan pendekatan persuasif,” imbuh dia.

Tim Pemkab Karanganyar dan BPN Selasa siang menyaksikan pembayaran ganti rugi kepada pemilik tiga bidang tanah di Desa Jeruksawit, Gondangrejo. Penyerahan ganti rugi diklaim sebagai hasil dari pendekatan persuasif.

Dwi menilai harga yang ditawarkan kepada para pemilik lahan sudah cukup layak. Alasannya, harga yang ditawarkan mendasarkan hasil appraisal ulang tahun 2014. Artinya, dia melanjutkan, harga yang ditawarkan masih relevan.

Kepala Desa Jeruksawit, Midi, mengatakan saat ini masih ada 25 bidang tanah di wilayahnya yang belum dibebaskan. Jumlah tersebut diakui paling banyak dibandingkan desa lain. Masalah utama pembebasan lahan adalah harga ganti rugi.
Pemilik 25 bidang tanah tersebut belum setuju dengan harga yang ditawarkan. Padahal menurut dia harga appraisal sudah jauh di atas harga awal yang ditawarkan. Awalnya satu meter persegi tanah dihargai sekitar Rp38.000.

sumber :
boyolalipos

Kamis, 06 Agustus 2015

Jasa Marga Incar Proyek Tol Trans Jawa


Ilustrasi-Jalan tol. JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA— Jasa Marga mengincar peluang untuk menjadi pemegang konsesi ruas tol Pemalang-Batang dan Batang-Semarang. Tak tanggung-tanggung, BUMN tersebut bahkan berniat menjadi pemegang saham mayoritas.

Direktur Utama Pt. Jasa Marga Tbk Adityawarman mengemukakan pihaknya tengah menunggu langkah selanjutnya yang akan diambil pemerintah terkait proyek tersebut.

Seperti diketahui, pemerintah telah resmi memutus izin usaha PT. Marga Setia Puritama selaku pemegang konsesi ruas tol Batang-Semarang, sementara hak konsesi PT. Pemalang Batang Tollroad atas ruas Pemalang-Batang juga terancam dicabut karena terkendala masalah pembiayaan.

“Kita lihat kalau saya tidak dikasih mayoritas (saham), saya mundur dong, saya pemain jalan tol,” ujarnya setelah menghadiri rapat kordinasi di Kementerian BUMN, Rabu (05/08/2015).

Dalam rapat yang turut dihadiri Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferry Mursyidan Baldan, Menteri Menteri PUPR Basoeki Hadimoeljono, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya itu, dia mengaku melaporkan perkembangan semua proyek yang tengah ditangani.

Beberapa di antaranya adalah ruas tol Surabaya-Mojokerto, Semarang-Solo, Solo-Ngawi, dan Ngawi-Kertasono. Adapun terkait minatnya turut serta dalam proyek tol Trans Jawa ini, dia belum bisa menyatakan berapa total dana investasi yang dia siapkan.

“Menyiapkan berapa kita belum tahu. Ini kan bukan beli, kalau memang mereka default paling kita ganti uang yang pernah dikeluarkan oleh mereka saja, sesuai aturannya lho ya. Kita tunggu beritanya saja,” tambahnya.

sumber :

Rabu, 05 Agustus 2015

Rini Soemarno Minta Laporan Bos Jasa Marga Soal Proyek Tol


Menteri BUMN Rini Soemarno (Foto:Antara)
JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno memanggil para bos BUMN yang bergerak di bidang infrastruktur, salah satunya, Direktur Jasa Marga dan Waskita Karya. Keduanya hadir dalam rapat koordinasi percepatan infrastruktur.

Direktur Utama Jasa Marga Adityawarman mengatakan, dalam rapat tersebut pihaknya diminta menjelaskan proyek-proyek jalan tol yang kini tengah digarap.

"Kita hanya laporkan proyek-proyek yang sekarang sedang jalan, Hutama Karya kan di Sumatra, kita di Jawa," ungkapnya saat ditemui di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (5/8/2015).

Dia menjelaskan, Jasa Marga melaporkan tengah membangun empat proyek tol, antara lain Semarang-Solo, Surabaya-Mojokerto, Solo-Ngawi, serta Ngawi-Kertosono.

"Satu ruas di Sumatra, Medan-Kualanamu-Tabing tinggi panjangnya 61 km," ucapnya.

Sementara untuk yang di Pulau Jawa, tol Semarang-Solo yang saat ini di garap adalah ruas Bawen hingga Salatiga. "Panjangnya 18 km, sudah mulai konstruksi, pendanaan sudah mulai, kita perkirakan dalam 13 bulan selesai," tukasnya.

sumber :

Pembangunan tol Soker sisi Karanganyar terhambat pembebasan lahan


Pembangunan Tol Soker. ©2015 merdeka.com/arie sunaryo
Merdeka.com - Pembangunan jalan tol Solo-Kertosono (Soker), khususnya di wilayah Kabupaten Karanganyar masih terkendala pembebasan lahan. Meski prosesnya telah mencapai 90 persen, tetapi sejumlah desa berpotensi menghambat rampungnya proyek tol Trans Jawa itu.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Karanganyar, Samsi mengatakan, sejumlah lahan yang belum menemui kesepakatan dengan pemiliknya meliputi Desa Klodran dan Ngasem, di Kecamatan Colomadu. Kemudian Desa Wonorejo, Jatikuwung, Jeruksawit, dan Karangturi di Kecamatan Gondangrejo serta Desa Kemiri, Kebak dan Waru di Kecamatan Kebakkramat.

"Saat ini masih ada beberapa lahan milik warga yang belum dibebaskan. Kami juga masih menunggu izin gubernur karena ada beberapa lahan yang merupakan tanah kas desa. Dibandingkan Boyolali dan Sragen, persentase tanah yang sudah berhasil dibebaskan di Karanganyar sudah cukup tinggi. Kami akan terus melakukan pendekatan kepada warga yang belum rela melepas tanahnya agar bersedia melepasnya," kata Samsi, Rabu (5/8)

Samsi mengatakan, di Kabupaten Karanganyar, ruas jalan tol melintas sepanjang 15,1 kilometer. Dengan dua pintu keluar masuk atau interchange, yakni di Kecamatan Colomadu dan Kebakkramat. Ruas jalan Tol Soker dengan panjang 181 kilometer itu dibangun oleh pemerintah dan pihak konsorsium. Pemerintah melalui satker pelaksanaan jalan bebas hambatan Solo-Kertosono mengerjakan ruas meliputi wilayah Kabupaten Boyolali, Solo dan sebagian Karanganyar.

Sedangkan ruas lain yang menjadi wewenang satker, kata Samsi, adalah mulai wilayah Kecamatan Saradan, Madiun hingga Kertosono. Untuk pemerintah, total pekerjaan fisik 22,63 kilometer dan Saradan-Kertosono sepanjang 40 kilometer. Konsorsium mengerjakan ruas Karanganyar-Saradan sepanjang 120 kilometer.

"Tol Soker nantinya akan bertemu dengan ruas tol Solo-Semarang, di Kartasura Junction, perbatasan kecamatan Ngemplak dan Colomadu," pungkasnya.

sumber :

Senin, 03 Agustus 2015

Siapkan dana Rp 5 triliun, Waskita incar proyek tol Pemalang-Batang


ilustrasi

Merdeka.com - PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mengincar pembangunan proyek tol Pemalang-Batang sepanjang 39,2 kilometer. Perusahaan pelat merah tersebut bahkan telah menyiapkan dana Rp 5 triliun sebagai bentuk keseriusan untuk mengakuisisi saham mayoritas.

Direktur Utama Waskita Karya, M. Choliq, mengatakan bahwa pihaknya telah menyampaikan proposal minat sebagai investor untuk proyek tersebut.

"Kita sudah sampaikan proposal pernyataan minat kami. Kami serius. Dananya Rp 5 triliun dan masih banyak," ujarnya di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (3/8).

Selain itu Waskita juga telah melakukan negosiasi dengan pemegang konsesi tol Pemalang-Batang, yakni PT Pemalang Batang Toll Road. Perseroan berencana masuk sebagai pemegang mayoritas pada proyek yang masuk bagian Tol Trans Jawa itu.

"Sudah negosiasi ke sananya (PT Pemalang Batang Toll Road)," jelas dia.

Dia mengaku bahwa Perseroan siap bersaing dengan investor lain yang berminat masuk ke dalam konsesi tol Pemalang-Batang. Saat ini sudah 4 calon investor baru yang bakal masuk sebagai pemegang saham.

"Oh ya nggak apa-apa. Makin banyak saingan senang kami," ungkapnya

sumber :