javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
Merry Chrismast and Happy New Year 2018

cari di blog ini

Jumat, 29 April 2011

Proyek tol Semarang-Solo Pakar: Retak & ambles akan terulang

Semarang (Espos) Pakar hidrologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Robert J Kodoatie, dan Sekretaris Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Undip, Dwi P Sasongko, memrediksi masih akan terjadi keretakan dan ambles di jalan tol Semarang-Solo seksi I Semarang-Ungaran.

Menurut mereka, retak dan ambles terutama terjadi di wilayah Susukan, Ungaran, Kabupaten Semarang dan Gedawang, Kota Semarang. Prediksi ini diungkapkan Robert dan Dwi P Sasongko ketika dihubungi Espos secara terpisah di Semarang, Rabu (27/4).

Menurut Robert, kondisi struktur tanah di wilayah Susukan kerekan atau tanah lempung sehingga bila kena air hujan mudah meleleh dan jika musim kemarau retak. Sedang di wilayah Gedawang tanahnya labil sehingga jika terkena air akan bergerak ke bawah menyebabkan terjadinya longsor.

“Dengan kondisi ini kemungkinan terjadinya keretakan, ambles dan longsor di jalur tol Semarang-Ungaran ke depan bisa terjadi,” tandasnya.

Upaya perbaikan yang dilakukan PT Trans Marga Jateng (TMJ) selaku pihak pelaksana proyek pembangunan jalan tol, lanjut dia, akan sia-sia karena nantinya akan kembali mengalami kerusakan.

Lebih lanjut, dosen Fakultas Teknik Undip ini menyatakan kondisi alam di wilayah Susukan dan Gedawang sangat berat. Upaya rekayasa teknik yang dilakukan TMJ tak akan membawa hasil maksimal. Dia menambahkan permasalahan jalan tol Semarang-Solo jangan disamakan dengan jalan tol Cipularang, Jawa Barat karena tol Semarang-Solo lebih panjang dan lebar.

“Bila tol Semarang-Ungaran tetap dipaksakan melalui wilayah Susukan dan Gedawang nantinya akan membahayakan pengguna jalan tol,” tandas Robert.

Kondisi alam

Sekretaris Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Undip, Dwi P Sasongko, juga menyatakan kondisi alam di wilayah Susukan dan Gedawang cukup berat. “Kemungkinan jalan ambles, retak dan longsor bisa saja terulang karena kondisi alamnya memang berat,” ujar dia.

Mengenai langkah antisipasi, menurut Dwi, sebaiknya menunggu hasil review analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) jalan tol Semarang-Solo yang saat ini sedang ditangani Komisi Amdal Badan Lingkungan Hidup Jateng.

Selain Amdal juga dilakukan revisi rencana kelayakan lingkungan (RKL) dan rencana pemetaan lingkungan (RPL) jalan tol Semarang-Solo. “Kita tunggu saja hasil review Amdal dan revisi RKL dan RPL jalan tol. Berharap ada rekomendasi alternatif rute,” kata Dwi.

Sedang Robert mengusulkan agar rute jalan tol Semarang-Ungaran di wilayah Susukan dan Gedawang digeser, menghindari lokasi tanah kerekan dan tanah labil.

“Tol Semarang-Ungaran tak harus dipindah, cukup rutenya digeser tak melalui daerah yang tanahnya labil. Saya lebih memikirkan keselamatan pengguna jalan tol nantinya,” tandas dia. - Oleh : Insetyonoto

Sumber :