javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
INFO : REUNI AKBAR SMP N 2 SIMO BOYOLALI 2017 BULAN DESEMBER 2017....AYOO BERGABUNG (Info&Pendaftaran : 085727059929)

cari di blog ini

Sabtu, 13 April 2013

Wacana Jembatan Selat Sunda Sudah Setengah Abad, Sejak Zaman Soekarno


 
ilustrasi
Jakarta - Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang menyambungkan pulau Jawa dan Sumatera sudah ada sejak tahun 1960-an saat Indonesia dipimpin Presien Soekarno, meskipun saat itu idenya berbentuk terowongan. Namun sampai saat ini infrastruktur itu tak kunjung dibangun.

Sudah lima presiden dilalui sejak ide jembatan ini muncul. Jika 2014 tak kunjung dibangun lagi, maka enam presiden Indonesia belum mampu merealisasikan jembatan ini.

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah pernah mengatakan, ide penyatuan Jawa dan Sumatera lewat jembatan atau terowongan sudah ada sejak zaman Presiden Soekarno.

"Saya sampaikan supaya pemrakrasa untuk segera melaksanakan tahapan-tahapan sehingga tidak terjadi seperti kasus pelabuhan Bojonegara. Ini melewati 5 presiden sampai sekarang belum terjadi. Saya khawatir," kata Atut tahun lalu.

Seperti diketahui, Pemprov Banten dan Lampung bersama dengan Artha Graha merupakan pemrakarsa pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang tujuannya memperlancar pergerakan barang dari Jawa ke Sumatera dan sebaliknya. Namun sampai saat ini, proyek tersebut mandek karena pemerintah belum kompak soal pembiayaan kajian kelayakan (feasibility study/FS) jembatan ini.

Atut menyatakan, pihak pemrakarsa sudah menjalankan proyek sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres). Presiden SBY juga menjanjikan groundbreaking jembatan ini dilakukan 2014. Namun ternyata mandek di tengah jalan.

"Intinya, daerah ingin pembangunan JSS tidak ada kendala karena 2014 presiden sudah menjanjikan groundbreaking seperti itu. Sekali lagi kami ingin ada kepastian Perpres itu sudah diterbitkan. Kalau pun direvisi tidak menjadi kendala terhadap perencana percepatan proyek," tegas Atut.

Presiden SBY baru-baru ini mengatakan, dirinya ingin groundbreaking atau pemancangan tiang pertama Jembatan Selat Sunda (JSS) yang menghubungkan Jawa dan Sumatera dilakukan pada 2014. Namun menurut Deputi Bidang Infrastruktur Kemenko Perekonomian Lucky Eko Wurianto, hal itu sulit dilakukan.

Dikatakan Lucky, groundbreaking sulit dilakukan 2014 karena sampai saat ini studi kelayakan (feasibility study) belum dibuat. Menurutnya, pembuatan studi kelayakan JSS ini bakal memakan waktu 2 tahun. Sehingga, jika dilakukan studi kelayakan dibuat mulai tahun ini, proses groundbreaking baru bisa dilaksanakan di 2015.

"Ya butuh waktunya kan lama, FS kan lama, persisnya saya nggak tau, waktu itu diminta 2 tahun, baru 2015 itu paling cepet," jelas Lucky.

Selain itu, Lucky menambahkan, pembiayaan studi kelayakan untuk jembatan tersebut juga belum diketahui asalnya.

"Belum tahu, Pak Hatta mungkin baru mendengar dari menteri-menteri tim 7 itu. Nah persisnya yang akan membiayai belum tahu kita, kalau menurut beliau kan arahnya nggak pakai APBN," pungkasnya.

Seperti diketahui pembahasan persiapan proyek ini dilakukan oleh Tim 7 yang terdiri dari Menteri Pekerjaan Umum dengan anggota Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Perindustrian, Sekretaris Kabinet, dan Kepala Bappenas ditunjuk oleh Presiden SBY pertengahan tahun lalu.

Jembatan Selat Sunda ditargetkan mulai groundbreaking tahun 2014. Proyek jembatan sepanjang 29 Km itu rencananya akan menelan dana sedikitnya Rp 100 triliun.

Sebelumnya Menteri Keuangan Agus Martowardojo sempat mengusulkan revisi Perpres No 86 Tahun 2011 tentang Kawasan Strategis Infrastruktur Selat Sunda (KSISS).

Dalam perkembanganya usulan itu menuai perdebatan karena bakal mengancam kiprah pemrakarsa (pemda Lampung-Banten dan Artha Graha) untuk menyiapkan proyek JSS termasuk studi kelayakan dan basic design.

Masalah ini dibahas di kantor menko, yang kemudian dibentuk tim 7 sebagai tim inti yang membahas perbaikan maupun rekomendasi terkait persiapan pembangunan JSS. Sejak Juli lalu sejatinya masalah ini sudah ada keputusan namun hingga kini sudah hampir satu tahun belum ada hasil. 
sumber:
detik