javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
INFO : REUNI AKBAR SMP N 2 SIMO BOYOLALI 2017 BULAN DESEMBER 2017....AYOO BERGABUNG (Info&Pendaftaran : 085727059929)

cari di blog ini

Senin, 09 Mei 2011

Waskita Karya Antisipasi Penyelesaian Proyek Istaka

JAKARTA (IFT) – Perusahaan konstruksi milik negara, PT Waskita Karya (Persero), akan meng­antisipasi penyelesaian pro­yek-proyek milik PT Istaka Karya (Persero) setelah per­usa­haan itu diputuskan pailit oleh Mahkamah Agung ka­rena tidak bisa membayar utang kepada PT Japan Asia In­­vestment Company (JAIC) se­nilai US$ 7,645 juta. Tujuannya agar Istaka tidak terkena penalti akibat terbengkalainya proyek tersebut.
“Kita ditunjuk (pemerintah) ka­rena memang spesifikasi pe­kerjaaan Istaka dan Waskita ti­dak jauh berbeda. Peran Was­kita adalah memberikan du­kung­an agar Istaka meski sedang di­landa masalah tetap bisa me­nyelesaikan paket pekerjaan yang ditanganinya,” kata Danny Koes­tanto, Direktur Keuangan Waskita Karya, Jumat.

Japan Asia Investment Com­pany mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung karena Is­ta­­ka Karya dinilai tidak kun­jung melaksanakan putusan Mah­ka­mah Agung yang menghukum per­seroan melunasi total utang tertunggak sebesar US$ 7,645 juta.  Perusahaan investasi itu me­nga­jukan pengajuan pailit yang ke­mu­dian dikabulkan Mahkamah Agung.
Saat ini, Istaka masuk dalam prog­ram restrukturisasi PT Per­usahaan Pengelola Aset dan ren­cananya akan memperoleh sun­tikan dana senilai Rp 400 miliar. Dana tersebut ditargetkan cair pada tahun ini. “Perusahaan Pe­ngelola Aset akan memberikan du­kungan kepada Istaka agar pulih kembali,” ungkap Danny.
Istaka Karya saat ini sedang mengerjakan sejumlah proyek seperti pembangunan Kantor Pu­sat Astra (Jakarta), jalan tol seksi III Semarang-Bawen (Jawa Tengah), paket 2 konstruksi Bandar Udara Ha­sanudin (Makassar), dan pem­bangunan Kantor Wilayah Imigrasi Jakarta Selatan.

Proyek lainnya adalah paket pengendali banjir di Sungai Be­nga­wan Solo, irigasi di Langkat, paket pekerjaan jalan Panti  (Su­ma­tera Utara), pengembangan jaringan transmisi 150 KV Galang-Namorambe (Sumatera Utara), pembangunan Pembangkit Lis­trik Tenaga Air Anyer di Pangkal Pi­­­n­ang, jalan Suka­ne­gara-Sindang­barang, dan konstruksi jalan Sim­pang Sugihwaras–Baturaja (Suma­tera Selatan).

Budi Hartono, Sekretaris Per­usa­haan Istaka Karya, sebelumnya mengatakan masalah pailit ter­sebut tidak mempengaruhi kine­re­ja operasional perseroan. Per­usahaan pada tahun ini menar­getkan pendapatan sebesar Rp 1 tri­liun dengan laba bersih sekira Rp 20 miliar - Rp 30 miliar.
Pendapatan perseroan tahun lalu sekira Rp 500 miliar dengan laba bersih Rp 10 miliar.  Ada­pun nilai proyek sepanjang kuartal I 2011 yang berhasil diper­oleh perseroan mencapai Rp 800 miliar.
Mengenai pendanaan proyek, Istaka Karya telah mendapatkan komitmen pinjaman dari dua bank, yakni Bank Permata sekitar Rp100 miliar, serta dari PT Bank Jabar Banten Tbk sekitar Rp 60 miliar. Bank Jabar untuk pendanaan proyek tol Semarang-Solo, sedangkan pinjaman dari Bank Permata untuk pendanaan se­mua proyek.

Puncak Kontrak


Hutama Karya pada kuartal pertama 2011 telah meraih kontrak se­kitar Rp 2 triliun. Muhammad Fauzan, Deputi Direktur Bisnis dan Marketing Hutama Karya, me­ngatakan puncak perolehan kontrak akan terjadi pada Juli tahun ini karena banyak proyek pemerintah yang sudah mulai ditetapkan pememangnya. “Pa­da kuartal I perolehan kontrak baru sekitar 15%. Pada kuartal II dan III itu merupakan puncak atau sekitar 60%,” ung­kapnya.
Saat ini, Hutama  Karya men­dapatkan kontrak pem­bangun­an jalan dari ba­dan usaha mi­lik negara dan pemerintah, dan dua pembangkit listrik beru­pa proyek engineering, procurement and construction di Kendari dan Jene Pon­to.
Hutama mem­proyeksikan pen­jual­an pada 2011 naik men­jadi Rp 4,5 triliun dengan laba Rp 150 mi­liar.  dibandingkan ta­­hun lalu dengan penjualan sekitar  Rp 3,1 triliun dan laba Rp 109 miliar. “Perusahaan te­ngah mengikuti banyak tender se­perti konstruk­si tol Medan- Kuala Namu dan gedung De­wan Perwakilan Rakyat, bandar udara serta lainnya,” ujarnya.(*)

Arif dwi cahyono

sumber :
http://www.indonesiafinancetoday.com