javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Selasa, 03 Juli 2012

RI Bidik Investasi Infrastruktur di Irak


Infrastruktur

JAKARTA--MICOM: Duta Besar Indonesia untuk Irak, Letnan Jenderal TNI Marinir (Purn) Safzen Noerdin, mengatakan Indonesia memiliki peluang dalam merebut investasi pembangunan di Irak.

"Setelah invasi Amerika Serikat, Irak mengalami kerusakan total di seluruh infrastruktur sehingga ada peluang pembangunan yang besar di segala bidang," kata Safzen saat paparan Peluang Investasi Indonesia-Irak di Jakarta, Selasa (3/7).

Dia menjelaskan masyarakat Irak mengenal sejumlah produk ekspor dari Indonesia yang terkenal memiliki kualitas baik.

Menurut dia, ada sejumlah barang kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat Irak dari Indonesia seperti ban kendaraan, sabun, rempah-rempah hingga kebutuhan bahan pokok.

"Selain itu, perdagangan yang lebih besar antara kedua negara didukung oleh adanya pengakuan terhadap produk Indonesia. Bahkan saking bagusnya pada beberapa waktu lalu ada satu merek sabun dari Indonesia yang dipalsukan oleh negara lain ke Irak," jelas Safzen.

Dia menambahkan, peluang itu semakin diperbesar setelah sejumlah pejabat pemerintahan Irak menyatakan bahwa negara itu akan mengutamakan kerja sama, baik investasi maupun ekspor, dengan negara yang memiliki penduduk mayoritas muslim.

Selain itu Dubes menjelaskan sejumlah investasi di bidang konstruksi yang bisa dijajaki pengusaha Indonesia selain konstruksi di sektor minyak dan gas terdiri dari pembangunan sekolah, rumah sakit, jembatan, jalanan dan stadion serta pasar.

"Mereka juga ingin mempunyai industri sendiri seperti pabrik beton, ban mobil, farmasi, elektronik serta minyak kelapa sawit yang jumlahnya saat ini masih sedikit dari Indonesia," jelas dia.

Terkait keamanan, dia mengatakan Irak memiliki Undang-Undang yang mengatur tentang perlindungan investasi yaitu UU nomor 13 tahun 2006 tentang investasi.

Dalam peraturan tersebut, Safzen mengatakan, pemerintah Irak memberikan pembebasan pajak selama 10 tahun baik bagi investasi langsung maupun joint venture.

Selain itu juga tercakup jaminan tidak ada nasionalisasi perusahaan asing dan membebaskan bea masuk untuk impor barang modal selama 5 tahun.

Untuk kondisi keamanan, Dubes mengatakan jumlah korban akibat ledakan bom sudah jauh menurun dibanding tahun sebelumnya.

"Kondisi keamanan semakin membaik, Kedutaan Besar RI di Baghdad siap memfasilitasi keamanan dan kami punya data sejak beberapa tahun lalu bahwa jumlah korban jauh lebih kecil," tegas Safzen.

Total perdagangan RI di Irak pada 2011 meningkat jadi US$154 juta dimana pada 2010 hanya US$52 juta.

Sedangkan produksi minyak Irak sebesar 3 juta barel per hari dan pemerintah Irak berencana meningkatkan jadi 10 juta barel per hari hingga pada 2017. (Ant/OL-9) 
sumber :
mediaindonesia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar