javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
Merry Chrismast and Happy New Year 2018

cari di blog ini

Jumat, 23 Desember 2016

Lahan Terdampak Tol Soker di Ngemplak Boyolali Dikuasai Tuan Tanah Jakarta

Konstruksi pembangunan tol Solo-Kertosono di daerah 
Ngemplak, Boyolali saat difoto dari udara, 
Rabu (24/4/2013). (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)

"Sebanyak 70 lahan terdampak proyek Tol Soker di Pandeyan, Ngemplak, Boyolali, sudah dikuasai para tuan tanah di Jakarta."

Solopos.com, BOYOLALI — Sedikitnya 70 bidang lahan yang terdampak Tol Solo-Kertosono (Soker) di wilayah Desa Pandeyan, Ngemplak, Boyolali, bukan lagi milik warga setempat. Tanah-tanah tersebut rupanya telah dikuasai orang berkantong tebal dari luar desa dan orang-orang Ibu Kota Jakarta.

Kondisi inilah yang menyulitkan pemerintah desa dalam berkoordinasi dengan mereka dalam proses pembebasan lahan tambahan Tol Soker. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Desa Pandeyan, Sukasno.

“Saat ini misalnya. Proyek pembebasan lahan tengah dimulai, namun pemiliknya rata-rata bukan warga setempat. Kami kesulitan memberitahu pemilik lahan yang terkena tol. Karena mereka ada yang di Jakarta, dan kota-kota lainnya,” ujar Sukasno saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Jumat (23/12/2016).

Sukasno menjelaskan tanah-tanah terdampak Tol Soker di Desa Pandeyan semuanya berupa hamparan sawah. Sawah-sawah tersebut tetap digarap setiap tahun oleh warga setempat dengan sistem sewa. “Dulunya tanah-tanah tersebut milik warga setempat. Namun karena impitan ekonomi, tanah-tanah sawah produktif itu dijual kepada para konglomerat [orang kaya]. Jadi, warga desa sekarang hanya penggarap sawah saja,” paparnya.


Kondisi tersebut kini mulai berdampak serius terhadap keberlangsungan dunia pertanian di Desa Pandeyan. Salah satunya adalah hilangnya rasa memiliki dan lunturnya semangat petani dalam merawat pertanian. Sebab, mereka merasa hanya sebagai penggarap sawah saja dan bukan lagi sebagai pemilik lahan.

“Terus terang, pertanian di Pandeyan susah maju. Kadang merawat irigasi saja susah karena mereka merasa hanya sebagai penggarap saja,” paparnya.

sumber :