javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Tampilkan postingan dengan label Tol Semarang Solo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tol Semarang Solo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Juni 2017

Tol Bawen-Salatiga Sudah 98 Persen, Siap Dipakai Saat Mudik Lebaran



Jalan Tol Bawen-Salatiga (Foto: Dok MTI) 

Jalan Tol Semarang-Solo Seksi 3 Bawen-Salatiga siap dioperasikan secara fungsional pada Triwulan II-2017. Hingga akhir Mei 2017, progres konstruksi untuk Seksi 3 Bawen-Salatiga telah mencapai 98 persen. Diharapkan saat musim arus mudik-balik, jalan tol sepanjang 17,5 km tersebut dapat beroperasi secara fungsional.



Jalan Tol Bawen-Salatiga (Foto: Dok MTI) 


"Capaian Tol Bawen-Salatiga (17,5 km) sudah 98 persen selesai. Sekitar 1.000 meter belum rigid pavement (pengerasan)," ungkap Anggota Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno kepada kumparan (kumparan.com) usai meninjau lokasi, Kamis (1/6).


Jalan Tol Bawen-Salatiga (Foto: Dok MTI) 

Jalan tol sepanjang 72,64 km yang dikelola oleh PT Trans Marga Jateng (TMJ), kelompok usaha PT Jasa Marga (Persero) Tbk merupakan salah satu skala prioritas pembangunan jalan tol oleh Pemerintah saat ini, telah sesuai dengan tata ruang terpadu yang disusun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan diharapkan dapat mempercepat pengembangan wilayah tersebut.



Jalan Tol Bawen-Salatiga (Foto: Dok MTI) 

"Sekarang sedang dikebut jika udara panas dalam kurun seminggu ke depan sudah dapat diselesaikan. Terdapat rest area temporary atau darurat di sisi timur yang disediakan bagi pemudik," imbuhnya.


Jalan Tol Bawen-Salatiga (Foto: Dok MTI) 

Jalan Tol Semarang-Solo yang menghubungkan kota Semarang dan Solo memiliki arti penting bagi denyut nadi perekonomian di daerah yang dilintasi yaitu, Semarang, Salatiga, Boyolali, Sukoharjo dan Solo yaitu memperkuat potensi pengembangan wilayah, khususnya untuk mendukung pergerakan perekonomian melalui peningkatan kelancaran arus barang dan jasa.



Jalan Tol Bawen-Salatiga (Foto: Dok MTI) 


Jalan Tol Semarang-Solo sebagai bagian dari Trans Jawa yang melintas di jalur Pantura berperan penting dalam membantu kelancaran arus mudik balik Lebaran. Memasuki musim libur panjang, Jalur Pantura menjadi salah satu jalur favorit pemudik.



Jalan Tol Bawen-Salatiga (Foto: Dok MTI) 

Pemudik yang melintas di Kota Semarang dapat meneruskan perjalanan menuju Kota Solo di bagian selatan atau melanjutkan ke jalan nasional menuju ke kota tujuan di sebelah timur seperti Kudus, Pati, Rembang dan kota-kota di Provinsi Jawa Timur.


Jalan Tol Bawen-Salatiga (Foto: Dok MTI) 

Jalan Tol Semarang-Solo diharapkan mampu menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan yang terjadi di jalan arteri serta memberikan alternatif pilihan bagi pengguna jalan untuk menuju ke kota tujuan dengan aman, lancar dan nyaman.

sumber :

pos diteruskan : Pojok Soklin

Rabu, 31 Mei 2017

Persiapan Mudik, Menteri PUPR Blakblakan soal Kondisi Brexit, Tol Weleri, hingga Pantura


Ilustrasi jalan tol. (Foto: Okezone)


JAKARTA - Pemerintah memastikan jalan tol fungsional yang dapat digunakan pemudik tahun ini dari Brebes Exit (Brexit) hingga Desa Gringsing, Weleri, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah, sepanjang 110 kilometer.

"Saya pastikan tol fungsional dengan 'lean concrete' (LC/beton lapis) setelah Brebes Timur sampai Weleri, Kabupaten Batang. Itu panjangnya 110 km dengan enam pintu keluar, dua ke jalan nasional pantura (pantai utara) dan empat ke jalur selatan," kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono kepada pers usai penandatanganan kerjasama dengan Bank Indonesia tentang Gerakan Nontunai di Jalan Tol di Jakarta, Rabu (31/5/2017).

Menurut Basuki, dengan kondisi seperti itu, rekayasa lalu lintas akan sangat mudah dan fleksibel jika menghadapi situasi kepadatan di jalur mudik tahun ini, terlebih dari Pejagan ke arah Purwokerto ada tambahan empat jalan layang baru di lintas sebidang kereta api.

"Itu sangat signifikan karena di lintas sebidang itu dalam sehari ada 90 kali berhenti karena kereta api lewat dan jika saat mudik bisa bertambah jadi 97 kali. Kalau tiap kali berhenti lima menit berarti per hari delapan jam harus berhenti. Itu macetnya ke mana-mana. H-10 besok, empat jalan layang itu beroperasi," katanya.

Basuki juga menambahkan kondisi jalan nasional di lintas Pejagan ke Purwokerto juga sudah bagus. "Jalan Pantura juga mantap, siap dilalui pemudik. Hanya saja untuk jalur selatan ada sedikit perbaikan di dua tempat di Wangon dan dekat Cilacap. Cilacap-Yogyakarta juga mantap," jelas dia.

Sedangkan untuk tol fungsional ruas Solo-Ngawi-Kertosono-Surabaya, Basuki menyebutkan, sekira 15 kilometer dari Solo ke arah Ngawi, keluar di Widodaren secara fungsional juga bisa dipakai untuk Lebaran tahun ini. "Kemudian, untuk ruas Semarang-Solo, tol yang sudah bisa operasi dan siap untuk pemudik adalah sampai Salatiga saja melengkapi dari Semarang-Ungaran, Ungaran-Bawen, dan Bawen-Salatiga," katanya.

Basuki mengisyaratkan bahwa pemerintah akan mendorong badan usaha jalan tol (BUJT) untuk memberikan diskon tarif bagi pengguna nontunai atau elektronik tol (e-toll) sebesar 10%-20%. "Nantinya mereka akan umumkan sendiri, sebab jika pemerintah yang instruksikan, saham mereka terkoreksi," kata Basuki.

Basuki mengakui, diskon tarif bagi pengguna e-toll ini hanya berlaku saat liburan mudik dan balik sehingga tidak menyebar di awal angkutan Lebaran karena pada tahun ini libur cuti bersama mulai Jumat 23 Juni 2017 atau pada H-3 atau H-4 Lebaran.

sumber :

Kamis, 09 Maret 2017

Curah Hujan Tinggi, Jadwal Operasi 2 RuasTol Trans Jawa Mundur


Foto: Dok. Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR

Jakarta - Curah hujan cukup tinggi sejak beberapa bulan terakhir ternyata membuat proses pengerjaan proyek jalan tol terganjal. Hal Bahkan, membuat jadwal pengoperasian beberapa ruas tol Trans Jawa terpaksa mundur dari target yang telah dicanangkan.

Misalnya saja tol Semarang-Solo seksi III yang menghubungkan Bawen dan Salatiga sepanjang 17,6 km. Pengoperasiannya terpaksa mundur dari target yang telah dipetakan oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) lantaran curah hujan yang tinggi menghambat proses pengerukan tanah untuk konstruksi.

"Misalnya Bawen-Salatiga, tadinya kan Maret kita targetnya. Tapi kan jadi mundur. Yang Kertosono-Mojokerto juga sama, kayaknya enggak bisa Maret. Ini lagi dikejar, karena cuaca tadi. Kita sih maunya sesegera mungkin. Makanya orang di lapangan itu kalau bisa maksimal kerjanya, dimaksimalkan," ujar Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna kepada detikFinance saat dihubungi di Jakarta, Kamis (9/3/2017).

Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) sendiri akan senantiasa mempercepat pengerjaan konstruksi seoptimal mungkin. Namun kendala hujan, membuat pekerjaan tanah seperti pemadatan dan pengerukan tak bisa optimal dalam sehari.

Meski tak menyebutkan jalan tol mana saja yang mundur pengerjaannya lantaran faktor cuaca tadi, Herry mengaku optimistis target 1.000 km jalan tol baru bisa tercapai pada 2019 mendatang.

"Tahun ini kan baru bulan Maret. Masih ada sembilan bulan lagi. Kita kan prinsipnya selama masih ada waktu kita kejar. Harapannya yang kita targetkan di 2017 tadi tetap bisa terkejar. Pokoknya di 2019, 1.000 km nya terpenuhi bahkan lebih, itu yang kita janjikan," tukasnya.

Sebagai informasi, dari catatan detikFinance, akan ada tambahan 391,9 km jalan tol baru yang bakal beroperasi tahun 2017. Bila dijumlahkan dengan capaian dua tahun sebelumnya, maka panjang jalan tol baru yang beroperasi hingga akhir tahun 2017 mencapai 567,9 km. 

Berdasarkan data BPJT, tol pertama yang akan diresmikan pengoperasiannya tahun ini adalah jalan tol Semarang-Solo seksi III sepanjang 17,6 km, yang menghubungkan Bawen dan Salatiga pada bulan Maret.

Beberapa jalan tol lainnya yang akan diresmikan antara lain adalah Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) Seksi I Segmen Pangkaljati-Jakasampurna (8,28 km), Solo‐Ngawi yang dibangun Pemerintah (APBN) Kartosuro‐Karanganyar (20,9 km) dan Seksi I Solo‐Mantingan segmen Sragen-Mantingan (21,35 km) dan Seksi II Mantingan‐Ngawi (34,2 km).(hns/hns)

sumber :

Selasa, 07 Maret 2017

5,5 Persen Lagi Tol Bawen-Salatiga Tersambung

Ruas Tol Bawen-Salatiga per 17 Februari 2017

Semarang, KompasProperti – Jalan Tol Semarang-Solo, ruas Bawen-Salatiga masih dalam tahap konstruksi. Perkembangannya hingga saat ini sudah lebih dari 90 persen, dan tinggal sedikit lagi tuntas.

Direktur Teknik dan Operasional PT Trans Marga Jateng Ali Zaenal Abidin mengatakan, proyek tol ini baru selesai 94,5 persen.

Pembangunannya kasip dari jadwal yang telah ditentukan. Seharusnya, sampai awal Maret, perkembangannya sudah 98,7 persen.

Namun kenyataannya, saat ini menyisakan 5,5 persen lagi ruas jalan yang harus tuntas dikerjakan.

“Maret ini ditargetkan selesai pembangunan fisik. Tapi, karena cuaca jadi sedikit tertunda,” kata Zaenal kepada KompasProperti, Selasa (7/3/2017).

Meski menyisakan beberapa persen konstruksi, lahan yang diperlukan untuk jalan tol sudah 100 persen dibebaskan.

Masalah tanah kas desa yang sempat tertunda juga sudah rampung.

“Solusinya tanah kas desa diganti dengan uang, nanti dari pihak desa yang akan mencari tanah pengganti,” tambahnya.

Tol Semarang-Salatiga terdiri dari tiga seksi. Yaitu, Seksi Semarang-Ungaran sepanjang 10,85 kilometer, lalu Ungaran-Bawen sepanjang 11,99 kilometer dan Bawen-Salatiga sepanjang 17,60 kilometer.

Ruas Semarang-Ungaran beroperasi sejak November 2011, sementara Ungaran-Bawen beroperasi April 2014. Ruas ketiga Bawen-Salatiga ini ditargetkan bisa beroperasi April 2017 mendatang.

sumber :

Minggu, 26 Februari 2017

Astra Tak Terlibat Proyek Tol Sumatera, Ini Penyebabnya

"Mereka masih konsentrasi menggarap ruas tol di Pulau Jawa."

Pekerja sedang mengerjakan proyek jalan 
tol Trans Sumatera (VIVA.co.id/Dusep Malik)

VIVA.co.id – Pemerintah tengah gencar-gencarnya membangun sektor infrastruktur, khususnya jalan tol. Tak hanya Pulau Jawa, Sumatera sedang dikebut pembangunan jalan bebas hambatan tersebut. Namun hal itu belum memancing PT Astra International Tbk untuk bergabung di dalamnya.

Menurut Direktur PT Astratel Nusantara, Wiwik Dianawati Santoso, saat ini pihaknya masih konsentrasi menggarap ruas tol di Pulau Jawa. Apalagi, yang terbaru adalah anak usaha perusahaan berkode emiten ASII ini baru saja mengambil kepemilikan 22,3 persen saham Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) di awal tahun ini.

"Saat ini kami masih fokus di (Pulau) Jawa. Sekarang kami sudah punya enam ruas tol. Yang terbaru Cipali," kata Wiwik kepada VIVA.co.id, Minggu 26 Februari 2017. PT Astratel Nusantara merupakan anak usaha Grup Astra, yang bergerak di sektor infrastruktur.

Ia juga mengaku, masih belum bergabungnya Astra ke proyek tol Sumatera lantaran belum adanya tawaran. Selain itu, sektor ini merupakan sektor yang 'capital intensive' atau padat modal. "Kami tidak mau gegabah, karena harus konsultasi dan ada permintaan dari induk usaha. Ini industri padat modal," ungkapnya.

Meski begitu, untuk belanja modal, PT Astratel memiliki anggaran sebesar Rp4 triliun pada tahun ini. Menurut Wiwik, dana itu termasuk yang dipakai saat mengakuisisi saham Tol Cipali. Namun, ia kembali menegaskan bahwa saat ini belum ada rencana maupun tawaran mengakuisisi ruas tol.

Lima ruas tol lainnya yang dioperasikan Astra yaitu Tangerang-Merak sepanjang 74,25 km. Tol ini dioperasikan oleh PT Marga Mandala Sakti. Kedua, Tol Jombang-Mojokerto yang dioperasikan lewat PT Marga Harjaya Infrastruktur, dengan panjang 40,5 km.

Ketiga, Tol Kunciran-Serpong yang dioperasikan lewat PT Marga Trans Nusantara. Panjang ruas tol yang merupakan bagian jaringan Jakarta Outer Ring Road 2 ini adalah 11,2 km.

Keempat, Tol Semarang-Solo yang dioperasikan melalui PT Trans Marga Jateng sepanjang 72,6 km. Terakhir, Tol Serpong-Balaraja dengan kepemilikan di PT Trans Bumi Serbaraja. (ren)

sumber :

Sabtu, 25 Februari 2017

Berikut 6 Jalan Tol Yang Dikuasai Astra

ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA— PT Astra Infra, anak usaha PT Astra Internasional Tbk yang bergerak di sektor infrastruktur menyatakan telah memiliki enam ruas tol yang dioperasikan melalui Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) hingga awal 2017 ini.

Dalam pameran HUT ke 60 ASTRA Sabtu (25/2), Direktur PT Astratel Nusantara Wiwiek D Santoso mengatakan hingga kini konsentrasi kepemilikan jalan tol yang dimiliki perusahaan tersebar di Pulau Jawa serta Jabodetabek. Dia memaparkan enam ruas tol itu diantaranya,
. - .dokumentasi

Pertama yakni Tol—Tangerang—Merak sepanjang 74,25 km. Tol ini merupakan tol pertama yang dimiliki konsesinya oleh astra pada 2005 silam. Astra mengoperasikanruas tol ini melalui anak usaha lainnya yakni PT Marga Mandala Sakti. Adapun porsi kepemilikan astra di ruas ini sebesar 79,3%

Kedua, Ruas Tol Jombang-­Mojokerto yang dioperasikan lewat PT Marga Harjaya Infrastruktur). Ruas tol sepanjang 40,5 km ini dimiliki 100% oleh ASTRA Infra sejak tahun 2011. Ruas di Jawa timur ini terbagi 4 seksi dimana seksi 1 telah beroperasi sejak Oktober 2014 dan seksi 3 di akhir tahun 2016.

Saat ini seksi 2 dan 4 sedang dalam proses penyelesaian yang ditargetkan pengoperasian secara penuh pada 2017.

Ketiga, Ruas Kunciran-­Serpong yang dioperasikan lewat PT Marga Trans Nusantara. Panjang ruas tol yang merupakan bagian jaringan Jakarta Outer Ring Road 2 ini adalah 11,2 km. Pemegang konsesi adalah konsorsium yang terdiri dari ASTRA Infra dan Jasa Marga, dengan masing-­ masing kepemilikan saham 40% dan 60%.

Keempat, Ruas Semarang-­Solo yang dioperasikan melalui PT Trans Marga Jateng. ASTRA Infra mengakuisisi 25% saham ruas tol Semarang-­Solo yang mayoritas dimiliki oleh Jasa Marga pada 2015

Ruas tol Semarang-­Solo sepanjang 72,6 km ini terbagi 5 seksi dimana seksi 1 dan 2 telah beroperasi. Ditargetkan seksi 3 akan beroperasi tahun 2017 dan beroperasi penuh di tahun 2018.

Kelima, Ruas Serpong – Balaraja dengan kepemilikan di PT Trans Bumi Serbaraja. Tol ini dimneangkan tendernya oleh Astra pada April 2016 dengan membentuk konsorsium PT Bumi Serpong Damai, ASTRA Infra, PT Transindo Karya Investama, danPT Sinar Usaha Mahitala. Dalam konsorsium ASTRA Infra memiliki 25% saham.

Keenam, yang terbaru, Ruas Cikopo-­Palimanan dengan kepemilikan saham di PT Lintas Marga Sedaya. ASTRA Infra berhasil mengakuisisi kepemilikan tol ini sebesar 22,3% saham efektif pada bulan Januari 2017. Ruas tol terpanjang di Indonesia ini memiliki panjang 116 km dan telah beroperasi penuh sejak tahun 2015.

sumber :

Selasa, 21 Februari 2017

Soal Exit Tol Tambahan, BPJT Sarankan Pemkot Salatiga Temui Ditjen Bina Marga

Menkeu Sri Mulyani meninjau proyek jalan tol Bawen-Solo 
di Desa Delik, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, 
Jumat (17/2/2017). 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI menyarankan Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga untuk dapat segera menemui dan berkoordinasi kembali secara intensif dengan Ditjen Bina Marga yang masih di bawah naungan KemenPUPR RI.

Saran itu disampaikan Humas BPJT Wisnu Priambodo terkait informasi adanya rencana Pemerintah Kota Salatiga hendak jemput bola menanyakan perkembangan nasib usulan sejak 2009 terkait pengadaan serta pembangunan pintu tol tambahan di Jalan Patimura Kelurahan Kauman Kidul Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga.

“Terkait dengan usulan penambahan exit tol tersebut, saat ini masih dievaluasi oleh rekan-rekan di Ditjen Bina Marga. Jadi, dapat kami sampaikan, untuk proses termasuk juga direalisasikan atau tidaknya usulan Pemkot Salatiga tersebut, bukan ranah kami, tetapi Ditjen Bina Marga,” kata Wisnu kepada Tribunjateng.com, Selasa (21/2/2017).

Sehingga, lanjutnya, apabila Pemkot Salatiga ingin segera memperoleh kepastian disetujui atau tidaknya penambahan exit tol yang diklaim sebenarnya telah memperoleh lampu hijau pada 2015 lalu, diharapkan untuk dapat segera dikomunikasikan dan dikoordinasikan lebih lanjut dengan pihak yang lebih berwenang.

“Saat ini kami sedang konsentrasi untuk penyiapan uji laik operasional di Ruas Tol Bawen-Salatiga. Kami juga sedang ngepush pihak PT Trans Marga Jateng (TMJ) untuk percepatan sehingga tim BPJT dapat segera turun ke lapangan. Hingga saat ini, kami masih menunggu kepastiannya. Target kami paling lambat akhir Februari 2017 ini bisa dilaksanakan,” ujarnya.

Sebelumnya, Pemkot Salatiga mengklaim berkait usulan penambahan pintu tol di perkotaan Kota Salatiga dalam proyek pembangunan Tol Semarang-Solo Seksi III Bawen-Salatiga sepanjang 17,6 kilometer tersebut sudah sejak lama disampaikan kepada Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI.

Bahkan dalam perkembangannya atau sekitar dua tahun lalu, untuk merealisasikan pintu tol tersebut, Pemkot Salatiga tidak akan mengeluarkan dana. Seluruhnya bakal ditanggung oleh Pemerintah Pusat. Adapun konsepnya yakni berupa pintu tol simpang susun atau interchain antara Bugel dan Kauman Kidul.

Namun, Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (BP3D) Kota Salatiga Tedjo Supriyanto menyampaikan apabila usulan penambahan pintu tol tersebut yang telah diajukan hingga saat ini belum memperoleh persetujuan secara resmi oleh Pemerintah Pusat. Proyek tersebut dapat terealisasikan ketika persetujuan itu telah ada.

“Berkait bagaimana nasibnya, kami masih menunggu. Hingga sekarang kami belum memperoleh informasi lagi berkait perkembangan ataupun tindaklanjut atas usulan yang telah kami sampaikan tersebut. Harapan kami, itu bisa disetujui dan dapat segera dibangun. Karena informasi terakhir, yang akan membangun pintu tol tambahan itu adalah Pemerintah Pusat,” ucap Tedjo. (*)

sumber :

Minggu, 12 Februari 2017

Tol Bawen-Yogyakarta Dilelang Awal 2018



Ilustrasi (Foto: Agung Pambudhy)


Jakarta - Jalan tol menuju Yogyakarta bakal dibangun oleh pemerintah lewat Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) untuk mendukung pengembangan wisata ke kawasan tersebut. Bagaimana kesiapannya saat ini?

Kepala BPJT Herry Trisaputra Zuna mengatakan, saat ini pihaknya tengah menyiapkan dokumen lelang investasi untuk mencari investor paling kompeten untuk mendanai proyek tersebut.

Bersamaan dengan itu, saat ini juga tengah dilakukan proses pembebasan lahan untuk kawasan-kawasan yang akal dilewati rute jala tol tersebut.

"Kita sekarang sedang siapkan dokumen pengadaan tanahnya. Sembari kita sedang siapkan dokumen lelangnya. Awal tahun depan (awal 2018) kita akan mulai lelang," kata dia dihubungi detikFinance, Minggu (12/2/2017).

Dari data BPJT, jalan tol ini bakal memiliki panjang mencapai 70 km. Biaya investasi untuk proyek ini diperkirakan mencapai Rp 10,72 triliun.

Jalan tol Bawen-Yogyakarta tidak akan berdiri sendiri karena akan terkoneksi dengan jalan tol yang saat ini telah beroperasi.

Sekedar informasi, di Bawen sendiri saat ini telah tersedia jalan tol Semarang-Solo. Tol Semarang-Solo, saat ini telah beroperasi dua seksi yakni seksi 1 Tembalang-Ungaran sepajang 16,3 km dan seksi 2 Ungaran-Bawen sepanang 11,3 km. Untuk seksi 3 Bawen-Salatiga, saat ini tengah dalam tahap konstruksi. Selain 3 seksi itu, tol Semarang-Solo memiliki dua seksi lagi yakni seksi 4 Salatiga-Boyolali sepanjang 22,4 km dan seksi 5 Boyolali-Kartosuro sepanjang 11,1 km.

Adapun persambungan dengan tol Bawen-Yogyakarta akan terjadi di ruas tol Ungaran-Bawen.

"Nanti dari Bawen pecah (ada persimpangan) ada yang ke Salatiga. Sekarang sedang tahap konstruksi. Nanti yang baru akan kita bangun Bawen-Jogja," kata Herry.

Bila seluruh rusa jalan tol tersebut terbangun, maka 3 kota yakni Semarang, Solo dan Yogyakarta akan tersambung jalan tol. Membuat waktu tempuh ketiga kota akan semakin singkat. (dna/dna)

sumber :

Selasa, 03 Januari 2017

TOL SEMARANG-SOLO : Blokade Jalan di Ngargosari Ampel Akhirnya Dibuka



Warga tutup Jalan Plumbon. (JIBI/Harian Jogja/Joko Nugroho)

"Tol Solo-Semarang, aparat kepolisian bersama warga akhirnya membuka blokade jalan di Ngargosari."

Solopos.com, BOYOLALI — Aparat kepolisian bersama jajaran perangkat Desa Ampel serta koramil Ampel akhirnya membuka portal yang menghalangi akses warga Dukuh Ngasemrejo, Desa Ngargosari, Ampel, Boyolali.

Polisi menjanjikan mediasi antara pemilik lahan dengan pelaksana proyek terkait status jalan tersebut. “Untuk sementara penutup jalan sudah kami buka kembali agar bisa dilewati pengguna jalan. Besok [hari ini] akan kami mediasi antara pemilik lahan dengan pelaksana proyek tol,” ujar Kapolsek Ampel, AKP Edi Sukamto, saat dihubungi Solopos.com, Senin (2/1/2017).

Seperti diketahui, pembebasan lahan tol Semarang-Solo di wilayah Ampel memicu masalah sosial. Salah satunya, akses di Dukuh Ngasemrejo, Desa Ngargosari, Ampel, Boyolali, diblokade sejumlah pemilik lahan lantaran uang sewa penggunaan lahan tersebut belum dibayarkan oleh pelaksana proyek.

Hal inilah yang memicu masalah sosial. Warga dari tiga dukuh, yakni Ngasemrejo, Gumukrejo, dan Dukuh tak bisa keluar masuk lewat jalan tersebut. Permasalahan ini sangat disayangkan sejumlah warga. Banyak pelaku usaha yang kini merugi lantaran kesulitan akses.


“Uang sewa lahan tersebut berakhir Desember lalu, namun hingga kini belum diperpanjang. Jadi, sekarang sedang diupayakan mediasi,” papar Kapolsek.

Kapolsek meminta warga agar tetap berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kepolisian jika menghadapi permasalahan. Dia mengimbau agar warga tak melakukan tindakan anarkistis yang bisa memicu masalah lebih runyam.

“Koordinasikan dengan [pemerintah] desa. Saya yakin masalah ini bisa diselesaikan,” terangnya.

Sementara itu, warga yang tinggal di pinggir jalan tersebut, Eko Verianto, mengaku sangat dirugikan atas penutupan jalan itu. Tak hanya dirinya, sejumlah usaha milik warga juga sepi pembeli dan gulung tikar lantaran permasalahan tanah tersebut.

“Di sana, ada banyak usaha milik warga. Ada pedagang makanan, toko kelontong, usaha jasa, dan lain-lain. Ada tiga dukuh yang terkena imbasnya,” paparnya.

Eko melanjutkan jalan yang ditutup tersebut saat ini sudah berupa jalan layak lengkap dengan drainasenya. Meski demikian, status jalan tersebut masih milik warga setempat alias belum dibebaskan.

“Kami tak tahu, apakah status tanah itu nanti tetap sewa atau dibebaskan untuk kepentingan umum. Yang jelas, jalan sudah siap dilintasi, namun sekarang diblokade oleh pemilik tanah,” ujarnya.

sumber :

Kamis, 22 Desember 2016

48 Perkara Konsinyasi Diproses PN Boyolali


SM/Joko Murdowo
DIGUNAKAN JEMUR TEMBAKAU: Petani menjemur 
tembakau di ruas jalan tol Solo- Semarang di Dukuh Gunung, 
Desa Denggungan, Kecamatan Banyudono beberapa 
waktu lalu. Pembebasan lahan tol tersebut masih terdapat 48
 perkara konsinyasi yang diproses di PN Boyolali. (50)

BOYOLALI – PN Boyolali telah menerima 48 perkara dari total 68 perkara konsinyasi pembebasan lahan proyek jalan tol Solo- Semarang. Tiga pemilik lahan menyatakan menerima konsinyasi dan 45 lainnya belum ada kejelasan.

Menurut Humas PN Boyolali, Agung Wicaksono menjelaskan, dari 68 perkara yang masuk PN, 15 perkara telah dicabut sebelum disidangkan. Sedangkan lima perkara didelegasikan kepada PN Jakarta Selatan. ”Kelima pemilik lahan itu berada di Jakarta Selatan makanya kami minta pengadilan tersebut agar melakukan konsinyasi segera berjalan,” katanya. Sehingga, PN Boyolali hanya memeriksa 48 perkara dan menyidangkannya.

Setelah diproses, hanya ada tiga pemilik lahan yang langsung menerima konsinyasi. Sehingga uang ganti rugi (UGR) pembebasan langsung bisa dicairkan di bank. Jika sudah menerima proses konsinyasi maka pihak PN bersama BPN, PPK Lahan dan pemilik lahan ke bank untuk proses pencairan uangnya. Pasalnya, seluruh uang konsinyasi berada di bank yang telah ditunjuk. ”Bahasanya memang uang dititipkan di pengadilan, namun PN tidak membawa uang tersebut sama sekali. Uang dititipkan di bank.”

Sedangkan bagi pemilik lahan yang menolak proses konsinyasi, dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada Pengadilan Negeri. Hal ini sesuai Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Nomor 3 tahun 2016 tentang tata cara pengajuan keberatan dan penitipan ganti kerugian ke pengadilan negeri dalam pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum.

Sehingga pemilik tanah yang merasa nilai UGR belum memenuhi rasa keadilan bisa mengajukan keberatan. Namun sejak dua pekan setelah proses konsinyasi dilakukan, belum ada permohonan keberatan dari pemilik hak tanah.

Kepentingan Umum

Sementara itu, Staff PPK Lahan Tol, Omaruzzaman, mengungkapkan, proses konsinyasi dilakukan sesuai dengan tahapan pembebasan tanah untuk pembangunan bagi kepentingan umum. Sebab pembebasan lahan juga berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 148 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat atas Perpres Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. ”Memang aturannya seperti itu.” Hanya saja, pihaknya tidak menyebutkan secara rinci lokasi ke 68 lahan yang dikonsinyasikan.

Namun diakui paling banyak berada di Desa Kiringan, Kecamatan Boyolali Kota. Sisanya berada di beberapa kecamatan lain seperi Teras, Mojosongo dan Banyudono. Seperti diberitakan, sejumlah pemilik tanah di Desa Kiringan, Kecamatan Boyolali Kota yang terkena proyek tol Solo- Semarang† menolak ganti rugi pembebasan tanah. (G10-50)

sumber :
suaramerdeka

Selasa, 20 Desember 2016

Tol Semarang-Solo : 40 Bidang Tanah di Boyolali Dikonsinyasi

Pemilik Tolak Ganti Rugi


SM/Joko Murdowo
SPANDUK: Spanduk penolakan ganti rugi lahan terdampak 
tol dipasang di pinggir Jalan Tentara Pelajar, Desa Kiringan, 
Kecamatan Boyolali Kota. (26)

BOYOLALI - Sebanyak 40 bidang tanah di Desa Kiringan, Kecamatan Boyolali Kota yang dibebaskan untuk proyek tol Solo-Semarang, bakal diselesaikan melalui Pengadilan Negeri (PN) setempat.

Cara ini ditempuh karena pemilik lahan enggan melepaskan tanah mereka. Warga memasang dua spanduk penolakan di pinggir Jalan Tentara Pelajar Boyolali. Staf Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Lahan Tol Semarang- Solo, Omaruzzaman mengatakan, pembayaran 40 bidang tanah di Boyolali Kota akan dilakukan melalui proses konsinyasi.

Pasalnya, pemilik 40 bidang lahan itu tak pernah sepakat. ”Sudah ada musyawarah mengenai ganti rugi, namun tidak ada kesepakatan.” Belum diketahui siapa yang memasang spanduk itu. Spanduk dipasang mencolok yang diikatkan pada dua batang pohon. Salah satu spanduk bertuliskan ”Tanah ini masih dalam sengketa.

Jangan paksa kami untuk melepas hak milik kami”. Spanduk lain bertuliskan ”Paguyuban korban proyek jalan tol Semarang-Solo Kabupaten Boyolali”. Salah satu pemilik tanah, Nyonya Sugi mengakui, dia belum sepakat dengan harga yang ditawarkan tim appraisal.

Dua tahun lalu, dia mengajukan ganti rugi Rp 1 juta/m2 untuk tanah miliknya seluas 460 m2 yang bakal terkena tol. Waktu berjalan hingga dua tahun, dia pun meminta ganti rugi menjadi Rp 1,5 juta/m2.

Alasannya, harga-harga juga ikut naik termasuk tanah. Dicontohkan, nilai ganti rugi tanah di wilayah Kebakan, Desa Methuk sebesar Rp 920.000/ m2. ”Lha tanah saya juga di pinggir jalan raya, malah hanya diberi ganti rugi Rp 619.000/m2. Saya dan pemilik tanah lain sepakat menolak melalui paguyuban.”

Warga lain, Slamet, salah seorang petani yang berada di dekat lokasi pemasangan spanduk, mengaku tak mengetahui secara pasti siapa yang memasang kedua spanduk tersebut. Yang dia tahu hanya tanah miliknya sudah bebas. ”Punya saya sudah bebas dan dibayar lunas. Yang mengurus adik saya.”

Percepat Pembangunan

Staf Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Lahan Tol Semarang-Solo, Omaruzzaman mengatakan, pihaknya bersama BPN sudah melakukan validasi data dan mengajukan permohonan† konsinyasi†serta menitipkan uang ganti rugi ke pengadilan. Ke-40 pemilik tanah tersebut tersebar di Desa Kiringan, Kecamatan Boyolali. † Ditambahkan, sejak proses pembebasan yang dimulai dari paparan dan musyawarah oleh tim appraisal, warga terus menolak nilai ganti rugi.

Oleh sebab itu, amanat undangundang untuk mempercepat pembangunan harus dilakukan dengan proses pengadilan. ”Penentuan harga hanya dari tim appraisal yang sudah mempunyai lisensi mengenai penaksiran harga. Kami tak berwenang menaikkan harga sesuai permintaan warga.”(G10-26)

sumber :

Rabu, 14 September 2016

Warga di Boyolali Tuntut Kejelasan Sewa Lahan Poyek Tol


BENTANGKAN SPANDUK: Belasan warga Desa Sawahan, 
Kecamatan Ngempak, menggelar unjuk rasa 
di lahan proyek tol kemarin.
TRI WIDODO/RADAR BOYOLALI

BOYOLALI – Belasan warga Desa Sawahan, Kecamatan Ngemplak, menggelar aksi di proyek tol kemarin (13/9). Mereka menuntut kejelasan sewa-menyewa lahan oleh pelaksana proyek tol, seksi interchange (IC) Solo. Hal ini mengingat tanah warga yang diuruk sejak Agustus lalu hingga kini belum dibayar dan tak ada kejelasan.

Aksi yang dilakukan itu dengan memasang patok-patok dari bambu dan spanduk di sepanjang IC Solo di wilayah Desa Sawahan. Spanduk-spanduk kuning itu bertuliskan ”Tanah Ini Belum Dibayar”. ”Semua pekerjaan konstruksi mohon dihentikan sementara sampai pembayaran tanah selesai”.

Koordinator Aksi Anom Suratno mengatakan, sejak beberapa bulan lalu belum ada pembicaraan dari pelaksana proyek. Hal itu membikin warga resah jika tiba-tiba pelaksana proyek pergi begitu saja. ”Sampai hari ini (kemarin, Red) belum ada pembicaraan dengan kontraktor ihwal berapa harga tanah kami yang dipinjam untuk proyek jalan tol,” bebernya.

Pemilik lahan seluas 2.500 meter persegi ini menunjukkan surat dari pelaksana proyek jalan tol Soker Ruas Interchange Solo tertanggal 11 Agustus 2016. Surat itu berisikan permohonan peminjaman lahan untuk proses pekerjaan proyek tol. Di akhir paragraph, surat itu tertulis ”Tetapi saat ini lahan belum bebas, masih dalam proses di Pejabat Pembuat Komitmen (PPK Lahan)”.

”Istilah peminjaman lahan itu membingungkan kami. Meminjam itu ada batas waktu dan wujud lahannya masih utuh. Padahal sepekan setelah muncul surat itu, lahan kami langsung diuruk tanah setebal empat meter,” kata Anom.

Humas Pelaksana Proyek Tol Soker Seksi IC Solo Sali Setiawan mengapresiasi aksi belasan warga Desa Sawahan yang berlangsung tertib. ”Warga melakukan aksi ini agar pembebasan lahan mereka segera direspons pihak-pihak terkait,” terangnya.

Masih ada sekitar 30 lahan (hak sertifikat) di wilayah Desa Sawahan yang belum dibebaskan untuk pekerjaan seksi IC Solo. Luas lahan sekitar 10 ribu meter persegi. Pekerjaan sudah dilaksanakan karena keikhlasan warga yang meminjamkan lahan. ”Ini berkat niat baik warga. Mereka sudah paham kalau lahannya pasti bakal dibebaskan karena ini proyek nasional. Wajar kalau mereka meminta agar segera diselesaikan,” kata Sali.

Seperti diketahui, jalan tol soker ruas IC Solo-Pungkruk, Sragen akan dioperasikan mulai awal 2017. Pengoperasian jalan tol akan dilakukan PT Solo-Ngawi Jaya (SNJ). Untuk itu, pelaksana proyek tengah mengebut pembangunan jalan yang belum rampung, termasuk proyek tambahan. Seperti perbaikan saluran irigasi sawah dan akses jalan warga sekitar jalan tol. (wid/un)

sumber :

76 Bidang Tanah Dikonsinyasi

ilustrasi
BOYOLALI – Upaya pembebasan tanah untuk proyek tol Semarang- Solo terus berlanjut. Panitia Pembebasan Tanah (P2T) segera menyelesaikan pembebasan tanah di ruas Salatiga-Boyolali dengan cara konsinyasi.

”Kali ini giliran 76 bidang juga akan diselesaikan di Pengadilan Negeri Boyolali,” tandas Ketua Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Lahan Tol Semarang-Solo, Waligi, Selasa (13/9).

Dijelaskan, melalui konsinyasi, maka pembayaran nilai ganti rugi kepada pemilik tanah yang terkena proyek jalan tol akan dititipkan ke Pengadilan Negeri. Total dana yang dititipkan lewat Pengadilan Negeri mencapai Rp 29,219 miliar. Ke-76 bidang tanah itu tersebar di tujuh desa yang ada di wilayah Boyolali. Yaitu, Desa Bangak, Kecamatan Banyudono; Desa Gumukrejo dan Mojolegi, Kecamatan Teras; Desa Ngampon dan Ngargosari, Kecamatan Ampel, serta Desa Kiringan dan Karanggeneng, Kecamatan Boyolali Kota. Jika konsinyasi terhadap 76 bidang tanah ini tuntas, maka pembebasan lahan untuk proyek tol Semarang-Solo sudah selesai 100 persen. Sebelumnya, pihaknya bersama BPN sudah menyelesaikan validasi data, pekan lalu.

Sudah Tuntas

”Kami siap mengajukan permohonan konsinyasi ke pengadilan, pekan ini.” Terpisah, Pejabat Humas Pengadilan Negeri Boyolali, Agung Wicaksono mengungkapkan, pihaknya hingga kini belum menerima berkas konsinyasi untuk 76 bidang tanah tersebut.

Pengadilan masih menyelesaikan konsinyasi 14 bidang tanah di Kecamatan Ngemplak. Dari 14 bidang tanah yang dikonsinyasi di pengadilan, sudah selesai 11 bidang tanah. Tinggal tiga bidang tanah milik satu pasangan suami istri. ”Tetapi belum tahu kapan uangnya akan diambil.” Diakui, adanya konsinyasi, berarti menutup kemungkinan pemilik tanah menawar kembali besaran uang ganti rugi. Nilai uang yang dibayarkan sesuai dengan nilai yang ditetapkan panitia pembebasan tanah. ”Jadi tidak ada lagi tawar-menawar,” tandasnya. (G10-76)

sumber :

Senin, 20 Juni 2016

Awal Pekan Depan Pemberlakuan Tol Diputuskan


CEK TERMINAL: Sekda Pemprov Jateng Sri Puryono mendatangi 
Terminal Tirtonadi Solo untuk mengetahui dari dekat keseiapan terminal 
menyambut Arus Mudik Balik Lebaran 2016. 
(suaramerdeka.com/Budi Sarmun S)

SOLO, suaramerdeka.com - Kepastian jalan tol Solo-Kertosono (Soker) dioperasionalkan untuk mendukung pelaksanaan Arus Mudik Balik Lebaran 2016 akan diputuskan pada pekan depan. Saat ini pengecekan akhir kondisi tol sedang dilakukan berbagai pihak termasuk rombongan pejabat dari Pemprov Jateng yang mendatangi lokasi tol yang masuk wilayah Boyolali-Solo dan Karanganyar tersebut, Senin (20/6).

Sekda Jateng, Sri Puryono ditemui wartawan saat melakukan kunjungan kesiapan Arus Mudik Balik 2016 di Terminal Tirtonadi Solo, menuturkan pembukaan jalan tol soker untuk mendukung arus mudik adalah upaya pemerintah memberikan kemudahan dan fasilitas kepada rakyat saat kembali ke kampung halaman. Namun demikian, guna memastikan bahwa tol itu aman bagi keselamatan dan keamanan pengguna jalan maka perlu dicek secara cermat.

“Keputusan final nanti pada 27 (27 Juni). Nanti saya langsung cek ke tol soker,” kata Sekda Sri Puryono.

Sekda mengimbau kepada pemudik yang melintasi Jateng melalui pantura Semarang-Salatiga-Boyolali-Solo Madiun memperhatian proyek pembangunan jembatan Tuntang yang belum jadi. Dia mengharapkan pemudik usai melintasi tol Bawen melalui jalur Tlogo, Tuntang belok kiri-Ndelik terus masuk tol dan menuju Salatiga. “Pemudik agar melewati Salatiga sisi selatan hingga menuju Tingkir,” tandasnya. (Budi Sarmun S/CN38/SM Network)

sumber :

TOL SOLO-KERTOSONO : Kemenhub Bakal Uji Kelayakan Tol Solo-Sragen Pekan Depan


Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) 
Sri Puryono (bertopi sebelah kanan) meninjau exit tol di 
kawasan Pungkruk, Sidoharjo, Sragen, Senin (20/6/2016). 
Sementara itu, sejumlah pekerja dikerahkan untuk membangun 
lapisan beton di permukaan jalan tol di kawasan Masaran. 
(Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos)

"Jalan Tol Soker akan diuji coba pada pekan depan."

Solopos.com, SRAGEN—Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bakal menguji kelayakan jalan tol Solo-Sragen pada Senin (27/6/2016) mendatang. Jalan tol Solo-Sragen bakal dibuka pada H-7 Lebaran.

Hal itu dikemukakan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Sri Puryono ketika ditemui wartawan saat meninjau pintu exit tol Pungkruk, Senin (20/6). Pada kesempatan itu, Sekda didampingi PT Solo Ngawi Jaya (SNJ) dan PT Waskita Karya menyisir jalan tol dari pintu masuk di kawasan Klodran, Karanganyar hingga pintu keluar jalan tol di kawasan Pungkruk, Sragen.

”Dari pemerintah pusat dan provinsi sebetulnya berharap pada H-10 jalan tol sudah bisa dilewati. Tapi, nanti jalan tol perlu diuji kelayakannya dulu pada 27 Juni. Baru pada H-7 sekitar 28 atau 29 Juni jalan tol sudah dibuka untuk pemudik,” kata Sri Puryono.

Hasil inspeksi di lapangan, Sekda menjelaskan masih ada beberapa ruas jalan yang belum dibeton. Meski begitu, dia optimistis seluruh permukaan jalan akan selesai dibeton dalam beberapa hari ke depan. Dia meminta pelaksana proyek mengebut pembangunan lapisan beton itu dari siang hingga malam.

”Kita sudah janji sama rakyat kalau jalan tol akan dibuka pada H-7 Lebaran. Kendala yang terjadi selama ini ya proses pembebasan lahan. Kalau uang, sudah ada. Bahkan, hari ini masih ada pembayaran uang pengganti [atas pembebasan tanah],” terang Sekda.

Direktur Utama (Dirut) PT SNJ David Wijayatno menjelaskan masih ada sekitar 2 km permukaan jalan yang belum dibeton. Jalan itu membentang dari Purwosuman hingga Duyungan. Dia optimistis pembangunan lapisan beton itu akan selesai pada Rabu (22/6/2016) besok.

Diperlukan waktu selama sekitar sepekan untuk mengeraskan beton sebelum dilintasi pemudik. ”Perlu diketahui, beton ini dibangun untuk sementara. Tebalnya hanya sekitar 6 cm [tanpa tulang]. Beton ini dibangun untuk kepentingan darurat. Jadi, kecepatan kendaraan yang melintasi jalan tol ini dibatasi 40 km/jam, bukan untuk ngebut,” jelas David.

Selesai digunakan pemudik, pelaksana proyek akan membongkar beton darurat itu. Sebagai ganti, pelaksana proyek akan membangun beton rigid atau bertulang dengan ketebalan 29 cm. Saat ini pembangunan beton rigid baru sepanjang 4 km dari km 22 hingga km 26, tepatnya di kawasan Kebakkramat hingga Masaran. Lantaran belum dilengkapi penerangan jalan, pintu masuk tol nantinya akan ditutup pada pukul 17.00 WIB.

”Sudah ada kesepakatan antara Dishubkominfo dan Satlantas di tiga Polres yakni Boyolali, Karanganyar dan Sragen, pintu masuk tol di Klodran ditutup pukul 17.00 WIB dengan harapan pemudik bisa sampai Sragen tidak terlalu malam,” terang David.

sumber :

Bangun Jalan Tol, Pemerintah Suntik Rp16 Triliun Ke LMAN

"Dana tambahan akan digunakan untuk percepat pengadaan tanah jalan tol."

Pekerja sedang membangun salah satu ruas jalan tol trans Jawa
(Istimewa )


VIVA.co.id – Pemerintah mengusulkan untuk meningkatkan alokasi tambahan pembiayaan kepada Badan Layanan Umum (BLU) Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) sebesar Rp16 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2016.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, peningkatan alokasi pembiayaan tersebut memang bertujuan untuk mempercepat pengadaan tanah, khususnya untuk proyek infrastruktur jalan seperti jalan tol yang saat ini tengah digenjot pemerintah.

"BLU LMAN ini mempunyai mandatory untuk percepat pengadaan tanah. Sehingga, (alokasi tambahan pembiayaan) belanja pengadaan tanah lebih fleksibel," kata Bambang dalam rapat kerja bersama Komisi XI di gedung parlemen Jakarta, Senin 20 Juni 2016.

Bambang menjelaskan, suntikan pembiayaan yang diusulkan sebesar Rp16 triliun tersebut sudah mencakup pembiayaan empat ruas jalan tol yang saat ini tengah dibangun oleh pemerintah. Misalnya seperti pembangunan ruas Tol Trans Jawa, Non Trans Jawa, Tol Trans Sumatera, sampai dengan ruas tol dalam kota.

"Trans Jawa itu Rp5,36 triliun, Non Trans Jawa Rp3,02 triliun, Jabodetabek Rp5,62 triliun, dan Trans Jawa Rp5,36 triliun," jelas Bambang.

Sementara dari total yang dialokasikan untuk pembiayaan tol Trans Jawa, Bambang mengatakan, pembiayaan tersebut sudah mencakup kebutuhan dana dari delapan ruas jalan tol yang saat ini terus dipercepat pemerintah. Mulai dari tol Pejagan-Pemalang sebesar Rp607 miliar, Pemalang-Batang Rp1,3 triliun.

Kemudian, Batang-Semarang sebesar Rp2,53 triliun, Semarang-Boyolali sebesar Rp460 miliar, Solo-Mantingan sebesar Rp49 miliar, Kertosono-Mojokerto sebesar Rp62 miliar, dan Mojokerto-Surabaya sebesar Rp253 miliar. "Sehingga totalnya Rp5,36 triliun," katanya.

Jika parlemen menyetujui usulan penambahan alokasi tersebut, maka ini adalah skema pembiayaan yang akan disalurkan oleh BLU LMAN kepada sejumlah proyek itu. Sampai saat ini, pembahasan penambahan alokasi pembiayaan untuk BLU LMAN masih digodok bersama pemerintah dan parlemen.

sumber :

Tol Bawen-Salatiga diupayakan siap untuk mudik


Sejumlah pekerja meratakan adonan semen untuk pengecoran beton 
jalan tol Bawen-Salatiga di Tingkir, Salatiga, Jawa Tengah, 
Rabu (8/6/2016). PT Trans Marga Jateng (TMJ) menargetkan pada 
H-7 Lebaran 2016, ruas jalan tol Bawen-Salatiga dapat dilalui untuk 
mengurangi kemacetan arus mudik. 
(ANTARA FOTO/ Aloysius Jarot Nugroho)

Semarang (ANTARA News) - PT Trans Marga Jateng terus berupaya menyiapkan jalan tol Semarang-Solo ruas Bawen-Salatiga agar dapat digunakan masyarakat pada arus mudik Lebaran 2016, khususnya saat arus kendaraan di jalur utama padat.

"Bawen-Salatiga masih diupayakan untuk dioperasikan saat mudik Lebaran, meskipun jalur yang dilewati tidak langsung terhubung dengan jalur tol ruas Semarang-Bawen," kata General Manager Teknik dan Operasional PT Trans Marga Jateng Prayudi di Semarang, Senin.

Ia menjelaskan, jalan tol Bawen-Salatiga yang disiapkan untuk bisa dilalui dari pemudik itu mulai kawasan Delik (Tuntang) menuju pintu keluar tol Salatiga (Tingkir).

Untuk dapat masuk ke jalan tol, kata dia, pengguna jalan mesti melewati jalur Tlogo Tuntang menuju Delik.

"Kami beserta Dinas Pehubungan dan kepolisian telah menyiapkan rambu sementara serta direncanakan ada petugas yang berjaga di titik krusial," ujarnya.

Menurut dia, uji kelayakan jalan tol Bawen-Salatiga tetap akan dilakukan pengujian oleh pihak kementerian dan Pemprov Jateng.

"Ruas jalan itu hanya dibuka sampai pukul empat sore (pukul 16.00 WIB)," katanya.

Hal tersebut disampaikan Prayudi kepada Sekretaris Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono saat meninjau kesiapan jalan tol Semarang-Solo menjelang Hari Raya Idul Fitri 2016 di Gerbang Tol Bawen.

Selain kesiapan jalan tol ruas Bawen-Salatiga, PT TMJ juga terus menyelesaikan pengerjaan "rest area" di kawasan Penggaron.

Rencananya tempat peristirahatan bagi pengguna jalan tol itu akan mulai difungsikan pada Senin (27/6).

Sekda Jateng Sri Puryono meminta jajaran PT TMJ dan instansi terkait agar menyediakan rambu-rambu di ruas jalan yang akan digunakan pada arus mudik dan arus balik Lebaran.

"Selain itu, pelayanan di pintu tol juga mesti ditingkatkan agar tidak terjadi penumpukan antrean, termasuk keamanan juga harus ditingkatkan," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengungkapkan bahwa pihaknya tidak memaksakan pengoperasian jalan tol Semarang-Solo ruas Bawen-Salatiga pada arus mudik dan arus balik Lebaran 2016 demi keselamatan masyarakat.

"Ngapain kami memaksakan satu jalur terus kemudian keamanannya mengancam, itukan bahaya, lebih baik dituntaskan sampai betul-betul siap, kalau siap langsung dipakai, kalau tidak layak ya jangan," katanya.

sumber :

TOL SEMARANG-SOLO: Pembangunan Ruas Bawen-Salatiga Baru 86%


ilustrasi : bisnis.com

Bisnis.com, SEMARANG—Pembangunan ruas tol Seksi III Bawen-Salatiga yang merupakan bagian dari proyek Tol Semarang-Solo tersebut saat ini baru mencapai 86%.

"Kami menargetkan pengecoran terakhir dapat dilakukan pada besok hari (21/6/2016), sehingga diharapkan pada Rabu (22/6/2016), jalan sudah selesai dikerjakan," ujar Pemimpin Proyek Trans Marga Jateng Indriyono, Senin (20/6/2016).

Namun demikian, sambungnya, hujan yang turun beberapa hari terakhir menjadi kendala dalam pengerjaannya. Dia menuturkan hal itu akan membuat proses penyelesaian terganggu.

Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono meminta jajaran TMJ dan instansi terkait dapat menyediakan rambu-rambu di ruas jalan yang akan digunakan untuk mudik atau arus balik.

"Selain itu pelayanan di pintu tol juga mesti ditingkatkan agar tidak terjadi penumpungkan antrean. Keamanan juga harus ditingkatkan. Jangan sampai sudah diberi fasilitas, jadi tidak aman. Itu akan jadi risiko untuk kita," paparnya.

Selain kesiapan jalan tol Bawen-Salatiga, TMJ juga tengah menyelesaikan pengerjaan rest area di kawasan Penggaron. Tempat peristirahatan tersebut ditargetkan dapat berfungsi pada pekan depan.

Melalui rest area tersebut, jalur tol Semarang-Bawen akan memiliki dua rest area. Dengan begitu, diharapkan dapat menampung pemudik yang hendak beristirahat.

sumber :

Minggu, 19 Juni 2016

Menteri Basuki: 90 Persen Jalur Mudik 2016 Siap Dilalui


Kontributor Semarang, Nazar NurdinMenteri Pekerjaan Umum dan 
Perumahan Rakyat Basuki Hadimuldjono melakukan pantauan jalur 
mudik yang tergenang rob di Semarang, Minggu (19/6/2016)


SEMARANG, KOMPAS.com - Menteri Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuldjono menargetkan ke depan untuk mengurangi jumlah gardu pembayaran di sejumlah pintu tol.

Dalam dua tahun mendatang, jalur tol dari Jakarta hingga Semarang ditargetkan bebas dari pintu tol.

"Pembayaran tol yang kemarin diintegrasikan dari tujuh pintu menjadi tiga pintu tol. Mudah-mudahan dua tahun ke depan tidak ada pintu lagi," kata Basuki, seusai meninjau titik rob di Semarang, Minggu (19/6/2016).

Menurut Basuki, pengurangan pintu tol akan berimbas pada kelancaran arus lalu lintas. Para pengendara tidak perlu repot untuk mengantre dari satu pintu ke pintu selanjutnya.

Secara umum, Basuki menegaskan bahwa kelancaran arus mudik Lebaran 2016 menjadi salah satu prioritasnya. Oleh karena itu, permasalahan terkait persiapan mudik sebagian telah terselesaikan.

"Lingkar Sumpuh (Banyumas) yang akan diresmikan Gubernur kami buat agar tidak kena jalur kereta. Dua jalur kami sebelumnya di sana semuanya melintas di jalur kereta," tambah dia.

Beberapa jalan tol yang baru dibangun juga nantinya akan digunakan sebagai jalur darurat. Jalur yang dipersiapkan yaitu Bawen-Salatiga dan Solo-Sragen.

"Jalur umum 90 persen telah siap untuk mudik. Untuk Tol Semarang-Solo nanti bisa lewat Bawen keluar di Salatiga. Lalu tol Solo-Kertosono masuk di Kartasura keluar di Sragen. Insyallah siap," ujarnya lagi.

Basuki pun yakin semua jalur yang dipersiapkan untuk jalur mudik bisa dimanfaatkan sementara.

Di Semarang, Basuki juga berjanji akan menuntaskan persoalan banjir rob yang melanda jalur Pantura Semarang secara permanen. Penanganan dilakukan dengan sifat sementara.

Penanganan banjir rob merupakan perintah langsung dari Presiden RI Joko Widodo. Hal tersebut dilakukan agar jalur yang terkena limpahan banjir rob bisa dilalui untuk mudik Lebaran 2016 ini.

"Ini perintah bapak Presiden, ada dua hal yang perlu ditangani soal rob ini," kata dia.

sumber :

JALUR MUDIK LEBARAN : Pembangunan Tol Soker Dikebut


Jalan Tol Solo-Kertoso (Soker) ini bakal difungsikan untuk arus mudik 
lebaran tahun ini. | Yulianto | lintassolo.com


BOYOLALI, Lintas Solo-Pembangunan jalan Underpass Sawahan, Kecamatan Ngemplak yang bakal digunakan untuk jalur mudik 2016 terus dikebut.

Humas Kerjasama Operasional (KSO) pelaksana pembangunan jalan Tol, Veri Budi Santoso mengatakan, underpass jalan sebagai jalur alternative ke Solo ini saat ini sudah mencapai hampir 75 persen lebih. Pihaknya optimis H-7 lebaran nanti jalan Tol yang berada diatasnya sudah dapat di lalui kendaraan.

“Sebagian jalan Tol Solo-Kertoso (Soker) ini bakal difungsikan untuk arus mudik lebaran tahun ini, dan hal itu sesuai instruksi dari Kementerian PU, bahwa arus mudik bakal dilewatkan sini (Interchage Solo,red),” paparnya kepada lintassolo.com, Sabtu(18/6/2016).

Diakui Veri, pembangunan jalan underpass dan pemadatan sebagian jalan tol untuk mudik lebaran belum bisa 100 persen. Karena memang butuh waktu yang lama untuk proses pemadatan dan perangkaian besi cor rigid tersebut.

Kendati demikian, dia memastikan pemudik tak akan terganggu dengan debu jalan tol yang belum rampung ini. Sebab pelaksana tol bakal melakukan Land Clening (Lc) atau gecor tipis jalan setebal 10 sentimeter. Hal itu juga untuk menjaga kualitas timbunan tanah adesit agar tak rusak saat dilalui nanti.

“Kalau tidak di cor, takutnya tanah timbunannya malah rusak dan harus melupasnya kembali nanti,” katanya.

Seperti diketahui, untuk arus mudik lebaran tahun ini, Pemerintah bakal memfungsikan sebagian jalan Tol Soker untuk mengurai kemacetan arus dalam kota. Jalan Tol Soker yang difungsikan untuk arus mudik lebaran ini mulai beroperasi dari H-7 hingga H+7 lebaran, mulai pukul 06.00 hingga pukul 17.00 WIB.

Sementara itu di lokasi proyek jalan underpass sawahan, puluhan pekerja tengah sibuk melepas tiang penyangga beton yang digunakan saat pengecoran rigid beton Underpass. Kemudian beberapa pekerja juga tengah mulai merapikan badan jalan yang berada di bawah jalan Tol.

Disisi lain, puluhan truk berlalu lalang mengangkut tanah urug untuk jalan Tol yang berada di sebelah selatan. Jalan tersebut merupakan akses pintu masuk tol saat mudik lebaran nanti.

Namun demikian jika underpass sawahan belum bisa di fungsikan saat jelang lebaran nanti, jajaran kepolisian bakal menerapkan system buka tutup. Langkah tersebut juga untuk mengantisipasi keamanan serta mencegah terjadinya kecelakaan.

“Nanti akan kita terapkan sistem buka tutup jika memang underpass Sawahan belum bisa difungsikan,” kata Kapolsek Ngemplak, AKP Ahmad Nadiri. |Yulianto

sumber :