javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Tampilkan postingan dengan label Tol Bawen Solo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tol Bawen Solo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Maret 2017

Curah Hujan Tinggi, Jadwal Operasi 2 RuasTol Trans Jawa Mundur


Foto: Dok. Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR

Jakarta - Curah hujan cukup tinggi sejak beberapa bulan terakhir ternyata membuat proses pengerjaan proyek jalan tol terganjal. Hal Bahkan, membuat jadwal pengoperasian beberapa ruas tol Trans Jawa terpaksa mundur dari target yang telah dicanangkan.

Misalnya saja tol Semarang-Solo seksi III yang menghubungkan Bawen dan Salatiga sepanjang 17,6 km. Pengoperasiannya terpaksa mundur dari target yang telah dipetakan oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) lantaran curah hujan yang tinggi menghambat proses pengerukan tanah untuk konstruksi.

"Misalnya Bawen-Salatiga, tadinya kan Maret kita targetnya. Tapi kan jadi mundur. Yang Kertosono-Mojokerto juga sama, kayaknya enggak bisa Maret. Ini lagi dikejar, karena cuaca tadi. Kita sih maunya sesegera mungkin. Makanya orang di lapangan itu kalau bisa maksimal kerjanya, dimaksimalkan," ujar Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna kepada detikFinance saat dihubungi di Jakarta, Kamis (9/3/2017).

Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) sendiri akan senantiasa mempercepat pengerjaan konstruksi seoptimal mungkin. Namun kendala hujan, membuat pekerjaan tanah seperti pemadatan dan pengerukan tak bisa optimal dalam sehari.

Meski tak menyebutkan jalan tol mana saja yang mundur pengerjaannya lantaran faktor cuaca tadi, Herry mengaku optimistis target 1.000 km jalan tol baru bisa tercapai pada 2019 mendatang.

"Tahun ini kan baru bulan Maret. Masih ada sembilan bulan lagi. Kita kan prinsipnya selama masih ada waktu kita kejar. Harapannya yang kita targetkan di 2017 tadi tetap bisa terkejar. Pokoknya di 2019, 1.000 km nya terpenuhi bahkan lebih, itu yang kita janjikan," tukasnya.

Sebagai informasi, dari catatan detikFinance, akan ada tambahan 391,9 km jalan tol baru yang bakal beroperasi tahun 2017. Bila dijumlahkan dengan capaian dua tahun sebelumnya, maka panjang jalan tol baru yang beroperasi hingga akhir tahun 2017 mencapai 567,9 km. 

Berdasarkan data BPJT, tol pertama yang akan diresmikan pengoperasiannya tahun ini adalah jalan tol Semarang-Solo seksi III sepanjang 17,6 km, yang menghubungkan Bawen dan Salatiga pada bulan Maret.

Beberapa jalan tol lainnya yang akan diresmikan antara lain adalah Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) Seksi I Segmen Pangkaljati-Jakasampurna (8,28 km), Solo‐Ngawi yang dibangun Pemerintah (APBN) Kartosuro‐Karanganyar (20,9 km) dan Seksi I Solo‐Mantingan segmen Sragen-Mantingan (21,35 km) dan Seksi II Mantingan‐Ngawi (34,2 km).(hns/hns)

sumber :

Selasa, 28 Februari 2017

INFRASTRUKTUR BOYOLALI : Pelaksana Proyek Tol Soker Siap Perbaiki Jalan Desa Dibal

Sejumlah warga Desa Dibal, Ngemplak, meluapkan 
kekesalannya atas kerusakan jalan desa mereka dengan 
aksi memancing di jalan yang rusak itu. 
Foto diambil belum lama ini. (JIBI/Solopos/Istimewa)

Infrastruktur Boyolali, satker proyek tol Soker menyiapkan dana untuk memperbaiki jalan Desa Dibal.

Harianjogja.com, BOYOLALI — Satuan kerja (satker) tol Solo-Kertosono (Soker) mengabulkan tuntutan warga untuk memperbaiki jalan desa Desa Dibal, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, yang rusak akibat dilintasi truk proyek.


Satker tol Soker telah menyiapkan anggaran senilai Rp700 juta untuk memperbaiki jalan penghubung antardesa itu. “Kami sudah anggarkan dana Rp700 juta untuk memperbaiki jalan yang rusak itu. Kami akan bertanggung jawab,” ujar Ketua Satker Tol Soker, Agung Sutarjo, saat dihubungi Harianjogja.com, Senin (27/2/2017). 

Agung mengatakan anggaran senilai Rp700 juta itu akan digunakan mengembalikan fungsi jalan desa sepanjang 400 meter di Desa Dibal seperti sediakala. Selama ini, jalan di depan balai desa dan Pasar Dibal itu hancur tak karuan.

Puncaknya ketika hujan turun, jalan-jalan itu menjelma seperti kolam yang membahayakan saat dilintasi. Padahal, jalan itu ramai kendaraan para pedagang dan pembeli serta pengguna jalan. “Kami akui, selama ini memang ada truk proyek tol yang kerap melintasi jalan desa itu. Kami akan bertanggung jawab memperbaikinya,” tegasnya.

Sesuai rencana, proyek perbaikan jalan Desa Dibal akan dimulai awal Mei nanti. Harapannya, tahun ini semua proyek jalan tol Soker dan jalan lain yang terdampak telah selesai dan bisa digunakan. “Makanya, tahun ini kami akan genjot penyelesaian proyek tol. Termasuk aspirasi warga yang mendesak,” terangnya.

Kepala Desa Dibal, Budi Setyono, mengaku telah menerima kepastian soal perbaikan jalan Desa Dibal itu. Menurutnya, satker tol telah menyatakan komitmennya untuk memperbaiki kembali jalan yang rusak karena sering dilintasi truk proyek.

“Satker sangat kooperatif dan bisa merespons tuntutan warga. Kami ucapkan terima kasih,” paparnya.

Menurut Budi, tanpa keterlibatan pelaksana proyek tol, perbaikan jalan Desa Dibal yang remuk itu hanya menjadi angan-angan. Pemkab Boyolali tahun ini tak menganggarkan dana untuk perbaikan jalan rusak di depan balai desa itu.

“Desa sudah melayangkan surat kepada Pak Bupati dan DPU soal kerusakan jalan ini. Hasilnya, tak ada anggaran karena dulu satker tol berjanji yang akan memperbaiki,” jelasnya.

Sebelumnya, warga memprotes kerusakan jalan itu dengan menggelar aksi mancing bersama di kubangan. Aksi tersebut lantas diunggah ke sosial media dengan harapan lekas mendapatkan perhatian pihak terkait.

sumber :

Selasa, 14 Juni 2016

INFO MUDIK 2016 : Pintu Tol Tingkir Salatiga Berpotensi Macet


PINTU TOL: Petugas mengukur luasan exit tol di Jalan Raya Tingkir-Solo 
yang nantinya akan dipakai sebagai pintu keluar Tol Semarang-Salatiga. 
(suaramerdeka.com/Surya)

SALATIGA, suaramerdeka.com - Rencana dibukanya tol Bawen-Salatiga sebagai bagian dari kelanjutan proyek tol Semarang-Solo, perlu diantisipasi dengan melebarkan Jalan Raya Tingkir-Suruh. Bila pintu tol dibuka dan jalur tol Bawen-Salatiga dioperasikan, maka diprediksi Jalan Raya Tingkir-Suruh yang merupakan muara tol, bakal terjadi kemacetan parah. Kondisi tersebut berdasarkan pengalaman dibukanya tol Semarang-Ungaran, sekitar 3 tahun lalu.

Untuk itu, perlu melakukan berbagai upaya menghindari terjadinya krodit di jalan tersebut. Termasuk bagaimana menyiapkan jalur alternatif Salatiga-Suruh (PP) yang tidak bersinggungan dengan pintu tol Tingkir. Sebagaimana diketahui, tol Bawen-Salatiga rencananya bisa dioperasikan untuk keperluan arus mudik dan balik. Namun karena jembatan tol yang melintas di atas Sungai Tuntang belum bisa dipastikan selesai pembangunannya, maka penggunaan tol Bawen-Salatiga molor.

Berdasarkan pantauan suaramerdeka.com, sejumlah petugas masih menyelesaikan pembangunan jalan tol Bawen-Salatiga, di pintu tol Tingkir. Sejumlah truk pengangkut tanah masih hilir mudik membawa timbunan tanah untuk memperkuat pondasi jalan tol. Di sekitar pintu tol juga telah dilebarkan, namun perlu ditindaklanjuti dengan pelebaran Jalan Tingkir-Suruh.

Amin (42) warga Kelurahan Tingkir Tengah, Kecamatan Tingkir Salatiga, mengatakan, pemerintah harus menyiapkan sarana pendukung di Jalan Raya Tingkir-Suruh sebelum tol beroperasi di wilayah tersebut. “Pelebaran jalan Tingkir-Suruh itu sudah harus dilakukan. Lha sekarang saja jalan tersebut kerap macet, terutama saat arus mudik dan balik Lebaran. Apalagi ketika ada jalan tol,” kata warga Perumahan Mutiara itu.

Sebelumnya, Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng (TMJ), Ari Nugroho mengatakan, pihaknya dan konsultan terus berupaya untuk menyelesaikan pekerjaan jalan tol Bawen-Salatiga. Soal nantinya jalur tersebut dibuka atau tidak saat Lebaran 2016, masih menunggu izin beroperasi dan kelayakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). (Surya Yuli P/CN38/SM Network)

sumber :

Sabtu, 11 Juni 2016

Diprediksi, 97.595 Kendaraan Lintasi Tol Semarang-Bawen pada Puncak Arus Mudik H-3


Ridwan Aji Pitoko/Kompas.com Terakhir, progres fisik 
pembangunan paket 3.3D Sidorejo-Tengaran yang dikerjakan 
oleh PT Nindya Karya (Persero) KSO dengan PT Jaya Konstruksi 
baru mencapai 28,068 persen.
UNGARAN, KOMPAS.com - PT Trans Marga Jateng (TMJ) memprediksi puncak arus mudik akan terjadi pada H-3 atau 4 Juli 2016.

Pada puncak arus mudik tersebut diperkirakan ada 97.595 kendaraan yang akan melintas tol arah Semarang menuju Bawen.

Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng, Arie Irianto mengatakan, pihaknya telah menyiapkan rencana operasional, pelayanan, dan pengaturan lalu lintas Lebaran 2016 demi mewujudkan kelancaran dan kenyamanan pengguna jalan tol Semarang-Bawen.

"Kami akan menambah petugas pelayanan menjadi 69 orang. Transaksi harus cepat, tepat, nyaman dan ramah," kata Arie, Sabtu (6/11/2016).

Selama pelayanan mudik Lebaran 2016, PT TMJ sudah menyiapkan sebanyak 12 jenis layanan. Yakni layanan kendaraan patroli jalan tol, kendaraan patrol jalan raya, derek besar, derek kecil, mobil ambulans, mobil rescue, mobil kamtib, kendaraan pemeliharaan, kendaraan kebersihan, truk tangki air, sepeda motor, dan layanan gardu transaksi.

"Kami juga menunggu keputusan jadi tidaknya ruas tol Bawen-Salatiga difungsikan sementara. Bila tidak jadi, otomatis beberapa item layanan termasuk personel akan dikurangi," imbuhnya.

Selain itu, pada sejumlah titik strategis didalam tol seperti simpang susun Bawen dan simpang Ungaran, PT TMJ juga akan menempatkan spanduk informasi dan peringatan.

"Keberadaan GTO juga bisa digunakan untuk transaksi tunai, kami akan menempatkan petugas di sana," imbuhnya.

Arie menambahkan, pihaknya juga telah memetakan potensi gangguan di ruas tol Semarang-Bawen yang diprediksi akan terjadi di 11 titik.

Antara lain, simpang susun Tembalang, gerbang tol Banyumanik, jembatan tol Susukan, jembatan Lemah Ireng I, Jembatan Lemah Ireng II, simpang susun Bawen, tempat istirahat di KM 22+200 A, gerbang tol Bawen, pertemuan ruas tol dan jalan nasional Bawen-Salatiga, serta gerbang tol dan akses keluar Salatiga di Tingkir.

"Gangguan di pintu keluar tol Salatiga karena akses jalan kabupaten yang relatif sempit hanya bisa bersimpangan satu mobil. Jalur tersebut juga merupakan alternatif dari Salatiga menuju Sragen-Ngawi, jadi cukup padat," pungkas Arie.

Sebelumnya, Kasat Lantas Polres Semarang, AKP Dwi Nugroho saat Rapat Koordinasi Kesiapan Tol Bawen-Salatiga Untuk Jalur Alternatif di Kantor Polres Semarang mengutarakan, lebih cenderung pengguna jalan tol diarahkan menuju jalan nasional melalui pintu keluar tol Bawen ketimbang melalui jalur alternatif Mengkelang, Bawen seperti yang sebelumnya diminta oleh Menteri PUPR.

"Kalaupun jalan utama macet akibat lonjakan volume kendaraan, kita sisati dengan koordinasi lintas sektoral maupun lintas wilayah untuk menentukan cara bertindak yang tepat," kata AKP Dwi Nugroho. 

sumber :

Kejelasan Tol Bawen-Salatiga Tunggu Kementerian PUPR


Ganjar Pranowo Gubernur Jateng.
Semarang, HARIANSEMARANG.com – Kepastian pengoperasian jalan tol Semarang-Solo ruas Bawen-Salatiga pada arus mudik Lebaran 2016, menunggu keputusan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Badan Pengatur Jalan Tol. “Pada detik-detik terakhir (sebelum seluruh pengerjaan pembangunan jalan tol Bawen-Salatiga dihentikan terkait arus mudik Lebaran), kami menunggu hasil inspeksi atau persetujuan dari Kemen PUPR dan BPJT untuk dinyatakan boleh atau tidak untuk dioperasikan,” kata Staf Utama Direktorat Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng Ari Nugroho di Semarang, Jumat (10/6/2016).

Ia mengungkapkan bahwa jaminan keselamatan pemakai jalan menjadi hal yang utama bagi PT TMJ selaku pengelola jalan tol. “Jaminan keselamatan pemakai jalan menjadi nomor satu, baru kemudian kelancaran, keamanan, dan kenyamanan, kalau tidak memenuhi itu (jalan tol) ya tidak akan dibuka,” ujarnya.

Kendati menunggu keputusan pengoperasian dari kementerian, Ari memastikan bahwa pembangunan jalan tol Bawen-Salatiga akan terus dilakukan agar bisa selesai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. “Kita tetap kejar target dengan bekerja siang dan malam untuk pelayanan arus mudik dan arus balik Lebaran,” katanya.

Kalau kementerian akhirnya tidak mengizinkan jalan tol Bawen-Salatiga dioperasikan karena berbagai pertimbangan, kata dia, para pemudik dari arah Semarang akan dilewatkan jalan kerja yang sudah disiapkan. “Dari Bawen keluar menghindari Tuntang melalui Asinan ke arah utara menyeberangi Sungai Tuntang dan masuk ke jalan proyek atau jalan kerja,” ujarnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak memaksakan pengoperasian jalan tol Semarang-Solo ruas Bawen-Salatiga pada arus mudik dan arus balik Lebaran 2016 demi keselamatan masyarakat. “‘Ngapain’ kami memaksakan satu jalur terus kemudian keamanannya mengancam, itukan bahaya, lebih baik dituntaskan sampai betul-betul siap, kalau siap langsung dipakai, kalau tidak layak ya jangan,” kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (Red-HS99/Ant).

sumber :

Jumat, 10 Juni 2016

Tol Bawen-Salatiga Jadi Jalur Mudik 2016, Ini Catatan Polda Jateng



Kompas.com/ Syahrul MunirCaption 3; Struktur jembatan 
Tuntang diruas Tol Bawen-Salatiga saat ditinjau pada, 
Rabu (8/6/2016)
.
BAWEN, KOMPAS.com - Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Jawa Tengah memberikan sejumlah catatan kepada PT Trans Marga Jawa Tengah (TMJ) tentang kesiapan ruas jalan tol Bawen-Salatiga jika akan digunakan sebagai jalur alternatif arus mudik Lebaran 2016.

Sebagaimana diketahui ada 4 titik dijalan tol seksi III Semarang-Solo tersebut yang belum tersambung, sehingga PT TMJ sebagai pihak operator telah menyiapkan sejumlah jalur alternatif jalan tol sepanjang 17.5 kilometer ini bisa dilalui pada H-7 hingga H+7Lebaran 2016.

Dirlantas Polda Jateng, Kombes Pol Herukoco mengatakan, pihaknya kemarin telah melakukan rapat koordinasi bersama TMJ, Pemkab Semarang serta jajaran Polres Semarang dan Polres Salatiga.

Dari paparan pihak TMJ dilanjutkan dengan tinjauan ke lapangan, pihaknya melihat banyak titik yang rawan bagi keselamatan pemudik.

"Memang ada beberapa lokasi yang dari segi keselamatan harus diperhatian dengan benar. Karena ada bukit yang ditembus dengan jalan berkelok-kelok, itu dari segi keselamatan harus benar-benar diberi peringatan diberi alat pengaman jalan. artinya masyarakat jangan sampai tidak tahu bahwa itu adalah tanjakan dan turunan," kata Herukoco, Kamis (9/6/2016).

Selain kontur jalan yang masih belum landai mengingat pekerjaan fisik baru berjalan 43,8 persen, lanjutnya, jalur yang disiapkan ternyata masih banyak menemui persimpangan sebidang. Yakni, jalur tol yang bersingungan dengan jalan-jalan poros desa atau jalan perkampungan.

Dengan demikian pada titik-titik yang rawan tersebut perlu disiapkan petugas.

Titik lainnya yang perlu segera ditangani adalah, pada gerbang keluar tol Salatiga di kelurahan Tingkir. Sebab di titik ini, kendaraan yang keluar dari jalan tol akan menemui jalan reguler yang relatif sempit, yakni 5 lebar 5 meter. Padahal jalan Tingkir ini tergolong padat terutama pada saat hari libur. Sehingga jika tidak diatur sedemikian rupa, akan menimbulkan antrian atau kemacetan baik di jalur keluartol maupun di jalur reguler.

"Perlu ada pengaturan lalu lintas karena memang di titik ini sudah padat sekali. Tentunya ketika dari Bawen sudah diaktifkan, di sini jangan ditutup. Jangan sampai di sini memanjang ke belakang," lanjutnya.

Melihat konsisi yang ada, pihaknya memperkirakan saat jalan tol Bawen-Salatiga dioperasikan pada masa arus mudik 2016 mendatang, akan diperlukan rekayasa lalu lintas dengan sistem buka tutup.

Selain itu, petugas juga perlu mengurai kemacetan di sekitar pasar Suruh dan pertigaan Tingkir akibat dampat kepadatan kendaraan di keluar tol Salatiga.

"Jadi kita pantau disini, kalau memang di exit tol Salatiga sudah padat, ke arah jalan alternatif di Bawen kita tidak gunakan dulu. Sehingga kalau di jalur alternatif macet atau panjang antriannya, (maka) di exit tol alternatif ini ditutup, sambil melakukan pengaturan di Suruh dan di pertigaan tingkir," lanjutnya.

Terlepas dari itu, Herukoco berpendapat, pada arus mudik 2016 prioritas kendaraan dari Bawen ke Salatiga tetap akan diprioritaskan melalui jalur utama dibandingkan mengarahkan ke jalur alternatif termasuk tol.

"Ini bukan rekomendasi, artinya alternatif pertama ketika arus berjalan lancar tentunya kita menggunakan jalur utama. Tetapi seandainya panjang sekali kita pelu gunakan jalur aternatif," tandasnya.

Herukoco menambahkan, pihaknya tidak memiliki kapasitas untuk memutuskan tol Bawen-Salatiga bisa digunakan atau tidak. Melainkan sebatas memberikan masukan kepada pihak yang lebih berwenang, dalam hal ini TMJ sebagai operator.

"Ini kan jalan belum jadi ya. Artinya ada tim bersama melibatkan dari Bina Marga, dari Dinas Perhubungan dan juga dari kepolisian," ucapnya.

Berdasarkan target waktu yang telah ditentukan, PT TMJ akan meminta penilaian dari tim penilai kelayakan jalan pada tangal 21 juni mendatang. Tim penilai akan memutuskan apakah jalan tol Bawen-Salatiga berikut didalamnya jalur-jalur alternatif yang disiapkan, layak atau tidak dilalui kendaraan pemudik.

sumber :

Ini Jalur Mudik Aman Semarang-Solo


ilustrasi tol
SEMARANG– Dirlantas Polda Jateng, Kombes Pol Herukoco, mengatakan, kepolisian serta unsur terkait ingin para pengendara merasa aman dan nyaman dalam melakukan mudik Idulfitri.

“Karenanya, kami akan meninjau kelaikan jalan sekaligus menyiapkan simulasi pengamanan. Mudah-mudahan, pembangunan tol Bawen-Salatiga bisa berjalan lancar,” ucapnya.

Ia mengimbuhkan, Polda Jateng juga siap menyediakan sarana serta prasarana berupa rambu lalu lintas dan tim pengamanan. “Bahkan, kami berencana melakukan pembersihan debu di sepanjang jalur itu,” katanya.


Namun demikian, Herukoco menegaskan, Polda Jateng akan terlebih dahulu melihat kondisi lalu lintas sebelum menentukan jalur alternatif bagi para pemudik yang melewati Semarang menuju Solo. Jika situasi aman dan lancar, maka jalur yang dipilih adalah jalan utama.

“Sebaliknya, kalau terjadi kepadatan, kami bakal memanfaatkan jalur alternatif. Masalah kelaikannya, bisa diusahakan bersama pihak terkait. Pada 22 Juni nanti, kami meninjau lokasi dan segera menyampaikan rekomendasi, apakah ruas itu bisa digunakan atau tidak,” pungkasnya.

Polda Jawa Tengah (Jateng) beserta pihak terkait telah menyiapkan dua opsi jalur mudik Semarang-Solo, yakni via jalan utama serta ruas tol Bawen-Salatiga.

Jika opsi kedua yang dipilih, konsekuensinya, ada pemotongan lahan perkebunan kopi milik PT Perkebunan Nusantara IX di Dusun Mangkelang, Desa Ngasinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, sepanjang 700 meter dan luas 7,5 meter.

“Semisal opsi kedua yang dipilih, apakah nanti pengguna jalan bakal merasa lebih nyaman? Kalau saya, lebih baik lapor kepada Pak Menteri. Penggunaan ruas tersebut jangan terkesan dipaksakan,” papar Bupati Semarang, Mundjirin, saat rapat koordinasi kesiapan tol Bawen-Salatiga untuk jalur alternatif jelang mudik Lebaran tahun ini di Mapolres Semarang, Rabu (8/6) siang.

Pimpinan Proyek Jalan Tol Seksi III Bawen-Salatiga, Indroyono, mengutarakan, sesuai arahan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, M Basuki Hadimuljono, jalur yang disiapkan bagi pemudik tujuan Solo maupun Salatiga memang melewati Dusun Mangkelang. Sayang, ujarnya, ada kendala proyek di Jembatan Tuntang yang diperkirakan belum bakal rampung hingga H-7 Lebaran.

“Jadi, kendaraan yang melalui ruas itu harus keluar di Dusun Mangkelang dan bertemu dengan arus di jalan utama Semarang-Solo,” ungkapnya.

Indroyono menyampaikan, mengenai perkembangan proyek tol Bawen-Salatiga sepanjang 17,57 kilometer, sekarang sudah mencapai 44 persen. Masih terdapat empat titik di jalur itu yang belum bisa dilalui oleh kendaraan.

Empat titik tersebut meliputi Dusun Pancuran, Jembatan Tuntang, Jembatan Senjoyo, dan Dusun Barukan, Kecamatan Tengaran.

sumber :

Kamis, 09 Juni 2016

Kesiapan Jalan Tol Bawen-Salatiga sebagai Jalur Alternatif Mudik Dipertanyakan

Kompas.com/ Syahrul MunirRombongan peserta Rapat 
Koordinasi Kesiapan Tol Bawen-Salatiga Untuk Jalur 
Alternatif tengah meninjau jalan tol Bawen-Salatiga, 
Rabu (8/6/2016).

BAWEN, KOMPAS.com - Penggunaan jalur alternatif dengan memfungsikan ruas tol Bawen-Salatiga pada arus mudik Lebaran 2016 masih menjadi tanda tanya besar. Kondisi jalur alternatif itu belum memungkinkan untuk dilalui.

Hal itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Kesiapan Tol Bawen-Salatiga Untuk Jalur Alternatif yang digelar di Kantor Polres Semarang, Rabu (8/6/2016).

Rapat dipimpin oleh Kepala Polres Semarang Ajun Komisaris Besar Polisi V Thirdy Hadmiarso tersebut dan dihadiri Dirlantas Polda Jateng Kombes (Pol) Herukoco, Bupati Semarang Mundjirin.

Hadir pula perwakilan PT Trans Marga Jateng (TMJ) sebagai pihak operator, Satlantas Polres Semarang, Satlantas Polres Salataiga, Dishubkominfo Kabupaten Semarang, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Semarang.

Dalam paparannya, Pimpinan Proyek Seksi III Tol Semarang-Solo Indriyono mengatakan, saat ini ada 4 lokasi pekerjaan yang harus dikebut agar ruas tol sepanjang 17,5 kilometer tersebut dapat dilalui sebagai jalur alternatif pada arus mudik mendatang.

Keempat titik yang belum tersambung tersebut berada di Dusun Pancuran, Jembatan Tuntang, Jembatan Senjoyo, dan Dusun Barukan, Kecamatan Tengaran.

"Jembatan Senjoyo belum nyambung tapi estimasinya H-7 sudah rampung. Begitu pula di Dusun Barukan, terdapat simpang susun Salatiga sekitar 500 meter belum nyambung karena proses pembebasan tanahnya baru dibayarkan 31 mei kemarin." kata Indriyono.

Saat ini masih ada sisa waktu 14 hari kerja untuk menyelesaikan pekerjan di empat titik tersebut agar bisa dilalui sebagai jalur alternatif pada H-7 Lebaran.

"Termasuk hari ini sampai cor terakhir sehingga pada tanggal 21 Juni 2016 kami selesai cor, pada tanggal 29 Juni 2016, harapannya sudah bisa dilalui pemudik," kata dia.

Terkait penyiapan jalur alternatif untuk menghindari jembatan Tuntang, telah disiapkan pembukaan jalur dari sebelum pintu exit tol Bawen, lurus ke arah tenggara menuju ke Dusun Mangkelang, Bawen, sepanjang 700 meter.

"Tepat sebelum jembatan Tuntang, kami arahkan ke kanan masuk ke perkebunan di lahan PTP IX, kemudian keluar ke arah jalan nasional Semarang-Solo," papar Indroyono.

Sumber :

Rabu, 08 Juni 2016

Tol Bawen-Salatiga Belum Rampung, TMJ Siapkan Jalur Alternatif Mudik Lebaran 2016


Kompas.com/ Syahrul MunirRombongan peserta Rapat 
Koordinasi Kesiapan Tol Bawen-Salatiga Untuk Jalur 
Alternatif tengah meninjau jalan tol Bawen-Salatiga, 
Rabu (8/6/2016).

BAWEN, KOMPAS.com - Penggunaan jalur alternatif untuk memfungsikan ruas Tol Bawen-Salatiga pada arus mudik lebaran 2016 diragukan sejumlah pihak.

Hal itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Kesiapan Tol Bawen-Salatiga Untuk Jalur Alternatif yang digelar di Kantor Polres Semarang, Rabu (8/6/2016).

Rapat yang dipimpin oleh Kapolres Semarang AKBP V Thirdy Hadmiarso tersebut dihadiri juga oleh Dirlantas Polda Jateng Kompes Pol Herukoco, Bupati Semarang Mundjirin, serta jajaran terkait seperti PT Trans Marga Jateng (TMJ) sebagai pihak operator, Satlantas Polres Semarang, Satlantas Polres Salataiga, Dishubkominfo Kabupaten Semarang, Dinas PU Kabupaten Semarang dan pihak terkait lainnya.

Dalam paparannya, Pimpinan Proyek Seksi III Tol Semarang-Solo, Indriyono mengatakan, saat ini ada 4 titik pekerjaan yang harus dikebut agar ruas tol sepanjang 17,5 kilometer tersebut dapat dilalui sebagai jalaur alternatif pada arus mudik 2016 mendatang.

Keempat titik yang belum tersambung tersebut berada di dusun Pancuran, Jembatan Tuntang, Jembatan Senjoyo dan dusun Barukan, kecamatan Tengaran.

"Jembatan Senjoyo belum nyambung tapi estimasinya H-7 sudah rampung. Begitu pula didusun Barukan, terdapat simpang susun Salatiga sekitar 500 meter belum nyambung karena proses pembebasan tanahnya baru dibayarkan 31 mei kemarin," kata Indriyono.

Pihaknya saat ini masih mempunyai sisa waktu selama 14 hari kerja untuk menyelesaikan pekerjan di empat titik tersebut agar bisa dilalui sebagai jalur alternatif pada H-7 lebaran.

"Termasuk hari ini sampai cor terakhir. Sehingga pada tanggal 21 Juni 2016 kami selesai cor, pada tanggal 29 Juni 2016, harapannya sudah bisa dilalui pemudik," imbuhnya.

Sementara itu terkait penyiapan jalur alternatif untuk menghindari jembatan Tuntang, telah disiapkan pembukaan jalur dari sebelum pintu keluar Tol Bawen, lurus ke arah Tenggara menuju ke dusun Mangkelang, Bawen sepanjang 700 meter.

"Tepat sebelum jembatan Tuntang, kami arahkan ke kanan masuk ke perkebunan di lahan PTP IX, kemudian keluar ke arah jalan nasional Semarang-Solo," sebut Indriyono.


Kompas.com/ Syahrul MunirRapat Koordinasi Kesiapan 
Tol Bawen-Salatiga Untuk Jalur Alternatif yang digelar 
di Kantor Polres Semarang, Rabu (8/6/2016).

Pada titik ini, sebelum kendaraan bergabung dengan arus jalan Semarang-Solo, Indroyono memprediksi adanya konflik arus lalu lintas dengan jalan desa.

Pasalnya, di kawasan tersebut ada jalan makam warga dan sejumlah pedagang kaki lima. Pembukaan jalur alternatif melalui Dusun Mangkelang ini, lanjutnya, menimbulkan beberapa konsekuensi.

Di antaranya adalah penebangan ratusan pohon kopi produktif sepanjang 700 meter, dengan lebar 7,5 meter.

"Hari ini mulai ditebang. Sebenarnya dari pihak PTPN IX agak keberatan, tetapi karena sudah instruksi pak menteri, terpaksa dilakukan," katanya.

Berdasar data yang dipresentasikan Indroyono, tampak beberapa ruas jalan yang didokumentasikan menggunakan kamera nir awak (drone).

Ia pun memaparkan kondisi geografis jalan tersebut berupa tanjakan berkelok-kelok.

Dalam paparanya, pihak TMJ memperlihatkan citra udara ruas jalan tol Bawen-Salatiga dan sejumlah ruas jalur alternatif yang disiapkan.

Tampak beberapa ruas jalan yang didokumentasikan dari udara secara topografis jalan tersebut banyak terdiri dari tanjakan dan turunan tajam, serta jalur yang berkelok-kelok.

"Layak dan tidaknya sebagai jalur alternatif, kami serahan sepenuhnya kepada tim penilai." cetus Indriyono.


Kompas.com/ Syahrul MunirPengerjaan fisik jalan tol 
ruas Bawen-Salatiga dikebut, termasuk jembatan tol Tuntang, 
Kabupaten Semarang sepanjang 370 meter dengan 
tinggi 56 meter. Foto diambil, Jumat (27/5/2016)

Sementara itu menurut Bupati Semarang, Mundjirin, pemanfaatan Jalan Tol Bawen-Salatiga sebagai jalur alternatif pada arus mudik 2016 cukup dilematis.

Satu sisi pihaknya harus mengamankan kebijakan pemerintah pusat agar jalan tol tersebut dioptimalkan, namun di sisi lainya kondisi jalan tersebut ia nilai tidak layak dilalui.

"Ada kontradiksi dalam hati saya. Kalau saya ikuti instruksi dengan segala resiko kemungkinan tidak menyenangkan atau menyamankan pengunanya. Atau kita usulkan saja bersama-sama agar ini ditinjau ulang," ungkap Mundjirin.

Sejumlah ruas jalan alternatif untuk memfungsikan Tol Bawen-Salatiga tersebut, jika tetap dipaksakan dioperasikan, imbuhnya, membutuhkan upaya sungguh-sungguh dari semua pihak.

Misalnya, bila terjadi kecelakaan, maka harus dipastikan operasi penyelamatannya dapat dilakukan dengan baik.

"Andaikata ada kecelakaan, tidak mudah membawa korban ke rumah sakit. Sedangkan jalurnya sempit dan banyak bottle neck. Kalau jangan dipaksakan, kita pakai yang sudah ada gimana?," pinta Bupati.

Rapat koordinasi Kesiapan Tol Bawen-Salatiga Untuk Jalur Alternatif tersebut kemudian dilanjutkan dengan tinjauan lapangan untuk melihat progres fisik jalan tol Bawen-Salatiga serta jalur alternatif yang disiapkan.

Sebelumnya Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjamin ruas Seksi III Bawen- Salatiga sudah bisa beroperasi sebelum Lebaran tahun ini kendati belum rampung 100 persen.

Pembangunan jalan tol tersebut, lanjutnya, sudah dikebut meski ada beberapa titik yang mengalami keterlambatan akibat molornya proses pembebasan lahan.

sumber :

Mudik Lebaran 2016 : Yang Mau Mudik ke Solo Sekitarnya Wajib Baca Jalur Tol Terbaru Ini


Yang Mau Mudik ke Solo Sekitarnya Wajib Baca Jalur Tol Terbaru Ini 
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Pimpinan Proyek Jalan Tol Seksi III Bawen-Salatiga, Indroyono Soesilo menyiapkan rute untuk pemudik tujuan Solo maupun Salatiga melalui Dusun Mangkelang, Desa Asinan, Bawen Kabupaten Semarang.

Hal tersebut diutarakannya, sesuai arahan dari Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, M Basuki Hadimuljono, saat mengunjungi proyek tol Bawen-Salatiga, Jumat (27/5/2016) lalu.

"Sayangnya, pengerjaan di jembatan Tuntang kami perkirakan belum rampung pada H-7 Lebaran, sehingga harus dikeluarkan di dusun Mangkelang, dan bertemu dengan arus yang berada di jalan nasional Semarang-Solo," terangnya saat memaparkan presentasi dalam Rapat Koordinasi Kesiapan Tol Bawen-Salatiga untuk jalur alternatif di Mapolres Semarang, Rabu (8/6/2016) siang.

Indroyono menuturkan, perkembangan proyek tol saat ini mencapai 44 persen. Dengan kata lain, pekerjaan di jalan tol belum selesai. Sebagai informasi panjang proyek tol Bawen-Salatiga adalah 17,57 kilometer.

Ia menyebut, masih ada empat titik yang belum bisa dilalui kendaraan. Empat titik itu meliputi Dusun Pancuran, JembatanTuntang, Jembatan Senjoyo, dan Dusun Barukan, Kecamatan Tengaran.

"Untuk Jembatan Senjoyo, saat ini memang belum nyambung. Tetapi secara estimasi, kami prediksi pada h-7 akan rampung. Di Simpang Susun Salatiga ada sekitar 500 meter yang belum nyambung, karena pembebasan tanahnya baru dibayar Selasa (30/5/2016) kemarin," katanya.

Indroyono berujar, saat ini pihaknya masih mengupayakan agar jalur tersebut bisa dilalui saat H-7. Menurutnya, ia masih memiliki 14 hari kerja. "Termasuk hari ini sampai cor terakhir. Sehingga pada tanggal 21 Juni 2016 kami selesai cor, pada tanggal 29 Juni 2016, harapannya sudah bisa dilalui pemudik," harapnya.

Lebih rinci, Indroyono memaparkan jalur alterntif melalui Dusun Mangkelang. Dari pintu exit tol Bawen, akan dibuka jalan lurus ke arah Tenggara menuju ke dusun Mangkelang.

"Tepat sebelum jembatan Tuntang, kami arahkan ke kanan masuk ke perkebunan di lahan PT Perkebunan Nusantara IX, kemudian keluar ke arah jalan nasional Semarang-Solo," beber Indroyono.

Sebelum keluar bergabung dengan arus jalan Semarang-Solo, Indroyono memprediksi adanya benturan arus. Selain itu, di kawasan tersebut ada jalan makam warga dan sejumlah pedagang kaki lima.

Dia mengimbuhkan, pembangunan jalan alternatif melalui Dusun Mangkelang membutuhkan beberapa konsekuensi. Di antaranya adalah penebangan ratusan pohon kopi produktif sepanjang 700 meter, dengan lebar 7,5 meter.

"Dari pihak PTPN IX agak keberatan, tetapi karena sudah instruksi pak menteri, kami terpaksa melakukan penebangan," katanya.

Berdasar data yang dipresentasikan Indroyono, tampak beberapa ruas jalan yang didokumentasikan menggunakan kamera drone. Ia pun memaparkan kondisi geografis jalan tersebut berupa tanjakan berkelok-kelok. "Demikian paparan yang kami sampaikan, mohon dinilai apakah aman untuk pengguna jalan," ucapnya. (*)

sumber :

Senin, 30 Mei 2016

Tol Solo-Sragen Dibuka, Bawen-Salatiga Belum Pasti

Jalur Mudik Lebaran 2016

GARDU SEMENTARA : Pekerja menyelesaikan pekerjaan perkuatan 
dinding tebing dan menyiapkan titik gardu tol sementara di bawah 
persimpangan tol Bawen-Salatiga, kemarin. (88)SM/Ranin Agung

SEMARANG – Meski belum seratus persen jadi, jalan tol Solo- Sragen sudah pasti akan dibuka untuk jalur mudik dan balik Lebaran 2016. Pembukaan ini untuk mengurangi kepadatan arus kendaraan yang melintas di jalur tengah.

Kepala Dishubkominfo Jateng, Satriyo Hidayat, menjelaskan kondisi fisik jalan tol Solo-Sragen nantinya mirip jalan tol Pejagan-Pemalang saat digunakan untuk arus mudik Lebaran tahun 2015. Perkerasan jalan dan penerangan belum maksimal. Penggunaannya juga searah, yakni dua jalur akan digunakan ke arah Sragen saat arus mudik, sedangkan semua jalur digunakan ke arah Solo saat arus balik.

”Sudah pasti dibuka, tapi kondisinya hampir sama dengan tol Pejagan-Pemalang tahun lalu,” kata Satriyo seusai rapat koordinasi angkutan Lebaran di kantor Dishubkominfo Jateng, pekan lalu. Sementara jalan tol Bawen- Salatiga, lanjut dia, belum bisa dipastikan.

Satu-satunya kendala adalah belum selesainya pekerjaan jembatan Kali Tuntang di Desa Delik, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Jika sampai tenggat waktu yang ditentukan jembatan belum jadi dan tol tidak bisa dibuka, disiapkan jalur alternatif. Dari tol Bawen, pemudik diarahkan menuju jalan nasional Bawen- Salatiga. Selanjutnya mereka masuk tol lagi melalui jalan Tlogo, Tuntang, untuk menghindari jembatan. ”Tapi jalan di Tuntang itu nanti searah,” jelasnya.

Dibuka atau tidaknya tol Bawen-Salatiga saat mudik Lebaran akan menjadi salah satu pembahasan dalam rapat koordinasi kesiapan Jateng, Senin (30/5), di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang.

Selain itu, Dishubkominfo juga telah memetakan titik rawan kemacetan saat arus mudik dan balik. Di wilayah pantura, titik rawan pertama dan paling berpotensi menimbulkan kemacetan adalah pintu tol Pejagan-Pemalang di Brebes timur.

Pemasangan Rambu

Saat liburan 5-8 Mei lalu, kepadatan arus di jalan tol tersebut meningkat dan terjadi kemacetan di pintu keluar hingga 11 jam. Kapasitas jalan di pantura 7.000 satuan mobil penumpang (SMP)/ jam. Jika angka itu tercapai artinya sudah terjadi kemacetan.

Sementara kapasitas kendaraan di jalan tol lebih dari 10.000 SMP/jam. Kedua, adanya perlintasan kereta api di Pejagan. Ketiga, jalur Pejagan-Prupuk-Bumiayu yang sempit. Keempat, jalan lingkar (ring road) Bumiayu yang masih sering digunakan untuk beraktivitas warga sekitar. ”Jalur Pejagan-Slawi, jika terjadi kepadatan akan dibelokkan melalui Pangkah.

Atau bisa diteruskan ke jalan provinsi. Tapi itu lihat kondisi nanti. Saat ini sejumlah alternatif sudah disiapkan. Berkoordinasi dengan kepolisian untuk rekayasa lalu lintas,” ujarnya.

Potensi kemacetan di jalur selatan tidak begitu parah jika dibandingkan di pantura. Namun potensi itu tetap ada, salah satunya di Congot. Saat sampai di sana, kebanyakan pengendara akan meneruskan perjalanan ke Purworejo sehingga kepadatan akan meningkat.

Ia juga mengingatkan pada pemudik yang melalui Karang Bolong untuk berhati-hati, lantaran jalan tersebut berkelok. Saat ini, Dishubkominfo sudah memasang sejumlah rambu di titik-titik yang rawan macet dan pemberitahuan jalur alternatifnya. Sejumlah penerangan jalan juga sudah ditambah, namun belum maksimal.

Keterbatasan dana APBD dan APBN menyebabkan sejumlah jalan masih gelap. Salah satunya di Aji Barang-Bumiayu, Randudongkal, dan Purbalingga.

Kepala Bidang Bina Teknik Dinas Bina Marga Jateng, Hanung Triyanto, mengatakan kondisi jalan di jalur pantura sudah lebih siap jika dibandingkan dengan Lebaran tahun lalu. Hampir semua jalan yang dibangun berupa cor beton. Sementara jalur Semarang-Gubug (Grobogan) sudah siap dilewati pemudik. ”Saat ini memang masih ada pembangunan. Namun akan dihentikan H-10 Lebaran,” kata Hanung. (H81,J8-94)

sumber :

Sabtu, 28 Mei 2016

Jelang Mudik, Petugas Disiapkan di 12 "Crossing" Sebidang Tol Bawen-Salatiga


Salah satu underpass Tol Bawen-Salatiga

BAWEN, KOMPAS.com - Ruas tol Bawen-Salatiga sepanjang 17,57 kilometer diperkirakan belum sepenuhnya rampung pada masa Idul Fitri 2016 ini. Meski demikian, penggal seksi III dari Tol Semarang-Solo itu direncanakan tetap dilalui kendaraan pemudik, sehingga PT Trans Marga Jateng (TMJ) sebagai operator akan menyiapkan berbagai hal untuk kenyamanan pemudik.

Salah satunya adalah menyiapkan petugas khusus yang mengatur lalu lintas di persimpangan sebidang yang berhubungan langsung dengan jalan desa atau kampung.

"Ada 12 crossing itu masih sebidang dan kita akan siapkan petugas 24 jam di sana. Tugasnya mengatur lalu lintas, tapi prioritas untuk kendaraan yang melintas di tol," kata Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng (TMJ), Arie Irianto, Jumat (28/5/2016).

Selain menyiapkan petugas khusus di 12 perlintasan sebidang, PT TMJ juga akan menyiapkan rambu-rambu petunjuk dan peringatan guna memudahkan dan memperlancar pengguna jalan tol.

Kondisi ini, kata Arie, sama persis ketika jalan tol Ungaran-Bawen digunakan sementara untuk arus mudik lebaran beberapa tahun lalu.

"Tetap searah, artinya waktu arus mudik hanya dari Bawen ke Salatiga saja. Sebaliknya, ketika arus balik hanya bisa dilalui dari Salatiga ke Bawen. Tidak bisa bolak-balik karena yang kami siapkan baru lajur ke selatan saja," ujarnya.

Sementara itu, terkait keberadaan rest area yang sedang dibangun di ruas tol KM 22+200 A Semarang-Bawen, pihaknya memastikan, pada masa mudik lebaran tahun 2016 ini sudah dapat digunakan.

Berbagai fasilitas yang ada di rest area ini seperti 24 toilet, 24 urinoir, masjid, foodcourt, restoran, play ground, dan lahan parkir yang sangat representatif dapat digunakan oleh masyarakat pengguna jalan tol yang melintas.

"Sepekan sebelum dan sesudah Idul Fitri, rest area bisa dimanfaatkan pemudik," imbuhnya.

sumber :

Jumat, 27 Mei 2016

Ini Skema Arus Mudik via Tol Semarang-Solo

Tol Bawen-Salatiga siap dilengkapi rambu dan penerangan jalan.

Proyek Tol Semarang-Solo yang akan membentang sepanjang 49,54 
kilometer sedang dalam pengerjaan, Selasa (26/4/2016) 
(VIVA.co.id/Bayu Nugraha)

VIVA.co.id – Ruas tol seksi III Semarang-Solo yakni Bawen-Salatiga dipastikan akan menjadi jalur alternatif pada mudik Lebaran 2016 mendatang. Namun kontruksi yang belum rampung mengharuskan adanya skema khusus agar jalur tersebut bisa dilewati dengan aman.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengaku masih terus mempercepat pengerjaan tol sepanjang 17 kilometer tersebut. Menurut dia, tol Bawen-Salatiga akan beroperasi sementara untuk mudik pada H-7 Lebaran hingga H+7 lebaran nanti.

"Untuk yang di sini (Bawen-Salatiga) idenya memecah arus lalu lintas yang ke Jogja dan Solo di Bawen. Kalau keluar dari Bawen saja belum bisa pecah arus itu. Khawatirnya kalau masih macet di pintu tol Bawen,” tutur Basuki saat meninjau kontruksi tol Bawen-Salatiga, Jumat 27 Mei 2016.

Meski bersifat jalur sementara, Basuki mengaku tingkat keamanan dari jalur tol ini tetap aman bagi pemudik. Seperti halnya penggunaan beton ringan (wet lean concrete) pada ruas jalan agar tidak berdebu. "Jadi kalau pakai lean concrete ini tidak seperti saat di Pejagan-Pemalang lalu. Dia tidak berdebu dan tidak licin kalau hujan,” kata dia.

Selanjutnya, jika jalur yang melewati jembatan kali Tuntang sepanjang 370 meter dan tinggi 56 meter tak selesai, pihaknya telah menyiapkan opsi jalur lain. Ada jalur alternatif yang bisa dibuka sementara. Kendaraan akan diarahkan ke jalan Nasional arah Salatiga melewati perkebunan milik PTPN IX di Dusun Mengkelang, Desa Asinan, Bawen, Kabupaten Semarang.

Kini jalur di lokasi itu masih cukup sempit yakni empat meter. Sehingga Basuki telah memerintahkan petugas terkait untuk memperlebar jalur. Termasuk meminta izin Menteri BUMN, Rini Soemarno untuk bisa menggunakan lahan yang kini berupa perkebunan kopi milik PTPN IX.

"Jadi nanti keluar dulu ke jalan Nasional, terus masuk lagi di (tol) Tuntang. Pelebaran jalur itu menjadi tujuh meter," katanya.

Direktur Teknik dan Operasi Trans Marga Jateng, Arie Irianto, mengatakan penggunaan tol Bawen-Salatiga nantinya juga dilengkapi fasilitas rambu-rambu dan lampu penerangan jalan. Hal itu mengingat progres jalur tol itu kini mencapai 40 persen.

"Penerangan utamanya di simpang susun dan gerbang tol. Ada 12 persimpangan sebidang. Kita juga taruh petugas di situ,” tutur dia.

sumber :

Sabtu, 02 April 2016

Jasa Marga (JSMR) Fokus Genjot Investasi Anak Usaha



Bisnis.com, JAKARTA--- Pengelola jalan tol milik negara, PT Jasa Marga (Persero) Tbk. menggenjot investasi untuk anak usaha perseroan menjadi Rp11,34 triliun pada 2016.

Berdasarkan laporan tahunan 2015, biaya investasi pada 2016 itu untuk 13 anak usaha yang mengelola jalan tol di berbagai kota di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara dan Bali.

Investasi terbesar dialokasikan untuk anak usaha Jasa Marga yang menggarap ruas tol Solo-Ngawi yaitu PT Solo Ngawi Jaya senilai Rp2,86 triliun, diikuti oleh PT Trans Marga Jateng Rp1,54 triliun, PT Ngawi Kertosono Rp1,6 triliun, PT Jasamarga Kualanamu Tol Rp1,44 triliun, PT Marga Trans Nusantara Rp1,4 triliun.

Selain itu, investasi lainnya untuk PT Jasamarga Bali Tol senilai Rp37,35 miliar, PT Marga Lingkar Jakarta Rp20,97 miliar, PT Jasamarga Pandaan Tol Rp930 juta, PT Marga Sarana Jabar Rp106,45 miliar, PT Marga Nujyasumo Agung Rp810 miliar, PT Marga Kunciran Cengkareng Rp299 miliar dan PT Cinere Serpong Rp164,67 miliar.

Sebagai gambaran, ruas Solo-Ngawi sepanjang 90,1 kilometer merupakan bagian dari jaringan tol Trans Jawa yang menghubungkan Jawa Tengah dan Jawa Timur serta melewati wilayah Kabupaten Boyolali, Karanganyar, Sragen dan Ngawi.

Jalan tol tersebut menghubungkan ruas jalan tol Semarang-Solo yang sudah beroperasi sebagian dengan jalan tol Ngawi-Kertosono. Ruas Solo-Ngawi diharapkan rampung seluruhnya pada 2017 setelah proses konstruksi dimulai pada 2015.

Di samping itu, emiten berkode saham JSMR itu menargetkan beroperasinya 3 ruas jalan tol pada 2016 antara lain Semarang-Solo seksi Bawen-Salatiga (17,5 km), ruas Solo-Sragen seksi Kartasuro-Sragen (35,5 km) dan ruas Surabaya-Mojokerto seksi Krian-Mojokerto (18,5 km).

sumber :

Rabu, 23 Maret 2016

Kejar Target Lebaran 2016, Pembangunan Tol Bawen-Salatiga Dikebut


Kompas.com/ Syahrul Munir
Salah satu underpass Tol Bawen-Salatiga 


TRIBUN-MEDAN.com, SALATIGA - Pembangunan jalan tol Semarang-Solo seksi III ruas Bawen- Salatiga terus dikebut dalam sisa waktu 156 hari sejak 17 Maret 2016.

Keterlambatan pembangunan jalan tol sepanjang 17,6 kilometer tersebut akibat permasalahan pembebasan lahan di beberapa titik.

Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jawa Tengah (TMJ) Arie Irianto mengatakan, pembebasan lahan seksi III Tol Bawen-Salatiga secara keseluruhan masih menyisakan sekitar 7,3 persen lahan yang belum dibebaskan.

Lahan itu itu terdiri dari 5 persen tanah kas desa atau sebanyak 44 bidang di Kabupaten Semarang. Adapun sisanya merupakan lahan warga.

"Tetapi informasi terkini, sudah ada solusi melalui pemberian kompensasi produksi lahan TKD atas persetujuan Bupati Semarang," kata Arie, Selasa (23/3/2016).

Belum semua lahan dibebaskan karena ada masalah administrasi, seperti berkas kepemilikan lahan serta. Ada pula yang belum mencapai kesepakatan harga antara pemilik lahan dan pemerintah.

Saat ini Badan Pertanahan Nasional (BPN) sebagai Panitia Pembebasan Tanah (P2T) dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) tengah mengupayakan untuk membebaskan seluruh lahan tersebut.

"Secara umum, saat ini kami masih menunggu sisa sekitar 7,3 persen. Termasuk pula penyelesaian persoalan di Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, yang masih terjadi kesalahan dalam berkomunikasi," kata Ari.

Melihat dari data di lapangan khususnya di paket 3.3D ruas Tol Sidorejo–Tengaran, kata Ari, merupakan paling kritis terkait lahan yang belum bebas.

Akibat kendala itu, terjadi keterlambatan dalam penyelesaian fisik hingga sekitar 20 persen. Itu berdasarkan asumsi jika lahan sudah dapat terbebaskan sebanyak 100 persen.

"Selain faktor lahan, faktor cuaca musim hujan seperti saat ini pun berpengaruh dalam pengerjaan fisik di ruas tol seksi III tersebut. Tetapi, kami akan berupaya ruas tersebut dapat digunakan di arus Lebaran 2016 ini," katanya. (*)

sumber :

Selasa, 22 Maret 2016

Kapolres Siap Usut Dugaan Penyimpangan Fasum Tol Semarang-Solo


Kapolres Semarang, AKBP Usman Latief. 
(Edy Susanto)
UNGARAN (KRjogja.com) - Kapolres Semarang, AKBP Usman Latief menegaskan siap mengusut dan menangkap pelaku penyimpangan uang pengganti fasilitas umum (fasum) dari proyek jalan Tol Semarang-Solo di Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang.

“Saya akan tangkap pelaku, apabila ada dugaan penyimpangan fasum di Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang,” tandas Kapolres dihadapan puluhan warga di aula Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Selasa (22/03/2016).

Kapolres juga meminta kepada warga untuk mendukung tak tidak menghalangi proyek jalan tol sebagai proyek nasional. “Kalau memang warga tidak puas silahkan menempuh jalur hukum melalui tuntutan secara perdata. Soal uang fasum yang telah diterima oleh desa menjadi urusan desa. Kalau ada penyimpangan saya berjanji akan menangkap pelakunya,” tukas kapolres.

Wakil Warga Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Suparno (59) pihaknya akan melakukan tuntutan perdata berkaitan dengan uang pengganti fasilitas umum yang dibiayai swadaya warga. “Pihak desa tidak terbuka dan tidak transparan. Kami mendukung proyek jalan tol, dan pathok yang kami pasang di tanah fasum sudah kami cabut sejak Jumat (18/3) lalu,” tandas Parno dihadapan kapolres.

Mediasi mengenai kelancaran proyek jalan tol Seksi III Bawen-Salatiga tahap ketiga yang melewati Desa Sukaharjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang sempat terganjal dan berhenti lantaran warga menuntut penggantian fasum.

sumber :

Selasa, 02 Februari 2016

Bank Jateng Biayai PT TMJ Rp 200 Miliar


Para kreditur perseorangan berselebrasi usai penandatanganan kredit 
sindikasi untuk Trans Marga Jateng, di Kantor Pusat PT Jasa Marga, 
Jakarta, 27 Januari 2016.

SEMARANG (KRjogja.com) – Sebagai bentuk komitmen dalam mendukung proyek infrastruktur jalan Trans Jawa yaitu penyelesaian proyek tol Semarang-Solo sepanjang 72,64 km, Bank Jateng ikut berpartisipasi dalam tambahan pembiayaan sindikasi kepada PT Trans Marga Jateng (TMJ) menjadi Rp 200 miliar dari semula Rp 100 miliar.

Menurut Dirut Bank Jateng Dr Supriyatno kepada KRjogja.com, Selasa (2/2/2016), partisipasi tersebut bagian dari plafon kredit maksimum fasilitas Rp 5,1 triliun dengan tenor pinjaman selama 12 tahun, sejak penandatanganan Perjanjian Kredit Sindikasi (KPS).

Dijelaskan, pinjaman ini bisa direalisasikan setelah TMJ menandatangani KPS dengan delapan kreditur lokal yang dilakukan 27 Januari 2016, di Kantor Pusat Jasa Marga, Jakarta.

Kelima kreditur perseroan serta empat bank local terdiri Bank Mandiri, BNI, BRI dan Bank Jateng, serta PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) sebagai BUMN di bawah koordinasi Kementrian Keuangan.

Menurut Nano, panggilan akrab Dr Supriyatno, tambahan plafon sindikasi diperuntukkan bagi tambahan biaya pengerjaan kontruksi tahap 1 yang meliputi Semarang-Bawen dan penyelesaian tahap II (Bawen-Solo). “Bank Jateng akan terus mendukung program pemerintah di bidang infrastruktur, antara lain ikut berpartisipasi dalam kredit sindikasi PT TMJ, mengingat tol Trans Jawa merupakan proyek strategis dan masuk dalam skala prioritas pemerintah,” jelasnya.

Proyek tol Trans Jawa, lanjutnya akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan Jawa Tengah pada khususnya, dan imbasnya akan memunculkan potensi ekonomi yang signifikan dan bermanfaat karena dapat menjadi peluang bagi Bank Jateng untuk berperan di dalamnya.

Lebih dari itu, kata Nano, Bank Jateng memandang tol Semarang Solo sebagai proyek strategis yang menjadi tugas bersama antara pemerintah, perbankan dan Stakeholder lainnya, mengingat jalan tol tersebut akan berdampak luar biasa dalam bidang ekonomi, utamanya menyangkut arus barang dan masyarakat yang menghubungkan dua kota terbesar di Jateng. (Isi).
 
sumber :

Sabtu, 30 Januari 2016

Pembebasan Tol Semarang – Solo Makin Memanas


Ferry Mursyidan Baldan. Foto: via berita satu


Jakarta, Harian Semarang – Polemik pembebasan tol Semarang-Solo kini berjalan memanas. Pasalnya, perkembangan pembebasan lahan Tol Semarang-Surakarta kian jelas dan menemukan titik terang.

“Kalau di Kabupaten Semarang Seksi 3, tercatat 1.482 bidang sepakat menerima ganti rugi. Sudah dibayarkan 1.282 bidang dan belum dibayar 180 bidang. Sementara 17 bidang tidak sepakat dan 33 bidang lain-lain tidak hadir musyawarah, tidak ditemukan pemilik dan tidak memberikan pernyataan,” ujar Ferry Moersidan Baldan, Menteri Agraria Tata Ruang – Badan Pertanahan Negara (ATR-BPN) seperti yang dilansir di tribun, saat ditemui di Jakarta, Kamis malam (27/1/2016).
Ferry Moersidan Baldan, Menteri Agraria Tata Ruang – Badan Pertanahan Negara (ATR-BPN) menjelaskan bahwa pembebasan di seksi 1 dan 2 di wilayah Kabupaten Semarang sebanyak 2.124 bidang sudah selesai 100 persen.
Dijelaskannya, untuk Kota Salatiga, dari 235 bidang tanah sudah 233 bidang (99,1 persen) dibayarkan dan satu bidang belum setuju dengan ganti rugi serta satu bidang lainnya tidak dapat membuktikan kepemilikan.

“Di Kabupaten Boyolali dari 1.752 bidang, 1.372 bidang (78,2 persen) sepakat menerima ganti rugi dan 947 bidang sudah dibayar ganti rugi, 423 bidang pemberkasan pembayaran, dan 380 bidang belum sepakat,” mantan Ketua Umum PB HMI tersebut.

Pria berkacamata tersebut menjelaskan bahwa kemajuan keseluruhan untuk pembebasan Tol Jawa di wilayah tengah itu mencapai 6.627 bidang tanah sepakat dari 7.556 bidang atau mencapai 87,5 persen. Yang sudah dibayar ganti rugi mencapai 5.220 bidang atau 59 persen.

Luasan bidang yang sudah dibebaskan mencapai 4.261.928 meter persegi dari total 6.152.079 meter persegi atau 69,28 persen di proyek lanjutan jalur Tol Semarang-Surakarta.

Saat ini Jalan Tol Semarang-Surakarta sudah terhubung dari Kota Semarang-Ungaran-Bawen dan memasuki tepi selatan Kota Salatiga yang berjarak 45 kilometer dari 110 kilometer jarak Semarang-Surakarta.
Pihaknya juga mengatakan, konstruksi Tol bisa langsung dikerjakan di lahan yang sudah dibebaskan. Pembangunan bisa terus berlangsung meski pembebasan belum mencapai 100 persen. (Red-HS99/TB). 
 
sumber :

Selasa, 08 September 2015

SPJT Tak Perlu Persetujuan DPRD


● Penjualan Saham Tol Semarang-Bawen

ilustrasi
SEMARANG – PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) tak perlu meminta persetujuan anggota DPRD Jawa Tengah terkait penjualan saham tol Semarang-Solo, ruas Semarang- Bawen. Saham milik pemerintah provinsi tersebut dijual kepada pihak swasta berdasarkan rapat umum pemegang saham (RUPS).

Saham tol tersebut dipegang PT SPJT dan PT Jasa Marga. Direktur Utama PT SPJT, Krisdiani Samsi mengatakan, dasar pengambilan keputusan penjualan melalui RUPS sesuai dengan UU No 5/1962 tentang Perusahaan Daerah dan UU No 40/2007 tentang Perseroan Terbatas. ”Saham itu merupakan aset milik pemerintah yang dipisahkan.

Sementara melalui undangundang perseroan terbatas keputusan penjualan saham sah lewat RUPS. Saya minta maaf karena laporan penjualan saham belum bisa diberikan ke Pemprov,” ujarnya dalam rapat konsultasi dengan anggota DRPD, kemarin.

Ketua DPRD Jateng, Rukma Setyabudi menjembatani rapat konsultasi antara Komisi C dan SPJT serta Trans Marga Jateng, selaku anak perusahaan dari SPJT dengan Jasa Marga.

Dalam rapat di ruangan Rukma itu, Samsi menjelaskan, penjualan saham terpaksa dilakukan karena potensi kehilangan saham apabila tak menyetor modal (terdelusi).

Pertanyakan Skema

”Saham dijual kepada pihak swasta sebesar 25% dengan nilai di atas taksiran tim apprasial. Ya sekitar tiga perempat triliun rupiah,” ujarnya enggan merinci nilai penjualan. Dengan demikian, saham SPJT tersisa 1,1% dari 26,1%. Sebelumnya, saham badan usaha milik daerah (BUMD) sebesar 40% lalu terdelusi 10% menjadi 30%, kemudian terdelusi lagi 3,9% menjadi 26,1%. Saham yang terdelusi menjadi milik Jasa Marga. Kini sahamnya mencapai 73,9%.

”Kami memiliki hak membeli kembali saham yang dimiliki Jasa Marga. Nanti dibeli 3,9%, sehingga saham kami jadi 5%. Ke depan kan Jasa Marga melepas saham perdana, nanti dibeli dari situ,” katanya. Skema penjualan dan pembelian, menurut Samsi, memiliki dua keuntungan sekaligus. Pertama, keuntungan pertama mendapat dana segar dari hasil penjualan 25% saham.

Kedua, pada 2021 saat memasuki masa perolehan keuntungan, SPJT memiliki saham 5%, sehingga tetap dapat keuntungan. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan saham mencapai ratusan miliar rupiah. ”Keuntungan saat ini akan digunakan untuk restukturisasi bisnis SPJT, dapat PI (participacing interest) Blok Muria. Tugas Trans Jateng, mau main (bisnis) air dan energi,” ungkapnya.

Terkait skema tersebut, Rukma mempertanyakan langkah yang ditempuh SPJT. Pasalnya, dalam pembangunan tol tersebut pemerintah pusat juga mengucurkan dana, sehingga tanpa mengeluarkan dana untuk membeli kembali saham, Pemprov juga sudah dapat kucuran dana. ”Saya tidak paham kenapa ada skema menjual dan membeli kembali. Kan ada bantuan dana dari pemerintah pusat untuk pembangunan tol,” katanya.

Pihaknya juga menyayangkan langkah yang ditempuh SPJT terkait pelepasan aset milik Pemprov. ”Seharusnya pelepasan aset dibicarakan dahulu dengan legislatif, meski tadi dikatakan kewenangan sepenuhnya milik pemegang saham,” ungkap politikus PDIPini. (H74,H81-71)

sumber :