javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Tampilkan postingan dengan label Tol Trans Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tol Trans Jawa. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Juli 2017

Tol Trans Jawa Ditargetkan Sampai Banyuwangi pada 2019, Bagaimana Perkembangannya?

Ilustrasi: (Foto: Okezone)


JAKARTA - Pembangunan Tol Trans Jawa terus dikebut pemerintah. Kendala-kendala seperti pembebasan lahan dan biaya segera diselesaikan agar target pembangunan tol ini sesuai rencana.

Tercatat, megaproyek Tol Trans Jawa yang menghubungkan Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur ditargetkan selesai seluruhnya pada 2019.

Menurut Presiden Joko Widodo (Jokowi), cepatnya pembangunan tol dan pembebasan lahan tak lepas dari adanya dukungan undang-undang. Selain itu adanya dana talangan yang bisa digunakan untuk mempercepat pembayaran pembebasan lahan tersebut.

“Kecepatan seperti ini yang diharapkan sehingga lima tahun ke depan akan kelihatan, berapa kilometer yang sudah bisa dikerjakan. Dana tol yang disiapkan pemerintah untuk tol yang mangkrak sebesar Rp32 triliun dan serapannya cepat sekali,” jelasnya.

Untuk mempercepat pembangunan ruas Batang-Semarang, PT Jasa Marga melalui anak usahanya PT Jasa Marga Semarang-Batang (JMSB) menggunakan skema pembiayaan contractor pre financing (CPF).

Tapi tidak sedikit, ada beberapa ruas tol Trans Jawa yang belum menunjukkan pembangunan yang signifikan. Berdasarkan data Monitoring Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) yang dikutip, berikut progres konstruksi Jalan Tol Trans Jawa hingga Minggu ke-3 Juli 2017:

- Ruas tol Pejagan-Pemalang 57,5 km dengan dana Rp6,84 triliun (seksi I dan II sudah beroperasi) meliputi progres tanah 99,41%, progres fisik 65,66%. Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) Seksi 3 dan 4 Januari 2017

- Ruas tol Pemalang-Batang 39,2 km dengan dana Rp4,08 triliun. Progres tanah 98,06%, progres fisik 29,90%, SPMK Januari 2017

- Ruas tol Batang-Semarang 75 km dengan dana Rp11,05 triliun. Progres tanah 76,34%, progres fisik 30,13%, SPMK Juli 2016

- Ruas tol Semarang-Solo 72,64 km dengan dana Rp7,3 triliun (seksi I dan 2II sudah beroperasi). Progres tanah 97,69%, progres fisik 59,96%, SPMK seksi 3 Juli 2015

- Solo-Ngawi 90,42 km dengan dana Rp 5,14 triliun. Progres tanah 88,09%, progres fisik 83,58%, SPMK Juni 2016

- Ngawi-Kertosono 86,9 km dengan dana Rp3,82 triliun. Progres tanah 98,6%, progres fisik 42%, SPMK Mei 2016

- Kertosono-Mojokerto 40,5 km dengan dana Rp3,48 triliun. Progres tanah 100%, progres fisik 90,88%, SPMK Agustus 2010

- Mojokerto-Surabaya 36,47 km dengan dana Rp3,79 triliun. Progres tanah 100%, progres fisik 89,21%, SPMK sejak April 2007

- Gempol-Pasuruan 34,15 km dengan dana Rp2,77 triliun. Progres tanah 76,47%, progres fisik 45,4%, SPMK sejak Maret 2013

- Pasuruan-Probolinggo 31,3 km, dengan dana Rp3,55 triliun. Progres tanah 96,5%, progres fisik 9,22%

- Probolinggo-Banyuwangi (masih tender) 172 km, dengan dana Rp15,92 triliun. Saat ini masih proses prakualifikasi lelang investasi.

sumber :

Minggu, 04 Juni 2017

Meski Gratis, GT Salatiga akan Berfungsi Sebagai Tempat Pembayaran


Gerbang Tol Salatiga yang berada di Kecamatan Tingkir, 
Salatiga, Jawa Tengah. Gerbang tol ini menjadi ujung dari ruas 
Tol Bawen-Salatiga. Gambar diambil pada Kamis (25/5/2017)
(KOMPAS.com/DANI PRABOWO)


UNGARAN, KompasProperti - Tingkir Exit (Tingxit) yang merupakan pintu keluar dari ruas tol seksi tiga Bawen-Salatiga diperkirakan akan menjadi titik penumpukan kendaraan pada saat mudik Lebaran 2017.

Prediksi kemacetan panjang ini bertolak dari fakta di lapangan yakni terdapat penyempitan jalur dari jalan tol ke jalan reguler.

Selain itu, PT Trans Marga Jateng (TMJ) selaku Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) Semarang-Solo akan memberlakukan tarif untuk perjalanan Semarang-Bawen di gerbang tol (GT) Salatiga yang ada di Kecamatan Tingkir.

"Bawen-Salatiga memang bebas biaya karena masih fungsional, tapi pembayaran Semarang-Bawen dilakukan di GT Salatiga yang ada di Tingkir," kata Manajer Operasional TMJ Fauzi Abdurrahman kepada KompasProperti, Sabtu (3/6/2017) siang.

Dia mengakui, ada kekhawatiran terjadinya penumpukan jalan, namun PT TMJ memastikan tidak akan terjadi penumpukan kendaraan yang berlebihan di Tingxit.


TMJ akan berkoordinasi dengan Kepolisian dan Dinas Perhubungan di dua wilayah yang dilewati yakni Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga, guna menentukan rekayasa lalu lalu lintas berupa sistem buka tutup di beberapa titik yang sudah ditentukan.

Kondisi terkini Ruas Tol Bawen-Salatiga per 17 Februari 2017
(Ridwan Aji Pitoko)



Menurut rencana, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) akan melakukan uji kelayakan ruas Tol Bawen-Salatiga pada H-10 lebaran.

Fungsionalisasi ruas Tol Bawen-Salatiga ini diharapkan bisa memecah kemacetan yang kerap terjadi di jalur selatan khususnya antara Bawen Kabupaten Semarang hingga Blotongan dan Salatiga Kota.

Selama mudik 2017, fungsionalisasi Tol Bawen-Salatiga ini berlaku satu arah untuk kendaraan yang sudah masuk sejak dari Tol Semarang saja. Arah sebaliknya, dari Salatiga ataupun dari Bawen, kendaraan belum diperbolehkan masuk.

Sedangkan untuk pengenaan tarifnya, hanya perlu membayar untuk ruas Semarang-Bawen, dan pembayarannya akan ditarik di pintu tol Salatiga.

Sementara untuk pemudik tujuan Yogyakarta, tetap keluar di pintu Tol Bawen seperti biasanya.

Sebelumya dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektoral dalam rangka Kesiapan Pengamanan Ramadhan Idul Fitri 2017 di Ruang Dharma Satya Kantor Setda Kabupaten Semarang, Rabu (31/5/2017) siang, Fauzi memastikan Jalan Tol Semarang-Solo seksi III, yakni ruas tol Bawen-Salatiga dipastikan berfungsi saat mudik Lebaran 2017.


Pekerjaan tol Bawen-Salatiga, cut and fill tanah sepanjang 
2 kilometer antara Kandangan-Polosiri, Bawen. 
Gambar diambil Kamis (30/3/2017).
(Kompas.com/ Syahrul Munir)

"Karena masih bersifat fungsional, maka kendaraan yang melintas hanya cukup membayar tarif tol dari Semarang ke Bawen saja. Selebihnya dari ruas Bawen ke Salatiga gratis," kata Fauzi.

Sementara berkaca kejadian Brexit pada tahun lalu, TMJ telah mengambil langkah antisipatif guna menghindari kemacetan panjang di exit toll Tingkir (Tingxit). Antara lain dengan sistem buka tutup berdasarkan panjang antrean di pintu tol Tingkir. 

"Jadi panjang antrean berapa kami sudah ada standard operational procedure (SOP). Kami ada rekayasa lalu lintas. Jadi kalau sudah sampai kilometer 52 kami alihkan ke (exit) Bawen," jelasnya.

Begitu pula jika pengalihan ke exit Bawen terjadi antrean hingga satu kilometer, maka akan dilakukan dilakukan pengalihan ke exit Ungaran.

"Itu SOP-nya sudah kita sampaikan dalam rakor linsek tadi," imbuhnya.

sumber :

Sabtu, 03 Juni 2017

Ini Daftar Ruas Tol Trans-Jawa Bebas Tarif Alias Gratis


Perlintasan di Jalan Tol Solo Kertosono (Soker) di Sragen, 
Jawa Tengah(Kontributor Surakarta, M Wismabrata)


JAKARTA, KompasProperti - Sejumlah ruas Jalan Tol Trans-Jawa akan difungsikan atau digunakan sementara selama mudik dan balik Lebaran 2017.

Ruas yang difungsikan ini nantinya dibebaskan dari biaya alias gratis.

"Kalau yang dikenakan tarif hanya yang sudah dioperasikan," kata Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Herry Trisaputra Zuna di Galeri Nasional Jakarta, Jumat (2/6/2017).

Untuk ruas Tol Trans-Jawa yang akan difungsikan adalah sebagai berikut:

  1. Ruas Tol Brebes Timur hingga Weleri. Ruas ini terdiri atas Brebes Timur-Pemalang yang meliputi Seksi 3 Brebes Timur-Tegal dan Seksi 4 Tegal-Pemalang.
  2. Kemudian ruas Tol Pemalang-Batang yang terdiri atas Seksi 1 Pemalang-Pekalongan dan Seksi 2 Pekalongan-Batang.
  3. Selanjutnya ruas Tol Batang-Semarang yang baru selesai hingga Weleri, terdiri atas Seksi 1 Batang-Batang Timur dan Seksi 2 Batang Timur-Weleri.
  4. Ruas Tol Semarang-Solo tepatnya Seksi 3 Bawen-Salatiga.
  5. Ruas Tol Solo-Ngawi meliputi Kertosuro-Karanganya, Karanganya-Sragen, Sragen-Mantingan dan Mantingan-Widodaren.
  6. Ruas Tol Ngawi-Kertosono, Kertosono-Mojokerto, Mojokerto-Surabaya dan Gempol-Pasuruan.
sumber :

Rabu, 31 Mei 2017

Ini Ruas Tol Trans Jawa yang Bisa Dilalui Gratis Saat Mudik Lebaran

"Ruas tol Trans Jawa yang bisa fungsional cukup panjang, mulai dari Brebes Timur (Jawa Tengah) hingga Surabaya (Jawa Timur)"

Foto ilustrasi pekerja menggarap pembangunan 
Tol Bawen-Salatiga di Bawen, Kabupaten Semarang, 
Jawa Tengah, Kamis (26/1). 
ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah memastikan kelayakan beberapa ruas tol baru di Trans Jawa. Ruas tol yang belum sepenuhnya selesai pengerjaannya ini akan difungsikan agar bisa dilalui pengendara secara gratis saat mudik Lebaran 2017. 

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto menjelaskan pihaknya telah mengecek dan memastikan beberapa ruas tol Trans Jawa bisa fungsional. "Ruas tol ini memang untuk mengakomodir pemudik yang sebagian besar atau diatas 50 persen berada di Pulau Jawa," ujar Arie saat konferensi pers, di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Rabu (31/5).

Jalan Tol Trans Jawa yang bisa difungsikan untuk mudik lebaran tahun ini cukup panjang, mulai dari Brebes, Jawa Tengah hingga Surabaya, Jawa Timur. Namun, ruas tol yang bisa fungsional ini belum tersambung seluruhnya. Ruas tol yang bisa dilalui pemudik terdiri dari beberapa bagian.

Bermula dari ruas tol Brebes Timur-Ngaliyan sepanjang 145 kilometer (km) terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu Brebes Timur-Pemalang yang meliputi ruas Brebes Timur-Tegal sepanjang 10 km dan Tegal-Pemalang sepanjang 26,90 km. 

Dilanjutkan ruas Pemalang-Batang yang meliputi ruas Pemalang-Pekalongan sepanjang 23,30 km dan Pekalongan-Batang sepanjang 15,90 km. Dilanjutkan tol Batang-Semarang yang meliputi Batang-Batang Timur sepanjang 3,20 km dan Batang Timur-Weleri sepanjang 36,35 km.

Sayangnya, dari Weleri jalan tol ini harus terputus. karena ruas tol selanjutnya yakni Weleri-Kendal sepanjang 11,05 km, Kendal-Kaliwungu sepanjang 13,5 km, dan Kaliwungu-Ngaliyan sepanjang 7,90 km, masih belum memungkinkan untuk dilewati. 

Tol Trans Jawa yang fungsional bisa ditemukan kembali di ruas Semarang-Solo. Jalan tol ini meliputi ruas Bawen-Salatiga sepanjang 17,60 km. Kemudian dilanjutkan dengan Tol Solo-Ngawi yang meliputi ruas Kertosuro-Karanganyar sepanjang 20,90 km, Karanganyar-Sragen (13,80 km), Sragen-Mantingan (21,35 km), dan Mantingan-Ngawi (34,20 km).

Jawa bagian Timur, beberapa ruas tol fungsional meliputi Ngawi-Kertosono sepanjang 35 km. Dilanjutkan dengan ruas tol Kertosono-Mojokerto dengan panjang 20,8 km, Mojokerto-Surabaya sepanjang 15,47 km, dan Gempol-Bangil sepanjang 6,90 km.


Selain itu, Kementerian PUPR telah membangun jembatan layang untuk mengatasi titk rawan kemacetan di Jalur Pantura, Jawa Tengah. Keempat jembatan layang ini dibangun untuk menghindari penumpukan kendaraan akibat tertahan jalur kereta api. Jembatan layang ini dibangun mulai dari wilayah Brebes.

Keempat jalan layang tersebut, pertama, Dermoleng-Ketanggungan dengan progress pembangunan sebesar 84,96 persen. Kedua, Klonengan-Prupuk dengan progres pembangunan sebesar 94,23 persen. Ketiga, Kesambi dengan progres pembangunan 78,68 persen. Keempat, Kretek-Paguyangan dengan progres 76,84 persen.

"H-10 kami pastikan keempatnya sudah bisa beroperasi secara fungsional," ujar Arie

sumber :

Minggu, 26 Februari 2017

Astra Tak Terlibat Proyek Tol Sumatera, Ini Penyebabnya

"Mereka masih konsentrasi menggarap ruas tol di Pulau Jawa."

Pekerja sedang mengerjakan proyek jalan 
tol Trans Sumatera (VIVA.co.id/Dusep Malik)

VIVA.co.id – Pemerintah tengah gencar-gencarnya membangun sektor infrastruktur, khususnya jalan tol. Tak hanya Pulau Jawa, Sumatera sedang dikebut pembangunan jalan bebas hambatan tersebut. Namun hal itu belum memancing PT Astra International Tbk untuk bergabung di dalamnya.

Menurut Direktur PT Astratel Nusantara, Wiwik Dianawati Santoso, saat ini pihaknya masih konsentrasi menggarap ruas tol di Pulau Jawa. Apalagi, yang terbaru adalah anak usaha perusahaan berkode emiten ASII ini baru saja mengambil kepemilikan 22,3 persen saham Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) di awal tahun ini.

"Saat ini kami masih fokus di (Pulau) Jawa. Sekarang kami sudah punya enam ruas tol. Yang terbaru Cipali," kata Wiwik kepada VIVA.co.id, Minggu 26 Februari 2017. PT Astratel Nusantara merupakan anak usaha Grup Astra, yang bergerak di sektor infrastruktur.

Ia juga mengaku, masih belum bergabungnya Astra ke proyek tol Sumatera lantaran belum adanya tawaran. Selain itu, sektor ini merupakan sektor yang 'capital intensive' atau padat modal. "Kami tidak mau gegabah, karena harus konsultasi dan ada permintaan dari induk usaha. Ini industri padat modal," ungkapnya.

Meski begitu, untuk belanja modal, PT Astratel memiliki anggaran sebesar Rp4 triliun pada tahun ini. Menurut Wiwik, dana itu termasuk yang dipakai saat mengakuisisi saham Tol Cipali. Namun, ia kembali menegaskan bahwa saat ini belum ada rencana maupun tawaran mengakuisisi ruas tol.

Lima ruas tol lainnya yang dioperasikan Astra yaitu Tangerang-Merak sepanjang 74,25 km. Tol ini dioperasikan oleh PT Marga Mandala Sakti. Kedua, Tol Jombang-Mojokerto yang dioperasikan lewat PT Marga Harjaya Infrastruktur, dengan panjang 40,5 km.

Ketiga, Tol Kunciran-Serpong yang dioperasikan lewat PT Marga Trans Nusantara. Panjang ruas tol yang merupakan bagian jaringan Jakarta Outer Ring Road 2 ini adalah 11,2 km.

Keempat, Tol Semarang-Solo yang dioperasikan melalui PT Trans Marga Jateng sepanjang 72,6 km. Terakhir, Tol Serpong-Balaraja dengan kepemilikan di PT Trans Bumi Serbaraja. (ren)

sumber :

Rabu, 22 Februari 2017

Jasa Marga Anggarkan Capex Rp 26 Triliun

"Percepat Pembangunan Infrastruktur"
NERACA

Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) mengalokasikan belanja modal sepanjang tahun ini sebesar Rp26 triliun. Jumlah anggaran ini lebih tinggi 136,36% dari rencana belanja modal sepanjang 2016, yakni Rp11,620 triliun. Namun, realisasi penyerapannya sekitar Rp9,576 triliun selama tahun lalu. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Rencana anggaran belanja modal pada tahun ini untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur. Pada 2017, Jasa Marga akan mengoperasikan jalan tol sepanjang 210 kilometer yang berasal dari enam ruas tol baru, yakni jalan tol Semarang-Solo (Bawean_Salatiga) sepanjang 17,50 km, Surabaya-Mojokerto (Sepanjang-Krian)) sepanjang 15,50 km, Gempol-Pasuruan sepanjang 20,5 km, Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (Perbarakan-Sei Rampah) sekitar 41,69 km, Solo-Ngawi sepanjang 90,25 km, dan Ngawi-Kertosono (Ngawi-Caruban) sepanjang 25 km.

Perseroan optimistis bahwa seiring dengan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, volume transaksi juga akan terus meningkat. Manajemen menargetkan pertumbuhan volume transaksi selama 2017 sekitar 2%. Pada 2019, perseroan bakal memiliki hak konsesi 2.000 km jalan tol dan mengoperasikan 1.260 km jalan tol dengan nilai aset Rp112 triliun.

Pada sisi pelayanan operasional, perseroan akan terus meningkatkan pelayanan kepada pengguna jalan dengan melanjutkan proses integrasi pengoperasian di jalan tol Jakarta-Tangerang dan Tangerang-Merak, serta akan dilakukan perubahan sistem transaksi di jalan tol Jakarta-Bogor-Ciawi. Selain itu, perseroan juga akan terus meningkatkan penetrasi penggunaan transaksi non tunai, yang selain dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan juga untuk mengendalikan beban usaha pelayanan operasinal," paparnya.

Dari sisi pengembangan usaha lain, Jasa Marga optimistis dapat meningkatkan pendapatan usaha jasa layanan pemeliharaan, jasa pengoperasian jalan tol, dan pengelolaan properti dan rest area melalui anak usaha. Perseroan memproyeksikan pendapatan tol dan usaha lainnya sebesar Rp10 triliun. Dengan demikian, total aset perseroan sepanjang 2017 diperkirakan mencapai Rp72 triliun atau 30,90% lebih tinggi dari rencana tahun lalu sebesar Rp55,4 triliun.

Tercatat sepanjang tahun 2016, perseroan membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar 28,85% atau menjadi Rp1,889 triliun dari Rp1,466 triliun pada tahun sebelumnya. Perseroan menjelaskan, raihan ini ditopang oleh meningkatnya pendapatan usaha sekitar 69,18% atau menjadi Rp16,66 triliun per akhir Desember 2016 dari Rp9,85 triliun pada tahun sebelumnya.

Pendapatan usaha perseroan tersebut terdiri dari pendapatan tol, konstruksi, serta usaha lainnya. Pendapatan tol mencapai Rp7,92 triliun atau naik 11,3% dari 2015 Rp7,12 triliun, pendapatan Konstruksi naik 253,1% menjadi Rp7,82 triliun, serta usaha lainnya tumbuh 77,7% atau mencapai Rp905,67 miliar. (bani)

sumber :

Minggu, 12 Februari 2017

Tol Bawen-Yogyakarta Dilelang Awal 2018



Ilustrasi (Foto: Agung Pambudhy)


Jakarta - Jalan tol menuju Yogyakarta bakal dibangun oleh pemerintah lewat Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) untuk mendukung pengembangan wisata ke kawasan tersebut. Bagaimana kesiapannya saat ini?

Kepala BPJT Herry Trisaputra Zuna mengatakan, saat ini pihaknya tengah menyiapkan dokumen lelang investasi untuk mencari investor paling kompeten untuk mendanai proyek tersebut.

Bersamaan dengan itu, saat ini juga tengah dilakukan proses pembebasan lahan untuk kawasan-kawasan yang akal dilewati rute jala tol tersebut.

"Kita sekarang sedang siapkan dokumen pengadaan tanahnya. Sembari kita sedang siapkan dokumen lelangnya. Awal tahun depan (awal 2018) kita akan mulai lelang," kata dia dihubungi detikFinance, Minggu (12/2/2017).

Dari data BPJT, jalan tol ini bakal memiliki panjang mencapai 70 km. Biaya investasi untuk proyek ini diperkirakan mencapai Rp 10,72 triliun.

Jalan tol Bawen-Yogyakarta tidak akan berdiri sendiri karena akan terkoneksi dengan jalan tol yang saat ini telah beroperasi.

Sekedar informasi, di Bawen sendiri saat ini telah tersedia jalan tol Semarang-Solo. Tol Semarang-Solo, saat ini telah beroperasi dua seksi yakni seksi 1 Tembalang-Ungaran sepajang 16,3 km dan seksi 2 Ungaran-Bawen sepanang 11,3 km. Untuk seksi 3 Bawen-Salatiga, saat ini tengah dalam tahap konstruksi. Selain 3 seksi itu, tol Semarang-Solo memiliki dua seksi lagi yakni seksi 4 Salatiga-Boyolali sepanjang 22,4 km dan seksi 5 Boyolali-Kartosuro sepanjang 11,1 km.

Adapun persambungan dengan tol Bawen-Yogyakarta akan terjadi di ruas tol Ungaran-Bawen.

"Nanti dari Bawen pecah (ada persimpangan) ada yang ke Salatiga. Sekarang sedang tahap konstruksi. Nanti yang baru akan kita bangun Bawen-Jogja," kata Herry.

Bila seluruh rusa jalan tol tersebut terbangun, maka 3 kota yakni Semarang, Solo dan Yogyakarta akan tersambung jalan tol. Membuat waktu tempuh ketiga kota akan semakin singkat. (dna/dna)

sumber :

Senin, 20 Juni 2016

Bangun Jalan Tol, Pemerintah Suntik Rp16 Triliun Ke LMAN

"Dana tambahan akan digunakan untuk percepat pengadaan tanah jalan tol."

Pekerja sedang membangun salah satu ruas jalan tol trans Jawa
(Istimewa )


VIVA.co.id – Pemerintah mengusulkan untuk meningkatkan alokasi tambahan pembiayaan kepada Badan Layanan Umum (BLU) Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) sebesar Rp16 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2016.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, peningkatan alokasi pembiayaan tersebut memang bertujuan untuk mempercepat pengadaan tanah, khususnya untuk proyek infrastruktur jalan seperti jalan tol yang saat ini tengah digenjot pemerintah.

"BLU LMAN ini mempunyai mandatory untuk percepat pengadaan tanah. Sehingga, (alokasi tambahan pembiayaan) belanja pengadaan tanah lebih fleksibel," kata Bambang dalam rapat kerja bersama Komisi XI di gedung parlemen Jakarta, Senin 20 Juni 2016.

Bambang menjelaskan, suntikan pembiayaan yang diusulkan sebesar Rp16 triliun tersebut sudah mencakup pembiayaan empat ruas jalan tol yang saat ini tengah dibangun oleh pemerintah. Misalnya seperti pembangunan ruas Tol Trans Jawa, Non Trans Jawa, Tol Trans Sumatera, sampai dengan ruas tol dalam kota.

"Trans Jawa itu Rp5,36 triliun, Non Trans Jawa Rp3,02 triliun, Jabodetabek Rp5,62 triliun, dan Trans Jawa Rp5,36 triliun," jelas Bambang.

Sementara dari total yang dialokasikan untuk pembiayaan tol Trans Jawa, Bambang mengatakan, pembiayaan tersebut sudah mencakup kebutuhan dana dari delapan ruas jalan tol yang saat ini terus dipercepat pemerintah. Mulai dari tol Pejagan-Pemalang sebesar Rp607 miliar, Pemalang-Batang Rp1,3 triliun.

Kemudian, Batang-Semarang sebesar Rp2,53 triliun, Semarang-Boyolali sebesar Rp460 miliar, Solo-Mantingan sebesar Rp49 miliar, Kertosono-Mojokerto sebesar Rp62 miliar, dan Mojokerto-Surabaya sebesar Rp253 miliar. "Sehingga totalnya Rp5,36 triliun," katanya.

Jika parlemen menyetujui usulan penambahan alokasi tersebut, maka ini adalah skema pembiayaan yang akan disalurkan oleh BLU LMAN kepada sejumlah proyek itu. Sampai saat ini, pembahasan penambahan alokasi pembiayaan untuk BLU LMAN masih digodok bersama pemerintah dan parlemen.

sumber :

Kamis, 16 Juni 2016

Lelang Tol Semarang-Batang Usai Lebaran


Foto: Istimewa
SEMARANG, suaramerdeka.com - Pembangunan jalan tol Semarang-Batang sepanjang 75,35 Km akan dikebut. Usai lebaran, akan dibuka pendaftaran peserta lelang. Dari semua ruas tol yang melintas di Jawa Tengah, Semarang-Batang menjadi salah satu yang paling lambat pembangunanya.

Hal itu disebabkan pemenang lelang yang lalu tidak bisa memenuhi kewajibanya. Investor dinilai lambat dan terkendala maslaah finansial dan akhirnya diambil alih oleh PT Jasa Marga.

Staf Utama Direktorat Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng, Ari Nugroho mengatakan pembangunan akan dikebut lantaran lalu lintas di jalur pantura sudah terlalu padat. “Saat ini dilakukan penempatan dirut dan pimpro. Usai lebaran baru lelang,” kata Ari, Rabu (15/6).

Lantaran baru akan lelang, pembangunan ruas tol yang terbagi menjadi lima seksi ini masih nol persen.

Menurut Sekda Jateng Sri Puryono, ada sejumlah persoalan krusial yang menyebabkan pembangunan fisik tol Semarang-Batang tertinggal jauh dari ruas tol lainnya. Pertama, adanya pergantian investor pada akhir 2015.

Alasan kedua, di ruas itu ada lahan milik Perum Perhutani. Untuk proses pembebasannya, Kementerian PUPR dan Kementerian BUMN mengajukan izin ke Kementerian Kehutanan.

“Pemprov ditugasi khusus untuk ikut menyelesaian soal tol Semarang-Batang ini. Agar sesuai target selesai 2018,” kata Puryono.

Sesuai data dari Bina Marga Jateng per 4 Mei, dari 2.555 bidang tanah masih dalam tahap proses pembebasan. Dari jumlah itu 954 bidang tahap apraisal dan 1.597 tahap validasi terkait keberatan masyarakat. Penyelesaian ditarget Juli 2016.

Untuk tol Solo-Mantingan, kebutuhan lahan 4,49 juta meter persegi. Sebanyak 2.110 bidang yang berada di kabupaten Boyolali sudah dibebaskan. Sebanyak 54 bidang di Solo seluas 18.515 meter persegi dan telah selesai seratus persen.

Sebanyak 2.579 bidang tanah di Sragen yang dibutuhkan telah dibebaskan 2.284 bidang. Dari 1.404 bidang di Karanganyar telah dibebaskan 1.340 bidang.

‘’Presiden sudah memerintahkan Solo-Sragen bisa dioperasikan tahun ini. Maka pembangunan juga harus cepat.’’ kata Ari.

sumber :

Rabu, 13 April 2016

Harus Rampung Sebelum Lebaran, Proyek Tol Semarang-Salatiga Dikebut


Ilustrasi Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -Pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo, khusus seksi III sepanjang 18,2 kilo meter dari Bawen-Salatiga ditargetkan rampung H-7 Lebaran 2016. Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk (JSMR) Adityawarman mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan sejumlah upaya percepatan agar target tersebut bisa dicapai.

"Semarang itu karakternya agak unik karena berbukit-bukit sehingga banyak pekerjaan tanah yang luar biasa. Kemudian ada batu-batu yang besar-besar, sebesar rumah. Jadi pekerjaan land clearing itu ekstra sekali," kata dia ditemui di sela HUT Kementerian BUMN di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (13/4/2016).

Bila ruas ini selesai, kata Adit, maka akan melengkapi 2 seksi Jalan Tol Semarang-Solo yang sudah beroperasi sebelumnya yakni Seksi I sepanjang 16,3 km dari Tembalang-Ungaran dan seksi II sepanjang 11,3 km dari Ungaran-Bawen di bawah pengelolaan PT Transmarga Jateng yang 60% sahamnya dikuasai Jasa Marga.

Artinya, bila jalan ini rampung, maka pengguna jalan tol bisa menerus menggunakan tol masuk di Semarang dan keluar di Salatiga.

Sekedar catatan, proses pembebasan lahan Jalan Tol ini masih terkendala di beberapa titik. Salah satunya pembebasan tanah di Desa Delik, Kecamatan Tuntang yang warganya meminta penggantian tanah dan fasilitas jalan lingkungan.

"Memang ada beberapa bidang tanah yang belum bebas, kita usahakan kalau bisa sebelum akhir April sudah selesai. Sehingga bisa mengerjakan Bawen sampai Salatiga," sambung dia.

Bila melihat data teknis yang dimiliki BPJT, total progres fisik Jalan Tol ini termasuk yang sudah beroperasi telah mencapai 31,43%. Sembari melakukan pekerjaan konstruksi, saat ini tengah dilakukan upaya untuk menuntaskan proses pembebasan lahan.

Diharapkan ada dukungan dari Pemerintah daerah untuk mempercepat proses pembebasan lahan tersebut. Mengingat, jalan tol ini ditarget selesai sebelum tahun 2019.

Pemerintah sendiri memperkirakan dibutuhkan dan sekitar Rp 927 miliar untuk proses pembebasan lahan dan biaya konstruksi sekitar Rp 3,11 triliun. Total kebutuhan investasi jalan tol ini ditaksir mencapai Rp 7,3 triliun.
(dna/ang)

sumber :

Tol Batang-Semarang Punya Investor Baru, Pembangunan Dikebut


Ilustrasi Foto: Tya Eka Yulianti
Jakarta -Pemerintah lewat Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) telah menunjuk investor baru hasil lelang investasi untuk pembangunan Jalan Tol Batang-Semarang 75 kilo meter (km). Pemenangnya adalah konsorsium dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT).

"Sudah ada pengumuman dari pemerintah bahwa yang kerjakan kita (Jasa Marga) dengan Waskita. Kita sedang bentuk anak usaha patungan, akhir April selesai, Mei masuk ke lapangan," ujar Direktur Utama Jasa Marga, Adityawarman, ditemui di sela acara HUT Kementerian BUMN ke 18 di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (13/4/2016).

Kegiatan konstruksi sendiri kata dia, akan dimulai dengan pembebasan lahan yang saat ini tercatat baru sekitar 20% dari total kebutuhan lahan. Kebutuhan biaya pembebasan lahan total mencapai Rp 554 miliar.

"Jadi pertama lahan dulu kita kejar. Ini masih sisa 8 bulan lagi sampai Desember. Ini kita kejar betul supaya awal tahun 2017 sudah masuk konstruksi. Kalau lahan sudah, konstruksi cepat. Paling 1,5 tahun selesai," tuturnya.

Pembangunnannya sendiri kata Adit, akan diserahkan kepaka rekanannya yakni PT Waskita Karya. 

"Dalam kontrak kan memang kontraktor sudah harus ditetapkan sejak awal. Kebetulan partner kita Waskita Karya itu kontraktor juga. Jadi nanti dia yang kerjakan," ungkap Adit.

Di tempat yang sama, Direktur Utama Waskita Karya M Choliq mengatakan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan persiapan kegiatan konstruksi.

Terkait pembebasan lahan, pihaknya berencana menalangi dulu biaya pembebasan lahan dari dana internal perusahaan. 

"Dari keputusan Rapat Kabinet kan dana pembebasan lahan yang habis akan ditambah pakai BLU di Kementerian Keuangan, tapi prosesnya lama bisa bulan Mei. Sementara kita tanah harus cepat. Jadi tanah akan kita talangi dulu, nanti baru BLU cari, dana kita yang keluar diganti pakai BLU itu," kata Choliq.

Pemerintah memang mencari investor baru untuk membangun Jalan Tol Batang-Semarang yang telah lama mangkrak. Investor yang sebelumnya memegang saham PT Marga Setia Puritama sebagai Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) alias pengelola jalan tol ini tak kunjung melaksanakan proses pembangunan dan tak melakukan kewajibannya membayar perpajangan jaminan pelaksanaan kerj selaku pemegang konsesi proyek tersebut.

Seperti diketahui, untuk membangun Jalan tol Batang-Semarang, diperlukan dana investasi sebesar Rp 7,23 triliun. Sementara biaya pembebasan tanah sebesar Rp 554 triliun dan Rp 4,21 triliun untuk keperluan konstruksi.

Saat ini Pemerintah tengah melanjutkan proses pembebasan tanah yang saat ini perkembangannya sudah mencapai 20,17%.
(dna/ang)

sumber :

Tol Semarang-Salatiga Ditarget Rampung H-7 Lebaran 2016


Foto: Ilustrasi (Agung Pambudhy-detikcom)

Jakarta -Tak mau ketinggalan dengan pembangunan ruas jalan tol Trans Jawa lainnya, pembangunan jalan tol Semarang-Solo sepanjang 72,64 kilometer (km) juga terus dikebut.

Dua dari lima seksi yang ada yakni Seksi I sepanjang 16,3 km dari Tembalang-Ungaran dan seksi II sepanjang 11,3 km dari Ungaran-Bawan telah beroperasi, di bawah pengelolaan PT Transmarga Jateng yang 60% sahamnya dikuasai PT Jasa Marga Tbk (JSMR).

Saat ini, pembangunan konstruksi tengah difokuskan pada seksi III sepanjang 18,2 km dari Bawen-Salatiga. 

"Targetnya sampai Salatiga, H-7 lebaran 2016 ini sudah bisa dilewati," ujar Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Herry Trisaputra Zuna, kepadadetikFinance, Rabu (13/4/2016).

Bila melihat dari teknis yang dimiliki BPJT, total progres fisik jalan tol ini termasuk yang sudah beroperasi telah mencapai 31,43%. Sembari melakukan pekerjaan konstruksi, saat ini tengah dilakukan upaya untuk menuntaskan proses pembebasan lahan.

Sekadar catatan, proses pembebasan lahan jalan tol ini masih terkendala di beberapa titik. Salah satunya pembebasan tanah di Desa Delik, Kecamatan Tuntang, yang warganya meminta penggantian tanah dan fasilitas jalan lingkungan.

Diharapkan ada dukungan dari pemerintah daerah untuk mempercepat proses pembebasan lahan tersebut. Mengingat, jalan tol ini ditarget selesai sebelum tahun 2019.

Pemerintah sendiri memperkirakan dibutuhkan dana sekitar Rp 927 miliar untuk proses pembebasan lahan dan biaya konstruksi sekitar Rp 3,11 triliun. Total kebutuhan investasi jalan tol ini ditaksir mencapai Rp 7,3 triliun.
(dna/drk)

sumber :

Minggu, 03 April 2016

Jalan Tol Bawen-Salatiga Bisa Dilalui Pemudik

ilustrasi : pengecoran rigid pavement tol semarang solo paket 3.3A
(foto : Pojok Soklin)
TRIBUNJOGJA.COM, SEMARANG – Pembangunan fisik jalan tol Semarang-Solo seksi III untuk ruas Bawen-Salatiga masih 30 persen.

Namun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan, pada Lebaran 2016 nanti, jalan tersebut sudah dapat dilalui sebagai jalan alternatif mudik.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sri Puryono, Minggu (3/4/2016) mengatakan, untuk ruas Bawen-Salatiga dipastikan sudah bisa dilewati, namun pelaksana proyek diminta bekeja keras agar cepat selesai.

Seksi III ini dibagi menjadi tiga paket, yakni paket I untuk ruas Bawen-Polosiri sepanjang 3,49 kilometer. Paket II untuk ruas Polosiri-Sidorejo sepanjang 6,8 kilometer. Sedangkan untuk paket tiga Sidorejo-Tengaran sepanjang 7,309 kilometer.

Di ruas tersebut masih terdapat kendala pembebasan lahan, namun kata Puryono, jumlahnya tidak banyak.

Tanah tersebut berupa tanah wakaf, tanah milik PLN dan PJKA. Ia memperkirakan Mei 2016 mendatang sudah selesai.

Adapun untuk Seksi tol Solo-Mantingan baru mencapai 26 persen. Persoalannya pembebasan lahan yang berstatus tanah kas desa harus memperoleh persetujuan Mendagri. Sembari proses ke Mendagri berproses, terdapat solusi lain yaitu pemberian kompensasi.

“Desa diberi kompensasi, misalnya lahan mereka dihitung seperti lahan pertanian. Misalnya ditanami, per hektare dalam sekali panen dapat berapa, maka itu yang harus dibayarkan ke desa,” ujarnya.

Sedangkan untuk ruas lain, lanjutnya, juga sedang proses pengerjaan fisik. Ruas Pejagan-Brebes proses pembangunanya sudah mencapai 89 persen, ruas Brebes-Tegal Barat mencapai 94,8 persen.

“Tapi untuk ruas Batang-Semarang pembangunan fisiknya masih nol persen, karena masih dalam tahap pembebasan lahan,” katanya. (tribunjogja.com)

sumber :

Proyek Tol Soker Masih Terkendala Pembebasan Lahan


Foto: suaramerdeka.com/Arie Widiarto
SRAGEN, suaramerdeka.com - Berdasar data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera), ruas tol Solo-Kertosono (Soker) adalah salah satu dari 9 ruas jalan tol bagian dari Trans Jawa yang mendapatkan prioritas utama.

Kesembilan ruas itu merupakan jalan bebas hambatan yang terbentang dari Jawa Barat hingga ke Jawa Timur. Ruas tol itu diharapkan sudah selesai dan beroperasi penuh paling lambat 2018 mendatang. Kesembilan ruas tol itu adalah tol Cikampek-Palimanan, tol Pejagan-Pemalang, tol Pemalang-Batang, tol Batang-Semarang, tol Semarang-Solo, tol Solo-Ngawi, tol Ngawi-Kertosono, tol Mojokerto-Jombang-Kertosono dan tol Surabaya-Mojokerto.

Kesembilan ruas tol itu memiliki panjang total 615 km. Untuk tol Soker yang bakal menjadi penghubung utama Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki panjang total 181 km, termasuk beberapa jalan akses, seperti akses menuju Bandara Adisoemarmo Solo.

Asisten Pelaksana pada Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Bebas Hambatan Solo-Kertosono, Azis Purnomo mengatakan, setidaknya masih dibutuhkan Rp 1,2 triliun untuk tol Soker. “Pekerjaan yang masih terus dilakukan adalah pembangunan main road atau jalan utama, overpass dan underpass, baik yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ” kata Azis ketika ditemui.

Menurut Azis, salah satu yang masih menjadi masalah dalam pembangunan adalah masih adanya tanah-tanah yang belum bisa dibebaskan. Hal
ini tidak hanya terjadi untuk ruas tol Soker di Jawa Tengah saja, juga terjadi yang ada di wilayah Jawa Timur.

Saat ini salah satu ruas yang terus dikebut adalah ruas Colomadu hingga Kebakkramat, Karanganyar, yang menyelesaikan spot-spot yang belum selesai. Diharapkan ruas Colomadu-Karanganyar ini bisa dilewati dan difungsikan akhir tahun ini. Namun ini semua juga tergantung pada pembebasan lahan.

“Kalau semua lahan sudah bebas, mungkin jalan utama ruas Colomadu-Karanganyar ada yang sudah bisa dilewati, bahkan tidak menutup kemungkinan saat arus mudik Lebaran bisa untuk pengalihan arus sementara,” tandas Azis.

Sementara itu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Tanah Jalan Tol Solo-Mantingan II Sihono didampingi Kepala Tata Usaha Joko Siyono mengatakan, untuk pembebasan lahan di Sragen yang belum tuntas adalah tanah kas desa (TKD). Untuk pembebasan TKD memang membutuhkan persetujuan Gubernur Jawa Tengah.

“Untuk pembebasan tanah proyek tol Soker di Sragen memang cuma tinggal masalah TKD dan sebagian lokasi penggantinya sudah dapat,” kata Joko.

sumber :

Kamis, 24 Maret 2016

Lebaran, Tol Bawen-Salatiga Bisa Dilintasi


Konstruksi bangunan jembatan pada seksi III Bawen-Salatiga. 
Foto : Metrotvnews.com/ Dhana Kencana


Metrotvnews.com, Semarang: Jalan tol Semarang-Solo seksi III, ruas Bawen-Salatiga, pada Lebaran 2016 dapat dilalui pemudik. Namun, ruas jalan 17,57 kilometer tersebut masih belum aspal melainkan urukan pasir dan batu alias sirtu.

“Targetnya Lebaran bisa dilalui sampai Salatiga. Pembebasan lahan juga sudah 99 persen. Diharapkan bisa mengurai kemacetan,” kata Anggota Komisi D DPRD Jateng, Moch Ichwan, kepadaMetrotvnews.com, usai meninjau jalan tol seksi III Bawen-Salatiga, Kamis (24/3/2016).

Meskipun masih sirtu, Ichwan berharap PT Trans Marga sebagai operator bisa memberikan pelayanan dengan melakukan pengaspalan sebagian jalan, meskipun tidak semuanya.

Seksi tiga dibagi menjadi tiga paket. Paket 3.1 (Bawen-Polosiri) sepanjang 3,49 kilometer. Pengerjaannya saat ini masih pada pembangunan konstruksi jembatan sepanjang 366 meter. Sementara paket 3.2 (Polosiri-Sidorejo) sepanjang 6,8 kilometer. Sedangkan untuk paket 3.3 (Sidorejo-Tengaran) sepanjang 7,309 kilometer.

“Kendalanya di lapangan saat pembangunan karena hujan, yang kalau turun bisa sampai 4-5 jam. Itu mengganggu. Selain itu juga pembebasan lahan juga. Tapi sudah bisa diatasi pembebasannya dengan UU Nomor 2 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum,” imbuh Angota Komisi D DPRD Jateng, Penny Dyah Perwitosari.

Namun, faktanya pembebasan lahan seksi III Bawen-Salatiga masih menyisakan sekitar 7,3 persen. Lahan tersebut terdiri dari lima persen tanah kas desa atau sebanyak 44 bidang di Kabupaten Semarang. Sementara sisanya, atau 2,3 persen adalah lahan milik warga.

Kendala yang dialami adalah masalah administrasi, seperti berkas kepemilikan lahan serta masih belum adanya kesepakatan harga antara pemilik lahan dan pemerintah.

sumber :

Rabu, 23 Maret 2016

Kejar Target Lebaran 2016, Pembangunan Tol Bawen-Salatiga Dikebut


Kompas.com/ Syahrul Munir
Salah satu underpass Tol Bawen-Salatiga 


TRIBUN-MEDAN.com, SALATIGA - Pembangunan jalan tol Semarang-Solo seksi III ruas Bawen- Salatiga terus dikebut dalam sisa waktu 156 hari sejak 17 Maret 2016.

Keterlambatan pembangunan jalan tol sepanjang 17,6 kilometer tersebut akibat permasalahan pembebasan lahan di beberapa titik.

Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jawa Tengah (TMJ) Arie Irianto mengatakan, pembebasan lahan seksi III Tol Bawen-Salatiga secara keseluruhan masih menyisakan sekitar 7,3 persen lahan yang belum dibebaskan.

Lahan itu itu terdiri dari 5 persen tanah kas desa atau sebanyak 44 bidang di Kabupaten Semarang. Adapun sisanya merupakan lahan warga.

"Tetapi informasi terkini, sudah ada solusi melalui pemberian kompensasi produksi lahan TKD atas persetujuan Bupati Semarang," kata Arie, Selasa (23/3/2016).

Belum semua lahan dibebaskan karena ada masalah administrasi, seperti berkas kepemilikan lahan serta. Ada pula yang belum mencapai kesepakatan harga antara pemilik lahan dan pemerintah.

Saat ini Badan Pertanahan Nasional (BPN) sebagai Panitia Pembebasan Tanah (P2T) dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) tengah mengupayakan untuk membebaskan seluruh lahan tersebut.

"Secara umum, saat ini kami masih menunggu sisa sekitar 7,3 persen. Termasuk pula penyelesaian persoalan di Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, yang masih terjadi kesalahan dalam berkomunikasi," kata Ari.

Melihat dari data di lapangan khususnya di paket 3.3D ruas Tol Sidorejo–Tengaran, kata Ari, merupakan paling kritis terkait lahan yang belum bebas.

Akibat kendala itu, terjadi keterlambatan dalam penyelesaian fisik hingga sekitar 20 persen. Itu berdasarkan asumsi jika lahan sudah dapat terbebaskan sebanyak 100 persen.

"Selain faktor lahan, faktor cuaca musim hujan seperti saat ini pun berpengaruh dalam pengerjaan fisik di ruas tol seksi III tersebut. Tetapi, kami akan berupaya ruas tersebut dapat digunakan di arus Lebaran 2016 ini," katanya. (*)

sumber :

Selasa, 22 Maret 2016

Kapolres Siap Usut Dugaan Penyimpangan Fasum Tol Semarang-Solo


Kapolres Semarang, AKBP Usman Latief. 
(Edy Susanto)
UNGARAN (KRjogja.com) - Kapolres Semarang, AKBP Usman Latief menegaskan siap mengusut dan menangkap pelaku penyimpangan uang pengganti fasilitas umum (fasum) dari proyek jalan Tol Semarang-Solo di Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang.

“Saya akan tangkap pelaku, apabila ada dugaan penyimpangan fasum di Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang,” tandas Kapolres dihadapan puluhan warga di aula Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Selasa (22/03/2016).

Kapolres juga meminta kepada warga untuk mendukung tak tidak menghalangi proyek jalan tol sebagai proyek nasional. “Kalau memang warga tidak puas silahkan menempuh jalur hukum melalui tuntutan secara perdata. Soal uang fasum yang telah diterima oleh desa menjadi urusan desa. Kalau ada penyimpangan saya berjanji akan menangkap pelakunya,” tukas kapolres.

Wakil Warga Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Suparno (59) pihaknya akan melakukan tuntutan perdata berkaitan dengan uang pengganti fasilitas umum yang dibiayai swadaya warga. “Pihak desa tidak terbuka dan tidak transparan. Kami mendukung proyek jalan tol, dan pathok yang kami pasang di tanah fasum sudah kami cabut sejak Jumat (18/3) lalu,” tandas Parno dihadapan kapolres.

Mediasi mengenai kelancaran proyek jalan tol Seksi III Bawen-Salatiga tahap ketiga yang melewati Desa Sukaharjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang sempat terganjal dan berhenti lantaran warga menuntut penggantian fasum.

sumber :

Jumat, 05 Februari 2016

Butuh Rp 38 Triliun untuk Pembebasan Lahan Jalan Tol

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah akan memprioritaskan anggaran pembebasan lahan jalan tol untuk ruas tol Trans-Jawa dan Trans-Sumatera. Hal itu dilakukan mengingat terbatasnya anggaran pemerintah untuk pembebasan lahan jalan tol. 
KOMPAS/NIKSON SINAGAPekerja sedang memadatkan 
tanah di proyek jalan tol Medan-Binjai di Kota Binjai, 
Sumatera Utara, Senin (4/1). Jalan tol sepanjang 16,8 kilometer
ini rencananya beroperasi tahun 2017.
Secara keseluruhan, setidaknya dibutuhkan dana sekitar Rp 38 triliun untuk pembebasan lahan berbagai proyek jalan tol di Indonesia. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Herry Trisaputra Zuna mengatakan, pemerintah akan memprioritaskan anggaran untuk ruas tol prioritas, seperti tol Trans-Jawa dan Tol Trans-Sumatera.

"Kami dikejar target operasi jalan tol, sementara kontraktor baru bisa bekerja kalau tanah sudah dibebaskan. Ada beberapa ruas tol yang proses pembebasannya sudah selesai, hanya tinggal menunggu uangnya saja," kata Herry di Jakarta, Jumat (5/2/2016).

Menurut Herry, pemerintah akan memprioritaskan anggaran pembebasan lahan tol untuk tol prioritas, seperti tol Trans-Jawa. Sebab, tol Trans-Jawa ditargetkan beroperasi tahun 2018. 
 


Untuk sisa lahan tol Trans-Jawa yang belum dibebaskan, diperlukan dana sekitar Rp 5,5 triliun. Prioritas berikutnya adalah tol di luar Jawa yang harga tanah relatif lebih murah dan dalam jangka panjang akan menimbulkan dampak ekonomi, seperti tol Trans-Sumatera.

Sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015-2019, kata Herry, pihaknya juga mesti memenuhi target penambahan jalan tol sepanjang 1.065 kilometer hingga akhir tahun 2019.

Menurut Herry, anggaran yang dialokasikan untuk pembebasan lahan di Kementerian PUPR sekitar Rp 1,4 triliun. Pihaknya juga akan menggunakan anggaran sisa lelang untuk pembebasan lahan. Dalam waktu dekat, anggaran pembebasan lahan juga akan diusulkan melalui mekanisme APBN Perubahan Tahun 2016.
 
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Proyek 
pembangunan jalan tol Semarang-Solo terus berlanjut, 
Selasa (5/1). Proyek infrastruktur tersebut merupakan 
bagian dari pembangunan jalan tol Trans-Jawa dari 
Provinsi Jawa Barat hingga Provinsi Jawa Timur.

Meski demikian, kata Herry, pihaknya tetap akan memperhatikan pembangunan jalan tol di Jabodetabek. Untuk pembebasan lahan tol di Jabodetabek, diperlukan dana setidaknya Rp 9 triliun. "Karena target kami menambah 1.065 kilometer hingga akhir 2019," kata Herry.

Sebelumnya, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, perbandingan harga tanah di Jabodetabek dengan luar Jawa sangat lebar. "Dengan uang yang sama, lahan yang didapatkan di luar Jawa bisa tiga kali lipat. Tanah di Jakarta memang mahal sekali," kata Basuki.

sumber :

Selasa, 08 September 2015

Pemenang Tender Tol Solo-Kertosono Ditetapkan, Nilai Kontrak Rp 8,97 Triliun

Percepatan Pembangunan Jalan Tol Ruas Solo-Ngawi dan 
Ngawi-Kertosono, di Ngawi, Jawa Timur, Kamis (30/4/2015).

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam rangka mendukung program percepatan pembangunan jalan tol di wilayah Jawa Tengah, PT Jasa Marga (Persero) Tbk membenamkan investasi sekitar Rp 15,18 triliun.

Dana sebesar itu, untuk membiayai pembangunan tol sepanjang 250 kilometer, yang terdiri dari Jalan Tol Semarang-Solo, Jalan Tol Solo-Ngawi dan Jalan Tol Ngawi-Kertosono.

Khusus Jalan Tol Solo-Ngawi dan Jalan Tol Ngawi-Kertosono dana yang dibenamkan senilai Rp 8,97 triliun untuk jalan sepanjang 177,12 kilometer. Tol ini ditargetkan beroperasi pada awal tahun 2018. 

Sekretaris Perusahaan PT Jasa Marga (Persero) Tbk., Mohammad Sofyan menjelaskan, investasi dilakukan Jasa Marga melalui anak perusahaan PT Solo Ngawi Jaya yang juga akan mengelola Jalan Tol Solo-Ngawi, dan PT Ngawi Kertosono Jaya yang akan mengoperasikan Jalan Tol Ngawi-Kertosono.

"Progres akuisisi lahan untuk Jalan Tol Solo-Ngawi saat ini sudah mencapai 92,26 persen dan 78,11 persen untuk Jalan Tol Ngawi-Kertosono," ungkap Sofyan kepada Kompas.com, Selasa (8/9/2015). 

Sementara konstruksi Jalan Tol Solo-Ngawi Seksi 1 Ruas Solo-Karanganyar sepanjang 20,9 kilometer dilakukan oleh Pemerintah dan Seksi 2 Ruas Karanganyar-Ngawi sepanjang 69 kilometer dilakukan oleh investor lainnya. Proses tender konstruksi Ruas Karanganyar-Ngawi dibagi menjadi 2 paket.

Kedua paket tersebut yakni, Paket 1 Ruas Karang Anyar-Kedung Harjo sepanjang 35 kilometer dengan nilai kontrak Rp 2,20 triliun dimenangkan oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Paket 2 Ruas Kedung Harjo-Ngawi sepanjang 34 kilometer dengan nilai kontrak Rp 1,81 triliun juga dimenangkan oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Konstruksi Jalan Tol Ngawi-Kertosono juga dibagi menjadi 2 seksi. Seksi 1 Ruas Ngawi-Saradan sepanjang 49 kilometer dilakukan oleh investor dan Seksi 2 Ruas Saradan-Kertosono sepanjang 37,5 kilometer dilakukan oleh Pemerintah. 

Proses tender konstruksi Ruas Ngawi-Saradan dibagi menjadi 3 paket, yaitu Paket 1 Ruas Ngawi-Magetan sepanjang 20 kilometer dengan nilai kontrak Rp 1,48 triliun dimenangkan oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Paket 2 Ruas Magetan-Madiun sepanjang 8,4 kilometer dengan nilai kontrak Rp 419,32 miliar dimenangkan oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Paket 3 Ruas Madiun-Saradan sepanjang 21 kilometer dengan nilai kontrak Rp 1,04 triliun dimenangkan oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

sumber :

Pembangunan Tol Trans Jawa Dikebut

Semarang - Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP memastikan pembangunan jalan tol trans Jawa yang melalui Jawa Tengah akan dikebut. Hal tersebut disampaikan saat Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PU PR), Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah, BPN Jawa Tengah, dan pemerintah daerah yang dilintasi jalan tol beraudiensi dengannya, Senin (7/9)

Untuk merealisasikan percepatan pembangunan tol, Ganjar meminta segera dibuatkan sistem pemantauan pembangunan jalan tol secara terpadu antarlembaga pemerintahan, seperti Kementerian PU PR, Dinas Bina Marga, BPN, dan juga pemerintah daerah yang dilalui jalan tol. Sistem itu akan memuat jadwal pembangunan dan permasalahan-permasalahannya yang dapat dipantau oleh gubernur dan Menteri PUPR.

"Harus segera membuat sistem. Leading sectornya Bina Marga. Minggu ini harus jadi," kata Ganjar di ruang kerja Kantor Gubernur.

Keberadaan sistem tersebut diharapkan bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang muncul dengan cepat karena ada koordinasi yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota. Dengan begitu, pembangunan jalan tol tidak lagi terhambat, terutama karena terkendala pembebasan lahan yang selalu muncul setiap kali pemerintah akan melaksanakan pembangunan.

"Segera bentuk jadwal. Jadwalnya nanti dapat dipantau langsung oleh gubernur dan menteri. Sehingga kalau ada permasalahan yang muncul bisa segera dikoordinasikan," ujarnya.

Ganjar manargetkan pembangunan jalan tol di Jawa Tengah dapat selesai seluruhnya pada 2018, dengan perincian Pemalang-Batang selesai 2015, Semarang-Batang di tahun 2016, dan Semarang-Solo ditargetkan pada tahun berikutnya.

Direktur Jalan Bebas Hambatan Kementerian PUPR Subagyo menyambut baik ide Ganjar. Menurutnya, pemerintah pusat selalu berusaha mengakselerasi pembangunan jalan tol namun seringkali terhambat pada persoalan pembebasan lahan. Dengan adanya sistem tersebut masalah pembebasan lahan akan cepat selesai karena langsung dapat dikoordinasikan dengan pemerintah provinsi dan daerah yang bersangkutan.

"Kami ingin mengakselerasi pembangunan jalan tol. Sehingga kami datang kesini memang untuk meminta bantuan provinsi dan kabupaten untuk mengakselerasi pembebasan lahan," katanya.

Bupati Pekalongan Amat Antono yang juga hadir dalan audiensi sepakat dengan gagasan Ganjar. Menurutnya, pembebasan lahan harus segera tuntas karena di Pekalongan ada sekitar 24 desa yang terkena proyek jalan dan semua warganya sudah setuju untuk menjual tanahnya.

"Di Pekalongan 24 desa sudah setuju tinggal dibayar. Kalau terus menunggu, masyarakat terkesan tersandera. Sebab itu, saya minta sebelun Desember harus bisa tuntas," tandasnya.

Sementara itu, Kabid Hak Rumah dan Pengadaan Tanah BPN Jawa Tengah Lukman Hakim melaporkan proses pengadaan lahan untuk jalan tol di Kabupaten Pemalang (ruas Pejagan-Pemalang) pematokan batas bidang tanah sudah selesai 100 persen dan masuk pada inventarisasi fisik, yakni pengukuran 1.523 bidang seluas 1.647.107 m2. Sementara untuk ruas Kendal-Semarang terkendala permasalahan yuridis dan pembebasan lahan yang peralihannya di bawah tangan.

"Di Kendal-Semarang ada permasalahan sedikit, permasalahan yuridis sama masyarakat peralihannya di bawah tangan. Jadi belum berani mengambil kebijakan dan keputusan," tuturnya.

Untuk Kota Salatiga hanya tinggal empat bidang yang belum dibebaskan. Rencananya BPN akan melakukan konsinyasi agar pembebasan lahan dapat dipercepat.

(Humas Jateng)

sumber :