javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Tampilkan postingan dengan label SOKER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOKER. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Februari 2017

TOL SOLO-KERTOSONO : Empat Bulan Mangkrak, Begini Kondisi Proyek Underpass Tol Soker


ilustrasi


"Tol Solo-Kertosono, proyek tol Soker sudah empat bulan mangkrak."

Solopos.com, BOYOLALI — Semak belukar tumbuh liar di sekeliling underpass tol Solo-Kertosono (Soker) di Desa Dohohudan, Ngemplak, Boyolali. Di bawahnya, air menggenang berwarna cokelat kemerah-merahan.

Bak kolam pemancingan tak terawat, ikan-ikan kecil dan kecebong berkejaran di permukaan kolam sedalam dua meteran itu. Para petani penjemur gabah berteduh di bawah seng di sekitar proyek.


“Sudah beberapa bulan ini proyek tak dilanjutkan. Enggak tahu kenapa. Eman-eman [sayang] sekali,” ujar salah satu dari petani tersebut, Santoso, saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (21/2/2017).

Sudah empat bulan ini, proyek underpass tol Soker mangkrak. Tak terlihat pekerja proyek di sana, pun alat-alat beratnya. Yang ada hanya rangkaian besi-besi ulir berkarat karena terpapar terik mentari dan hujan saban hari.


Sebagian besi itu sudah tertuang semen cor. Namun, sebagian besar rangka belum dituangi semen. “Saya dengar ditolak sekelompok warga. Tapi, persisnya juga enggak tahu,” lanjutnya.

Berdasarkan catatan Solopos.com, proyek itu terhenti sejak Rabu (19/10/2016) malam atau empat bulan lalu. Saat itu, pekerja proyek yang tengah mengecor rangkaian besi mendadak didatangi sekelompok warga. Mereka langsung meminta pekerja menghentikan aktivitas.

Mereka berdalih ukuran underpass tak sesuai rencana awal. Mereka menuding ada indikasi korupsi dalam proyek itu dan melaporkan pelaksana proyek ke polisi.

Tuduhan itu sempat terbantahkan setelah tim teknis dari Pemkab Boyolali menjelaskan tahapan teknis proyek. Namun, warga enggan menanggapi keterangan tim dari Pemkab dan tetap berniat membawa kasus itu ke meja hijau.

“Kami tak mau berdebat soal ini [tahapan teknis pelaksaan proyek]. Biarlah penyidik kepolisian yang mengusut,” ujar salah satu perwakilan warga saat beraudiensi dengan pejabat pembuat komitmen (PPK) tol Soker dan jajaran Muspika saat itu.

Sejak itulah, proyek terhenti. Pekerja proyek mengalihkan pekerjaan ke lokasi lain yang tak bermasalah. Proyek underpass itu akhirnya dibiarkan terbengkalai.

Menanggapi hal ini, Kapolsek Ngemplak, AKP Joko Widodo, menegaskan polisi akan mengawal proyek nasional itu sampai tuntas. Kepolisian tak segan menerjunkan petugas guna mengamankan proyek jika sudah ada perintah.

“Kami siap mengamankan proyek nasional tol Soker. Jika proyek sudah dilanjutkan, kami akan terjunkan aparat ke lokasi untuk pengamanan,” paparnya.

Meski demikian, Joko berharap masalah itu bisa diselesaikan secara mediasi. Harapannya, warga dan satker bisa menemukan jalan tengah. Namun, jika mediasi tak membuahkan hasil dan warga bersikeras menghalang-halangi proyek, polisi tak segan menindak sesuai hukum. “Jika ada indikasi perbuatan pidana, ya akan kami proses hukum,” tegasnya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Tol Soker, Bedru Cahyono, memastikan proyek akan dilanjutkan secepatnya. PPK ditenggat sebelum Lebaran, tol harus sudah jadi untuk jalur arus mudik dan arus balik Lebaran 2017.

“Secepatnya akan kami lanjutkan. Kami akan meminta back up polisi untuk mengamankan pelaksanaan proyek,” ujarnya.

sumber :

Selasa, 21 Februari 2017

Menteri PU Targetkan Tahun Depan Tol Soker Harus Beroperasi


Tol Solo-Kertosono saat dibuka pada Juli 2016 lalu. 
Foto : Maksum NF

SRAGEN – Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPera) menargetkan ruas tol Solo-Kertosono (Soker) harus bisa beroperasi mulai 2018 mendatang.

Sementara, untuk menghadapi arus mudik Lebaran ini, Tol Soker ditargetkan sudah bisa dibuka dari Kartasura sampai ke Ngawi.

Hal itu disampaikan Menteri PU Pera, Basuki Hadimuljono seusai meninjau progres pengerjaan Tol Soker dari arah Kartasura menuju Sragen, Senin (20/2/2017).

Ia mengatakan, sidak kemarin juga melibatkan tim Komisi V DPR RI yang bersama-sama melakukan tinjauan infrastruktur di wilayah Sragen.

“Tahun 2018, Tol Soker harus sudah beroperasi. Jangka pendeknya pada arus mudik nanti harus sudah bisa dipakai,” paparnya kepada wartawan.

Menurutnya dari hasil tinjauannya kemarin, progres pengerjaan tol Soker dari mulai Kartasura sampai Sragen, sudah on the track. Menurutnya pembebasan lahan sudah mencapai 92 persen dan progres pekerjaan sudah sekitar 50 persen.

Ia optimis jalan bebas hambatan itu bisa dibuka pada arus mudik Lebaran nanti. Bahkan, nantinya untuk arus mudik, jalur akan dibuka menyambung sampai ke Ngawi.

“Tapi mudik itu baru untuk fungsional, belum operasionalnya. Kalau operasionalnya nanti dibuka 2018. Semua jalur tol Trans Jawa tahun 2018 harus beroperasi. Termasuk Tol Semarang-Solo,” jelasnya.

Perihal adanya protes dan aspirasi warga di beberapa titik di Sragen yang menghendaki tambahan jalan tembus maupun perubahan akses penghubung di Tol, Basuki tidak menampik hal itu.

Menurutnya dari laporan pihak penanggung jawab proyek Tol Soker, beberapa permintaan sudah diakomodasi dan sebagian lain masih dalam proses kompromi untuk diselesaikan.

Sementara, Pimpinan Proyek (Pimpro) PT SNJ, Iwan Rosa mengatakan, sebagian besar permintaan warga terkait akses penghubung di Tol Soker, sudah dipenuhi beberapa waktu lalu.

Menurutnya hanya ada beberapa saja yang saat ini masih dalam pembahasan dan menunggu keputusan dari Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) pusat.

“Karena permintaan itu tambah terus. Tapi yang kemarin-kemarin sudah dipenuhi, hanya tinggal satu dua saja yang belum,” jelasnya.

sumber :

Jumat, 23 Desember 2016

Harga Belum Deal, Rumah Bertahan di Lahan Proyek Tol


Warga yang sudah menerima ganti rugi rela membongkar 
bangunan miliknya.Dan sejumlah rumah lainnya memilih 
bertahan.|Yulianto-lintassolo.com

BOYOLALI,Lintas Solo-Pembangunan jalan tol ruas Solo- Semarang seksi Salatiga- Boyolali yang melintasi area pemukiman terus berlanjut.

Pelaksanaan terus dikebut, diharapkan segera terhubung dengan Tol Solo- Mantingan di Desa Denggungan, Kecamatan Banyudono.

Akan tetapi, di Dukuh Bukuning, Desa Mudal, Kecamatan Boyolali Kota, sejumlah rumah terlihat masih berdiri diantara puing-puing bekas rumah yang dibongkar karena terkena proyek jalan tol.

Menurut warga setempat, rumah tersebut seharusnya juga ikut tergusur karena jalan tol akan melewati lahan di atasnya. Namun, karena belum ada kesepakatan harga, bangunan tersebut tak kunjung dibongkar.

Salah satunya milik Purwanti (37) yang belum menerima ganti rugi. Sehingga, dia masih bertahan di rumah yang juga milik orang tuanya. Dia berharap pemerintah memperhatikan masukan dari warga.

“Di Bukuning masih ada delapan warga yang belum sepakat dengan ganti rugi. Kami masih bertahan meskipun sudah mendapatkan surat pemberitahuan dari pemerintah desa,”katanya,saat ditemui lintassolo.com,Jumat(23/12/2016).

Dia dan tujuh warga lain meminta ganti rugi sama dengan ganti rugi terbesar yang diterima warga yaitu sebesar Rp 550.000/m2. Namun tim appraisal hanya menetapkan ganti rugi untuk dirinya sebesar Rp 480.000/m2.

Berkait konsinyasi yang kini dititipkan di PN Boyolali, dia mengakus sudah mendengarnya. Namun, ia dan warga lainnya menyatakan belum sepakat dengan ganti rugi masih berharap ada musyawarah.

Sementara, warga yang sudah menerima ganti rugi rela membongkar bangunan miliknya. Bagian bangunan yang masih bisa dimanfaatkan diambil seperti kayu, genteng dan bata merah.

“Ini saya mencari bata merah di bongkaran rumah milik paman saya,” ujar Sri Narjo (45) salah satu warga.

Dirinya juga mengaku telah menerima ganti rugi untuk pekarangan rumah miliknya seluas 156 m2. Total ganti rugi termasuk tanaman sebesar Rp 74 juta. Uang tersebut sebaian dia gunakan untuk membeli pekarangan dan sisanya ditabung.

Demikian pula Ifah, warga lainnya juga mengaku sudah mendapatkan ganti rugi untuk rumah dan pekarangan seluas 500 m2. Hanya saja, dia enggan mengungkapkan nilai ganti rugi yang diterima. Alasannya, yang mengurusi adalah kakaknya.

“Rumah pengganti baru digangun, nanti kalau sudah jadi kami segera pindah,”ujarnya.

Informasi di PN Boyolali menyebut telah menerima 48 perkara dari total 68 perkara konsinyasi pembebasan lahan proyek jalan tol Solo- Semarang. Tiga pemilik lahan menyatakan menerima konsinyasi dan 45 lainnya belum ada kejelasan.

Menurut Humas PN Boyolali, Agung Wicaksono dari 68 perkara yang masuk PN, 15 perkara telah dicabut sebelum disidangkan. Sedangkan lima perkara didelegasikan kepada PN Jakarta Selatan.|Yulianto

sumber :
lintassolo

Lahan Terdampak Tol Soker di Ngemplak Boyolali Dikuasai Tuan Tanah Jakarta

Konstruksi pembangunan tol Solo-Kertosono di daerah 
Ngemplak, Boyolali saat difoto dari udara, 
Rabu (24/4/2013). (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)

"Sebanyak 70 lahan terdampak proyek Tol Soker di Pandeyan, Ngemplak, Boyolali, sudah dikuasai para tuan tanah di Jakarta."

Solopos.com, BOYOLALI — Sedikitnya 70 bidang lahan yang terdampak Tol Solo-Kertosono (Soker) di wilayah Desa Pandeyan, Ngemplak, Boyolali, bukan lagi milik warga setempat. Tanah-tanah tersebut rupanya telah dikuasai orang berkantong tebal dari luar desa dan orang-orang Ibu Kota Jakarta.

Kondisi inilah yang menyulitkan pemerintah desa dalam berkoordinasi dengan mereka dalam proses pembebasan lahan tambahan Tol Soker. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Desa Pandeyan, Sukasno.

“Saat ini misalnya. Proyek pembebasan lahan tengah dimulai, namun pemiliknya rata-rata bukan warga setempat. Kami kesulitan memberitahu pemilik lahan yang terkena tol. Karena mereka ada yang di Jakarta, dan kota-kota lainnya,” ujar Sukasno saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Jumat (23/12/2016).

Sukasno menjelaskan tanah-tanah terdampak Tol Soker di Desa Pandeyan semuanya berupa hamparan sawah. Sawah-sawah tersebut tetap digarap setiap tahun oleh warga setempat dengan sistem sewa. “Dulunya tanah-tanah tersebut milik warga setempat. Namun karena impitan ekonomi, tanah-tanah sawah produktif itu dijual kepada para konglomerat [orang kaya]. Jadi, warga desa sekarang hanya penggarap sawah saja,” paparnya.


Kondisi tersebut kini mulai berdampak serius terhadap keberlangsungan dunia pertanian di Desa Pandeyan. Salah satunya adalah hilangnya rasa memiliki dan lunturnya semangat petani dalam merawat pertanian. Sebab, mereka merasa hanya sebagai penggarap sawah saja dan bukan lagi sebagai pemilik lahan.

“Terus terang, pertanian di Pandeyan susah maju. Kadang merawat irigasi saja susah karena mereka merasa hanya sebagai penggarap saja,” paparnya.

sumber :

TOL SOLO-KERTOSONO : Sebagian Warga Tolak Kelanjutan Proyek Meski Lahannya Tak Terdampak

jalan tol Solo-Sragen dari arah timur di kawasan Gondangrejo, Karanganyar

Tol Solo-Kertosono, kelanjutan tol Soker mendapat penolakan dari warga yang lahannya tak terdampak.

Solopos.com, BOYOLALI — Proses pembebasan tanah terdampak proyek di kawasan jalur tol Solo-Kertosono (Soker) wilayah Pandeyan, Ngemplak, Boyolali, tak menemui kendala berarti dari para pemilik lahan. Permasalahan justru datang dari warga yang tanahnya tak terdampak sama sekali.

Kepala Desa Pandeyan, Sukasno, mengatakan ada lebih dari 180 pemilik lahan yang terkena pembebasan proyek tol. Mereka menyatakan kesediaan melepas tanah mereka untuk proyek tol. Namun, warga yang tanahnya tak terkena proyek justru menolak kelanjutan proyek tol. 
“Alasannya, mereka juga warga yang ikut terdampak proyek tol. Mereka ini yang getol menolak kelanjutan proyek tol,” ujar Sukasno saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Kamis (22/12/2016).

Meski demikian, Sukasno memastikan jumlah warga yang menolak pembebasan lahan tambahan tol hanya beberapa orang. Dibandingkan warga yang menerima, kata dia, jumlah mereka sangat tak sebanding.

“Mereka yang menolak proyek tol itu mengotot minta overpass diganti underpass. Padahal, overpass sudah terlanjur dibangun dan hampir jadi,” paparnya.

Di Desa Pandeyan, kata Sukasno, jumlah overpass ada tiga unit dan underpass satu unit. Overpass dan underpass tersebut sebagian sudah hampir jadi. Sejumlah warga yang getol menolak overpass melayangkan surat gugatan kepada aparat penegak hukum dan menteri.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan Tol Soker, Bedru Cahyono, mengaku sudah mengetahui warga yang menolak pembangunan overpass telah melayangkan surat ke Menteri Perhubungan. Namun, dia sama sekali tak surut melanjutkan proyek tersebut.

Ia justru mengaku senang sebab kementerian bisa langsung datang ke lokasi dan menilai sendiri perkembangan proyek. “Kami pantang menyerah. Proyek tetap lanjut. Kalau Pak Menteri turun ke lokasi, kami malah senang agar tahu masalah yang sebenarnya,” paparnya.

Saat ini, Bedru memilih diam. Sikap diamnya itu semata-mata agar bisa fokus merampungkan proyek sesuai target. “Kami tak akan membuang energi terlalu banyak untuk mengurusi masalah itu [penolakan warga]. Nanti energi kami terbuang sia-sia. Lebih baik fokus merampungkan proyek,” paparnya.

sumber :

Sabtu, 17 Desember 2016

TOL SOLO-KERTOSONO : Tol Soker Batal Dioperasikan Saat Libur Natal dan Tahun Baru

ilustrasi : jembatan Ngemplak

Tol Solo-Kertosono batal beroperasi saat Natal dan Tahun Baru.

Solopos.com, BOYOLALI – Tol Solo-Kertosono (Soker) batal dioeprasikan pada Natal 2016 dan Tahun Baru 2017. Sebab, sejumlah ruas jalan tol Soker di wilayah Karanganyar dan Sragen masih terdapat penyempitan yang dinilai membahayakan pengguna jalan.

“Hasil rapat terakhir kami dengan pihak kepolisian memutuskan bahwa Tol Soker belum akan dioperasikan untuk Natal dan Tahun Baru 2017. Alasan utamanya, masih ada sejumlah underpass di Karanganyar dan Sragen yang menyempit,” ujar Kepala Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan Tol Soker, Bedru Cahyono, saat dihubungi, Sabtu (17/12/2016).

Bedru mengatakan ruas Tol Soker di Boyolali, khususnya yang masuk melalui pintu Klodran, Karanganyar sebenarnya sudah siap dioperasikan. Namun, jalur mulai Gondangrejo, Karanganyar dan Sragen, masih belum siap lantaran terdapat sejumlah penyempitan di ruas underpass.

“Kalau pintu tol Klodran dibuka, kendaraan memang bisa masuk tol. Namun, nanti kendaraan enggak bisa keluar,” paparnya.


Berbeda dengan perlakuan Lebaran 2016, jelasnya, Tol Soker saat itu dioperasikan secara darurat. Sejumlah ruas jalan yang sebenarnya belum siap, lanjutnya, terpaksa dikeraskan untuk sementara guna mengurai kemacetan saat arus mudik dan arus balik Lebaran.

“Nah Natal dan Tahun Baru kali ini, kami enggak melakukan hal itu lagi. Kami berpikir itu belum menjadi hajat mendesak Nasional. Pada sisi lain, lalu lintas kami nilai masih terkendali,” ujarnya.

Pejabat Humas Tol Soker, Very Budi Santoso, mengaku optimistis target penyelesaian Tol Soker kelar pada 2017.

“Kami kerja terstruktur. Selama lokasi tak bermasalah, kami siap selesaikan secepatnya. Selama ini yang bikin molor proyek kan masalah nonteknis, seperti pembebasan lahan,” ujarnya.

sumber :

Rabu, 14 September 2016

Warga di Boyolali Tuntut Kejelasan Sewa Lahan Poyek Tol


BENTANGKAN SPANDUK: Belasan warga Desa Sawahan, 
Kecamatan Ngempak, menggelar unjuk rasa 
di lahan proyek tol kemarin.
TRI WIDODO/RADAR BOYOLALI

BOYOLALI – Belasan warga Desa Sawahan, Kecamatan Ngemplak, menggelar aksi di proyek tol kemarin (13/9). Mereka menuntut kejelasan sewa-menyewa lahan oleh pelaksana proyek tol, seksi interchange (IC) Solo. Hal ini mengingat tanah warga yang diuruk sejak Agustus lalu hingga kini belum dibayar dan tak ada kejelasan.

Aksi yang dilakukan itu dengan memasang patok-patok dari bambu dan spanduk di sepanjang IC Solo di wilayah Desa Sawahan. Spanduk-spanduk kuning itu bertuliskan ”Tanah Ini Belum Dibayar”. ”Semua pekerjaan konstruksi mohon dihentikan sementara sampai pembayaran tanah selesai”.

Koordinator Aksi Anom Suratno mengatakan, sejak beberapa bulan lalu belum ada pembicaraan dari pelaksana proyek. Hal itu membikin warga resah jika tiba-tiba pelaksana proyek pergi begitu saja. ”Sampai hari ini (kemarin, Red) belum ada pembicaraan dengan kontraktor ihwal berapa harga tanah kami yang dipinjam untuk proyek jalan tol,” bebernya.

Pemilik lahan seluas 2.500 meter persegi ini menunjukkan surat dari pelaksana proyek jalan tol Soker Ruas Interchange Solo tertanggal 11 Agustus 2016. Surat itu berisikan permohonan peminjaman lahan untuk proses pekerjaan proyek tol. Di akhir paragraph, surat itu tertulis ”Tetapi saat ini lahan belum bebas, masih dalam proses di Pejabat Pembuat Komitmen (PPK Lahan)”.

”Istilah peminjaman lahan itu membingungkan kami. Meminjam itu ada batas waktu dan wujud lahannya masih utuh. Padahal sepekan setelah muncul surat itu, lahan kami langsung diuruk tanah setebal empat meter,” kata Anom.

Humas Pelaksana Proyek Tol Soker Seksi IC Solo Sali Setiawan mengapresiasi aksi belasan warga Desa Sawahan yang berlangsung tertib. ”Warga melakukan aksi ini agar pembebasan lahan mereka segera direspons pihak-pihak terkait,” terangnya.

Masih ada sekitar 30 lahan (hak sertifikat) di wilayah Desa Sawahan yang belum dibebaskan untuk pekerjaan seksi IC Solo. Luas lahan sekitar 10 ribu meter persegi. Pekerjaan sudah dilaksanakan karena keikhlasan warga yang meminjamkan lahan. ”Ini berkat niat baik warga. Mereka sudah paham kalau lahannya pasti bakal dibebaskan karena ini proyek nasional. Wajar kalau mereka meminta agar segera diselesaikan,” kata Sali.

Seperti diketahui, jalan tol soker ruas IC Solo-Pungkruk, Sragen akan dioperasikan mulai awal 2017. Pengoperasian jalan tol akan dilakukan PT Solo-Ngawi Jaya (SNJ). Untuk itu, pelaksana proyek tengah mengebut pembangunan jalan yang belum rampung, termasuk proyek tambahan. Seperti perbaikan saluran irigasi sawah dan akses jalan warga sekitar jalan tol. (wid/un)

sumber :

Selasa, 13 September 2016

Ganti Rugi Tanah Belum Dibayar, Warga Minta Proyek Tol Soker Dihentikan


Warga pasang spanduk protes peroyek Tol Soker
(dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Belasan warga Desa Sawahan, Ngemplak, Boyolali, menggelar aksi protes di pintu keluar masuk proyek jalan tol Soker (Solo-Kertosono). Mereka menuntut pelaksana proyek agar segera membayar tanah mereka yang sudah terlanjur diuruk sejak Agustus lalu.

“Sampai hari ini belum ada pembicaraan soal ganti rugi, berapa harga tanah kami yang dipinjam untuk proyek tol,” kata Anom Suratno, warga Desa Sawahan, Selasa (13/9).

Dalam aksinya tersebut, warga memasang patok-patok dari bambu dan spanduk di sepanjang interchange Solo di wilayah Desa Sawahan. Spanduk-spanduk kuning itu bertuliskan “Tanah Ini Belum Dibayar. Semua pekerjaan konstruksi mohon dihentikan sementara sampai pembayaran tanah selesai.

“Yang membingungkan itu dengan adanya istilah meminjam lahan. Harusnya ada batas waktu dan lahan utuh, tapi kini lahan kami diuruk tanah setebal empat meter,” tambahnya.

Anom juga menunjukkan surat dari pelaksana proyek Jalan Tol Soker Ruas InterchangeSolo yang bertanggal 11 Agustus 2016, berisikan permohonan peminjaman lahan untuk proses pekerjaan proyek Jalan Tol Soker. Di akhir paragraf surat itu tertulis “tetapi saat ini lahan belum bebas, masih dalam proses di Pejabat Pembuat Komitmen (PPK Lahan).”

“Kita menuntut pelaksana proyek segera membayar kompensasi sebelum jalan tol selesai dibangun dan diresmikan,” ujarnya.

Sementara itu, Humas Pelaksana Pembangunan Seksi Seksi Interchange Solo, Sali Setiawan, diakui hingga saat ini belum ada informasi resmi pembayaran uang ganti rugi lahan. Sejauh ini, masih ada 30 lahan milik warga Desa Sawahan yang belum dibebaskan. Pembangunan Interchange Solo dengan luas total sekitar 10.000 meter persegi. Yang dikerjakan panjangnya sekitar 2 – 3 kilometer dari pintu Interchange Solo sampai underpass Sawahan. Masih ada 800 meter yang belum dibebaskan.

“Target kita Desember Interchange selesai dibangun,” pungkasnya.

sumber :

Rabu, 29 Juni 2016

Tol Solo-Kertosono Dibuka Hari Ini


Tol Solo-Kertosono (Foto: Bramantyo)


SOLO - Meski baru 40 persen pengerjaannya, ruas jalan Tol Solo-Kertosono (Soker) sepanjang 25 kilometer mulai hari ini sudah bisa dilalui para pemudik.

Direktur Utama PT Solo Ngawi Jaya (SNJ), David Wijayatno mengatakan, rencananya ruas jalan tol tersebut akan dibuka bergiliran saat arus mudik dan arus balik.

"Rencananya, tol dibuka dari pintu masuk Klodran, sampai pintu keluar di Pungkruk, mulai besok, Rabu 29 Juni hingga Kamis 7 Juli. Selanjutnya, mulai Jumat 8 Juli sampai Kamis 14 Juli, jalan tersebut akan dioperasikan searah dari Sragen menuju Klodran, Karanganyar," ujar David, kepada wartawan Selasa 28 Juni 2016.

Menurut David, hanya kendaraan kecil saja yang diperbolehkan melintasi ruas jalan tol ini “Baru dua lajur yang bisa dilalui. Jadi nanti kita operasikan satu arah,” paparnya.

Ia menambahkan, khusus kendaraan umum dan angkutan barang belum diperbolehkan melintasi ruas jalan tol ini karena ada beberapa ruas jalan yang belum selesai sepenuhnya. Sehingga, terlalu berbahaya bila dilalui moda transportasi yang mengangkut beban berat, seperti truk.

"Tol ini hanya dioperasionalkan mulai pagi, sekira pukul 06.00 WIB hingga 17.00 WIB. Soalnya, belum ada lampu penerang di ruas jalan tol. Sehingga terlalu berbahaya bila dilalui kendaraan. Jadi begitu jam 18.00 WIB, ruas jalan tol ini sudah bersih dari kendaraan," ungkapnya.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Solo, Sri Baskoro mengatakan pengoperasionalan ruas jalan tol bisa mengurangi kepadatan arus kendaraan para pemudik. Terutama yang masuk ke dalam kota Solo hingga 20 persen atau setara 1.720.000 mobil.

"Tapi angka itu bisa tercapai bila ruas jalan tol ini dioperasionalkan secara optimal. Kalau belum, ya, paling tidak mengurangi kepadatan kendaraan yang masuk ke Kota Solo," terangnya.

Untuk membantu para pemudik ini bisa melalui ruas jalan tol Soker ini, pihaknya, ungkap Sri Baskoro, akan membantu dengan memasang rambu-rambu lalu-lintas.

"Dishubkominfo telah menyiapkan rambu-rambu penunjuk arah untuk pemudik. Pengguna kendaraan yang mau ke arah Timur akan kita arahkan lewat tol ini agar tidak masuk kota,” pungkasnya.(aky)

sumber :

Senin, 20 Juni 2016

LEBARAN 2016 Tol Soker 95% Siap Dilalui Pemudik



Suasana kawasan jalan tol Solo- Sragen di Ngemplak, 
Boyolali, Senin (20/6/2016). Berdasarkan kunjungan 
Sekda Pemprov Jateng dengan pengerjaan proyek yang 
sudah mencapai 95% pemerintah optimistis jalan tol 
Solo- Sragen dapat dioperasionalkan pada H-7 
Lebaran 2016. (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)


"Lebaran 2016, Tol Solo-Kertosono (Soker) sudah siap dilalui pemudik."

Solopos.com, SOLO–Sembilan hari jelang pembukaan jalan bebas hambatan yang direncanakan Rabu (29/6/2016), progres kesiapan jalan tol Solo-Kertosono ruas Solo-Sragen sepanjang 25 km sudah mencapai 95%.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sri Puryono, menyatakan tol Solo-Sragen yang nyaris semua jalannya telah dilaksanakan perkerasan sudah bisa dilalui pemudik dengan kendaraan kecil nonsepeda motor.

Pemudik Lebaran 2016 yang menggunakan kendaraan kecil seperti mobil jenis sedan, jeep, minibus, city car, dll. bisa melintasi tol Solo-Sragen mulai pukul 06.00 WIB-18.00 WIB. Pengoperasian masih bersifat terbatas satu arah dari Solo-Karanganyar-Sragen pada musim mudik H-7 sampai Lebaran. Sedangkan pada arus balik atau H+1 sampai H+7, tol dioperasikan dari arah sebaliknya.

Pintu gerbang masuk tol Solo-Sragen pada saat mudik melintasi kawasan Klodran, Colomadu, Karanganyar. Sedangkan pintu keluar tol, disiapkan dua alternatif yakni gerbang keluar di Kemiri, Kebakramat, Karanganyar atau Pungkruk, Sidoharjo, Sragen. Pada saat arus balik, berlaku sebaliknya.

“[Perkerasan jalan] satu lapis seperti ini sudah kuat digunakan kendaraan kecil. Memang belum semuanya. Bisa dikatakan ini sudah siap 95%. Masih ada 5% yang belum,” terang Sri saat ditemui wartawan di sela-sela peninjauan jalan tol Solo-Sragen di pintu masuk Klodran, Karanganyar, Senin (20/6/2016).

Sekda menjelaskan pekerjaan rumah sebanyak 5% dalam persiapan bagian jalur tol trans Jawa itu disebabkan belum tuntasnya pembebasan lahan. “Kendala itu masih ada. Duit sebenarnya sudah ada. Alat juga sudah ada. Tenaga sudah ada. Tapi kalau lahan belum dibebaskan, [tetap digunakan] nanti melanggar aturan,” jelasnya.

Disinggung soal usulan Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Solo, Yosca Herman Soedrajat, yang meminta operasional tol Solo-Sragen dimajukan pada H-10 Lebaran atau Senin (27/6/2016) mendatang, Sri menyatakan tidak bisa memaksakan.

“Memang harapannya H-10 sudah dibuka. Asalkan tidak hujan, saya kira bisa. Tapi teman-teman di sini siap H-7,” ujarnya.

Selain tol Solo-Sragen, Sri menyebutkan jalan tol Solo-Semarang ruas Bawen-Salatiga juga belum bisa dipaksakan beroperasi sepenuhnya. Sebagian ruas jalan tersebut nantinya dimanfaatkan untuk pemudik dari arah barat yang akan menuju Jawa Timur.

“Saya sudah mengecek persiapan tol Bawen-Salatiga. Tidak bisa dipaksakan. Nantinya kendaraan keluar dari Bawen bisa masuk ke Tuntang dengan belok kiri ke Delik dan masuk tol Salatiga sejauh 15 km. Kendaraan jurusan Ngawi, Sragen, dll. bisa lewat situ. Yang ke arah Solo pakai jalur reguler,” katanya.

Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Pembanganan Jalan Bebas Hambatan Solo-Kertosono (Soker) Aidil Fiqri, menyatakan pihaknya terus mengebut pembebasan lahan untuk mendukung operasional jalan tol Solo-Sragen.

“Ada lahan yang baru sepekan bebas seperti di Karangturi dan Jeruksawit [Gondangrejo, Karanganyar]. Ada juga warga yang baru sepakat melepas tanahnya di Dibal [Ngemplak, Boyolali] Sabtu [(19/6/2016)]. Itu pun dibayar baru Selasa [(21/6/2016)],” bebernya.

Menurut Aidil, pembebasan lahan awalnya menjadi kendala pembangunan tol tersebut. Namun pemberlakuan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN No. 6 /2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 5/2012 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Tanah yang memungkinkan pengusaha swasta ikut menalangi dana pembebasan lahan proyek infrastruktur dan kemudian diganti dana APBN, pembebasan lahan tidak lagi menjadi persoalan.

“Sekarang ini sudah ada peraturan baru. Sudah ada yang menalangi pembebasan lahan, tapi tetap dengan prosedur yang ada. Sebelumnya kami kesulitan,” kata dia.

sumber :

Awal Pekan Depan Pemberlakuan Tol Diputuskan


CEK TERMINAL: Sekda Pemprov Jateng Sri Puryono mendatangi 
Terminal Tirtonadi Solo untuk mengetahui dari dekat keseiapan terminal 
menyambut Arus Mudik Balik Lebaran 2016. 
(suaramerdeka.com/Budi Sarmun S)

SOLO, suaramerdeka.com - Kepastian jalan tol Solo-Kertosono (Soker) dioperasionalkan untuk mendukung pelaksanaan Arus Mudik Balik Lebaran 2016 akan diputuskan pada pekan depan. Saat ini pengecekan akhir kondisi tol sedang dilakukan berbagai pihak termasuk rombongan pejabat dari Pemprov Jateng yang mendatangi lokasi tol yang masuk wilayah Boyolali-Solo dan Karanganyar tersebut, Senin (20/6).

Sekda Jateng, Sri Puryono ditemui wartawan saat melakukan kunjungan kesiapan Arus Mudik Balik 2016 di Terminal Tirtonadi Solo, menuturkan pembukaan jalan tol soker untuk mendukung arus mudik adalah upaya pemerintah memberikan kemudahan dan fasilitas kepada rakyat saat kembali ke kampung halaman. Namun demikian, guna memastikan bahwa tol itu aman bagi keselamatan dan keamanan pengguna jalan maka perlu dicek secara cermat.

“Keputusan final nanti pada 27 (27 Juni). Nanti saya langsung cek ke tol soker,” kata Sekda Sri Puryono.

Sekda mengimbau kepada pemudik yang melintasi Jateng melalui pantura Semarang-Salatiga-Boyolali-Solo Madiun memperhatian proyek pembangunan jembatan Tuntang yang belum jadi. Dia mengharapkan pemudik usai melintasi tol Bawen melalui jalur Tlogo, Tuntang belok kiri-Ndelik terus masuk tol dan menuju Salatiga. “Pemudik agar melewati Salatiga sisi selatan hingga menuju Tingkir,” tandasnya. (Budi Sarmun S/CN38/SM Network)

sumber :

TOL SOLO-KERTOSONO : Kemenhub Bakal Uji Kelayakan Tol Solo-Sragen Pekan Depan


Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) 
Sri Puryono (bertopi sebelah kanan) meninjau exit tol di 
kawasan Pungkruk, Sidoharjo, Sragen, Senin (20/6/2016). 
Sementara itu, sejumlah pekerja dikerahkan untuk membangun 
lapisan beton di permukaan jalan tol di kawasan Masaran. 
(Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos)

"Jalan Tol Soker akan diuji coba pada pekan depan."

Solopos.com, SRAGEN—Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bakal menguji kelayakan jalan tol Solo-Sragen pada Senin (27/6/2016) mendatang. Jalan tol Solo-Sragen bakal dibuka pada H-7 Lebaran.

Hal itu dikemukakan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Sri Puryono ketika ditemui wartawan saat meninjau pintu exit tol Pungkruk, Senin (20/6). Pada kesempatan itu, Sekda didampingi PT Solo Ngawi Jaya (SNJ) dan PT Waskita Karya menyisir jalan tol dari pintu masuk di kawasan Klodran, Karanganyar hingga pintu keluar jalan tol di kawasan Pungkruk, Sragen.

”Dari pemerintah pusat dan provinsi sebetulnya berharap pada H-10 jalan tol sudah bisa dilewati. Tapi, nanti jalan tol perlu diuji kelayakannya dulu pada 27 Juni. Baru pada H-7 sekitar 28 atau 29 Juni jalan tol sudah dibuka untuk pemudik,” kata Sri Puryono.

Hasil inspeksi di lapangan, Sekda menjelaskan masih ada beberapa ruas jalan yang belum dibeton. Meski begitu, dia optimistis seluruh permukaan jalan akan selesai dibeton dalam beberapa hari ke depan. Dia meminta pelaksana proyek mengebut pembangunan lapisan beton itu dari siang hingga malam.

”Kita sudah janji sama rakyat kalau jalan tol akan dibuka pada H-7 Lebaran. Kendala yang terjadi selama ini ya proses pembebasan lahan. Kalau uang, sudah ada. Bahkan, hari ini masih ada pembayaran uang pengganti [atas pembebasan tanah],” terang Sekda.

Direktur Utama (Dirut) PT SNJ David Wijayatno menjelaskan masih ada sekitar 2 km permukaan jalan yang belum dibeton. Jalan itu membentang dari Purwosuman hingga Duyungan. Dia optimistis pembangunan lapisan beton itu akan selesai pada Rabu (22/6/2016) besok.

Diperlukan waktu selama sekitar sepekan untuk mengeraskan beton sebelum dilintasi pemudik. ”Perlu diketahui, beton ini dibangun untuk sementara. Tebalnya hanya sekitar 6 cm [tanpa tulang]. Beton ini dibangun untuk kepentingan darurat. Jadi, kecepatan kendaraan yang melintasi jalan tol ini dibatasi 40 km/jam, bukan untuk ngebut,” jelas David.

Selesai digunakan pemudik, pelaksana proyek akan membongkar beton darurat itu. Sebagai ganti, pelaksana proyek akan membangun beton rigid atau bertulang dengan ketebalan 29 cm. Saat ini pembangunan beton rigid baru sepanjang 4 km dari km 22 hingga km 26, tepatnya di kawasan Kebakkramat hingga Masaran. Lantaran belum dilengkapi penerangan jalan, pintu masuk tol nantinya akan ditutup pada pukul 17.00 WIB.

”Sudah ada kesepakatan antara Dishubkominfo dan Satlantas di tiga Polres yakni Boyolali, Karanganyar dan Sragen, pintu masuk tol di Klodran ditutup pukul 17.00 WIB dengan harapan pemudik bisa sampai Sragen tidak terlalu malam,” terang David.

sumber :

JALAN TOL SOKER : Pembebasan Lahan Alot, Satker Gandeng TNI


Overpass tol Solo-Kertosono di Ngemplak Boyolali. 
(Burhan Aris Nugraha/JIBI/Solopos/dok)

"Jalan Tol Soker di wilayah Boyolali melibatkan TNI."

Solopos.com, BOYOLALI – Satuan kerja (Satker) proyek tol Solo-Kertosono (Soker) mengaku tengah menjalin komunikasi intens dengan panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) terkait percepatan proyek tol Soker. Pasalnya, percepatan proyek tol di wilayah Ngesrep, Ngemplak, Boyolali, saat ini masih terkendala alotnya pembebasan lahan.

Kepala Satker proyek tol Soker, Aidul Fiqri, mengaku terus menjalin komunikasi secara intens dengan TNI. Upaya tersebut dilakukan mengingat percepatan pembangunan tol Soker terganjal pembebasan lahan di wilayah Ngesrep, Ngemplak.

“Sebenarnya Lebaran tahun ini tol di wilayah Ngemplak sudah bisa digunakan, namun karena ada tanah yang belum bebas, jadi ya tertunda,” ujarnya kepada Solopos.com, Minggu (19/6/2016).

Aidul menjelaskan, pembebasan lahan tol di wilayah Ngesrep, Ngemplak, selama ini cukup menguras waktu, tenaga, dan pikiran. Bahkan, tegasnya, sedikitnya sepuluh alat berat para pekerja sempat ditahan warga yang menolak kompensasi yang diberikan tim appraisal. “Warga ini menolak uang kompensasi yang ditawarkan tim appraisal. Mereka juga menghalangi pekerja mengerjakan proyek. Bahkan alat-alat berat pekerja juga ditahan. Kuncinya diambil,” ujarnya.

Akibat tindakan warga itu, pelaksanaan proyek tak bisa dilanjutkan. Bahkan, di sejumlah lahan yang sudah bebas pun tetap tak bisa dikerjakan karena pekerja dihalang-halangi warga.

“Kami sudah menghadap menteri [Perhubungan] dan panglima TNI terkait masalah ini. Harapan saya, pembebasan lahan bisa dilakukan secepatnya dan proyek dilanjutkan,” tuturnya.

Langkah Satker meminta bantuan ke panglima TNI, lanjutnya, harus dilakukan agar target pengoperasian proyek 2017 bisa terlaksana. Ia mengaku belum akan menyelesaikan masalah itu dengan sistem konsinyasi atau menitipkan uang kompensasi ke Pengadilan Negeri (PN) Boyolali. Jika warga menempuh jalur hukum lagi, proses pembangunan akan berjalan kian lama lagi karena harus menunggu putusan PN.

“Kalau lewat hukum, malah bisa lebih lama lagi waktunya,” terangnya.

Seorang tenaga keamanan tol Soker yang ditemui solopos.com di lokasi proyek, membenarkan adanya penahanan sepuluh alat berat oleh warga karena bersikeras menolak kompensasi. Namun, lanjut dia, masalah tersebut sudah mulai menemui titik terang. “Benar. ada penahanan alat berat. Tapi, kayaknya sudah mulai ada titik terang,” ujarnya tanpa mau disebutkan namanya.

Sementara itu, Danlanud Adisoemarmo Solo, Kolonel (Nav.) Agus Priyanto, ketika dimintai tanggapannya terkait hal itu mengaku belum mengetahui hal itu. Saat ditanya ihwal alotnya pembebasan lahan di Ngesrep, Ngemplak, Agus juga mengaku belum mendengarnya. “Saya belum mendengar kabar itu. Nanti saja ya,” ujarnya singkat.

sumber :

Minggu, 19 Juni 2016

JALUR MUDIK LEBARAN : Pembangunan Tol Soker Dikebut


Jalan Tol Solo-Kertoso (Soker) ini bakal difungsikan untuk arus mudik 
lebaran tahun ini. | Yulianto | lintassolo.com


BOYOLALI, Lintas Solo-Pembangunan jalan Underpass Sawahan, Kecamatan Ngemplak yang bakal digunakan untuk jalur mudik 2016 terus dikebut.

Humas Kerjasama Operasional (KSO) pelaksana pembangunan jalan Tol, Veri Budi Santoso mengatakan, underpass jalan sebagai jalur alternative ke Solo ini saat ini sudah mencapai hampir 75 persen lebih. Pihaknya optimis H-7 lebaran nanti jalan Tol yang berada diatasnya sudah dapat di lalui kendaraan.

“Sebagian jalan Tol Solo-Kertoso (Soker) ini bakal difungsikan untuk arus mudik lebaran tahun ini, dan hal itu sesuai instruksi dari Kementerian PU, bahwa arus mudik bakal dilewatkan sini (Interchage Solo,red),” paparnya kepada lintassolo.com, Sabtu(18/6/2016).

Diakui Veri, pembangunan jalan underpass dan pemadatan sebagian jalan tol untuk mudik lebaran belum bisa 100 persen. Karena memang butuh waktu yang lama untuk proses pemadatan dan perangkaian besi cor rigid tersebut.

Kendati demikian, dia memastikan pemudik tak akan terganggu dengan debu jalan tol yang belum rampung ini. Sebab pelaksana tol bakal melakukan Land Clening (Lc) atau gecor tipis jalan setebal 10 sentimeter. Hal itu juga untuk menjaga kualitas timbunan tanah adesit agar tak rusak saat dilalui nanti.

“Kalau tidak di cor, takutnya tanah timbunannya malah rusak dan harus melupasnya kembali nanti,” katanya.

Seperti diketahui, untuk arus mudik lebaran tahun ini, Pemerintah bakal memfungsikan sebagian jalan Tol Soker untuk mengurai kemacetan arus dalam kota. Jalan Tol Soker yang difungsikan untuk arus mudik lebaran ini mulai beroperasi dari H-7 hingga H+7 lebaran, mulai pukul 06.00 hingga pukul 17.00 WIB.

Sementara itu di lokasi proyek jalan underpass sawahan, puluhan pekerja tengah sibuk melepas tiang penyangga beton yang digunakan saat pengecoran rigid beton Underpass. Kemudian beberapa pekerja juga tengah mulai merapikan badan jalan yang berada di bawah jalan Tol.

Disisi lain, puluhan truk berlalu lalang mengangkut tanah urug untuk jalan Tol yang berada di sebelah selatan. Jalan tersebut merupakan akses pintu masuk tol saat mudik lebaran nanti.

Namun demikian jika underpass sawahan belum bisa di fungsikan saat jelang lebaran nanti, jajaran kepolisian bakal menerapkan system buka tutup. Langkah tersebut juga untuk mengantisipasi keamanan serta mencegah terjadinya kecelakaan.

“Nanti akan kita terapkan sistem buka tutup jika memang underpass Sawahan belum bisa difungsikan,” kata Kapolsek Ngemplak, AKP Ahmad Nadiri. |Yulianto

sumber :

Sabtu, 18 Juni 2016

Antisipasi Kemacetan di Solo, Ruas Tol Soker Dibuka sebagai Jalur Alternatif


Perbaikan pintu masuk tol Soker ruas Solo-Sragen, MTVN - Pythag

Metrotvnews.com, Solo: Pemerintah Kota Solo, Jawa Tengah, akan membuka ruas tol Solo-Kertosono (Soker) sebagai jalur alternatif kendaraan mudik. Jalan tol sepanjang 25 Km yang membentang dari Solo ke Sragen itu dibuka mulai H-7 hingga H+7 Lebaran 2016.

Kepala Dinas Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Solo, Yosca Herman Soedrajad, mengatakan jalur tol itu akan mengakomodasi kendaraan masuk dari Yogyakarta dan Semarang menuju Karanganyer serta Sragen. Sehingga beban kendaraan yang melintasi tengah Kota Solo pun berkurang 20 persen.

Yosca mengusulkan jalur tol Soker dibuka pada 12 hari jelang Lebaran (H-12). Sehingga, penggunaan jalur tol tersebut dapat disosialisasikan.

"Jika tidak ada sosialisasi ke pengguna jalan sejak awal dikhawatirkan adanya penumpukan di akses masuk," terang Yosca, Sabtu (18/6/2016).

Menurut Yosca, pemudik bukan hanya dari wilayah Jawa Tengah. Pemudik juga berdatangan dari Jawa Barat bahkan luar Pulau Jawa. 

Direktur Utama (Dirut) PT Solo Ngawi Jawa (SNJ), David Wijayanto, mengatakan tak memungkinkan untuk membuka ruas tol itu pada H-12. Sebab pekerja masih mengecor infrastruktur tersebut.

"Pengecoran membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu. Setelah itu, pengecekan, baru bisa digunakan," kata David.

David mengatakan jalur alternatif itu dibuka pada H-7 hingga H+7 mulai pukul 06.00 WIB. Pembukaan dibatasi hingga pukul 18.00 WIB sebab jalur tersebut belum dilengkapi penerangan. Sementara itu, hanya kendaraan roda empat berukuran kecil yang bisa melintas.

“Kendaraan yang melaju nantinya akan kita arahkan masuk dari Klodran Solo, selanjutnya mereka melewati tol dan dapat keluar di Kemiri, Karanganyar maupun keluar di Pungkruk, Sragen,” tutup David.

sumber :

TOL SOLO-KERTOSONO : Unaderpass Sawahan Belum Jadi, Lalin Diberlakukan Buka Tutup


Sejumlah pengguna jalan di kawasan underpass Sawahan, 
Ngemplak, melintasi jalan tersebut dengan cara 
mengitari underpass yang belum jadi, Jumat (17/6/2016). 
(Aries Susanto/JIBI/Solopos).

"Tol Solo Kertosono, pelaksana proyek tol Soker memberlakukan sistem buka tutup di sekitar underpass Sawahan."

Solopos.com, BOYOLALI–Rencana pengoperasian jalan tol Solo-Kertosono (Soker) pada Lebaran 2016 melalui pintu masuk Klodran, Karanganyar, diprediksi berimbas pada kepadatan jalan raya di bawah proyek underpass Sawahan, Ngemplak, Boyolali. Pasalnya, kendaraan dari tol akan turun dan memotong jalan penghubung Sawahan-Kadipiro itu menyusul belum selesainya pembangunan underpass Sawahan.

Berdasarkan pantauan Solopos.com di lokasi, Jumat (17/6/2016), underpass yang berada di Dukuh Menggungan, Sawahan, itu masih berpagar seng dan disangga besi-besi. Lalu lintas kendaraan dialihkan di sebidang jalan bercor beton yang mengelilingi underpass. Menurut petugas proyek di lapangan, jalan itulah yang nantinya akan dilintasi kendaraan pribadi dari arah pintu masuk tol Klodran atau tol dari arah sebaliknya saat arus balik. Hal itu dilakukan untuk mengantispasi belum kelarnya pembangunan underpass hingga arus mudik Lebaran 2016 nanti.

Pantauan Espos, di pintu masuk tol Klodran, proyek difokuskan pada betonisasi jalan sepanjang hampir 300 meter. Di sisi utara jembatan, proyek betonisasi juga dikebut. Selain itu, pekerja juga terlihat menguruk dan meratakan tanah di jalan tol menuju interchange.

Kepala satuan kerja (Satker) Tol Soker, Aidul Fiqri, membenarkan adanya rencana pemakaian jalan penghubung Sawahan-Kadipiro tersebut. Namun, kata dia, jika underpass Sawahan bisa rampung sebelum arus mudik, maka tak akan memotong jalan penghubung Sawahan-Kadipiro. “Ini proyek terus dikebut agar arus mudik nanti bisa dipakai. Tapi kalau underpass belum jadi, ya terpaksa memotong jalan raya [penghubung Sawahan-Kadipiro],” ujarnya.

Kapolsek Ngemplak, AKP Ahmad Nadiri, menjelaskan petugas akan memberlakukan sistem buka tutup di kawasan underpass Sawahan. Kendaraan dari arah pintu tol Klodran yang akan menuju interchange Solo harus menuruni jalan dan memotong jalan Sawahan-Kadipiro. Sistem buka tutup itu juga untuk mengantisipasi keamanan serta mencegah terjadinya kecelakaan.

“Kalau ditutup juga bikin kemacetan. Makanya, nanti akan kita bikin sistem buka tutup jika memang underpass Sawahan belum bisa difungsikan,” paparnya.

Menurutnya, pengoperasian tol Klodran-Ngawi akan berguna sekali untuk mengurai kemacetan yang terjadi di Jl. Adisoemarmo hingga Ngemplak. Sehingga, pihaknya akan siap mengerahkan petugas untuk berjaga dan mengatur lalu lintas di kawasan underpass Sawahan.

sumber : 

Kamis, 16 Juni 2016

LEBARAN 2016 : Waskita Karya Kebut Betonisasi Jalan Tol Soker


Konstruksi pembangunan tol Solo-Kertosono di daerah 
Ngemplak, Boyolali saat difoto dari udara, 
Rabu (24/4/2013). (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)


"Lebaran 2016, kontraktor jalan tol mengebut betonisasi jalan tol Soker yang akan digunakan untuk mudik."

Solopos.com, SRAGEN–PT Waskita Karya mengebut pengecoran jalan tol agar bisa dibuka untuk jalur mudik menjelang Lebaran 2016. PT Waskita Karya mempekerjakan alat berat dan teknisi selama 24 jam untuk mengejar target. Betonisasi jalan tol untuk jalur mudik ditargetkan selesai pada Sabtu (18/6/2016) besok.

Target tersebut disampaikan Pejabat Humas PT Waskita Karya, Sarjani, dalam rapat koordinasi di ruang kerja Kapolres Sragen, Kamis (16/6/2016). Rapat terbatas itu dipimpin Kapolres AKBP Cahyo Widiarso didampingi Wakapolres Sragen Kompol Danu Pamungkas Totok dan Kasatlantas AKP Dwi Erna Rustanti.

“Kami bekerja siang malam untuk merampungkan betonisasi jalan tol agar bisa digunakan untuk pemudik menjelang Lebaran nanti. Habis sahur itu silakan lihat pasti masih ada tenaga yang bekerja di jalan tol. Jalur tol yang belum dibetonisasi masih sepanjang 2,5 km. Progres sampai hari ini, tinggal 1,5 km yang belum dibeton. Kami menargetkan Sabtu besok sudah rampung,” ujar Sarjani.

Dia menyampaikan jumlah pekerja cukup banyak dan dikonsentrasikan ke persiapan jalur mudik. Dia mengatakan mereka bekerja dengan dua sif, yakni siang dan malam. Mulai Rabu (22/6/2016) hingga Rabu (29/6/2016) mendatang, Sarjani menyatakan PT Waskita Karya masih berkosentrasi pada jalur fungsional. Mulai H-5 hingga H+5 Lebaran, kata dia, semua aktivitas pekerjaan jalan tol berhenti. Sarjani mengatakan ada tugas piket Lebaran untuk membantu pengaturan jalur mudik.

“Kami sudah menyosialisasikan jalur mudik lewat jalan tol kepada lingkungan warga di sekitar tol. Kami juga menggandeng karang taruna untuk membantu pengaturan di setiap persimpangan jalan tol menuju jalan kampung. Rambu-rambu sudah disiapkan dan tempatnya juga sudah disurvei oleh tim,” ujar dia.

Sarjani menginformasikan rencana kunjungan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ke jalur mudik di lintasan jalan tol pada Jumat (17/6/2016). Namun kepastian waktunya, kata dia, masih menyusul. Sarjani juga menyinggung rencana rapat dengan PT Solo Ngawi Jaya (SNJ) pada Kamis siang untuk membahasa persiapan jalur mudik Lebaran.

Kapolres Sragen AKBP Cahyo Widiarso langsung memerintahkan Kasatlantas untuk memantau setiap progres jalur mudik yang lewat jalan tol maupun jalan kabupaten, jalan provinsi, dan jalan nasional. Dia mengatakan dari pihak PT Waskita Karya berani membuka jalan tol untuk jalur mudik Lebaran pada H-8.

“Jadi tolong Bu Kasatlantas supaya bisa memonitor progres jalur mudik ini. Kalau perlu segera survei ke lokasi. Saya bersama pimpinan daerah lainnya juga akan survei ke lokasi jalur mudik itu,” kata dia.

Sementara, Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Sragen, Heru Martono, memprediksi ada dua lokasi yang diwaspadai terjadi penumpukan lalu lintas, yakni di pintu keluar tol Pungkruk, Sidoharjo, dan simpang empat Pilangsari, Ngrampal yang menjadi pintu keluar arus mudik dari jalan tol. Heru menyiapkan sejumlah rekayasa lalu lintas untuk mengurai potensi kemacetan lalu lintas itu.

“Jalan simpang tiga Pungkruk hingga pintu keluar jalan tol bisa jadi potensi kemacetan. Lokasi itu menjadi pertemuan arus lalu lintas dari Gemolong, Salatiga, Purwodadi dari arah barat, arus kendaraan berat dari arah Solo yang melewati jalur ring road utara. Semua nanti akan masuk ke ring road utara itu dan tembusnya ke simpang empat Pilangsari. Kami sudah menyiapkan solusi-solusi strategis untuk mengatasi masalah itu,” ujar dia.

sumber :

Selasa, 14 Juni 2016

TOL SOLO-KERTOSONO : Pembayaran Ganti Rugi 14 Warga di Boyolali Bakal Dikonsinyasi


Seorang pelajar melintasi Jalan Tol Solo-Kertosono (Soker) 
di Wonorejo, Gondangrejo, Karanganyar, Senin (6/5/2013). 
Sebagian warga di wilayah itu mengaku belum menerima 
sertifikat tanah yang baru setelah proses pembebasan 
lahan berlangsung. (JIBI/SOLOPOS/Tri Indriawati)

"Tol Solo-Kertosono, ganti rugi lahan milik 14 warga akan dikonsinyasi di pengadilan."

Solopos.com, BOYOLALI–Pembayaran uang ganti rugi pembebasan jalan tol Solo-Mantingan bakal melalui proses pengadilan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Lahan Tol Semarang-Solo, Waligi, menyampaikan sudah ada 14 warga di Kecamatan Ngemplak yang proses pembayaran ganti rugi pembebasan jalan tol akan melalui proses konsinyasi di pengadilan.

“Warga sudah tidak bisa diajak berembug. Kami minta mengurus surat keberatan kepada pengadilan malah tidak mau. Untuk percepatan proyek tol Solo-Mantingan, kami akan menempuh jalur pengadilan. Ya, proses konsinyasi,” kata Waligi, saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (14/6/2016).

Dari data yang diterima Solopos.com, 14 warga itu berasal dari Desa Pendeyan dua pemilik lahan total seluas 747 meter persegi, Desa Dibal sebanyak lima pemilik lahan dengan total lahan seluas 3.580 meter persegi, Desa Sobokerto sebanyak tiga pemilik lahan total seluas 2.000 meter persegi, dan Desa Ngargorejo sebanyak empat pemilik lahan dengan total luas lahan 2.624 meter persegi.

“Total nilai ganti rugi yang akan kami titipkan di pengadilan adalah Rp6,608 miliar,” imbuh Waligi.

PPK telah membuat berita acara terkait proses konsinyasi terhadap 14 warga itu yang ditandatangani Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah, Wartomo, yang juga Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Boyolali. Dalam berita acara tersebut tertulis bahwa panitia telah melaksanakan musyawarah bentuk ganti kerugian antara pihak yang berhak (pemilik tanah) dengan pelaksana pembebasan tanah dengan mengikutsertakan instansi yang memerlukan tanah.

“Namun warga tetap menolak bentuk atau nilai ganti kerugian dan tidak mengajukan keberatan kepada pengadilan,” tutur Waligi.

Berdasarkan penolakan warga itu, instansi yang memerlukan tanah dalam hal ini pemerintah perlu menitipkan ganti kerugian kepada ketua pengadilan di wilayah lokasi pembangunan jalan tol.

“Ini sudah kami komunikasikan dengan Pengadilan Negeri (PN) Boyolali,” kata Waligi.

Menurut Waligi, selain Ngemplak, masih ada beberapa lahan untuk proyek tol yang hingga saat ini belum bebas. Salah satunya di wilayah Kecamatan Boyolali Kota yang meliputi Desa Mudal, Karanggeneng, dan Kiringan. Di Boyolali Kota, jika memang tidak ada titik temu, PPK juga akan menempuh langkah konsinyasi.

“Sebenarnya ini kan sudah masuk masa percepatan. Seharusnya, sebagian jalan tol di Boyolali seperti di Denggungan, Ngargorejo, Sobokerto, Ngesrep, Dibal, Sindon, bisa beroperasi saat Lebaran. Tetapi sampai saat ini belum bebas semua.”

Waligi berharap pembebasan lahan untuk jalan tol segera selesai apalagi sekarang PPK telah mendapatkan dana talangan dari Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) Trans Marga Jateng untuk menyelesaikan pembebasan lahan jalan tol di ruas Salatiga-Boyolali. Dana talangan yang disalurkan BUJT Trans Marga Jateng untuk wilayah Salatiga-Boyolali mencapai Rp292 miliar. Dana itu untuk pembebasan tanah jalan tol meliputi seluruh wilayah Boyolali mulai dari Ampel, Boyolali Kota, Mojosongo, Teras, Banyudono, termasuk Ngemplak.

sumber :

Senin, 13 Juni 2016

LEBARAN 2016 :Tol Soker di Ngemplak Boyolali Batal Beroperasi Bulan Depan!



PENGENDARA SEPEDA MOTOR MELINTAS DI JALAN 
TOL SOLO-KERTOSONO (SOKER) YANG TELAH DISEBARI BATU 
OLEH WARGA DI DESA SINDON, NGEMPLAK, 
BOYOLALI, MINGGU (25/4/2016). 
(MUHAMMAD ISMAIL/JIBI/SOLOPOS)

"Lebaran 2016 bukan tahun bagi Tol Soker di Ngemplak Boyolali untuk beroperasi."

Solopos.com, BOYOLALI — Rencana pengoperasian tol Solo-Kertosono (Soker) di wilayah Ngemplak, Boyolali, pada Lebaran 2016 dipastikan batal dilakukan. Hal itu menyusul masih adanya sejumlah titik tol yang belum tersambung lantaran terkendala pembebasan lahan.

Demikian diungkapkan Kepala Satuan Kerja (Satker) Tol Soker, Aidil Fiqri, saat dihubungi Solopos.com, Minggu (12/6/2016). Aidil mengatakan pengoperasian tol Soker pada Lebaran 2016 baru direalisasikan pada wilayah Sragen-Klodran, Karanganyar. Adapun rencana pengoperasian tol Soker di wilayah Ngresep, Ngemplak, Boyolali, ditunda pada tahun depan.

“Tol yang bisa dioperasikan pada Lebaran 2016 baru Sragen-Klodran, Karanganyar, sepanjang 25 km. Kalau di Ngemplak belum bisa karena masih banyak titik yang belum terhubung,” ujarnya.

Ia mengatakan masih banyaknya lahan yang belum dibebaskan menjadi kendala utama dalam menyelesaikan pembangunan tol Soker, khususnya di wilayah Ngemplak. Segala upaya sudah ia upayakan dengan cara mengajak warga bermusyawarah. Namun, lantaran masih mentok, ganti rugi tanah terpaksa diselesaikan di pengadilan. “Ini juga memakan waktu lagi,” paparnya.

Aidil belum bisa menyebutkan secara pasti berapa titik lahan yang belum bisa dibebaskan. Namun yang jelas, kata dia, lebih delapan persen lahan yang belum bebas dari total lahan di sepanjang Boyolali. “Lokasinya menyebar di berbagai tempat. Ada di Pandeyan, Ngresep. Saya tak hapal,” paparnya.

Ia menargetkan Lebaran 2017 semua ruas jalan tol Soker di wilayah Boyolali sudah bisa dioperasikan. Pembebasan lahan akan diupayakan secepatnya untuk mengejar target. “Dulu kan terkendala dana, sekarang investor sudah menyiapkan dana cukup. Jadi, kami yakin tahun depan semua masalah pembebasan lahan klir,” paparnya.

Kapolsek Ngemplak, AKP Ahmad Nadiri, mengaku telah memantau langsung proyek tol Soker di wilayah Ngemplak beberapa hari lalu. Hasilnya, kata dia, sangat kecil peluang tol Soker di wilayah Ngemplak bisa dioperasikan pada Lebaran tahun ini. “Saya sudah cek langsung ke lokasi. Masih banyak tol yang belum terhubung,” paparnya.

Nadiri mengaku sempat kaget ketika mendengar kabar dari pejabat Menteri BUMN bahwa tol soker di wilayah Ngemplak dioperasikan Lebaran tahun ini. Padahal, berdasarkan pantauannya, kondisi tol belum siap dan belum dibangun sarana pintu masuk ke tol.

“Kapolda juga sempat tanya kami setelah dikabarkan oleh Bu Menteri. Padahal, kondisinya belum siap sama sekali, terutama dari Polsek Ngemplak ke arah barat,” paparnya.

Nadiri mencatat sedikitnya ada lima titik tol yang belum terhubung dengan tol berikutnya. Ada pun tol di wilayah timur Polsek Ngemplak terbilang sudah siap dan mulus. “Kalau kami selalu siap mengamankan wilayah selama arus mudik dan arus balik Lebaran,” paparnya.

sumber :

Rabu, 08 Juni 2016

Tol Baru Trans Jawa Siap Digunakan untuk Mudik Tahun ini


Salah satunya Pejagan-Pemalang dengan panjang 57,5 kilometer.

Ilustrasi/Proyek jalan Tol Trans Jawa (Kementerian PU)

VIVA.co.id – Menjelang hari raya Idul Fitri, masyarakat berbondong-bondong kembali ke kampung halaman untuk berlebaran. Maka sejumlah jalan tol baru akan mulai dioperasikan secara penuh di jalur trans Jawa saat mudik Lebaran tahun ini.

Salah satu diantara ruas tol tersebut adalah ruas Pejagan-Pemalang dengan panjang 57,5 kilometer (km) yang terdiri dari empat seksi.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Herry Trisaputra Zuna, mengungkapkan bahwa tol ini setidaknya dapat dipakai sebanyak dua seksi saat mudik lebaran tahun ini, diantaranya adalah seksi satu dari Pejagan-Brebes Barat, dan Seksi dua Brebes Barat-Brebes Timur.

"Progres konstruksi dua seksi ini sudah mencapai 100 persen, sudah beroperasi penuh sepanjang 20,2 km," kata Herry kepada VIVA.co.id di Kementerian PUPR, Jakarta, Selasa 7 Juni 2016.

Selain itu, ia menambahkan bahwa ada beberapa ruas yang juga dapat digunakan secara fungsional. Artinya, jalan tersebut dapat digunakan sebagai jalan tol yang tidak berbayar. Namun, sebagai jalan fungsional yang tidak dipungut biaya, pemudik harus melewati jalan tersebut dengan kondisi jalan yang masih sedikit berkerikil.

Jalan tersebut diantaranya adalah ruas jalan tol Semarang-Solo yakni seksi tiga dari Bawean menuju Salatiga dengan panjang 17,57 km. Lalu, ruas jalan tol Solo ngawi sepanjang 24 km dengan dua segmen yaitu Solo IC-Karanganyar IC dan Karanganyar IC-Sragen IC. Lebih lanjut, yaitu ruas jalan tol Kertosono-Mojokerto segmen Mojokerto Barat-Mojokerto Utara.

"Untuk mendukung arus mudik, nanti ini difokuskan menjadi satu arah dan dua lajur, kalau musim arus balik ya kita balik," kata dia.

Sementara untuk tol ruas Mojokerto-Surabaya, saat ini seksi empat telah diresmikan dan dapat dioperasikan secara penuh. Tol ini terdiri dari lima seksi.

sumber :