javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Tampilkan postingan dengan label Tol Semarang Ungaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tol Semarang Ungaran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Juni 2017

Mudik Dari Jakarta-Semarang Bisa Lewat Tol, Berapa Biayanya?



Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Musim mudik Lebaran segera tiba. Mayoritas masyarakat Indonesia yang diisi oleh penduduk beragama muslim akan banyak dijumpai pada beberapa jalur mudik, baik darat, udara maupun laut. Salah satu jalur yang banyak dilalui, khususnya di pulau Jawa adalah jalur darat. 

Beberapa jalan tol saat mudik Lebaran tahun ini bakal bisa dilalui secara fungsional alias gratis. Pemudik bisa menerus menggunakan jalan tol baik jalan tol yang sudah beroperasi penuh maupun yang sekadar fungsional hingga menuju Semarang.

Dihitung dari Jakarta dengan pemberangkatan dari Jakarta Pusat, setidaknya terdapat 7 ruas tol yang harus dilewati untuk sampai ke Semarang. Yakni Tol Jakarta - Cikampek, Tol Cikopo - Palimanan (Cipali), Tol Palimanan - Kanci, Tol Kanci - Pejagan, Tol Pejagan - Pemalang, Tol Pemalang-Batang dan Tol Batang-Semarang.

Dengan telah diberlakukannya sistem tol integrasi sejak tahun lalu, maka sistem pembayaran dibagi menjadi dua cluster. Cluster pertama merupakan gabungan dari tol Jakarta-Cikampek dan Cikampek-Palimanan dan Purbaleunyi ke arah Bandung. Jadi, nanti masuk pintu tol Cikarang Utama, ambil tiket. Kemudian, baru bayar di pintu tol Palimanan. 

Di Cikarang Utama-Palimanan, pemudik akan dikenakan tarif Rp 109.500. Dengan rincian Cikarang Utama-Cikopo Rp 13.500 dan Cikopo-Palimanan Rp 96.000.

Kemudian, untuk sampai ke ruas Pejagan-Pemalang, pemudik masih bisa melalui tol operasional hingga ke Brebes Timur. Penggabungan sistem pembayaran dimulai dari Jalan Tol Palimanan-Kanci, Kanci-Pejagan dan Tol Pejagan-Pemalang (hingga Brebes Timur). Jadi, saat pemudik tiba di pintu tol Palimanan, selain membayar juga diberikan tiket untuk keluar di pintu tol Brebes Timur.

Di tol Brebes Timur, pemudik yang berasal dari Palimanan akan dikenakan tarif Rp 55.500 dengan rincian Palimanan-Kanci Rp 11.500, Kanci-Pejagan Rp 24.000, Pejagan-Brebes Timur Rp 20.000. 

Berbeda dengan mudik Lebaran tahun lalu, kini pemudik bisa terus menggunakan ruas tol Pejagan-Pemalang secara penuh, meski secara operasional, tol baru bisa dilewati sampai Brebes Timur. Namun mulai dari Brebes Timur melewati Tegal hingga Pemalang, kini pemudik telah bisa melewatinya secara fungsional alias gratis.

Bahkan pemudik bisa terus melanjutkan hingga ke ruas Pemalang-Batang yang juga bakal dilalui secara fungsional atau darurat. Dibukanya ruas ini akan mengurai kepadatan di jalur pantai utara (Pantura).

Sedangkan perjalanan dari Batang hingga Semarang, pemudik bisa menggunakan tol fungsional sampai ke Weleri, Kabupaten Kendal (seksi tiga proyek tol Batang-Semarang), yakni 52 km sebelum Semarang.

Dengan perhitungan itu, pemudik yang lewat jalan tol setidaknya membutuhkan biaya Rp 165.000 untuk membayar tol yang sudah operasional penuh yakni dari Cikarang Utama-Brebes Timur. Jumlah tersebut bisa lebih ringan karena operator tol dan pihak perbankan menawarkan diskon tarif 20% bisa menggunakan pembayaran non tunai alias kartu uang elektronik.

Tambahan 319,82 km tol baru di Trans Jawa

Tol Trans Jawa sendiri bakal mendapatkan tambahan jalan tol yang bisa dilalui secara fungsional sepanjang 319,82 km. Seluruh jalur tol ini bisa dilewati secara fungsional alias gratis. 

Untuk mengantisipasi macet di Brebes Exit (Brexit), pemerintah juga telah membangun empat buah flyover di Pantura, Jawa Tengah. Pembangunan keempat flyover tersebut kini telah mencapai progres secara keseluruhan sebesar 80%, sehingga dipastikan bakal rampung setidaknya 10 hari sebelum Lebaran sehingga kemacetan yang timbul akibat adanya penumpukan kendaraan pada persimpangan sebidang Kereta Api dijamin tak lagi ada.

Sementara bagi pemudik yang terus ingin melanjutkan perjalanan dari Semarang hingga Surabaya, jalan tol ruas Semarang-Solo bisa dilalui hingga Salatiga. 

Jalan tol alternatif dari Semarang ke Surabaya sendiri disiapkan sejauh 165 km bagi pemudik yang dikombinasikan dengan jalan nasional. Pada lokasi jalan tol, yang belum siap menggunakan jalan nasional yaitu di ruas Salatiga-Kartasuro, Widodaren-Klitik (Ngawi), Gunungan (Magetan)–Sawahan (Nganjuk), Kedungjati (Grobogan)–Purworejo, Wilangan (Nganjuk)–Kertosono.

Di ruas Solo-Ngawi, ruas fungsional dimulai dari JC Kertosuro–SS Karanganyar (segmen Solo-Karanganyar) 20,9 km, dilanjutkan seksi 1 (Solo-Mantingan) segmen Karanganyar-Sragen 13,8 km, seksi 1 (Solo –Mantingan) segmen Sragen-Mantingan 21,35 km, dan seksi 2 (Mantingan-Ngawi) 20 km.

Masuk ke perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, tol Ngawi-Kertosono seksi 1 (Ngawi Interchange (IC) –Madiun IC) segmen Klitik–Gulungan sepanjang 11 km juga bisa dilewati secara fungsional. Lalu seksi II (Madiun IC-Caruban IC) segmen Sawahan-Kedungjati 6 km, dan seksi III (Caruban IC –Nganjuk IC) segmen Purworejo-Wilangan 18 km.

Kemudian tol Kertosono-Mojokerto seksi 2 (Jombang-Mojokerto Barat) sepanjang 19,7 km, dan tol Mojokerto-Surabaya seksi 1B Sepanjang-WRR 4,3 km, seksi 2 WRR-Driyorejo 5,07 km, dan seksi 3 Driyorejo-Kriyan 6,1 km.

"Setelah Ngawi nanti bisa masuk lagi ke dalam tol, keluar di Madiun. Dari Madiun bisa masuk lagi ke Kertosono sampai ke Surabaya," kata Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR, Arie Setiadi Moerwanto beberapa waktu lalu.

Adapun jalur-jalur tol yang dilalui secara fungsional bakal dapat dilintasi kendaraan 2 lajur dengan 1 arah untuk arus mudik maupun arus balik, dengan kecepatan 40-50 km/jam di atas jalan perkerasan timbunan dan lean concrete (beton tebal 10 cm).

Pemerintah juga menyiapkan lahan kosong untuk istirahat (rest area sementara) di beberapa lokasi sesuai kebutuhan yang bisa digunakan untuk istirahat shalat maupun buang air kecil.

Arie mengaku jalan-jalan nasional dan tol yang dikombinasikan untuk mudik Lebaran tahun ini diyakini tak bakal mengulangi peristiwa macet horor yang terjadi pada tahun lalu. Secara khusus ia hanya menyampaikan perhatian pada jalan nasional di Semarang yang kemungkinan bakal dilalui banjir rob pada saat mudik tiba.

"Kemungkinan yang ada problem adalah di Semarang. Antara Semarang dan Demak yang kemungkinan ada banjir rob. Kami sudah siapkan pompa-pompa di sana, mudah-mudahan nanti macetnya tidak terlalu parah," pungkasnya. (dna/dna)

Sumber :
detik.com


Minggu, 25 Desember 2016

41 Ribu Kendaraan Lintasi Tol Ungaran

Pengguna Jalan Disarankan Istirahat di Restarea

Anggota Sat PJR Jateng X tengah mengamankan jalan tol
KM 32.200 ruas Bawen-Banyumanik karena di lokasi
tersebut ada bus yang kempes ban, Minggu (25/12) siang. 
(suaramerdeka.com/ dok PJR Jateng X)

UNGARAN, suaramerdeka.com – Sentra Komunikasi PT Trans Marga Jateng (TMJ) menyatakan, telah terjadi lonjakan arus kendaraan yang melintas di tol Banyumanik-Bawen pada, Sabtu (24/12) malam hingga Minggu (25/12) pagi. Dari data diketahui, total kendaraan yang melintas kemarin malam ada 41.809 unit kendaraan.

Sementara, Minggu (25/12) dini hari hingga siang dari tol Banyumanik mengarah ke Bawen tercatat ada 20.266 kendaraan yang melintas. Sementara dari tol Bawen menuju Banyumanik total kendaraan yang melintas 17.767 unit kendaraan.

“Kami baru menerima data jumlah kendaraan sampai pagi tadi. Adapun data siang hingga petang belum terlihat karena pergantian shift baru dilakukan pukul 22.00,” kata Nanda Firman, Minggu (25/12) petang.

Terpisah, Kasat Patroli Jalan Raya (PJR) Polda Jateng, AKBP Mahesa Sugriwo melalui Kasubnit PJR Jateng X Tol Banyumanik-Bawen, Iptu Ragil Irawan mengatakan, selama melakukan patroli kemarin pihaknya tidak menemukan kejadian menonjol.

Terlepas dari itu, Iptu Ragil menyarankan kepada semua pengguna jalan untuk beristirahat di restarea yang sudah disediakan engelola tol.

“Alhamdulilah negatif kejadian. Jangan istirahat di ruas jalan tol, silahkan rehat di restarea. Di sana kami nilai lebih representatif dan aman,” tegasnya. (Ranin Agung/ CN33/ SM Network)

sumber :
suaramerdeka

Kamis, 22 Desember 2016

PT TMJ Optimalkan Layanan Pengguna Tol Banyumanik-Bawen Saat Libur Natal dan Tahun Baru

MOTOR MASUK TOL: Anggota Sat Lantas Polres Semarang 
mengarahkan pengguna motor yang masuk pintu tol Bawen 
untuk keluar tol, belum lama ini. 
(suaramerdeka.com/Ranin Agung)

UNGARAN, suaramerdeka.com – PT Trans Marga Jateng (TMJ) akan mengoptimalkan pelayanan pengguna jalan tol Banyumanik-Bawen yang melintas bertepatan libur Natal dan tahun baru 2017. Rencananya, semua gardu pembayaran akan dibuka. Sementara tol ruas Bawen-Salatiga, nantinya tetap ditutup tidak difungsikan mengingat masih ada pekerjaan.

“Hanya sampai Bawen saja. Bawen-Salatiga belum difungsikan. Pegawai tidak ada yang cuti. Begitu pula dengan fasilitas mobil derek, ambulans, rescue, dan mobil patroi tol kita siapkan semua,” kata Direktur Teknik dan Operasional PT TMJ, Ali Zainal Abidin, Kamis (22/12) siang.

Sebagai antisipasi bila terjadi penumpukan kendaraan, di gardu tol otomatis nantinya akan ditempatkan petugas khusus yang akan membantu pembayaran tunai. PT TMJ juga sudah berkoordinasi dengan Polres Semarang dan Dishubkominfo Kabupaten Semarang kaitannya penarikan arus kendaraan yang keluar melalui pintu tol Ungaran dan pintu tol Bawen.

Prosentase lonjakan kendaraan, diperkirakan sekitar 30 persen dari hari biasa. Ruas tol Banyumanik-Bawen diprediksi akan dipadati kendaraan mulai Jumat-Senin (23-26/12). Kemudian menjelang tahun baru 2017, diperkirakan mengalami peningkatan arus mulai Jumat-Senin (30/12-2/1).

“Terutama di Bawen, kami mengacu saat liburan panjang Maulid Nabi kemarin. Itu cukup panjang juga (antreannya-Red). Jika terjadi antrean, nanti dari lampu pengaturan Bawen kita tarik atau dibuat lancar melibatkan pihak berwenang,” jelasnya.

Terpisah, Kasat Patroli Jalan Raya (PJR) Polda Jateng, AKBP Mahesa Sugriwo melalui Kasubnit PJR Jateng X Tol Banyumanik-Bawen, Iptu Ragil Irawan mengatakan, khusus menyambut pengamanan Natal dan tahun baru 2017 pihaknya sudah memetakan jalur-jalur rawan di dalam tol Banyumanik-Bawen. “Kita akan memberikan pelayanan dan pengamanan, kepada pengguna tol baik selama perjalanan dan berhenti di rest area,” kata Iptu Ragil Irawan.

Ada pun anggota yang terploting, masing-masing regu terdiri atas enam personel. Disediakan dua kendaraan dinas PJR, masing-masing kendaraan akan dibekali dengan senjata laras pendek dan laras panjang sebagai antisipasi kejadian yang tidak diinginkan.

Pucak arus kendaraan yang melintas ruas tol Banyumanik-Bawen, diperkirakan terjadi Jumat-Sabtu (23-24/12) malam. “Intensitas patroli pun kita tingkatkan, petugas akan mengedepankan himbauan serta tindakan persuasif,” jelasnya.

Khusus pengamanan malam tahun baru 2017, PJR Jateng X Tol Banyumanik-Bawen telah berkoordinasi dengan Sat Lantas Polres Semarang termasuk para Kapolsek yang wilayah kerjanya dilalui jalan tol. Koordinasi itu dimaksudkan, untuk mencegah masyarakat menyulut kemudian mengarahkan petasan ke dalam ruas tol. Area yang diperkirakan menjadi titik pesta kembang api dari data PJR Jateng X, meliputi di sekitar restarea Ungaran dan Alun-alun Bung Karno Ungaran.

“Jangan sampai tembakan kembang api masuk ke tol. Itu jelas mengganggu dan membahayakan pengguna jalan yang melintas,” tukasnya.
(Ranin Agung/CN40/SM Network)

sumber :

Jumat, 10 Juni 2016

Rencana Pemprov Jateng Beli Lagi Saham Tol Semarang-Solo Terancam Gagal


Foto: suaramerdeka.com/ Ranin Agung

SEMARANG, suaramerdeka.com – Upaya Pemprov Jawa Tengah melalui Perusda PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) untuk membeli lagi saham tol Semarang-Solo sebanyak 3,9 persen menemui kendala. PT Jasa marga mematok harga tinggi. Jauh lebih tinggi dari harga saat PT SPJT melepas 25 persen saham ke PT Astratel pada September 2015 lalu.

Gubernur Jawa tengah Ganjar Pranowo mengaku sudah bernegosiasi dengan PT Jasa Marga. Ia berharap PT Jasa Marga mau mempertimbangkan, lantaran memiliki tujan yang sama dengan Pemprov untuk memajukan infrastruktur. “Dulu dijual, sekarang beli lagi karena ada cadangan (anggaran) yang bisa didorong. Tapi hanya berhenti di lima persen saham saja sudah cukup. Uang lainnya bisa digunakan untuk kebutuhan lain,” kata Ganjar, Kamis (9/6).

Gubernur dari PDIP ini mengaku tidak hafal detil berapa nominal saham yang ditawarkan oleh PT Jasa Marga. Ia meminta wartawan untuk menanyakan pada Dirut PT SPJT Krisdiani Syamsi. Saat dihubungi, Krisdiani enggan mengatakan berapa nominal tawaran dari PT Jas Marga. Namun ia memberikan keterangan kalau tawaran yang diberikan tidak sampai dua kali lipat dari harga jual saham pada September lalu.

“Angkanya tidak untuk dipublikasikan, tapi di atasnya (harga jual saham PT SPJT dulu) dan tidak sampai kali lipatnya. Kami sudah minta PT Jasa Marga untuk meninjau lagi tawaran harganya. Kalau memang tetap melebihi patokan harga kami, ya tidak jadi membeli,” kata Krisdiani.

Penjualan saham lalu disebabkan kepemilikan saham PT SPJT terus terdelusi karena tidak menyetor modal. Besaran saham semula 40 persen terdelusi menjadi 30 persen dan 26,1 persen. PT Astratel kemudian menjadi pemenang lelang pembelian saham 25 persen dengan nominal Rp 780 miliar.

Saat itu, pembelian akan terjadi jika PT SPJT melepas saham minimal 25 persen. Saat penjulan itu, ada penjelasan jika pemegang saham bisa membeli saham lagi jika memiliki kemampuan. Maka saat ini saham PT SPJT tinggal 1,09 persen.

Staf Utama Direktorat Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng, Ari Nugroho mengatakan saat ini komposisi kepemilikan saham ada tiga, PT Jasa Marga 73,9 persen, PT Astratel Nusantara 25 persen, dan PT SPJT 1,09 persen. “Kalau ditanya harga per lembarnya berapa saat saham milik PT SPJT dijual, kami tidak tahu. Yang tahu SPJT dan Astratel,” kata Ari.

sumber :

Rabu, 08 Juni 2016

Trans Marga Jateng Pasang "Inclinometer" Pantau Konstruksi Jembatan Penggaron



Kompas.com/ Syahrul Munir Pengerjaan fisik jalan tol ruas 
Bawen-Salatiga dikebut, termasuk jembatan tol Tuntang, 
Kabupaten Semarang sepanjang 370 meter dengan tinggi 56 meter. 
Foto diambil, Jumat (27/5/2016)
BAWEN, KOMPAS.com - PT Trans Marga Jateng (TMJ) sebagai operator Jalan Tol Semarang-Solo terus melakukan perkuatan struktur Jembatan Penggaron yang pernah mengalami retak rambut beberapa waktu sebelumnya.

Jembatan dengan panjang 400 meter ini berdiri di atas tanah Hutan Penggaron yang cenderung labil.

Direktur Teknik dan Operasi PT TMJ, Arie Irianto mengatakan, saat ini ada pekerjaan memperkuat struktur Jembatan Penggaron.

Untuk memperkuat struktur tanah telah dilakukan beberapa langkah, antara lain dengan perkuatan pilar melalui pemasangan pondasi bor pile, dan cut and file bukit untuk mengurangi tekanan daya dorong tanah.

Selain itu, PT TMJ juga memasang alat pengukur pergerakan tanah atau inclinometer di sejumlah titik yang dianggap rawan longsor.

"Secara umum di ruas Semarang-Ungaran ada lima wilayah rawan longsor. Yang empat sudah tertangani, satu masih dalam proses," kata Arie, Selasa (7/6/2016).

Kelima titik rawan longsor tersebut, lanjutnya, termasuk Jembatan Penggaron yang dimonitor selama 24 jam. Namun sejauh ini, imbuhnya, kondisinya masih aman untuk dilalui pengguna jalan tol.

"Pemeliharaanya masih tanggungjawab kontraktor, setelah tiga tahun baru kita," tuntasnya.
 
sumber :

Minggu, 24 April 2016

25.000 Kendaraan Lintasi Tol Semarang-Bawen per Hari


ilustrasi

SEMARANG, suaramerdeka.com – Memasuki tahun 2016, volume kendaraan yang melintas di jalan tol Semarang-Ungaran Bawen mencapai 25.000 mobil per hari. Jumlah itu meningkat pesat jika dibandingkan saat hanya satu seksi tol yang beroperasi, Semarang-Ungaran, yakni 9.000 kendaraan per harinya.

Direktur Teknik dan Operasi Trans Marga Jateng (TMJ) Arie Irianto mengatakan jumlah 25.000 itu bisa berlipat saat musim libur sekolah, hari raya dan natal. Ia mengklaim pertumbuhan jumlah volume kendaraan yang melintas menunjukkan jalan tol sebagai pilihan utama pengguna jalan untuk menyingkat durasi perjalanan. Terutama bagi pelaku ekonomi dengan tujuan mempercepat proses distribusi barang.

“Pertumbuhan kendaraan 7 persen per tahun sementara pertubuhan jalan baru tol 0,02 persen. Masih timpang. Pembangunan jalan tol harus terus dikebut karena memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi,” ujar Arie, Minggu (24/4).

Tol Semarang-Solo terbagi menjadi lima seksi. Seksi I Tembalang-Ungaran sepanjang 11 KM dan Seksi II Ungaran-Bawen sepanjang 12 KM sudah beroperasi. Seksi III Bawen-Salatiga sepanjang 17,5 KM, Seksi IV Salatiga–Boyolali sepanjang 24 KM, dan Seksi V Boyolali–Kartasura sepanjang 8 KM masih proses pembangunan dan pembebasan lahan. Untuk pembangunannya dibutuhkan investasi Rp 10,3 triliun, dengan perincian Rp 7,3 triliun untuk Semarang-Salatiga dan Rp 3 triliun untuk Salatiga-Solo.

Sementara itu untuk penyesuaian dampak inflasi, tarif jalan tol Seksi I dan II naik per 16 April 2016. Hal itu diatur dalam Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat no 191/KPTS/M/2016 Tahun 2016 tentang Penyesuaian Tarif Pada Jalan Tol. Untuk kendaraan golongan I naik Rp 500, kendaraan golongan II-V antara Rp 1.000 – Rp 2.000.

“Kanaikan sebagai konsekuensi dampak inflasi yang terjadi tiap dua tahunan. Ini diatur dalam PP no 15 Tahun 2005 yang diubah menjadi PP no 43 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas PP no 15 Tahun 2005. Kami sudah menyosialisasikannya,” jelasnya.

Sebagai pengelola, lanjut Arie, kenaikan itu akan diimbangi dengan peningkatan pelayanan bagi pengguna tol. PT TMJ berusaha memberikan pelayanan untuk mendukung kenyamanan dan keselatan.

Di antaranya fasilitas layanan derek, penyediaan layanan untuk isi air radiator, dan informasi gangguan dan pengaduan. Saat ini di Seksi Ungaran-Bawen tengah dilakukan pembangunan rest area yang akan di lengkapi masjid, restoran dan tempat pengisian bahan bakar.
(Hanung Soekendro/CN19/SMNetwork)

sumber :

Minggu, 17 April 2016

Inflasi 10 Persen, TMJ Menaikkan Tarif Tol Semarang-Bawen


Inflasi 10 Persen, TMJ Menaikkan Tarif Tol Semarang-Bawen, 
mulai 16 April 2016. tribunjateng/dok 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Mulai Sabtu (16/4/2016) pukul 00.00 kemarin, PT Trans Marga Jateng (TMJ) selaku operator Ruas Tol Semarang-Ungaran-Bawen telah melakukan penyesuaian tarif. Adapun dasar pemberlakuan tarif tersebut yakni Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI Nomor 191/Kpts/MPUPR.2016 per tanggal 8 April 2016.

“Dalam keputusan tersebut disebutkan jika yang mengalami penyesuaian tarif adalah Ruas Tol Semarang-Solo Seksi I Semarang-Ungaran dan Seksi II Ungaran-Bawen. Dan telah disesuaikan dengan Pasal 68 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 Tahun 2015 tentang Jalan Tol Jo Nomor 43 Tahun 2013,” kata Manager Operasi PT TMJ Sabilillah kepada Tribun Jateng, Minggu (17/4/2016).

Menurutnya, sejak diberlakukannya penyesuaian tarif tersebut, sejauh ini tidak ada protes atau kendala. Hal itu diklaim karena tiga pekan sebelumnya, pihaknya telah menggelar berbagai sosialisasi kepada seluruh pengendara yang memanfaatkan ruas tol tersebut. Di antaranya melalui pemasangan spanduk di beberapa titik strategis, pembagian leaflet di tiap gerbang tol, hingga talkshow di beberapa radio.

“Kami rasa seluruh pengendara sudah dapat memahaminya. Terlebih ada dasar hukum yang jelas dan pasti dalam kami bertindak. Dasar utama kami menyesuaikan tarif yakni inflasi yang berjalan di dua tahun terakhir. Data di Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan inflasinya yakni 10,14 persen. Rumusnya adalah tarif baru sama dengan tarif lama dikali satu ditambah angka inflasi,” ucapnya.

Sebelumnya Direktur Operasi dan Teknik PT TMJ Arie Irianto mengutarakan, meskipun angka inflasi tersebut, ada beberapa pertimbangan dalam penerapannya yakni pembulatan tarif di setiap golongannya. Misal tarif baru yang semestinya Rp 7.700 menjadi Rp 7.500 bukan Rp 8.000 per kendaraan di Golongan I.

“Secara umum, dari acuan tersebut dan hasil evaluasi per semester oleh Badan Pemeriksa Jalan Tol (BPJT) kami lols dan sejauh ini di kedua seksi tersebut, telah memenuhi standar pelayanan minimum (SPM), sehingga dinyatakan layak untuk menyesuaikan tarif yang juga akan diikuti peningkatan layanannya,” jelasnya. (*)

sumber :

Sabtu, 16 April 2016

Berikut Tarif Tol Terbaru Semarang-Ungaran dan Semarang-Bawen


ilustrasi
TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Berikut tarif tol di Ruas Tol Semarang Solo Seksi I Semarang-Ungaran dan Seksi II Ungaran-Bawen, sebelum dan sesudah penyesuaian tarif yang diberlakukan mulai Sabtu (16/4/2016) pukul 00.00

Sebelum penyesuaian tarif

A.  Seksi I Semarang-Ungaran
  • Golongan I Rp 6.500
  • Golongan II Rp 9.500
  • Golongan III Rp 12.500
  • Golongan IV Rp 15.500
  • Golongan V Rp 19.000

B.  Seksi II Ungaran-Bawen
  • Golongan I Rp 7.000
  • Golongan II Rp 10.000
  • Golongan III Rp 13.500
  • Golongan IV Rp 17.000
  • Golongan V Rp 21.500

Setelah penyesuaian tarif

A.  Seksi I Semarang-Ungaran
  • Golongan I Rp 7.000
  • Golongan II Rp 10.500
  • Golongan III Rp 14.000
  • Golongan IV Rp 17.500
  • Golongan V Rp 21.000

B.  Seksi II Ungaran-Bawen
  • Golongan I Rp 7.500
  • Golongan II Rp 11.500
  • Golongan III Rp 15.000
  • Golongan IV Rp 19.000
  • Golongan V Rp 22.500
sumber :

Jumat, 15 April 2016

Idul Fitri 2016, Tol Bawen-Salatiga Dibuka Sementara


PINDAHKAN BATU: Warga Desa Kandangan, Bawen, 
Kabupaten Semarang memindahkan batu pondasi rumah yang terkena 
proyek tol Semarang-Solo seksi III Bawen-Salatiga untuk digunakan 
membangun rumah kembali, Jumat (15/4). 
(suaramerdeka.com/Ranin Agung)


UNGARAN, suaramerdeka.com - PT Trans Marga Jateng (TMJ) selaku operator dalam pembangunan megaproyek sekaligus pengelola Tol Semarang-Solo sampai pertengahan April 2016 masih berupaya menyelesaikan pembangunan tol seksi III Bawen-Salatiga.

Direktur Teknik dan Operasi PT TMJ, Arie Irianto memaparkan, kondisi pembebasan lahan di ruas Bawen-Salatiga masih sama dengan progres terakhir pada 31 Desember 2015. “Yakni 92,7 persen lahan yang sudah bebas. Sisanya ada sekitar 7,3 persen lahan yang belum bebas,” katanya, Jumat (15/4).

Ketika ditanya apakah memungkinkan digunakan untuk akses mudik-balik Idul Fitri 2016, Arie menjawab, bisa tidaknya digunakan lebih bergantung pada kapan lahan yang belum terbebaskan itu bisa clean and clear 100 persen. Dan semestinya, mau tidak mau pada pertengahan April 2016 ini sudah terselesaikan dan tidak ada masalah. “Jikapun dibuka untuk jalur Lebaran tahun ini, sifatnya dibuka sementara. Yang perlu menjadi perhatian adalah, kondisi ruas belum ideal 100 persen,” terangnya.

Artinya, lanjut dia, bagaimanapun juga aspek keselamatan jalan harus dipenuhi. Jangan sampai ada problem. “Idealnya, kami butuh waktu paling cepat tiga bulan setelah lahan bebas 100 persen untuk mengerjakan sisa pengerjakan fisiknya,” imbuh Arie.

Dari catatan PT TMJ, progres pengerjakan konstruksi fisik pada ruas Bawen-Salatiga masih tersisa lebih kurang 35 persen. Tanah kas desa yang belum dibebaskan mencapai lima persen. Hanya saja sudah dapat dilaksanakan konstruksi dengan memberikan Uang Ganti Rugi (UGR) Garapan atau kompensasi. Itu dilakukan sembari Tim Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) Tol Seksi III melakukan pembayaran.

“Secara umum, total tanah kas daerah yang belum bebas sekitar 44 bidang dan lahan warga sekitar 35 bidang,” tuturnya. (Ranin Agung/CN38/SM Network)

sumber :

Rabu, 13 April 2016

Tiga Hari Lagi, Tarif Tol Semarang – Bawen Naik


(suaramerdeka.com / Bambang Isti)

SEMARANG, suaramerdeka.com - PT Trans Marga Jateng (TMJ) memastikan terjadi penyesuaian tarif jalan tol Semarang – Ungaran – Bawen, per Sabtu (16/4) mulai pukul 00.00 WIB.

Kenaikan tarif itu menurut Manager Teknik dan Operasi TMJ, Arie Irianto, sebagai konsekuensi dampak inflasi yang terjadi per dua tahun. “Bukan itu saja, karena memang sudah dijadwalkan penyesuaian tarif itu terjadi setiap dua tahun sekali,” kata Arie Irianto, Rabu (13/4).

Penyesuaian tarif untuk kendaraan Golongan I naik Rp 500, dan untuk Golongan II, III, IV an V kenaikan dalam varian antara Rp 1.000 – Rp 1.500. Sejauh ini pihak PT TMJ sudah melakukan sosialisasi terutama melalui selebaran untuk pengguna tol.

“Dalam persentase kisarannya akan naik sekitar 10 persen. Jadi misalnya tarif semula Rp 7.000, maka akan menjadi Rp 7.700, tentu ini akan ada pembulatan menjadi Rp 7.500. Begitu untuk golongan lain akan menyesuaikan,” kata Arie Irianto.

Kenaikan tarif tol itu mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) No 5 tahun 2015 tentang Jalan Tol. “Bahwa kami telah dinilai oleh Badan Pemeriksa Jalan Tol (BPJT) dalam evaluasi per semester dan kami lolos telah memenuhi standar palayanan minimum (SPM). Kenaikan tentu akan dibarengi dengan pelayanan pengguna tol,” kata Arie Irianto.

sumber :

Jumat, 30 Oktober 2015

Pembatas Beton Akses Tol Ungaran Dibuka, Pemotor Bebas Melintas

Kompas.com/ Syahrul Munir Sejumlah petugas Dishubkominfo dengan 
menggunakan derek tengah memindahkan barier beton yang menutup 
akses tol Sidomulyo-Kalirejo, Jumat (30/10/2015) siang
UNGARAN, KOMPAS.com - Para pengendara sepeda motor yang biasa menerobos akses tol Sidomulyo-Kalirejo, Ungaran, saat ini tak perlu lagi kucing-kucingan dengan petugas.

Pasalnya, mulai Jumat (30/10/2015), belasan pembatas beton yang menutup pertigaan akses tol tersebut sudah dibuka sehingga bisa dilalui oleh masyarakat umum. Selama ini, ruas jalan tersebut khusus dimanfaatkan pengguna jalan tol Semarang-Bawen.

"Tidak sedikit masyarakat yang menerobos barier beton di pertigaan exit tol sehingga membahayakan pengguna jalan. Maka kami meminta TMJ untuk dapat membuka barier ini," ungkap Kasat Lantas Polres Semarang, AKP Rendy Andi Julikhlas, di sela menyaksikan penggeseran pembatas tersebut.

Menurut Rendy, akses tol Sidomulyo-Kalirejo akhirnya dibuka untuk menindaklanuti keinginan dan aspirasi masyarakat yang ingin menggunakan ruas jalan itu sebagai akses dari timur ke barat atau sebaliknya.

Dengan demikian, pengendara motor sudah boleh melintas di jalan tersebut.

"Ini untuk kemudahan akses transportasi bagi masyarakat, utamanya pengendara sepeda motor. Tapi kita minta masyarakat komitmen menciptakan keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas," katanya.

Menurut Manajer Operasi PT TMJ, Sabilillah, rencana dibukanya akses tol Sidomulyo-Kalirejo sudah sejak 2013, namun belum bisa dilakukan karena berbagai pertimbangan. Tapi dalam perkembangannya banyak pelanggaran lalu lintas oleh masyarakat dan aparat kepolisian kesulitan menangani.

"Awalnya memang akses tol, sehingga khusus digunakan kendaraan yang keluar masuk tol Semarang-Bawen saja. Atas berbagai pertimbangan dan adanya desakan masyarakat akhirnya akses Sidomulyo-Kalirejo kita buka," jelasnya.

Menurut Sabilillah, selain pembatas beton, TMJ juga akan melepas rambu larangan melintas bagi pengendara motor. Selanjutnya, TMJ akan melepas seluruh aset yang menjadi akses tol Sidomulyo-Kalirejo ke Pemkab Semarang sehingga pemeliharaan dan perbaikan jalan bila ada kerusakan menjadi tanggung jawab pemkab.

"Untuk penyerahan aset ke Pemkab Semarang melalui Kementerian Pekerjaan Umum yang membawahi jalan tol," katanya.

Menanggapi pembukaan akses tol Sidomulyo-Kalirejo ini, anggota Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Kabupaten Semartan, Husen Abdullah menyambut baik dan sangat mengapresiasi hal itu. Selama ini, akses transportasi masyarakat terganggu akibat adanya larangan bagi pengendara motor melintasi akses tol tersebut.

"Akses tol itu bukan jalan tol, sehingga bisa digunakan masyarakat umum maupun penggguna jalan tol. Saya kira masyarakat menyambut gembira hal ini," kata Husen. 
sumber :

Rabu, 10 Juni 2015

Kerusakan di Tol Banyumanik-Ungaran karena Aspal Melendut


KOMPAS.com/Syahrul MunirKomisi C DPRD Kabupaten Semarang 
meninjau kerusakan jalan tol Sesi I (Banyumanik – Ungaran) 
dan II (Ungaran – Bawen) di sekitar titik KM 21 400, Rabu (10/6/2015) siang


SEMARANG, KOMPAS.com - Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng (TMJ), otoritas pengelola tol Semarang-Solo, Ari Nugroho menyatakan perbaikan bidang jalan di sekitar KM 21 400 dilakukan karena lapisan aspal mengalami pelunakan. Dia memastikan kerusakan tersebut bukan dipicu terjadinya pergerakan tanah. 

"Itu karena aspalnya agak melendut sehingga harus kami bongkar. Bukan karena struktur tanahnya bergerak," kata Ari, Rabu (10/6/2015) petang. 

Ari mengakui jika titik perbaikan sebelumnya, yakni di Jembatan Penggaron merupakan dampak dari tanah gerak. 

"Tapi itu sudah selesai,” ungkap Ari. 

Pihaknya juga memastikan proses perbaikan di KM 21 400 tidak akan mengganggu kelancaran arus lalu lintas, termasuk di masa arus mudik dan balik Lebaran mendatang. 

"Kita melihat volume kendaraan yang ada. Kalau pun ada satu lajur yang ditutup untuk perbaikan, itu tidak akan mengganggu. Dan untuk Lebaran mendatang hanya ada kegiatan reguler seperti pembersihan jalan,” ujarnya.

Ditanya soal kerapnya ruas tol yang dirintis pembangunannya di masa pemerintahan Gubernur Jateng Bibit Waluyo ini mengalami masalah infrastruktur, Ari berdalih tidak bisa berbuat banyak. Sebab yang menentukan desainnya adalah pemerintah pusat, sedangkan TMJ hanya mengerjakan sesuai instruksi yang ada. 

"Sejak awal kami belum bisa memastikan kondisi tanah yang ada, apakah itu tanah gerak atau tidak. Setelah pembebasan selesai, baru kami lakukan survei dan baru bisa diketahui tanahnya gerak atau tidak,” pungkasnya. 

Sebelumnya diberitakan, Jalan tol Sesi I (Banyumanik–Ungaran) dan II (Ungaran–Bawen) untuk kesekian kalinya kembali mengalami kerusakan. Kali ini kerusakan terjadi di sekitar titik KM 21 400. Titik kerusakan tersebut sudah ditutup untuk upaya perbaikan. 

Bidang jalan yang rusak mencapai sekitar 12 x 4 meter tidak jauh dari ujung selatan Jembatan Penggaron. Lebih tepatnya di ruas jalan sisi timur atau arah Banyumanik-Ungaran. Pekerjaan perbaikan dilakukan dengan cara membongkar lapisan aspal dan beton sedalam 15–20 cm.

sumber :

Lagi, Ruas Tol Banyumanik-Ungaran Rusak


kompas.com/ syahrul munirKomisi C DPRD Kabupaten Semarang 
meninjau kerusakan kalan tol Sesi I (Banyumanik – Ungaran) 
dan II (Ungaran – Bawen) di sekitar titik KM 21 400, Rabu (10/6/2015) siang


SEMARANG, KOMPAS.com - Jalan tol Sesi I (Banyumanik–Ungaran) dan II (Ungaran–Bawen) untuk kesekian kalinya kembali ambles. Kali ini kerusakan terjadi di sekitar titik Km 21+400. 

Pantauan di lapangan, Rabu (10/6/2015) siang, titik kerusakan tersebut sudah ditutup untuk upaya perbaikan. Bidang jalan yang rusak mencapai sekitar 12 x 4 meter tidak jauh dari ujung selatan Jembatan Penggaron, tepatnya di ruas jalan sisi timur atau arah Banyumanik-Ungaran. 

Pekerjaan perbaikan dilakukan dengan cara membongkar lapisan aspal dan beton sedalam 15–20 cm. 

Sementara itu, untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, pekerja menutup lokasi perbaikan dengan terpal plastik. 

Menjelang lokasi sekira 100 meter sebelumnya, Petugas tol juga memasang rambu pengaman berupa rubber coon. 

"Setahu kami di sekitar titik ini sering dilakukan perbaikan oleh pengelola tol. Belum lama ini, di sekitar badan jembatan juga dilakukan perbaikan karena lapisan tanahnya ambles,” tutur Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Semarang Ngesti Nugraha. 

Menurut Nugroho, pihaknya mendatangi lokasi perbaikan untuk melihat dari dekat persoalan yang terjadi di jalan tol, setelah mendengar informasi dari masyarakat. Jalan tol sebaiknya 

“Jalan tol itu kan sudah didesain khusus, kualitasnya melebihi jalan reguler. Lah ini, jalan tol kok perbaikan terus. Kalau tidak karena ambles, permukaannya dibongkar karena bermacam hal hingga tebing di kanan kiri jalan yang longsor,” ujarnya.

Melihat kenyataan tersebut, Komisi C meminta pihak pengelola tol Semarang-Solo, PT Trans Marga Jateng (TMJ) nantinya lebih memperhatikan kualitas di pembangunan tol sesi III (Bawen–Salatiga) dan sesi IV (Salatiga–Boyolali). Sehingga persoalan yang kerap terjadi di sesi I dan II tidak terjadi di sesi lainnya. 

"Apalagi sekarang ini kan mendekati masa Lebaran, sehingga kami harap masalah infrastruktur ini bisa selesai sebelum arus mudik,” imbuhnya.

Penulis : Kontributor Ungaran, Syahrul Munir
Editor : Caroline Damanik

sumber :

Rabu, 03 Juni 2015

Fasum-Fasos Jalan Tol Semarang-Solo Belum Beres

Ilustrasi

UNGARAN, RAJA – Fasilitas Umum (Fasum) dan Fasilitas Sosial (Fasos) yang merupakan korban penggusuran proyek jalan tol Semarang – Solo, sesi II Ungaran – Bawen hingga saat ini belum juga ada kejelasan dari pihak terkait. Warga Kalirejo pun mengajukan class action.

Tidak hanya warga Kalirejo, kali ini Desa Kandangan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, juga akan mempertanyakan realisasi penggantian jalan desa yang berada di Dusun Geneng hingga Simpang Susun tol Kandangan, dengan panjang 500 meter dengan lebar 3 meter, kepada pihak Trans Marga Jateng (TMJ). Bukan hanya jalan yang menjadi persoalan di daerah tersebut, Fosum dan Fasos yang berada di SDN 02 dan 04 Kandangan agar juga secepatnya diselesaikan.

“Pada dasarnya warga tidak meminta gantirugi berupa uang, akan tetapi ganti jalan sepanjang 500 meter, lebar 3 meter di Dusun Geneng sampai Simpang Susun. Hingga saat ini belum terealisasi, padahal dalam forum musyawarah mereka menyanggupi mengganti jalan. Terakhir kami menanyakan masalah itu, November 2014 pada TMJ,” ucap Kepala Desa Kandangan Paryanto.

Sampai saat ini warga masih saja kesulitan untuk beraktifitas, lantaran tidak ada jalan penghubung. Mengingat di kanan dan kiri jalan tol tersebut masih ada ratusan hektar lahan milik warga. Paryanto menjelaskan, akibat tidak ada jalan tersebut, warga kerepotan saat akan mengangkut hasil panen. Misalnya ada warga yang mau muat kayu atau material apapun menggunakan mobil, maka harus dilangsir sampai pinggiran tol. Kemudian mobil atau truk masuk lewat tol Bawen untuk ambil material itu.

“Paling susah itu warga yang berada di kanan kiri jalan tol, padahal masih ada ratusan hektar di sana. Untuk beraktifitas terpaksa harus nerabas lewat pinggiran tol,” kata Paryanto.
Selain jalan desa, lanjut Prayitno, warga juga meminta agar jembatan geneng dibuat langsam. Sebab kondisi saat ini sangat curam, sehingga banyak truk angkutan berat terguling. “Kita sudah mengajukan baik secara lisan atau pun secara tertulis pada mereka, dan mereka juga

sepakat waktu di forum itu ada juga pejabat TMJ dan Pak Sekda termasuk TPT. Katanya akan direalisasikan secepatnya. Informasi terakhir mereka masih menunggu selesainya pembebasan lahan perkuatan di kanan dan kiri tol seluas 9,8 hektar terangnya.

Sementara Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengatakan, bahwa pihaknya sudah membahas masalah tersebut dan mana saja yang harus segera diselesaikan. Bahkan Ganjar berjanji bila ada laporan masuk dari warga kepadanya saat itu juga akan memerintahkan untuk segera menyelesaikan masalah fasos dan fasum tersebut.

“Kita sudah bicara mana yang belum selesai dan harus segera diselesaikan. Apalagi di sini ada petugasnya kan, diurus tidak? Mbok disuruh ngomong karo aku. Kalau sekarang ada data fasum dan fasos yang belum beres diberikan saya, besok pagi saya berikan TMJ untuk menyelesaikan persoalan ini,” pungkas Ganjar. (wis)

Sumber :

Selasa, 02 Juni 2015

Warga Kalirejo Menanti Penggantian Fasilitas Umum

ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Tuntutan agar pihak Trans Marga Jateng (TMJ) segera mengganti fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) yang tergusur proyek jalan tol ruas Ungaran- Bawen kembali mengemuka.

Setelah warga Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, tuntutan serupa disampaikan oleh perwakilan warga Desa Kandangan, Kecamatan Bawen.

Mereka mendesak pihak PT TMJ --selaku operator jalan tol Semarang- Solo ini-- untuk secepatnya mewujudkan fasilitas warga yang dulu tergusur proyek pembangunan jalan tol.

“Khususnya realisasi penggantian jalan desa Dusun Geneng sampai Simpang Susun Tol Kandangan, sepanjang 500 meter dengan lebar 3 meter,” ujar Kepala Desa Kandangan, Paryanto, di Ungaran, Selasa (2/6).

Warganya, lanjut Paryanto, juga meminta PT TMJ segera menyelesaikan fasos prngganti di SDN Kandangan 02/ 04 serta penyempurnaan jembatan Geneng agar tidak memicu terjadinya kecelakaan lalulintas.

Sebab sejak jalan tol Semarang- Solo seksi II ini dioperasional pada 4 April 2014, hingga saat ini proses penggantian fasum dan fasos yang terkena proyek belum kunjung beres.

Padahal dalam forum musyawarah kali terakhir pada November 2014, pihak PT TMJ menyanggupi bakal segera mewujudkan jalan terlebih dahulu. “Namun hingga kini juga belum jelas,” katanya.

Ia menambahkan, sampai saat ini warga Kandangan masih kesulitan untuk beraktifitas, terutama untuk menggarap lahan prtanian. Sebab tidak ada jalan penghubung dari rumah dengan lahan pertanian yang ada di sekitar jalan tol.

Terutama saat warga akan mengangkut hasil panen. Atau saat ada warga yang akan mengangkut kayu atau material menggunakan mobil, maka harus dilangsir sampai pinggiran tol.

Kemudian mobil atau truk masuk lewat tol Bawen untuk dapat mengangkut material itu. Karena itu, pihaknya juga khawatir, aktivitas seperti ini akan mengganggu keselamatan para pengguna jalan tol.

“Kami tidak akan meminta ganti uang, tapi ganti jalan sepanjang 500 meter dengan lebar 3 meter di Dusun Geneng sampai Simpang Susun sudah cukup,” tegas Paryanto.

sumber :

Senin, 12 Januari 2015

Daftar Tol yang Tarifnya Bakal Naik Tahun Ini


ilustrasi
Jakarta -Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat sedikitnya ada 19 ruas tol yang akan mengalami kenaikan tarif pada tahun ini. 

Di awal 2015 akan naik tarif tol Semarang-Solo seksi II yaitu pada April 2015. Setelah itu, akan disusul kenaikan tarif tol pada Mei 2015 yaitu Tol Makassar seksi I dan Bogor Ring Road.

Kenaikan tarif tol lainnya akan terjadi pada Oktober, November hingga Desember 2015.

Berdasarkan data Kementerian PU dan Perumahan Rakyat, tentang Pengusahaan Jalan Tol, dikutip Minggu (11/1/2015), berikut daftarnya:


1. Ruas tol Jakarta-Bogor-Ciawi di Oktober 2015

2. Ruas tol Jakarta-Tangerang di Oktober 2015

3. Ruas tol Cawang-Tomang-Grogol-Pluit di November 2015

4. Ruas tol Cawang-Tanjung Priok-Pluit di November 2015

5. Ruas tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) di Oktober 2015

6. Ruas tol JORR W2-Kebun Jeruk-Ulujami di Desember 2015

7. Ruas tol Cikampek-Padalarang di Oktober 2015

8. Ruas tol Padalarang-Cileunyi di Oktober 2015

9. Ruas tol Palimanan-Kanci di Oktober 2015

10. Ruas tol Kanci-Pejagan di Desember 2015

11. Ruas tol Semarang Seksi A, B, C di Oktober 2015

12. Ruas tol Semarang-Solo Seksi I di Desember 2015

13. Ruas tol Surabaya-Gempol di Oktober 2015

14. Ruas tol Belawan-Medan-Tanjung Morawa di Oktober 2015

15. Ruas tol Serpong-Pondok Aren di Oktober 2015

16. Ruas tol Tangerang-Merak di Oktober 2015

17. Ruas tol Ujung Pandang Tahap I dan II di Oktober 2015

18. Ruas tol Pondok Aren-Ulujami di Oktober 2015

19. Ruas tol Makassar Seksi IV di Mei 2015

20. Ruas tol Bali-Ngurah Rai-Benoa di September 2015.

Kenaikan tarif tol yang berlaku setiap dua tahun sekali telah diatur dalam UU No. 38 tahun 2004 tentang Jalan, serta Peraturan Pemerintah No. 15 tahun 2005 tentang jalan tol yang kemudian diubah dengan PP No.43 tahun 2013.

Regulasi tersebut menyebutkan evaluasi dan penyesuaian tarif tol dilakukan setiap dua tahun berdasarkan tarif lama yang disesuaikan dengan pengaruh inflasi. Besaran tarif diatur oleh Peraturan Menteri Pekerjaan Umum.

sumber :

Selasa, 15 Juli 2014

Inilah Rekayasa Arus Mudik Lebaran 2014 di Semarang

#INFOMUDIK2014
ilustrasi : exit tol bawen
UNGARAN, KOMPAS.com - Jajaran Satlantas Polres Semarang telah menyiapkan rekayasa arus lalu lintas guna mendukung kelancaran jalur mudik dan balik Lebaran 2014, di wilayah Kabupaten Semarang. 

Salah satu yang menjadi prioritas adalah pemecahan arus lalu lintas keluar jalan tol Semarang-Bawen, baik bagi penguna jalan yang akan menuju Solo maupun ke Yokyakarta. 

Kasatlantas Polres Semarang, AKP Alil Rinenggo mengatakan, pengguna jalan tol yang akan menuju ke Temanggung, Magelang atau Yogyakarta akan diarahkan keluar di exit tol Sidomulyo sehingga melintasi jalur reguler Ungaran, Babadan, Karangjati, Bawen, Tuntang dan Salatiga. 

“Untuk pengguna jalan tol yang akan mengakses arah Salatiga, Boyolali atau Surakarta diarahkan keluar di exit tol Bawen,” jelasnya, di Ungaran, Selasa (15/7/2014).

Terkait hal itu, jelasnya, Satlantas Polres Semarang bersama pihak PT Trans Marga Jateng (TMJ) selaku pengelola jalan tol Semarang- Bawen akan memasang petunjuk arah, guna memudahkan para pengguna jalan dalam mengakses exit jalan sesuai dengan arah dan tujuan mudiknya.

Ia menambahkan, untuk mengantisipasi kepadatan arus lalulintas akibat meningkatnya volume kendaraan bermotor pada arus mudik, Satlantas Polres Semarang juga akan menutup akses exit tol Bawen menuju arah Ambarawa. 

"Tetapi sudah terlanjur keluar di exit tol Bawen diarahkan untuk memutar balik di sekitar jembatan Tuntang," terangnya. 

Sebab, lanjut dia, jika memutar balik di sekitar traffic light (TL) exit tol Bawen, dikhawatirkan akan mengganggu kelancaran arus lalulintas di sekitar lokasi ini. 

“Selain menenmpatkan petugas pengatur, kami juga akan memasangbamboo cone maupun barrier di sekitar exit tol Bawen ini,” tambahnya. 

Rekayasa jalur non-tol khusus untuk antisipasi jalur utama (non tol), lanjut Alil, Satlantas Polres Semarang juga mengantisipasi sejumlah simpul yang berpotensi menimbulkan kepadatan arus lalulintas. Antara lain titik- titik aktivitas pasar tumpah, persimpangan jalan tanpa TL, pusat keramaian serta sejumlah titik penyempitan jalur. 

"Di jalur utama ini setidaknya ada sejumlah titik pasar tumpah seperti pasar Bandarjo Ungaran, Pasar Babadan, Pasar Karangjati,” tambahnya. 

Ia juga menyampaikan, seperti halnya skema Lebaran tahun- tahun sebelumnya, di jalur non tol ini manajemen pengaturan lalulintas disesuaikan dengan kondisi di lapangan. 

Pada arus mudik diprioritaskan untuk lalulintas dari arah Semarang menuju Bawen. Demikian sebaliknya, pada arus balik, jalur arah Bawen menuju Semarang diprioritaskan. “Penerapan pola 3-1 tergantung situasi lapangan,” imbuhnya.

sumber :

Rabu, 09 Juli 2014

Tol Keluar Bawen Diprediksi Jadi Simpul Kemacetan Baru

ilustrasi : exit tol bawen
REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Aparat Polres Semarang telah memetakan sejumlah simpul rawan kemacetan arus lalulintas, pada arus mudik dan balik Lebaran tahun ini. Salah satu simpul baru kemacetan arus lalulintas ini –diperkirkan-- bakal terjadi di exit (jalur keluar) Tol Bawen, Kabupaten Semarang.

“Exit Tol Bawen, bakal jadi simpul kemacetan baru di jalur utama Kabupaten Semarang,” jelas Kapolres Semarang, AKBP Augustinus B Pangaribuan, di Ungaran, Rabu (9/7).

Karena arus lalulintas di titik keluar tol dengan jalur utama akan terbagi. Masing- masing arus lalulintas yang akan menuju Solo dan arus lalulintas menuju Yogyakarta. Selain simpul- simpul langganan kemacetan arus lalulintas, seperti pertigaan Tuntang dan Pasar Bandarjo, Ungaran. Simpul kemacetan di pintu keluar tol Bawen ini akan menjadi perhatian serius jajaran Polres Semarang.

Kapolres juga menambahkan, selain rawan kemacetan arus lalulintas, jalur Ungaran- Bawen ini juga merupakan jalur rawan kecelakaan lalulintas. Karena itu, pengaturan arus lalulintas nantinya akan dilaksanakan berdasarkan skala prioritas. Baik pada arus mudik maupun arus balik.

Aparat Polres Semarang juga telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) untuk melengkapi sejumlah rambu-rambu lalulintas. “Dalam rapat sudah kita ingatkan pada Dishubkominfo untuk menambah rambu dan marka kejut di Jambu peringatan rawan kecelakaan,” tambahnya.

Untuk mengamankan arus mudik dan arus balik Lebaran ini, tambah Augustinus, Polres Semarang akan mengerahkan 712 personil. “Sisa personil lainnya disiapkan untuk pengamanan mudik Lebaran di kantor sekaligus siaga jika dibutuhkan sewaktu-waktu,” tegasnya.

Kepala Dishubkominfo Kabupaten Semarang, Prayitno Sudaryatno mengatakan, pihaknya telah me melakukan perbaikan sejumlah traffic light (TL). Selain itu juga telah melakukan pembuatan marka jalan dan sejumlah rambu-rambu lalulintas yang sempat hilang dan rusak karena proyek peningkatan jalan Banyumanik-Bawen.

Selain perbaikan TL dan rambu-rambu, Dishubkominfo juga sudah melakukan pengecekan kondisi jalur alternatif untuk arus mudik dan arus balik. “Termasuk berkoordinasi dengan pihak Dinas Pekerjaan Umum untuk melakukan pembenahan jalur alternatif ini,” tambahnya.// n bowo pribadi

sumber :

Senin, 02 Juni 2014

Tuntut Pembangunan Lapangan, Warga Kalirejo Ancam Gelar Demo

ilustrasi
UNGARAN, suaramerdeka.com - Seluruh warga di Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Ungaran Timur menuntut realisasi pembangunan lapangan olah raga yang tergusur karena pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo. Mereka menunggu janji pihak pengelola jalan tol sejak 2008, mengingat pascatergusurnya fasilitas umum tersebut kini masyarakat tidak memiliki tempat terutama untuk olah raga.

Dikatakan Ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat (LKMK) Kelurahan Kalirejo, Bambang Muntaha, akibat tidak adanya lapangan yang representatif klub sepak bola kebanggaan warga Kalirejo, yakni Sport Cemara Club (SCC) akhirnya kesulitan untuk berkembang. "Lebih kurang sudah enam tahun masyarakat Kalirejo kesulitan beraktivitas, begitu pula SCC yang tidak bisa lagi latihan," katanya, Minggu (1/6). 

Warga menurut dia, telah mengirimkan surat ke Tim Pengadaan Tanah (TPT) Jateng termasuk kepada Panitia Pengadaan Tanah (P2T) Kabupaten Semarang, hanya saja belum ada perkembangan yang signifikan. Pihaknya khawatir, jika janji pembangunan lapangan tidak kunjung ditepati ke depan warga akan menggelar aksi unjuk rasa.

"Kalau berlarut tidak segera dibangun kami khawatir akan terjadi unjuk rasa. Mengingat saya sempat mendengar kabar tersebut terlontar dari beberapa warga," tuturnya.

Terpisah, Ketua P2T Kabupaten Semarang, Budi Kristiono menyebutkan, hingga sekarang memang masih ada sejumlah fasilitas umum dan fasilitas sosial yang tergusur proyek jalan tol kondisinya belum selesai dibangun. Itu dikarenakan, salah satunya faktor perlunya penghitungan dari tim apresial.

"Penghitungan dari tim apresial masih berlangsung. Kami berharap masyarakat bisa bersabar menahan diri mengingat saat ini masih dalam proses," tandasnya.

sumber :

Kamis, 08 Mei 2014

Dua Ruas Tol Bertemu di Kartasura Junction

foto : loket pelayanan informasi peta departemen pekerjaan umum 
SOLO- Pembangunan dua ruas jalan tol yang saat ini tengah dikerjakan pemerintah, dipercaya bakal menjadi salah satu solusi arus lalu-lintas di Pulau Jawa.

Dua ruas jalan tol itu adalah Tol Solo-Kertosono (Soker) dan Tol Semarang-Solo. Dua ruas tol itu bakal bertemu di Desa Ngasem, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar.

“Meski pun secara administrasi berada di wilayah Kabupaten Karanganyar, tetapi namanya memang Kartasura Junction,” terang Asisten Pelaksana pada Satuan Kerja (Satker) Pelaksanaan Jalan Bebas Hambatan Solo-Kertosono, Azis Purnomo, ketika ditemui kemarin. Azis mengatakan, di Kartasura Junction itu akses utamanya berada di dekat ruas jalan raya Solo-Semarang, di perbatasan tiga kabupaten. Yakni Karanganyar, Boyolali dan Sukoharjo.

Nantinya, pengguna kendaraan bisa keluar dan masuk ke kedua ruas tol itu, baik yang akan melanjutkan perjalanan ke arah Semarang atau pun ke arah Jawa Timur.

Namun, lanjut pria asal Yogyakarta itu, saat ini jalan akses menuju Kartasura Junction belum bisa dibangun, karena masih ada satu bidang tanah yang belum bisa dibebaskan, karena pemilik tanah belum bersedia melepaskan tanahnya.

“Itu kenapa jalan aksesnya belum bisa dibangun, karena memang tanah yang bakal dipakai untuk jalan akses belum bisa dibebaskan semua,” tandasnya. P

NS di Kementerian Pekerjaan Umum yang selama seperempat abad pernah ber­tugas di Papua itu mengemukakan, keberadaan Tol Semarang-Solo dan Tol Soker me­mang bakal menjadikan arus lalu-lintas menjadi lebih baik dan mengurangi kepadatan arus lalu-lintas di dalam kota.

Sebab, para pengguna kendaraan roda empat yang hendak ke Semarang atau Jawa Timur, lebih memilih menggunakan jalan tol yang bebas hambatan, yang pastinya bakal lebih cepat sehingga menghemat waktu perjalanan.

Bebas Hambatan

“Contohnya saja ruas Tol Semarang-Solo yang sudah dibuka sampai Bawen, terbukti jarak tempuhnya lebih singkat, karena bebas hambatan,” tandasnya. Saat ini, kedua ruas tol yang menjadi bagian dari tol Trans Jawa itu tengah dalam pembangunan, dan diharapkan bisa selesai pada 2017 mendatang.

Untuk ruas Tol Soker yang meng­hubungkan Jawa Tengah dengan Jawa Timur ada yang dibangun pihak pemerintah beserta konsorsium dan ada yang yang dikerjakan swasta, untuk pemerintah, total pekerjaan fisik 22,63 km mulai dari Kecamatan Ngemplak, Boyolali hingga Desa Kemiri, Kecamatan Kebak­kramat, Karanganyar, serta ruas Saradan-Kertosono sepanjang 40 km.

Sementara pihak swasta mengerjakan ruas Karang­anyar-Saradan sepanjang 120 km.

Sementara untuk ruas Tol Semarang-Solo terdiri atas Seksi 1 Tembalang-Ungaran sepanjang 16,3 km dan Seksi 2 Ungaran-Bawen (11,3 km) yang telah beroperasi, serta Seksi 3 Bawen-Salatiga (18,2 km) yang dalam persiapan konstruksi, serta Seksi 4 Salatiga-Boyolali (22,4 km) dan Seksi 5 Boyolali-Karanganyar (11,1 km) yang masih dalam upaya pembebasan lahan. (H53-50,48)

sumber :