javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Rabu, 13 April 2016

Tiga Hari Lagi, Tarif Tol Semarang – Bawen Naik


(suaramerdeka.com / Bambang Isti)

SEMARANG, suaramerdeka.com - PT Trans Marga Jateng (TMJ) memastikan terjadi penyesuaian tarif jalan tol Semarang – Ungaran – Bawen, per Sabtu (16/4) mulai pukul 00.00 WIB.

Kenaikan tarif itu menurut Manager Teknik dan Operasi TMJ, Arie Irianto, sebagai konsekuensi dampak inflasi yang terjadi per dua tahun. “Bukan itu saja, karena memang sudah dijadwalkan penyesuaian tarif itu terjadi setiap dua tahun sekali,” kata Arie Irianto, Rabu (13/4).

Penyesuaian tarif untuk kendaraan Golongan I naik Rp 500, dan untuk Golongan II, III, IV an V kenaikan dalam varian antara Rp 1.000 – Rp 1.500. Sejauh ini pihak PT TMJ sudah melakukan sosialisasi terutama melalui selebaran untuk pengguna tol.

“Dalam persentase kisarannya akan naik sekitar 10 persen. Jadi misalnya tarif semula Rp 7.000, maka akan menjadi Rp 7.700, tentu ini akan ada pembulatan menjadi Rp 7.500. Begitu untuk golongan lain akan menyesuaikan,” kata Arie Irianto.

Kenaikan tarif tol itu mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) No 5 tahun 2015 tentang Jalan Tol. “Bahwa kami telah dinilai oleh Badan Pemeriksa Jalan Tol (BPJT) dalam evaluasi per semester dan kami lolos telah memenuhi standar palayanan minimum (SPM). Kenaikan tentu akan dibarengi dengan pelayanan pengguna tol,” kata Arie Irianto.

sumber :

Harus Rampung Sebelum Lebaran, Proyek Tol Semarang-Salatiga Dikebut


Ilustrasi Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -Pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo, khusus seksi III sepanjang 18,2 kilo meter dari Bawen-Salatiga ditargetkan rampung H-7 Lebaran 2016. Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk (JSMR) Adityawarman mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan sejumlah upaya percepatan agar target tersebut bisa dicapai.

"Semarang itu karakternya agak unik karena berbukit-bukit sehingga banyak pekerjaan tanah yang luar biasa. Kemudian ada batu-batu yang besar-besar, sebesar rumah. Jadi pekerjaan land clearing itu ekstra sekali," kata dia ditemui di sela HUT Kementerian BUMN di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (13/4/2016).

Bila ruas ini selesai, kata Adit, maka akan melengkapi 2 seksi Jalan Tol Semarang-Solo yang sudah beroperasi sebelumnya yakni Seksi I sepanjang 16,3 km dari Tembalang-Ungaran dan seksi II sepanjang 11,3 km dari Ungaran-Bawen di bawah pengelolaan PT Transmarga Jateng yang 60% sahamnya dikuasai Jasa Marga.

Artinya, bila jalan ini rampung, maka pengguna jalan tol bisa menerus menggunakan tol masuk di Semarang dan keluar di Salatiga.

Sekedar catatan, proses pembebasan lahan Jalan Tol ini masih terkendala di beberapa titik. Salah satunya pembebasan tanah di Desa Delik, Kecamatan Tuntang yang warganya meminta penggantian tanah dan fasilitas jalan lingkungan.

"Memang ada beberapa bidang tanah yang belum bebas, kita usahakan kalau bisa sebelum akhir April sudah selesai. Sehingga bisa mengerjakan Bawen sampai Salatiga," sambung dia.

Bila melihat data teknis yang dimiliki BPJT, total progres fisik Jalan Tol ini termasuk yang sudah beroperasi telah mencapai 31,43%. Sembari melakukan pekerjaan konstruksi, saat ini tengah dilakukan upaya untuk menuntaskan proses pembebasan lahan.

Diharapkan ada dukungan dari Pemerintah daerah untuk mempercepat proses pembebasan lahan tersebut. Mengingat, jalan tol ini ditarget selesai sebelum tahun 2019.

Pemerintah sendiri memperkirakan dibutuhkan dan sekitar Rp 927 miliar untuk proses pembebasan lahan dan biaya konstruksi sekitar Rp 3,11 triliun. Total kebutuhan investasi jalan tol ini ditaksir mencapai Rp 7,3 triliun.
(dna/ang)

sumber :

Tol Batang-Semarang Punya Investor Baru, Pembangunan Dikebut


Ilustrasi Foto: Tya Eka Yulianti
Jakarta -Pemerintah lewat Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) telah menunjuk investor baru hasil lelang investasi untuk pembangunan Jalan Tol Batang-Semarang 75 kilo meter (km). Pemenangnya adalah konsorsium dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT).

"Sudah ada pengumuman dari pemerintah bahwa yang kerjakan kita (Jasa Marga) dengan Waskita. Kita sedang bentuk anak usaha patungan, akhir April selesai, Mei masuk ke lapangan," ujar Direktur Utama Jasa Marga, Adityawarman, ditemui di sela acara HUT Kementerian BUMN ke 18 di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (13/4/2016).

Kegiatan konstruksi sendiri kata dia, akan dimulai dengan pembebasan lahan yang saat ini tercatat baru sekitar 20% dari total kebutuhan lahan. Kebutuhan biaya pembebasan lahan total mencapai Rp 554 miliar.

"Jadi pertama lahan dulu kita kejar. Ini masih sisa 8 bulan lagi sampai Desember. Ini kita kejar betul supaya awal tahun 2017 sudah masuk konstruksi. Kalau lahan sudah, konstruksi cepat. Paling 1,5 tahun selesai," tuturnya.

Pembangunnannya sendiri kata Adit, akan diserahkan kepaka rekanannya yakni PT Waskita Karya. 

"Dalam kontrak kan memang kontraktor sudah harus ditetapkan sejak awal. Kebetulan partner kita Waskita Karya itu kontraktor juga. Jadi nanti dia yang kerjakan," ungkap Adit.

Di tempat yang sama, Direktur Utama Waskita Karya M Choliq mengatakan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan persiapan kegiatan konstruksi.

Terkait pembebasan lahan, pihaknya berencana menalangi dulu biaya pembebasan lahan dari dana internal perusahaan. 

"Dari keputusan Rapat Kabinet kan dana pembebasan lahan yang habis akan ditambah pakai BLU di Kementerian Keuangan, tapi prosesnya lama bisa bulan Mei. Sementara kita tanah harus cepat. Jadi tanah akan kita talangi dulu, nanti baru BLU cari, dana kita yang keluar diganti pakai BLU itu," kata Choliq.

Pemerintah memang mencari investor baru untuk membangun Jalan Tol Batang-Semarang yang telah lama mangkrak. Investor yang sebelumnya memegang saham PT Marga Setia Puritama sebagai Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) alias pengelola jalan tol ini tak kunjung melaksanakan proses pembangunan dan tak melakukan kewajibannya membayar perpajangan jaminan pelaksanaan kerj selaku pemegang konsesi proyek tersebut.

Seperti diketahui, untuk membangun Jalan tol Batang-Semarang, diperlukan dana investasi sebesar Rp 7,23 triliun. Sementara biaya pembebasan tanah sebesar Rp 554 triliun dan Rp 4,21 triliun untuk keperluan konstruksi.

Saat ini Pemerintah tengah melanjutkan proses pembebasan tanah yang saat ini perkembangannya sudah mencapai 20,17%.
(dna/ang)

sumber :

Tol Semarang-Salatiga Ditarget Rampung H-7 Lebaran 2016


Foto: Ilustrasi (Agung Pambudhy-detikcom)

Jakarta -Tak mau ketinggalan dengan pembangunan ruas jalan tol Trans Jawa lainnya, pembangunan jalan tol Semarang-Solo sepanjang 72,64 kilometer (km) juga terus dikebut.

Dua dari lima seksi yang ada yakni Seksi I sepanjang 16,3 km dari Tembalang-Ungaran dan seksi II sepanjang 11,3 km dari Ungaran-Bawan telah beroperasi, di bawah pengelolaan PT Transmarga Jateng yang 60% sahamnya dikuasai PT Jasa Marga Tbk (JSMR).

Saat ini, pembangunan konstruksi tengah difokuskan pada seksi III sepanjang 18,2 km dari Bawen-Salatiga. 

"Targetnya sampai Salatiga, H-7 lebaran 2016 ini sudah bisa dilewati," ujar Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Herry Trisaputra Zuna, kepadadetikFinance, Rabu (13/4/2016).

Bila melihat dari teknis yang dimiliki BPJT, total progres fisik jalan tol ini termasuk yang sudah beroperasi telah mencapai 31,43%. Sembari melakukan pekerjaan konstruksi, saat ini tengah dilakukan upaya untuk menuntaskan proses pembebasan lahan.

Sekadar catatan, proses pembebasan lahan jalan tol ini masih terkendala di beberapa titik. Salah satunya pembebasan tanah di Desa Delik, Kecamatan Tuntang, yang warganya meminta penggantian tanah dan fasilitas jalan lingkungan.

Diharapkan ada dukungan dari pemerintah daerah untuk mempercepat proses pembebasan lahan tersebut. Mengingat, jalan tol ini ditarget selesai sebelum tahun 2019.

Pemerintah sendiri memperkirakan dibutuhkan dana sekitar Rp 927 miliar untuk proses pembebasan lahan dan biaya konstruksi sekitar Rp 3,11 triliun. Total kebutuhan investasi jalan tol ini ditaksir mencapai Rp 7,3 triliun.
(dna/drk)

sumber :

Selasa, 12 April 2016

Proses Pembebasan, Tol Solo Kesandung Masalah Lahan



Ilustrasi (Foto: Dok)

BOYOLALI (KRjogja.com) – Tanah kas desa di Desa Denggungan, Kecamatan Banyudono, yang menjadi salah satu hambatan pembangunan titik pertemuan ruas Tol Solo – Semarang dan Solo – Kertosono saat ini masih dalam proses pembebasan dan akan segera selesai. Khusus untuk lahan kas atau aset desa, pembebasan lahan tidak dengan ganti rugi, melainkan dengan mencari lahan pengganti.

Kades Denggungan, Junaedi, Selasa (12/04/2016) menjelaskan, pihaknya sudah mengajukan surat pembebasan lahan ke Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) lahan untuk mendapat persetujuan agar proses pembebasan lahan bisa segera diselesaikan. Tanah aset desa di Denggungan yang terkena imbas proyek tol sendiri mencapai seluas 14.531 m2, terdiri dari tanah makam seluas 2.925 m2, sisa lungguh 3.688 m2, lungguh sekdes 2304 m2, dan tanah lungguh kades 424 m2 serta tanah kas desa seluas 3.700 m2.

Pihak desa, lanjutnya, sudah menemukan lahan pengganti dengan luasan yang sama dengan lahan kas dan aset desa yang terimbas proyek tol yang diproyeksikan akan menjadi lokasi pemindahan lahan kas dan aset desa. Khusus untuk lahan makam akan diganti dengan lahan yang bersebelahan dengan makam lama. Namun untuk pelepasan lahan mesti menunggu persetujuan gubernur melalui bupati.

“Setelah ada persetujuan baru nanti dilanjutkan dengan pelepasan tanah serta pencarian tanah pengganti,” imbuhnya. (M-9)

sumber :

Tol Diragukan Selesai sebelum Lebaran

Masih Butuh Waktu Enam Bulan

ilustrasi foto (foto : pojok soklin)

SRAGEN- Tol Solo-Kertosono ruas Colomadu-Sidoharjo, kemungkinan belum bisa dijadikan jalur alternatif sementara untuk arus mudik Lebaran mendatang. Dibutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk bisa menyambung ruas jalan yang saat ini tengah dibangun.

Padahal, waktu efektif yang tersisa sebelum Lebaran hanya sekitar satu bulan. Pekerjaan membutuhkan alat berat, yang mobilisasinya tidak bisa cepat karena harus diangkut, tidak bisa berjalan sendiri.

Kepala Satuan Kerja (Satker) Pelaksanaan Jalan Bebas Hambatan Solo-Kertosono (Soker), Aidil Fikri mengatakan, ruas tol Soker untuk jalur alternatif sementara arus mudik Lebaran adalah target Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Karena ada kendala, target untuk fisik jalan akan disesuaikan.

sumber foto : skyscrapercity
”Kalau beton tidak bisa tercapai, bisa dalam bentuk kerikil, atau kalau tetap tidak keburu, bisa dalam bentuk tanah dipadatkan. Tergantung waktu, karena sekarang kami belum bisa bekerja. Ada banyak masalah, seperti pembebasan lahan yang belum beres,” kata Aidil.

Rencananya, tol Soker yang bakal dioperasionalkan sepanjang sekitar 35 km, melintang dari Colomadu, Karanganyar, hingga Sidoharjo, Sragen. Karena kondisi, yang boleh melintasi jalan bebas hambatan penghubung Jawa Tengah dan Jawa Timur itu hanya kendaraan ringan. Aidil mengungkapkan, bila sudah dibeton, tol Soker bisa dioperasionalkan.

”Masalah lain adalah masih ada ruas yang belum menyambung, karena lahan belum dibebaskan karena belum ada dana,” tandasnya.

Jalur sepanjang 35 km ruas Colomadu- Sidoharjo itu melintasi Karanganyar, Boyolali, Solo, dan Sragen. Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sragen, Hutomo Ramelan, mengatakan, bila tol Soker dioperasionalkan sebagai jalur alternatif sementara saat arus mudik Lebaran, pasti sangat mengurangi kepadatan lalu lintas. ”Kalau tol Soker jadi jalur alternatif sementara, kemungkinan Sragen tidak macet,” kata Hutomo. (H53-43)

sumber :

Senin, 11 April 2016

TOL SOLO-KERTOSONO : Ini Kendala Penyelesaian Kartasura Junction


Tol Solo-Kertosono, ada tiga bidang tanah yang belum dibebaskan.
Seorang pekerja sedang beraktivitas di proyek Kartasura 
Junction yang merupakan pertemuan dua ruas tol yaitu 
Semarang-Solo dan Solo-Kertosono (Soker), Senin (11/4/2016). 
Proyek tersebut terkendala tiga bidang lahan yang belum bebas. 
(Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos)

Solopos.com, BOYOLALI–Pembangunan Kartasura Junction (Jc) yang merupakan pertemuan dua ruas tol yaitu Semarang-Solo dan Solo-Kertosono (Soker) terkendala pembebasan lahan.

Dari informasi yang dihimpun Solopos.com, masih ada tiga bidang tanah yang hingga saat ini belum bebas. Ketiga bidang tanah itu merupakan tanah kas Desa Bangak dan Desa Denggungan, Kecamatan Banyudono, Boyolali.

Manager Teknis Pelaksana Pembangunan dari Kerjasama Operasi (KSO), Daniel Resdianto, mengatakan jika tiga tanah itu tak segera dibebaskan pelaksana proyek jalan tol harus berpikir ulang mengenai desain Kartasura Junction tersebut.

Pelaksana proyek harus melewati lahan yang belum bebas itu untuk tetap melaksanakan pengerjaan proyek Kartasura Junction. Menurut Daniel, dalam proyek nasional itu semestinya semua lahan yang akan dipakai harus sudah bebas.

“Kebutuhan lahan harus sesuai dengan DED gambar yang ditentukan oleh kementerian,” kata Daniel, kepada Solopos.com, Senin (11/4/2016).

Belum bebasnya tiga lahan itu, mengakibatkan beberapa infrastruktur saluran irigasi sawah rusak. Seperti diketahui, proyek jalan tol tidak hanya masalah pembangunan fisik jalan tol tetapi harus memperhatikan infrastruktur yang lain.

Untuk itu, Daniel meminta pejabat pembuat komitmen (PPK) segera menyelesaikan pembebasan lahan agar pelaksanaan proyek nasional ini berjalan dengan lancar.

Anggota staf PPK pengadaan tanah Jalan Tol Ruas Solo-Mantingan I, Omaruzzaman, membenarkan adanya tiga bidang lahan di Denggungan dan Bangak yang belum bisa dibebaskan hingga saat ini. Menurut dia, pembebasan tiga lahan milik kas desa itu terkendala belum adanya tanah pengganti.

“Informasi terakhir, saat ini Pemerintah Desa Denggungan sudah mencari tanah pengganti,” kata Omaruzzaman.

Terkait tanah kas desa yang terkena jalan tol, PPK tidak perlu memberikan uang ganti rugi kepada pemerintah desa terkait. “Hanya memberikan rekomendasari dari bupati atau gurbernur untuk mengganti tanah kas desa yang terkena tol,” kata dia.

sumber :

Jumat, 08 April 2016

TOL SEMARANG-BOYOLALI : Proyek Tol di Ngargosari Membuat Jalan Kampung Buntu


Ilustrasi tol proyek pembangunan tol Solo-Kertosono 
(Oriza Vilosa/JIBI/Solopos)

Tol Semarang-Boyolali, proyek tol di Ngargosari, Ampel membuat masalah baru.

Solopos.com, BOYOLALI–Pembangunan jalan tol Semarang-Solo ruas Salatiga-Boyolali tepatnya di Desa Ngargosari, Kecamatan Ampel, kembali memunculkan masalah baru.

Warga merasa proyek tol telah mengganggu aktivitas masyarakat karena akan ada beberapa jalan kampung yang menjadi buntu karena terhalang jalan tol. Belum lama ini, warga Dukuh Ngasemrejo, Desa Ngargosari, yang mengatasnamakan Paguyuban Warga Terdampak Pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo menggelar pertemuan. Dalam pertemuan tersebut warga menyampaikan beberapa permasalahan serta tuntutan kepada pelaksana proyek.

Menurut Ketua Paguyuban Warga Terdampak Pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo, Pama, menyampaikan sedikitnya ada tiga jalan kampung di dua RT yakni RT 002 dan RT 003/RW VIII yang bakalan buntu. Lingkungan RT 003 terbelah menjadi dua oleh jalan tol dan saat ini belum ada kejelasan dari pemerintah untuk jalan penghubungnya.

Terkait hal itu, warga Dukuh Ngasemrejo meminta beberapa kompensasi antara lain pembangunan jalan lingkar tol untuk mengaktifkan jalan-jalan kampung yang buntu. Warga juga meminta pembangunan jalan penghubung antara Dukuh Ngasemrejo yang terbelah akibat proyek tol. Pembangunan jalan menuju makam dan sarana milik warga seperti sumur umum, pos kamling apabila terjadi kerusakan akibat pembangunan ini untuk bisa diperbaiki sesuai fungsi dan bentuknya semula.

“Kalau tidak dibuat jalan lingkar atau jalan penghubung, warga Ngasemrejo yang akan ke kota atau jalan besar akan kesulitan. Bahkan kalau mau ke makam, harus memutar lewat Dukuh Jambean, jaraknya jauh sekali.”

Warga sudah menyurati Dinas Pekerjaan Umum dan ESDM Boyolali terkait pembangunan jalan penghubung tersebut tetapi dari DPU dan ESDM menyatakan itu bukan kewenangannya. “Kemudian kami layangkan surat ke Satker Jalan Tol tetapi sampai saat ini belum ada tanggapan.”

Selain itu, warga yang rumahnya berada pada radius 50 meter dari batas jalan tol juga meminta penggunaan alat berat di lingkungan kampung maksimal pukul 17.00 WIB. “Pengendalian debu mohon mendapat perhatian serius. Kemudian, jika dalam pengerjaan jalan tol mengakibatkan kerusakan bangunan milik warga harapannya bisa diperbaiki sesuai bentuk dan fungsinya semula,” kata dia.

Kepala Desa Ngargosari, Pomo, membenarkan warga Ngasemrejo telah menyampaikan beberapa tuntutan terkait dampak pembangunan jalan tol. “Ya, beberapa hari lalu ada pertemuan warga, mereka membahas masalah tuntutan dan kompensasi. Proposal terkait pembangunan jalan lingkar, jalan penghubung, hingga jalan ke makam sebenarnya sudah kami sampaikan dan tim sudah cek ke lokasi terkait aset-aset desa yang terdampak proyek tol,” kata Pomo.

Warga menyampaikan tuntutan itu kepada pelaksana proyek tol PT Wijaya Karya (Wika). Namun semestinya, kata Pomo, alangkah baiknya jika tuntutan itu disampaikan kepada pejabat pembuat komitmen (PPK) atau kepada Bupati Boyolali. “Memang ini sudah waktunya percepatan untuk pembangunan jalan tol sehingga proyek jalan tol tetap berjalan meskipun hingga saat ini banyak tuntutan warga yang belum dipenuhi,” kata Pomo.

sumber :

Minggu, 03 April 2016

Jalan Tol Bawen-Salatiga Bisa Dilalui Pemudik

ilustrasi : pengecoran rigid pavement tol semarang solo paket 3.3A
(foto : Pojok Soklin)
TRIBUNJOGJA.COM, SEMARANG – Pembangunan fisik jalan tol Semarang-Solo seksi III untuk ruas Bawen-Salatiga masih 30 persen.

Namun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan, pada Lebaran 2016 nanti, jalan tersebut sudah dapat dilalui sebagai jalan alternatif mudik.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sri Puryono, Minggu (3/4/2016) mengatakan, untuk ruas Bawen-Salatiga dipastikan sudah bisa dilewati, namun pelaksana proyek diminta bekeja keras agar cepat selesai.

Seksi III ini dibagi menjadi tiga paket, yakni paket I untuk ruas Bawen-Polosiri sepanjang 3,49 kilometer. Paket II untuk ruas Polosiri-Sidorejo sepanjang 6,8 kilometer. Sedangkan untuk paket tiga Sidorejo-Tengaran sepanjang 7,309 kilometer.

Di ruas tersebut masih terdapat kendala pembebasan lahan, namun kata Puryono, jumlahnya tidak banyak.

Tanah tersebut berupa tanah wakaf, tanah milik PLN dan PJKA. Ia memperkirakan Mei 2016 mendatang sudah selesai.

Adapun untuk Seksi tol Solo-Mantingan baru mencapai 26 persen. Persoalannya pembebasan lahan yang berstatus tanah kas desa harus memperoleh persetujuan Mendagri. Sembari proses ke Mendagri berproses, terdapat solusi lain yaitu pemberian kompensasi.

“Desa diberi kompensasi, misalnya lahan mereka dihitung seperti lahan pertanian. Misalnya ditanami, per hektare dalam sekali panen dapat berapa, maka itu yang harus dibayarkan ke desa,” ujarnya.

Sedangkan untuk ruas lain, lanjutnya, juga sedang proses pengerjaan fisik. Ruas Pejagan-Brebes proses pembangunanya sudah mencapai 89 persen, ruas Brebes-Tegal Barat mencapai 94,8 persen.

“Tapi untuk ruas Batang-Semarang pembangunan fisiknya masih nol persen, karena masih dalam tahap pembebasan lahan,” katanya. (tribunjogja.com)

sumber :

Proyek Tol Soker Masih Terkendala Pembebasan Lahan


Foto: suaramerdeka.com/Arie Widiarto
SRAGEN, suaramerdeka.com - Berdasar data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera), ruas tol Solo-Kertosono (Soker) adalah salah satu dari 9 ruas jalan tol bagian dari Trans Jawa yang mendapatkan prioritas utama.

Kesembilan ruas itu merupakan jalan bebas hambatan yang terbentang dari Jawa Barat hingga ke Jawa Timur. Ruas tol itu diharapkan sudah selesai dan beroperasi penuh paling lambat 2018 mendatang. Kesembilan ruas tol itu adalah tol Cikampek-Palimanan, tol Pejagan-Pemalang, tol Pemalang-Batang, tol Batang-Semarang, tol Semarang-Solo, tol Solo-Ngawi, tol Ngawi-Kertosono, tol Mojokerto-Jombang-Kertosono dan tol Surabaya-Mojokerto.

Kesembilan ruas tol itu memiliki panjang total 615 km. Untuk tol Soker yang bakal menjadi penghubung utama Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki panjang total 181 km, termasuk beberapa jalan akses, seperti akses menuju Bandara Adisoemarmo Solo.

Asisten Pelaksana pada Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Bebas Hambatan Solo-Kertosono, Azis Purnomo mengatakan, setidaknya masih dibutuhkan Rp 1,2 triliun untuk tol Soker. “Pekerjaan yang masih terus dilakukan adalah pembangunan main road atau jalan utama, overpass dan underpass, baik yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ” kata Azis ketika ditemui.

Menurut Azis, salah satu yang masih menjadi masalah dalam pembangunan adalah masih adanya tanah-tanah yang belum bisa dibebaskan. Hal
ini tidak hanya terjadi untuk ruas tol Soker di Jawa Tengah saja, juga terjadi yang ada di wilayah Jawa Timur.

Saat ini salah satu ruas yang terus dikebut adalah ruas Colomadu hingga Kebakkramat, Karanganyar, yang menyelesaikan spot-spot yang belum selesai. Diharapkan ruas Colomadu-Karanganyar ini bisa dilewati dan difungsikan akhir tahun ini. Namun ini semua juga tergantung pada pembebasan lahan.

“Kalau semua lahan sudah bebas, mungkin jalan utama ruas Colomadu-Karanganyar ada yang sudah bisa dilewati, bahkan tidak menutup kemungkinan saat arus mudik Lebaran bisa untuk pengalihan arus sementara,” tandas Azis.

Sementara itu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Tanah Jalan Tol Solo-Mantingan II Sihono didampingi Kepala Tata Usaha Joko Siyono mengatakan, untuk pembebasan lahan di Sragen yang belum tuntas adalah tanah kas desa (TKD). Untuk pembebasan TKD memang membutuhkan persetujuan Gubernur Jawa Tengah.

“Untuk pembebasan tanah proyek tol Soker di Sragen memang cuma tinggal masalah TKD dan sebagian lokasi penggantinya sudah dapat,” kata Joko.

sumber :