javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Rabu, 14 September 2016

Warga di Boyolali Tuntut Kejelasan Sewa Lahan Poyek Tol


BENTANGKAN SPANDUK: Belasan warga Desa Sawahan, 
Kecamatan Ngempak, menggelar unjuk rasa 
di lahan proyek tol kemarin.
TRI WIDODO/RADAR BOYOLALI

BOYOLALI – Belasan warga Desa Sawahan, Kecamatan Ngemplak, menggelar aksi di proyek tol kemarin (13/9). Mereka menuntut kejelasan sewa-menyewa lahan oleh pelaksana proyek tol, seksi interchange (IC) Solo. Hal ini mengingat tanah warga yang diuruk sejak Agustus lalu hingga kini belum dibayar dan tak ada kejelasan.

Aksi yang dilakukan itu dengan memasang patok-patok dari bambu dan spanduk di sepanjang IC Solo di wilayah Desa Sawahan. Spanduk-spanduk kuning itu bertuliskan ”Tanah Ini Belum Dibayar”. ”Semua pekerjaan konstruksi mohon dihentikan sementara sampai pembayaran tanah selesai”.

Koordinator Aksi Anom Suratno mengatakan, sejak beberapa bulan lalu belum ada pembicaraan dari pelaksana proyek. Hal itu membikin warga resah jika tiba-tiba pelaksana proyek pergi begitu saja. ”Sampai hari ini (kemarin, Red) belum ada pembicaraan dengan kontraktor ihwal berapa harga tanah kami yang dipinjam untuk proyek jalan tol,” bebernya.

Pemilik lahan seluas 2.500 meter persegi ini menunjukkan surat dari pelaksana proyek jalan tol Soker Ruas Interchange Solo tertanggal 11 Agustus 2016. Surat itu berisikan permohonan peminjaman lahan untuk proses pekerjaan proyek tol. Di akhir paragraph, surat itu tertulis ”Tetapi saat ini lahan belum bebas, masih dalam proses di Pejabat Pembuat Komitmen (PPK Lahan)”.

”Istilah peminjaman lahan itu membingungkan kami. Meminjam itu ada batas waktu dan wujud lahannya masih utuh. Padahal sepekan setelah muncul surat itu, lahan kami langsung diuruk tanah setebal empat meter,” kata Anom.

Humas Pelaksana Proyek Tol Soker Seksi IC Solo Sali Setiawan mengapresiasi aksi belasan warga Desa Sawahan yang berlangsung tertib. ”Warga melakukan aksi ini agar pembebasan lahan mereka segera direspons pihak-pihak terkait,” terangnya.

Masih ada sekitar 30 lahan (hak sertifikat) di wilayah Desa Sawahan yang belum dibebaskan untuk pekerjaan seksi IC Solo. Luas lahan sekitar 10 ribu meter persegi. Pekerjaan sudah dilaksanakan karena keikhlasan warga yang meminjamkan lahan. ”Ini berkat niat baik warga. Mereka sudah paham kalau lahannya pasti bakal dibebaskan karena ini proyek nasional. Wajar kalau mereka meminta agar segera diselesaikan,” kata Sali.

Seperti diketahui, jalan tol soker ruas IC Solo-Pungkruk, Sragen akan dioperasikan mulai awal 2017. Pengoperasian jalan tol akan dilakukan PT Solo-Ngawi Jaya (SNJ). Untuk itu, pelaksana proyek tengah mengebut pembangunan jalan yang belum rampung, termasuk proyek tambahan. Seperti perbaikan saluran irigasi sawah dan akses jalan warga sekitar jalan tol. (wid/un)

sumber :

76 Bidang Tanah Dikonsinyasi

ilustrasi
BOYOLALI – Upaya pembebasan tanah untuk proyek tol Semarang- Solo terus berlanjut. Panitia Pembebasan Tanah (P2T) segera menyelesaikan pembebasan tanah di ruas Salatiga-Boyolali dengan cara konsinyasi.

”Kali ini giliran 76 bidang juga akan diselesaikan di Pengadilan Negeri Boyolali,” tandas Ketua Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Lahan Tol Semarang-Solo, Waligi, Selasa (13/9).

Dijelaskan, melalui konsinyasi, maka pembayaran nilai ganti rugi kepada pemilik tanah yang terkena proyek jalan tol akan dititipkan ke Pengadilan Negeri. Total dana yang dititipkan lewat Pengadilan Negeri mencapai Rp 29,219 miliar. Ke-76 bidang tanah itu tersebar di tujuh desa yang ada di wilayah Boyolali. Yaitu, Desa Bangak, Kecamatan Banyudono; Desa Gumukrejo dan Mojolegi, Kecamatan Teras; Desa Ngampon dan Ngargosari, Kecamatan Ampel, serta Desa Kiringan dan Karanggeneng, Kecamatan Boyolali Kota. Jika konsinyasi terhadap 76 bidang tanah ini tuntas, maka pembebasan lahan untuk proyek tol Semarang-Solo sudah selesai 100 persen. Sebelumnya, pihaknya bersama BPN sudah menyelesaikan validasi data, pekan lalu.

Sudah Tuntas

”Kami siap mengajukan permohonan konsinyasi ke pengadilan, pekan ini.” Terpisah, Pejabat Humas Pengadilan Negeri Boyolali, Agung Wicaksono mengungkapkan, pihaknya hingga kini belum menerima berkas konsinyasi untuk 76 bidang tanah tersebut.

Pengadilan masih menyelesaikan konsinyasi 14 bidang tanah di Kecamatan Ngemplak. Dari 14 bidang tanah yang dikonsinyasi di pengadilan, sudah selesai 11 bidang tanah. Tinggal tiga bidang tanah milik satu pasangan suami istri. ”Tetapi belum tahu kapan uangnya akan diambil.” Diakui, adanya konsinyasi, berarti menutup kemungkinan pemilik tanah menawar kembali besaran uang ganti rugi. Nilai uang yang dibayarkan sesuai dengan nilai yang ditetapkan panitia pembebasan tanah. ”Jadi tidak ada lagi tawar-menawar,” tandasnya. (G10-76)

sumber :

Selasa, 13 September 2016

Ganti Rugi Tanah Belum Dibayar, Warga Minta Proyek Tol Soker Dihentikan


Warga pasang spanduk protes peroyek Tol Soker
(dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Belasan warga Desa Sawahan, Ngemplak, Boyolali, menggelar aksi protes di pintu keluar masuk proyek jalan tol Soker (Solo-Kertosono). Mereka menuntut pelaksana proyek agar segera membayar tanah mereka yang sudah terlanjur diuruk sejak Agustus lalu.

“Sampai hari ini belum ada pembicaraan soal ganti rugi, berapa harga tanah kami yang dipinjam untuk proyek tol,” kata Anom Suratno, warga Desa Sawahan, Selasa (13/9).

Dalam aksinya tersebut, warga memasang patok-patok dari bambu dan spanduk di sepanjang interchange Solo di wilayah Desa Sawahan. Spanduk-spanduk kuning itu bertuliskan “Tanah Ini Belum Dibayar. Semua pekerjaan konstruksi mohon dihentikan sementara sampai pembayaran tanah selesai.

“Yang membingungkan itu dengan adanya istilah meminjam lahan. Harusnya ada batas waktu dan lahan utuh, tapi kini lahan kami diuruk tanah setebal empat meter,” tambahnya.

Anom juga menunjukkan surat dari pelaksana proyek Jalan Tol Soker Ruas InterchangeSolo yang bertanggal 11 Agustus 2016, berisikan permohonan peminjaman lahan untuk proses pekerjaan proyek Jalan Tol Soker. Di akhir paragraf surat itu tertulis “tetapi saat ini lahan belum bebas, masih dalam proses di Pejabat Pembuat Komitmen (PPK Lahan).”

“Kita menuntut pelaksana proyek segera membayar kompensasi sebelum jalan tol selesai dibangun dan diresmikan,” ujarnya.

Sementara itu, Humas Pelaksana Pembangunan Seksi Seksi Interchange Solo, Sali Setiawan, diakui hingga saat ini belum ada informasi resmi pembayaran uang ganti rugi lahan. Sejauh ini, masih ada 30 lahan milik warga Desa Sawahan yang belum dibebaskan. Pembangunan Interchange Solo dengan luas total sekitar 10.000 meter persegi. Yang dikerjakan panjangnya sekitar 2 – 3 kilometer dari pintu Interchange Solo sampai underpass Sawahan. Masih ada 800 meter yang belum dibebaskan.

“Target kita Desember Interchange selesai dibangun,” pungkasnya.

sumber :

Rabu, 29 Juni 2016

Tol Solo-Kertosono Dibuka Hari Ini


Tol Solo-Kertosono (Foto: Bramantyo)


SOLO - Meski baru 40 persen pengerjaannya, ruas jalan Tol Solo-Kertosono (Soker) sepanjang 25 kilometer mulai hari ini sudah bisa dilalui para pemudik.

Direktur Utama PT Solo Ngawi Jaya (SNJ), David Wijayatno mengatakan, rencananya ruas jalan tol tersebut akan dibuka bergiliran saat arus mudik dan arus balik.

"Rencananya, tol dibuka dari pintu masuk Klodran, sampai pintu keluar di Pungkruk, mulai besok, Rabu 29 Juni hingga Kamis 7 Juli. Selanjutnya, mulai Jumat 8 Juli sampai Kamis 14 Juli, jalan tersebut akan dioperasikan searah dari Sragen menuju Klodran, Karanganyar," ujar David, kepada wartawan Selasa 28 Juni 2016.

Menurut David, hanya kendaraan kecil saja yang diperbolehkan melintasi ruas jalan tol ini “Baru dua lajur yang bisa dilalui. Jadi nanti kita operasikan satu arah,” paparnya.

Ia menambahkan, khusus kendaraan umum dan angkutan barang belum diperbolehkan melintasi ruas jalan tol ini karena ada beberapa ruas jalan yang belum selesai sepenuhnya. Sehingga, terlalu berbahaya bila dilalui moda transportasi yang mengangkut beban berat, seperti truk.

"Tol ini hanya dioperasionalkan mulai pagi, sekira pukul 06.00 WIB hingga 17.00 WIB. Soalnya, belum ada lampu penerang di ruas jalan tol. Sehingga terlalu berbahaya bila dilalui kendaraan. Jadi begitu jam 18.00 WIB, ruas jalan tol ini sudah bersih dari kendaraan," ungkapnya.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Solo, Sri Baskoro mengatakan pengoperasionalan ruas jalan tol bisa mengurangi kepadatan arus kendaraan para pemudik. Terutama yang masuk ke dalam kota Solo hingga 20 persen atau setara 1.720.000 mobil.

"Tapi angka itu bisa tercapai bila ruas jalan tol ini dioperasionalkan secara optimal. Kalau belum, ya, paling tidak mengurangi kepadatan kendaraan yang masuk ke Kota Solo," terangnya.

Untuk membantu para pemudik ini bisa melalui ruas jalan tol Soker ini, pihaknya, ungkap Sri Baskoro, akan membantu dengan memasang rambu-rambu lalu-lintas.

"Dishubkominfo telah menyiapkan rambu-rambu penunjuk arah untuk pemudik. Pengguna kendaraan yang mau ke arah Timur akan kita arahkan lewat tol ini agar tidak masuk kota,” pungkasnya.(aky)

sumber :

Senin, 20 Juni 2016

LEBARAN 2016 Tol Soker 95% Siap Dilalui Pemudik



Suasana kawasan jalan tol Solo- Sragen di Ngemplak, 
Boyolali, Senin (20/6/2016). Berdasarkan kunjungan 
Sekda Pemprov Jateng dengan pengerjaan proyek yang 
sudah mencapai 95% pemerintah optimistis jalan tol 
Solo- Sragen dapat dioperasionalkan pada H-7 
Lebaran 2016. (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)


"Lebaran 2016, Tol Solo-Kertosono (Soker) sudah siap dilalui pemudik."

Solopos.com, SOLO–Sembilan hari jelang pembukaan jalan bebas hambatan yang direncanakan Rabu (29/6/2016), progres kesiapan jalan tol Solo-Kertosono ruas Solo-Sragen sepanjang 25 km sudah mencapai 95%.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sri Puryono, menyatakan tol Solo-Sragen yang nyaris semua jalannya telah dilaksanakan perkerasan sudah bisa dilalui pemudik dengan kendaraan kecil nonsepeda motor.

Pemudik Lebaran 2016 yang menggunakan kendaraan kecil seperti mobil jenis sedan, jeep, minibus, city car, dll. bisa melintasi tol Solo-Sragen mulai pukul 06.00 WIB-18.00 WIB. Pengoperasian masih bersifat terbatas satu arah dari Solo-Karanganyar-Sragen pada musim mudik H-7 sampai Lebaran. Sedangkan pada arus balik atau H+1 sampai H+7, tol dioperasikan dari arah sebaliknya.

Pintu gerbang masuk tol Solo-Sragen pada saat mudik melintasi kawasan Klodran, Colomadu, Karanganyar. Sedangkan pintu keluar tol, disiapkan dua alternatif yakni gerbang keluar di Kemiri, Kebakramat, Karanganyar atau Pungkruk, Sidoharjo, Sragen. Pada saat arus balik, berlaku sebaliknya.

“[Perkerasan jalan] satu lapis seperti ini sudah kuat digunakan kendaraan kecil. Memang belum semuanya. Bisa dikatakan ini sudah siap 95%. Masih ada 5% yang belum,” terang Sri saat ditemui wartawan di sela-sela peninjauan jalan tol Solo-Sragen di pintu masuk Klodran, Karanganyar, Senin (20/6/2016).

Sekda menjelaskan pekerjaan rumah sebanyak 5% dalam persiapan bagian jalur tol trans Jawa itu disebabkan belum tuntasnya pembebasan lahan. “Kendala itu masih ada. Duit sebenarnya sudah ada. Alat juga sudah ada. Tenaga sudah ada. Tapi kalau lahan belum dibebaskan, [tetap digunakan] nanti melanggar aturan,” jelasnya.

Disinggung soal usulan Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Solo, Yosca Herman Soedrajat, yang meminta operasional tol Solo-Sragen dimajukan pada H-10 Lebaran atau Senin (27/6/2016) mendatang, Sri menyatakan tidak bisa memaksakan.

“Memang harapannya H-10 sudah dibuka. Asalkan tidak hujan, saya kira bisa. Tapi teman-teman di sini siap H-7,” ujarnya.

Selain tol Solo-Sragen, Sri menyebutkan jalan tol Solo-Semarang ruas Bawen-Salatiga juga belum bisa dipaksakan beroperasi sepenuhnya. Sebagian ruas jalan tersebut nantinya dimanfaatkan untuk pemudik dari arah barat yang akan menuju Jawa Timur.

“Saya sudah mengecek persiapan tol Bawen-Salatiga. Tidak bisa dipaksakan. Nantinya kendaraan keluar dari Bawen bisa masuk ke Tuntang dengan belok kiri ke Delik dan masuk tol Salatiga sejauh 15 km. Kendaraan jurusan Ngawi, Sragen, dll. bisa lewat situ. Yang ke arah Solo pakai jalur reguler,” katanya.

Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Pembanganan Jalan Bebas Hambatan Solo-Kertosono (Soker) Aidil Fiqri, menyatakan pihaknya terus mengebut pembebasan lahan untuk mendukung operasional jalan tol Solo-Sragen.

“Ada lahan yang baru sepekan bebas seperti di Karangturi dan Jeruksawit [Gondangrejo, Karanganyar]. Ada juga warga yang baru sepakat melepas tanahnya di Dibal [Ngemplak, Boyolali] Sabtu [(19/6/2016)]. Itu pun dibayar baru Selasa [(21/6/2016)],” bebernya.

Menurut Aidil, pembebasan lahan awalnya menjadi kendala pembangunan tol tersebut. Namun pemberlakuan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN No. 6 /2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 5/2012 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Tanah yang memungkinkan pengusaha swasta ikut menalangi dana pembebasan lahan proyek infrastruktur dan kemudian diganti dana APBN, pembebasan lahan tidak lagi menjadi persoalan.

“Sekarang ini sudah ada peraturan baru. Sudah ada yang menalangi pembebasan lahan, tapi tetap dengan prosedur yang ada. Sebelumnya kami kesulitan,” kata dia.

sumber :

Awal Pekan Depan Pemberlakuan Tol Diputuskan


CEK TERMINAL: Sekda Pemprov Jateng Sri Puryono mendatangi 
Terminal Tirtonadi Solo untuk mengetahui dari dekat keseiapan terminal 
menyambut Arus Mudik Balik Lebaran 2016. 
(suaramerdeka.com/Budi Sarmun S)

SOLO, suaramerdeka.com - Kepastian jalan tol Solo-Kertosono (Soker) dioperasionalkan untuk mendukung pelaksanaan Arus Mudik Balik Lebaran 2016 akan diputuskan pada pekan depan. Saat ini pengecekan akhir kondisi tol sedang dilakukan berbagai pihak termasuk rombongan pejabat dari Pemprov Jateng yang mendatangi lokasi tol yang masuk wilayah Boyolali-Solo dan Karanganyar tersebut, Senin (20/6).

Sekda Jateng, Sri Puryono ditemui wartawan saat melakukan kunjungan kesiapan Arus Mudik Balik 2016 di Terminal Tirtonadi Solo, menuturkan pembukaan jalan tol soker untuk mendukung arus mudik adalah upaya pemerintah memberikan kemudahan dan fasilitas kepada rakyat saat kembali ke kampung halaman. Namun demikian, guna memastikan bahwa tol itu aman bagi keselamatan dan keamanan pengguna jalan maka perlu dicek secara cermat.

“Keputusan final nanti pada 27 (27 Juni). Nanti saya langsung cek ke tol soker,” kata Sekda Sri Puryono.

Sekda mengimbau kepada pemudik yang melintasi Jateng melalui pantura Semarang-Salatiga-Boyolali-Solo Madiun memperhatian proyek pembangunan jembatan Tuntang yang belum jadi. Dia mengharapkan pemudik usai melintasi tol Bawen melalui jalur Tlogo, Tuntang belok kiri-Ndelik terus masuk tol dan menuju Salatiga. “Pemudik agar melewati Salatiga sisi selatan hingga menuju Tingkir,” tandasnya. (Budi Sarmun S/CN38/SM Network)

sumber :

TOL SOLO-KERTOSONO : Kemenhub Bakal Uji Kelayakan Tol Solo-Sragen Pekan Depan


Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) 
Sri Puryono (bertopi sebelah kanan) meninjau exit tol di 
kawasan Pungkruk, Sidoharjo, Sragen, Senin (20/6/2016). 
Sementara itu, sejumlah pekerja dikerahkan untuk membangun 
lapisan beton di permukaan jalan tol di kawasan Masaran. 
(Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos)

"Jalan Tol Soker akan diuji coba pada pekan depan."

Solopos.com, SRAGEN—Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bakal menguji kelayakan jalan tol Solo-Sragen pada Senin (27/6/2016) mendatang. Jalan tol Solo-Sragen bakal dibuka pada H-7 Lebaran.

Hal itu dikemukakan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Sri Puryono ketika ditemui wartawan saat meninjau pintu exit tol Pungkruk, Senin (20/6). Pada kesempatan itu, Sekda didampingi PT Solo Ngawi Jaya (SNJ) dan PT Waskita Karya menyisir jalan tol dari pintu masuk di kawasan Klodran, Karanganyar hingga pintu keluar jalan tol di kawasan Pungkruk, Sragen.

”Dari pemerintah pusat dan provinsi sebetulnya berharap pada H-10 jalan tol sudah bisa dilewati. Tapi, nanti jalan tol perlu diuji kelayakannya dulu pada 27 Juni. Baru pada H-7 sekitar 28 atau 29 Juni jalan tol sudah dibuka untuk pemudik,” kata Sri Puryono.

Hasil inspeksi di lapangan, Sekda menjelaskan masih ada beberapa ruas jalan yang belum dibeton. Meski begitu, dia optimistis seluruh permukaan jalan akan selesai dibeton dalam beberapa hari ke depan. Dia meminta pelaksana proyek mengebut pembangunan lapisan beton itu dari siang hingga malam.

”Kita sudah janji sama rakyat kalau jalan tol akan dibuka pada H-7 Lebaran. Kendala yang terjadi selama ini ya proses pembebasan lahan. Kalau uang, sudah ada. Bahkan, hari ini masih ada pembayaran uang pengganti [atas pembebasan tanah],” terang Sekda.

Direktur Utama (Dirut) PT SNJ David Wijayatno menjelaskan masih ada sekitar 2 km permukaan jalan yang belum dibeton. Jalan itu membentang dari Purwosuman hingga Duyungan. Dia optimistis pembangunan lapisan beton itu akan selesai pada Rabu (22/6/2016) besok.

Diperlukan waktu selama sekitar sepekan untuk mengeraskan beton sebelum dilintasi pemudik. ”Perlu diketahui, beton ini dibangun untuk sementara. Tebalnya hanya sekitar 6 cm [tanpa tulang]. Beton ini dibangun untuk kepentingan darurat. Jadi, kecepatan kendaraan yang melintasi jalan tol ini dibatasi 40 km/jam, bukan untuk ngebut,” jelas David.

Selesai digunakan pemudik, pelaksana proyek akan membongkar beton darurat itu. Sebagai ganti, pelaksana proyek akan membangun beton rigid atau bertulang dengan ketebalan 29 cm. Saat ini pembangunan beton rigid baru sepanjang 4 km dari km 22 hingga km 26, tepatnya di kawasan Kebakkramat hingga Masaran. Lantaran belum dilengkapi penerangan jalan, pintu masuk tol nantinya akan ditutup pada pukul 17.00 WIB.

”Sudah ada kesepakatan antara Dishubkominfo dan Satlantas di tiga Polres yakni Boyolali, Karanganyar dan Sragen, pintu masuk tol di Klodran ditutup pukul 17.00 WIB dengan harapan pemudik bisa sampai Sragen tidak terlalu malam,” terang David.

sumber :

Bangun Jalan Tol, Pemerintah Suntik Rp16 Triliun Ke LMAN

"Dana tambahan akan digunakan untuk percepat pengadaan tanah jalan tol."

Pekerja sedang membangun salah satu ruas jalan tol trans Jawa
(Istimewa )


VIVA.co.id – Pemerintah mengusulkan untuk meningkatkan alokasi tambahan pembiayaan kepada Badan Layanan Umum (BLU) Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) sebesar Rp16 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2016.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, peningkatan alokasi pembiayaan tersebut memang bertujuan untuk mempercepat pengadaan tanah, khususnya untuk proyek infrastruktur jalan seperti jalan tol yang saat ini tengah digenjot pemerintah.

"BLU LMAN ini mempunyai mandatory untuk percepat pengadaan tanah. Sehingga, (alokasi tambahan pembiayaan) belanja pengadaan tanah lebih fleksibel," kata Bambang dalam rapat kerja bersama Komisi XI di gedung parlemen Jakarta, Senin 20 Juni 2016.

Bambang menjelaskan, suntikan pembiayaan yang diusulkan sebesar Rp16 triliun tersebut sudah mencakup pembiayaan empat ruas jalan tol yang saat ini tengah dibangun oleh pemerintah. Misalnya seperti pembangunan ruas Tol Trans Jawa, Non Trans Jawa, Tol Trans Sumatera, sampai dengan ruas tol dalam kota.

"Trans Jawa itu Rp5,36 triliun, Non Trans Jawa Rp3,02 triliun, Jabodetabek Rp5,62 triliun, dan Trans Jawa Rp5,36 triliun," jelas Bambang.

Sementara dari total yang dialokasikan untuk pembiayaan tol Trans Jawa, Bambang mengatakan, pembiayaan tersebut sudah mencakup kebutuhan dana dari delapan ruas jalan tol yang saat ini terus dipercepat pemerintah. Mulai dari tol Pejagan-Pemalang sebesar Rp607 miliar, Pemalang-Batang Rp1,3 triliun.

Kemudian, Batang-Semarang sebesar Rp2,53 triliun, Semarang-Boyolali sebesar Rp460 miliar, Solo-Mantingan sebesar Rp49 miliar, Kertosono-Mojokerto sebesar Rp62 miliar, dan Mojokerto-Surabaya sebesar Rp253 miliar. "Sehingga totalnya Rp5,36 triliun," katanya.

Jika parlemen menyetujui usulan penambahan alokasi tersebut, maka ini adalah skema pembiayaan yang akan disalurkan oleh BLU LMAN kepada sejumlah proyek itu. Sampai saat ini, pembahasan penambahan alokasi pembiayaan untuk BLU LMAN masih digodok bersama pemerintah dan parlemen.

sumber :

Tol Bawen-Salatiga diupayakan siap untuk mudik


Sejumlah pekerja meratakan adonan semen untuk pengecoran beton 
jalan tol Bawen-Salatiga di Tingkir, Salatiga, Jawa Tengah, 
Rabu (8/6/2016). PT Trans Marga Jateng (TMJ) menargetkan pada 
H-7 Lebaran 2016, ruas jalan tol Bawen-Salatiga dapat dilalui untuk 
mengurangi kemacetan arus mudik. 
(ANTARA FOTO/ Aloysius Jarot Nugroho)

Semarang (ANTARA News) - PT Trans Marga Jateng terus berupaya menyiapkan jalan tol Semarang-Solo ruas Bawen-Salatiga agar dapat digunakan masyarakat pada arus mudik Lebaran 2016, khususnya saat arus kendaraan di jalur utama padat.

"Bawen-Salatiga masih diupayakan untuk dioperasikan saat mudik Lebaran, meskipun jalur yang dilewati tidak langsung terhubung dengan jalur tol ruas Semarang-Bawen," kata General Manager Teknik dan Operasional PT Trans Marga Jateng Prayudi di Semarang, Senin.

Ia menjelaskan, jalan tol Bawen-Salatiga yang disiapkan untuk bisa dilalui dari pemudik itu mulai kawasan Delik (Tuntang) menuju pintu keluar tol Salatiga (Tingkir).

Untuk dapat masuk ke jalan tol, kata dia, pengguna jalan mesti melewati jalur Tlogo Tuntang menuju Delik.

"Kami beserta Dinas Pehubungan dan kepolisian telah menyiapkan rambu sementara serta direncanakan ada petugas yang berjaga di titik krusial," ujarnya.

Menurut dia, uji kelayakan jalan tol Bawen-Salatiga tetap akan dilakukan pengujian oleh pihak kementerian dan Pemprov Jateng.

"Ruas jalan itu hanya dibuka sampai pukul empat sore (pukul 16.00 WIB)," katanya.

Hal tersebut disampaikan Prayudi kepada Sekretaris Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono saat meninjau kesiapan jalan tol Semarang-Solo menjelang Hari Raya Idul Fitri 2016 di Gerbang Tol Bawen.

Selain kesiapan jalan tol ruas Bawen-Salatiga, PT TMJ juga terus menyelesaikan pengerjaan "rest area" di kawasan Penggaron.

Rencananya tempat peristirahatan bagi pengguna jalan tol itu akan mulai difungsikan pada Senin (27/6).

Sekda Jateng Sri Puryono meminta jajaran PT TMJ dan instansi terkait agar menyediakan rambu-rambu di ruas jalan yang akan digunakan pada arus mudik dan arus balik Lebaran.

"Selain itu, pelayanan di pintu tol juga mesti ditingkatkan agar tidak terjadi penumpukan antrean, termasuk keamanan juga harus ditingkatkan," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengungkapkan bahwa pihaknya tidak memaksakan pengoperasian jalan tol Semarang-Solo ruas Bawen-Salatiga pada arus mudik dan arus balik Lebaran 2016 demi keselamatan masyarakat.

"Ngapain kami memaksakan satu jalur terus kemudian keamanannya mengancam, itukan bahaya, lebih baik dituntaskan sampai betul-betul siap, kalau siap langsung dipakai, kalau tidak layak ya jangan," katanya.

sumber :

JALAN TOL SOKER : Pembebasan Lahan Alot, Satker Gandeng TNI


Overpass tol Solo-Kertosono di Ngemplak Boyolali. 
(Burhan Aris Nugraha/JIBI/Solopos/dok)

"Jalan Tol Soker di wilayah Boyolali melibatkan TNI."

Solopos.com, BOYOLALI – Satuan kerja (Satker) proyek tol Solo-Kertosono (Soker) mengaku tengah menjalin komunikasi intens dengan panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) terkait percepatan proyek tol Soker. Pasalnya, percepatan proyek tol di wilayah Ngesrep, Ngemplak, Boyolali, saat ini masih terkendala alotnya pembebasan lahan.

Kepala Satker proyek tol Soker, Aidul Fiqri, mengaku terus menjalin komunikasi secara intens dengan TNI. Upaya tersebut dilakukan mengingat percepatan pembangunan tol Soker terganjal pembebasan lahan di wilayah Ngesrep, Ngemplak.

“Sebenarnya Lebaran tahun ini tol di wilayah Ngemplak sudah bisa digunakan, namun karena ada tanah yang belum bebas, jadi ya tertunda,” ujarnya kepada Solopos.com, Minggu (19/6/2016).

Aidul menjelaskan, pembebasan lahan tol di wilayah Ngesrep, Ngemplak, selama ini cukup menguras waktu, tenaga, dan pikiran. Bahkan, tegasnya, sedikitnya sepuluh alat berat para pekerja sempat ditahan warga yang menolak kompensasi yang diberikan tim appraisal. “Warga ini menolak uang kompensasi yang ditawarkan tim appraisal. Mereka juga menghalangi pekerja mengerjakan proyek. Bahkan alat-alat berat pekerja juga ditahan. Kuncinya diambil,” ujarnya.

Akibat tindakan warga itu, pelaksanaan proyek tak bisa dilanjutkan. Bahkan, di sejumlah lahan yang sudah bebas pun tetap tak bisa dikerjakan karena pekerja dihalang-halangi warga.

“Kami sudah menghadap menteri [Perhubungan] dan panglima TNI terkait masalah ini. Harapan saya, pembebasan lahan bisa dilakukan secepatnya dan proyek dilanjutkan,” tuturnya.

Langkah Satker meminta bantuan ke panglima TNI, lanjutnya, harus dilakukan agar target pengoperasian proyek 2017 bisa terlaksana. Ia mengaku belum akan menyelesaikan masalah itu dengan sistem konsinyasi atau menitipkan uang kompensasi ke Pengadilan Negeri (PN) Boyolali. Jika warga menempuh jalur hukum lagi, proses pembangunan akan berjalan kian lama lagi karena harus menunggu putusan PN.

“Kalau lewat hukum, malah bisa lebih lama lagi waktunya,” terangnya.

Seorang tenaga keamanan tol Soker yang ditemui solopos.com di lokasi proyek, membenarkan adanya penahanan sepuluh alat berat oleh warga karena bersikeras menolak kompensasi. Namun, lanjut dia, masalah tersebut sudah mulai menemui titik terang. “Benar. ada penahanan alat berat. Tapi, kayaknya sudah mulai ada titik terang,” ujarnya tanpa mau disebutkan namanya.

Sementara itu, Danlanud Adisoemarmo Solo, Kolonel (Nav.) Agus Priyanto, ketika dimintai tanggapannya terkait hal itu mengaku belum mengetahui hal itu. Saat ditanya ihwal alotnya pembebasan lahan di Ngesrep, Ngemplak, Agus juga mengaku belum mendengarnya. “Saya belum mendengar kabar itu. Nanti saja ya,” ujarnya singkat.

sumber :