javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Jumat, 10 Juni 2016

Tiga Ruas Jalan Jadi Akses Masuk Tol Solo-Ngawi


Foto: ISTIMEWA

SOLO, suaramerdeka.com - Sedikitnya tiga ruas jalan disiapkan Pemkot Surakarta sebagai akses menuju jalan Tol Solo-Ngawi, saat jalan bebas hambatan itu dioperasikan. Rambu lalu lintas tengah disiapkan, guna memudahkan pengendara menuju pintu masuk tol tersebut.

Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo), Sri Baskoro menerangkan, ketiga ruas jalan tersebut adalah Jalan Pakel, Jalan Adi Soemarmo dan Jalan Letjen Suprapto.

“Rambu Pendahulu Penunjuk Jalan (RPPJ) dan petugas gabungan akan difokuskan di sekitar ketiga ruas jalan itu. Petugas bakal disiagakan selama Tol Solo-Ngawi beroperasi, serta dibagi dalam dua shift,” ungkap Baskoro, Kamis (9/6).

Baskoro menambahkan, RPJJ tersebut ditempatkan mulai persimpangan Ngasem, Kartasura, guna memandu pemudik dari arah barat. Rambu tersebut juga akan dipasang di kawasan Kleco, yang menjadi pintu masuk Kota Solo dari arah yang sama. Pemasangan rambu dilakukan sejak H-12 hingga H+7 Lebaran.

“Biasanya pemudik dari Jabar atau DIY, memilih masuk Solo untuk melanjutkan perjalanan ke Ngawi, Madiun atau wilayah Jatim lainnya. Dengan dioperasikannya Tol Solo-Ngawi saat arus mudik dan balik Lebaran mendatang, kami ingin mengarahkan mereka sejak pintu masuk Solo di Makutha dan Kleco.”

Di sisi lain, persiapan operasional jalan Tol Solo-Ngawi terus dikebut pelaksana proyek. Pantauan suaramerdeka.com di lokasi, persiapan dikonsentrasikan di sekitar pintu masuk Klodran termasuk pengecoran jembatan Kali Pepe. Pemadatan jalan dan penyelesaian overpass juga terlihat di wilayah Sawahan, Ngemplak, Boyolali.

sumber :

Tol Bawen-Salatiga Jadi Jalur Mudik 2016, Ini Catatan Polda Jateng



Kompas.com/ Syahrul MunirCaption 3; Struktur jembatan 
Tuntang diruas Tol Bawen-Salatiga saat ditinjau pada, 
Rabu (8/6/2016)
.
BAWEN, KOMPAS.com - Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Jawa Tengah memberikan sejumlah catatan kepada PT Trans Marga Jawa Tengah (TMJ) tentang kesiapan ruas jalan tol Bawen-Salatiga jika akan digunakan sebagai jalur alternatif arus mudik Lebaran 2016.

Sebagaimana diketahui ada 4 titik dijalan tol seksi III Semarang-Solo tersebut yang belum tersambung, sehingga PT TMJ sebagai pihak operator telah menyiapkan sejumlah jalur alternatif jalan tol sepanjang 17.5 kilometer ini bisa dilalui pada H-7 hingga H+7Lebaran 2016.

Dirlantas Polda Jateng, Kombes Pol Herukoco mengatakan, pihaknya kemarin telah melakukan rapat koordinasi bersama TMJ, Pemkab Semarang serta jajaran Polres Semarang dan Polres Salatiga.

Dari paparan pihak TMJ dilanjutkan dengan tinjauan ke lapangan, pihaknya melihat banyak titik yang rawan bagi keselamatan pemudik.

"Memang ada beberapa lokasi yang dari segi keselamatan harus diperhatian dengan benar. Karena ada bukit yang ditembus dengan jalan berkelok-kelok, itu dari segi keselamatan harus benar-benar diberi peringatan diberi alat pengaman jalan. artinya masyarakat jangan sampai tidak tahu bahwa itu adalah tanjakan dan turunan," kata Herukoco, Kamis (9/6/2016).

Selain kontur jalan yang masih belum landai mengingat pekerjaan fisik baru berjalan 43,8 persen, lanjutnya, jalur yang disiapkan ternyata masih banyak menemui persimpangan sebidang. Yakni, jalur tol yang bersingungan dengan jalan-jalan poros desa atau jalan perkampungan.

Dengan demikian pada titik-titik yang rawan tersebut perlu disiapkan petugas.

Titik lainnya yang perlu segera ditangani adalah, pada gerbang keluar tol Salatiga di kelurahan Tingkir. Sebab di titik ini, kendaraan yang keluar dari jalan tol akan menemui jalan reguler yang relatif sempit, yakni 5 lebar 5 meter. Padahal jalan Tingkir ini tergolong padat terutama pada saat hari libur. Sehingga jika tidak diatur sedemikian rupa, akan menimbulkan antrian atau kemacetan baik di jalur keluartol maupun di jalur reguler.

"Perlu ada pengaturan lalu lintas karena memang di titik ini sudah padat sekali. Tentunya ketika dari Bawen sudah diaktifkan, di sini jangan ditutup. Jangan sampai di sini memanjang ke belakang," lanjutnya.

Melihat konsisi yang ada, pihaknya memperkirakan saat jalan tol Bawen-Salatiga dioperasikan pada masa arus mudik 2016 mendatang, akan diperlukan rekayasa lalu lintas dengan sistem buka tutup.

Selain itu, petugas juga perlu mengurai kemacetan di sekitar pasar Suruh dan pertigaan Tingkir akibat dampat kepadatan kendaraan di keluar tol Salatiga.

"Jadi kita pantau disini, kalau memang di exit tol Salatiga sudah padat, ke arah jalan alternatif di Bawen kita tidak gunakan dulu. Sehingga kalau di jalur alternatif macet atau panjang antriannya, (maka) di exit tol alternatif ini ditutup, sambil melakukan pengaturan di Suruh dan di pertigaan tingkir," lanjutnya.

Terlepas dari itu, Herukoco berpendapat, pada arus mudik 2016 prioritas kendaraan dari Bawen ke Salatiga tetap akan diprioritaskan melalui jalur utama dibandingkan mengarahkan ke jalur alternatif termasuk tol.

"Ini bukan rekomendasi, artinya alternatif pertama ketika arus berjalan lancar tentunya kita menggunakan jalur utama. Tetapi seandainya panjang sekali kita pelu gunakan jalur aternatif," tandasnya.

Herukoco menambahkan, pihaknya tidak memiliki kapasitas untuk memutuskan tol Bawen-Salatiga bisa digunakan atau tidak. Melainkan sebatas memberikan masukan kepada pihak yang lebih berwenang, dalam hal ini TMJ sebagai operator.

"Ini kan jalan belum jadi ya. Artinya ada tim bersama melibatkan dari Bina Marga, dari Dinas Perhubungan dan juga dari kepolisian," ucapnya.

Berdasarkan target waktu yang telah ditentukan, PT TMJ akan meminta penilaian dari tim penilai kelayakan jalan pada tangal 21 juni mendatang. Tim penilai akan memutuskan apakah jalan tol Bawen-Salatiga berikut didalamnya jalur-jalur alternatif yang disiapkan, layak atau tidak dilalui kendaraan pemudik.

sumber :

Tol Solo-Ngawi Dioperasikan Khusus Jalur Mudik Lebaran


ilustrasi

BeritaTerkini.id, Jalan tol Solo-Ngawi akan dioperasikan sebagai salah satu jalan alternatif jalur mudik Lebaran 2016. Direktur Utama PT Solo Ngawi Jaya (SNJ) David Wijayatno mengatakan pengoperasian tol Solo-Ngawi ini masih terbatas, karena infrastruktur pendukungnya belum selesai seratus persen.

“Ruas jalan tol yang akan dioperasionalkan mulai H-7 Lebaran tersebut baru sebatas Solo sampai Sragen, katanya sebelum mengikuti rapat koordinasi arus mudik Lebaran di Solo, Rabu (8/6).

Dia mengatakan kendaraan yang menggunakan jalan tol memasuk dari Klodran dan keluar di Pungkruk, Sidoharjo (Sragen) atau Kemiri (Karanganyar). “Panjang ruas jalan tol tersebut kira-kira 25 kilometer,” katanya.

Terbatasnya pelayanan Tol Solo-Ngawi juga mencakup waktu pengoperasian. Kendaraan yang diperbolehkan melintas juga hanya kendaraan roda empat berbobot ringan, seperti mobil pribadi maupun minibus.

“Jalan tol itu baru bisa dilalui pada siang hari, karena fasilitas penerangan belum siap. Operasionalnya mulai pukul 06.00-18.00 WIB. Kecepatan kendaraan juga disarankan maksimal 60km/jam,” kata David.

David mengakui masih banyak kekurangan yang terdapat dalam kontruksi jalan bebas hambatan itu, terutama perkerasan badan jalan yang sebagian masih berupa beton lantai kerja. Namun PT SNJ selaku pemegang konsesi Tol Solo-Ngawi memastikan, jalan tol tersebut tetap bisa dilalui kendaraan.

“Bagian perkerasan beton akan dibuat selandai mungkin, sehingga relatif tidak membahayakan pengguna jalan. Kami juga menerjunkan petugas untuk mengatur lalu lintas atau berpatroli, berkoordinasi dengan rumah sakit terdekat untuk penyiagaan ambulan, serta menyiapkan kendaraan derek,” katanya.

Jalan Tol Solo-Ngawi merupakan bagian dari jalan Tol Solo-Kertosono (Soker). Tol Soker dirancang untuk menghubungkan wilayah Jateng dan Jatim, serta menjadi bagian dari jaringan Jalan Tol Trans-Jawa.

Ia mengatakan saat ini pembangunan tol untuk Seksi Kartasura-Karanganyar sudah mencapai 85 persen dari keseluruhan pekerjaan. Adapun Seksi Karanganyar-Sragen sudah 38 persen dari target.

“Pengoperasian Tol Solo-Ngawi saat arus mudik ini tidak mengganggu pekerjaan, karena saat ini proyek memang diliburkan”.

sumber :

Ini Jalur Mudik Aman Semarang-Solo


ilustrasi tol
SEMARANG– Dirlantas Polda Jateng, Kombes Pol Herukoco, mengatakan, kepolisian serta unsur terkait ingin para pengendara merasa aman dan nyaman dalam melakukan mudik Idulfitri.

“Karenanya, kami akan meninjau kelaikan jalan sekaligus menyiapkan simulasi pengamanan. Mudah-mudahan, pembangunan tol Bawen-Salatiga bisa berjalan lancar,” ucapnya.

Ia mengimbuhkan, Polda Jateng juga siap menyediakan sarana serta prasarana berupa rambu lalu lintas dan tim pengamanan. “Bahkan, kami berencana melakukan pembersihan debu di sepanjang jalur itu,” katanya.


Namun demikian, Herukoco menegaskan, Polda Jateng akan terlebih dahulu melihat kondisi lalu lintas sebelum menentukan jalur alternatif bagi para pemudik yang melewati Semarang menuju Solo. Jika situasi aman dan lancar, maka jalur yang dipilih adalah jalan utama.

“Sebaliknya, kalau terjadi kepadatan, kami bakal memanfaatkan jalur alternatif. Masalah kelaikannya, bisa diusahakan bersama pihak terkait. Pada 22 Juni nanti, kami meninjau lokasi dan segera menyampaikan rekomendasi, apakah ruas itu bisa digunakan atau tidak,” pungkasnya.

Polda Jawa Tengah (Jateng) beserta pihak terkait telah menyiapkan dua opsi jalur mudik Semarang-Solo, yakni via jalan utama serta ruas tol Bawen-Salatiga.

Jika opsi kedua yang dipilih, konsekuensinya, ada pemotongan lahan perkebunan kopi milik PT Perkebunan Nusantara IX di Dusun Mangkelang, Desa Ngasinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, sepanjang 700 meter dan luas 7,5 meter.

“Semisal opsi kedua yang dipilih, apakah nanti pengguna jalan bakal merasa lebih nyaman? Kalau saya, lebih baik lapor kepada Pak Menteri. Penggunaan ruas tersebut jangan terkesan dipaksakan,” papar Bupati Semarang, Mundjirin, saat rapat koordinasi kesiapan tol Bawen-Salatiga untuk jalur alternatif jelang mudik Lebaran tahun ini di Mapolres Semarang, Rabu (8/6) siang.

Pimpinan Proyek Jalan Tol Seksi III Bawen-Salatiga, Indroyono, mengutarakan, sesuai arahan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, M Basuki Hadimuljono, jalur yang disiapkan bagi pemudik tujuan Solo maupun Salatiga memang melewati Dusun Mangkelang. Sayang, ujarnya, ada kendala proyek di Jembatan Tuntang yang diperkirakan belum bakal rampung hingga H-7 Lebaran.

“Jadi, kendaraan yang melalui ruas itu harus keluar di Dusun Mangkelang dan bertemu dengan arus di jalan utama Semarang-Solo,” ungkapnya.

Indroyono menyampaikan, mengenai perkembangan proyek tol Bawen-Salatiga sepanjang 17,57 kilometer, sekarang sudah mencapai 44 persen. Masih terdapat empat titik di jalur itu yang belum bisa dilalui oleh kendaraan.

Empat titik tersebut meliputi Dusun Pancuran, Jembatan Tuntang, Jembatan Senjoyo, dan Dusun Barukan, Kecamatan Tengaran.

sumber :

Rencana Pemprov Jateng Beli Lagi Saham Tol Semarang-Solo Terancam Gagal


Foto: suaramerdeka.com/ Ranin Agung

SEMARANG, suaramerdeka.com – Upaya Pemprov Jawa Tengah melalui Perusda PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) untuk membeli lagi saham tol Semarang-Solo sebanyak 3,9 persen menemui kendala. PT Jasa marga mematok harga tinggi. Jauh lebih tinggi dari harga saat PT SPJT melepas 25 persen saham ke PT Astratel pada September 2015 lalu.

Gubernur Jawa tengah Ganjar Pranowo mengaku sudah bernegosiasi dengan PT Jasa Marga. Ia berharap PT Jasa Marga mau mempertimbangkan, lantaran memiliki tujan yang sama dengan Pemprov untuk memajukan infrastruktur. “Dulu dijual, sekarang beli lagi karena ada cadangan (anggaran) yang bisa didorong. Tapi hanya berhenti di lima persen saham saja sudah cukup. Uang lainnya bisa digunakan untuk kebutuhan lain,” kata Ganjar, Kamis (9/6).

Gubernur dari PDIP ini mengaku tidak hafal detil berapa nominal saham yang ditawarkan oleh PT Jasa Marga. Ia meminta wartawan untuk menanyakan pada Dirut PT SPJT Krisdiani Syamsi. Saat dihubungi, Krisdiani enggan mengatakan berapa nominal tawaran dari PT Jas Marga. Namun ia memberikan keterangan kalau tawaran yang diberikan tidak sampai dua kali lipat dari harga jual saham pada September lalu.

“Angkanya tidak untuk dipublikasikan, tapi di atasnya (harga jual saham PT SPJT dulu) dan tidak sampai kali lipatnya. Kami sudah minta PT Jasa Marga untuk meninjau lagi tawaran harganya. Kalau memang tetap melebihi patokan harga kami, ya tidak jadi membeli,” kata Krisdiani.

Penjualan saham lalu disebabkan kepemilikan saham PT SPJT terus terdelusi karena tidak menyetor modal. Besaran saham semula 40 persen terdelusi menjadi 30 persen dan 26,1 persen. PT Astratel kemudian menjadi pemenang lelang pembelian saham 25 persen dengan nominal Rp 780 miliar.

Saat itu, pembelian akan terjadi jika PT SPJT melepas saham minimal 25 persen. Saat penjulan itu, ada penjelasan jika pemegang saham bisa membeli saham lagi jika memiliki kemampuan. Maka saat ini saham PT SPJT tinggal 1,09 persen.

Staf Utama Direktorat Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng, Ari Nugroho mengatakan saat ini komposisi kepemilikan saham ada tiga, PT Jasa Marga 73,9 persen, PT Astratel Nusantara 25 persen, dan PT SPJT 1,09 persen. “Kalau ditanya harga per lembarnya berapa saat saham milik PT SPJT dijual, kami tidak tahu. Yang tahu SPJT dan Astratel,” kata Ari.

sumber :

Tol Solo-Sragen Beroperasi, Bunderan Kartasura Potensial Lebih Macet

Lalu Lintas Sukoharjo akan terpengaruh dengan pengoperasian tol Solo-Sragen.

Kondisi arus lalu lintas di Simpang Empat Kartasura 
ramai lancar pada sehari menjelang Lebaran atau H-1 
Lebaran, Kamis (16/7/2015). 
(Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos)



Solopos.com, SUKOHARJO – Bunderan Kartasura diprediksi menjadi lokasi sentral rawan kemacetan arus lalu lintas saat arus mudik dan balik Lebaran 2016. Kondisi itu dipengaruhi dibukanya akses jalan tol Solo-Kertosono (Soker) di wilayah Ngemplak, Boyolali.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Kamis (9/6/2016), jalan tol Soker di wilayah Ngemplak, Boyolali dibuka sementara pada beberapa hari menjelang Lebaran. Hal itu dilakukan untuk mendukung kelancaran arus mudik dan balik Lebaran 2016.

Secara geografis, wilayah Ngemplak, Boyolali, berbatasan langsung dengan Kecamatan Kartasura. Otomatis kendaraan bermotor yang hendak melewati jalan tol Soker dari arah Solo-Semarang maupun sebaliknya dipastikan melewati Bunderan Kartasura.

Kondisi ini bakal diperparah dengan kendaraan bermotor pemudik dari arah Jogja-Solo atau sebaliknya yang juga dipastikan melewati Bunderan Kartasura. Tak pelak, Bunderan Kartasura menjadi lokasi sentral rawan kemacetan lalu lintas saat arus mudik dan balik Lebaran 2016.

Kasatlantas Sukoharjo, AKP Finan Sukma Pradipta, mewakili Kapolres Sukoharjo, AKBP Ruminio Ardano, mengatakan telah berkoordinasi dengan satuan kerja (satker) proyek tol soker pada beberapa hari lalu. Rencananya, akses jalan tol soker di wilayah Ngemplak, Boyolali, bakal dibuka hanya pada siang hari saat arus mudik dan balik Lebaran.

“Belum ada lampu penerangan jalan umum (LPJU) di sepanjang jalan tol. Jadi jalan tol hanya dioperasikan sementara pada pagi hari-siang hari,” kata dia, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Kamis.

Pintu masuk jalan tol terletak di perbatasan wilayah antara Kabupaten Boyolali dengan Kabupaten Sukoharjo. Kendaraan bermotor dari arah Solo menuju Semarang diperkirakan bakal memilih melewati jalan tol. Kendaraan bermotor itu bakal antri masuk jalan tol melewati Bunderan Kartasura.

Belum lagi kendaraan bermotor pemudik dari Jogja-Solo-Surabaya yang juga dipastikan melewati Bunderan Kartasura. “Bunderan Kartasura menjadi lokasi utama rawan kemacetan lalu lintas saat arus mudik dan balik Lebaran. Bunderan Kartasura merupakan lokasi pertemuan arus lalu lintas dari Jogja, Solo, dan Semarang,” papar dia.

Lebih jauh, Kasatlantas menambahkan petugas bakal disiagakan nonstop di sekitar Bunderan Kartasura dan Simpang Empat Kartasura saat arus mudik dan balik Lebaran. Mereka segera turun lapangan untuk mengurai kemacetan arus lalu lintas.

Di sisi lain, seorang warga Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Maryanto, 43, meminta instansi terkait agar melarang kendaraan berat melewati Underpass Makamhaji saat arus mudik dan balik Lebaran. Lantaran arus lalu lintas menuju Bunderan Kartasura macet total, kendaraan berat memilih melewati underpass menuju Kota Solo dan Jawa Timur.

“Jumlah kendaraan berat yang melewati underpass cukup banyak saat arus mudik Lebaran. Mestinya kendaraan berat dilarang melewati underpass lantaran mengganggu pengguna jalan lainnya,” kata dia

sumber :

Inilah 6 Tol Tambahan untuk Pemudik, Termasuk 17,57 Km Bawen-Salatiga?


"Info mudik kali ini terkait enam ruas jalan tol tambahan untuk pemudik pada musim mudik Lebaran 2016."

Ilustrasi/Proyek jalan Tol Trans Jawa (Kementerian PU)

Semarangpos.com, JAKARTA — Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kamis (9/6/2016), mengumumkan enam ruas jalan tol tambahan dapat digunakan pemudik pada musim mudik Lebaran 2016. Keenam jalur jalan tol yang dibuka baik secara operasional maupun hanya fungsional untuk angkutan Lebaran 2016 itu termasuk 17,57 km ruas Bawen-Salatiga.

“Kami cek jalan nasional untuk arus mudik tahun ini, memang di Pulau Jawa ini yang cukup dominan itu ada jalan tol. Kami ada beberapa tambahan untuk tahun ini, khususnya Pejagan-Brebes Timur yang tahun lalu hanya dibuka sementara untuk mudik namun tahun ini akan beroperasi,” kata Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bidang Keterpaduan Pembangunan, Danis H Sumadilaga menjawab pers di Jakarta, Kamis.

Ruas jalan tol Pejagan-Brebes Timur yang berlokasi di Provinsi Jawa Tengah dan memiliki panjang 26 km, kata Danis, pada musim mudik Lebaran tahun 2015 lalu dibuka sementara dengan kondisi jalan masih berupa kerikil dan belum beraspal. Namun, saat ini, ruas jalur jalan tol tersebut sudah rampung dan menunggu diresmikan.

Selain ruas jalan tol Pejagan-Brebes Timur, Danis menyebutkan ruas Surabaya-Mojokerto sepanjang 18 km dan Kertosono-Mojokerto (Mojokerto Barat-Mojokerto Utara sepanjang 5 km) juga akan dioperasikan. “Di Jatim, Kertosono ke arah Mojokerto akan kami satukan sekitar 23 km, akan membantu lantas [lalu lintas] yang di Jatim ini terutama dari Mojokerto ke Jombang,” katanya.

Sementara itu, lanjutnya, untuk membantu kelancaran arus lalu lintas musim mudik Lebaran 2016, walaupun belum sempurna akan difungsikan beberapa jalan tol di antaranya jalur jalan tol Bawen-Salatiga sepanjang 17,57 km, Solo-Kertosono sepanjang 10 km, dan juga Gempol- Pasuruan sepanjang 13 km.

Ia menyebutkan, Kementerian PUPR saat ini tengah melaksanakan integrasi sistem pembayaran tol, baik tunai maupun non-tunai, pada ruas jalan tol Cikopo-Palimanan. Pemerintah telah menargetkan bahwa integrasi tersebut harus sudah terselenggara mulai 13 Juni 2016, agar arus mudik Lebaran 2016 bisa lebih lancar.

Sebelumnya Kementerian PUPR telah melaksanakan Survei Terpadu Jalur Lebaran 2016 bersama Korlantas Polri dan Ditjen Hubdar Kemenhub tentang persiapan infrasruktur jalan dan jembatan ke jalur jalan pantai utara (pantura) Pulau Jawa, pantai selatan Pulau Jawa dan jalan lintas Sumatra (jalinsum) pada Februari dan Maret 2016. Menteri PUPR pun telah memeriksa kondisi jalan di pantura Jawa Barat dan Jawa Tengah pada 10 April 2016 dan target penyelesaian pekerjaan Juni 2016 (sebelum Lebaran 2016) sudah selesai.

Selanjutnya, pada H-30 sampai dengan H+10 Idulfitri 2016 pekerjaan utama di badan jalan akan dihentikan dengan kondisi fungsional dan akan diteruskan kembali setelah hari raya. Pekerjaan yang mengganggu arus lalu lintas pada beberapa ruas tetap akan berjalan sampai H-10 musim mudik Lebaran 2016.

sumber :

Kamis, 09 Juni 2016

Tol Semarang - Solo : Ruas Salatiga - Solo Jadi Pilot Project Availability Payment


Tol Semarang/Solo

Bisnis.com, JAKARTA - Pengerjaan ruas Salatiga - Solo sepanjang 33 km yang menjadi porsi pembangunan oleh pemerintah direncanakan menjadi proyek percontohan bagi ruas tol yang berskema Availability Payment. Availability payment merupakan pembayaran berdasarkan ketersediaan layanan.

Berdasarkan skema itu, Direktur Teknik dan Operasional PT Trans Marga Jateng Arie Irianto mengatakan pemerintah berencana melakukan tender untuk ruas tersebut sehingga nantinya badan usaha pemenang lelang yang akan membangun dan memelihara ruas tersebut terlebih dahulu untuk kemudian diganti pendanaannya oleh pemerintah dengan cara mencicil.

“Kalau sebelumnya Bina Marga yang bangun, tapi kalau ini ditender langsung oleh BPJT, untuk badan usaha membangun dan memelihara selama 10 - 15 tahun, “ katanya kepada Bisnis, Kamis (9/6/2016).

Dia mengatakan hingga saat ini pihak yang bertanggungjawab sebagai konsultan proyek yakni Indi Ausaid tengah melakukan penyusunan dokumen lelang. Arie mengharapkan dengan segera terselesaikannya dokumen lelang dan pembebasan lahan, tender dapat dilakukan bulan ini.

“Harusnya Juni ini sudah tender, sebab targetnya di akhir 2017 seluruh ruas sudah tersambung seluruhnya sehingga awal 2018 akan terkoneksi dengan Solo - Kertosono,” tekannya.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Herry Triputra Zuna mengungkapkan pelelangan yang dilakukan kepada badan usaha dengan skema AP guna mempercepat konstruksi. Dia menyatakan bila pembangunan ruas ini bergantung pada APBN maka baru terselesaikan 15 tahun mendatang.

Selain itu, pembayaran cicilan yang dilakukan pemerintah akan didasarkan pada Performance Based Annuity Scheme supaya kontraktor berinisiatif untuk memberikan pelayanan terbaik.

“ Ada KPI-nya kalau misalnya jalannya nanti berlubang maka akan ada pengurangan terhadap yang dibayarkan. Jadi tidak lagi hanya membangun secara fisik tapi layanan yang diberikan juga optimal,” ujarnya.

Pemerintah nantinya tak membatasi besaran suku bunga dalam mekanisme pembayaran kembali. Pemerintah akan menyesuaikan besaran bunga pinjaman berdasarkan kesepakatan yang telah disetujui badan usaha dengan pihak perbankan.

Herry meyakini dalam menjalankan proyek berskema AP ini tak perlu menunggu terbitnya permendagri. Menurutnya untuk dapat menjalankan proyek tersebut cukup merujuk pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK. 08/2015.

“Kami sedang persiapan minggu ini akan market sounding dengan beberapa badan usaha untuk mengedukasi, karena ini lebih sifatnya output base berbasis pelayanan bukan lagi input base," ucapnya.

Menurut Herry saat ini hanya ruas Salatiga - Solo yang akan diterapkan. Namun dia tidak menampik bahwa skema AP ini akan diterapkan ke wilayah tak komersial lainnya.

Skema AP ini juga menjadi pelengkap penerapan dua skema kerja sama dengan swasta dalam upaya percepatan pembangunan infrastruktur setelah peraturan pendukung kedua skema tersebut terbit tahun ini.

Pertama, investor swasta pemegang hak konsesi diberi kesempatan untuk menalangi pembebasan lahan dalan proyek infrastruktur agar proyek dapat secepatnya berjalan tanpa tertunda lambatnya ketersediaan dana APBN untuk pembebasan lahan.

Kedua, swasta diberi kesempatan untuk membangun infrastruktur terlebih dahulu untuk kemudian dibayar oleh pemerintah dalam beberapa tahun. Hal ini didukung oleh Perpres 38/2015 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur.

sumber :

Kesiapan Jalan Tol Bawen-Salatiga sebagai Jalur Alternatif Mudik Dipertanyakan

Kompas.com/ Syahrul MunirRombongan peserta Rapat 
Koordinasi Kesiapan Tol Bawen-Salatiga Untuk Jalur 
Alternatif tengah meninjau jalan tol Bawen-Salatiga, 
Rabu (8/6/2016).

BAWEN, KOMPAS.com - Penggunaan jalur alternatif dengan memfungsikan ruas tol Bawen-Salatiga pada arus mudik Lebaran 2016 masih menjadi tanda tanya besar. Kondisi jalur alternatif itu belum memungkinkan untuk dilalui.

Hal itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Kesiapan Tol Bawen-Salatiga Untuk Jalur Alternatif yang digelar di Kantor Polres Semarang, Rabu (8/6/2016).

Rapat dipimpin oleh Kepala Polres Semarang Ajun Komisaris Besar Polisi V Thirdy Hadmiarso tersebut dan dihadiri Dirlantas Polda Jateng Kombes (Pol) Herukoco, Bupati Semarang Mundjirin.

Hadir pula perwakilan PT Trans Marga Jateng (TMJ) sebagai pihak operator, Satlantas Polres Semarang, Satlantas Polres Salataiga, Dishubkominfo Kabupaten Semarang, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Semarang.

Dalam paparannya, Pimpinan Proyek Seksi III Tol Semarang-Solo Indriyono mengatakan, saat ini ada 4 lokasi pekerjaan yang harus dikebut agar ruas tol sepanjang 17,5 kilometer tersebut dapat dilalui sebagai jalur alternatif pada arus mudik mendatang.

Keempat titik yang belum tersambung tersebut berada di Dusun Pancuran, Jembatan Tuntang, Jembatan Senjoyo, dan Dusun Barukan, Kecamatan Tengaran.

"Jembatan Senjoyo belum nyambung tapi estimasinya H-7 sudah rampung. Begitu pula di Dusun Barukan, terdapat simpang susun Salatiga sekitar 500 meter belum nyambung karena proses pembebasan tanahnya baru dibayarkan 31 mei kemarin." kata Indriyono.

Saat ini masih ada sisa waktu 14 hari kerja untuk menyelesaikan pekerjan di empat titik tersebut agar bisa dilalui sebagai jalur alternatif pada H-7 Lebaran.

"Termasuk hari ini sampai cor terakhir sehingga pada tanggal 21 Juni 2016 kami selesai cor, pada tanggal 29 Juni 2016, harapannya sudah bisa dilalui pemudik," kata dia.

Terkait penyiapan jalur alternatif untuk menghindari jembatan Tuntang, telah disiapkan pembukaan jalur dari sebelum pintu exit tol Bawen, lurus ke arah tenggara menuju ke Dusun Mangkelang, Bawen, sepanjang 700 meter.

"Tepat sebelum jembatan Tuntang, kami arahkan ke kanan masuk ke perkebunan di lahan PTP IX, kemudian keluar ke arah jalan nasional Semarang-Solo," papar Indroyono.

Sumber :

Rabu, 08 Juni 2016

Pemerintah Cicil Pembayaran Konstruksi Tol Salatiga-Solo


Kendati bisa digunakan, Indriyono menyatakan hanya 
kendaraan golongan 1 non bis yang bisa melalui Seksi 3 
Bawen-Salatiga tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagai bentuk dukungan terhadap percepatan pembangunan infrastruktur jalan tol, Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR) menggunakan skema availability payment (AP) atau Pembayaran Ketersediaan Layanan.

Skema ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 Tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur.

Menurut Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna, Pembayaran Ketersediaan Layanan ini, memungkinkan pembangunan jalan tol dibayar setelah beroperasi.

"Setelah itu, nanti pemerintah bayar. Bayarnya dicicil, 20 tahun misalnya," ujar Herry di Kementerian Koordinator Bidang Perekonmian, Jakarta, Rabu (8/6/2016).

Skema pembiayaan ini, lanjut Herry, bagus untuk diterapkan karena disertai syarat khusus, yakni kualitas jalan harus baik. Artinya, tidak boleh ada lubang pada jalan.


ilustrasi

Ridwan Aji Pitoko/Kompas.comTerakhir, progres fisik pembangunan paket 3.3D Sidorejo-Tengaran yang dikerjakan oleh PT Nindya Karya (Persero) KSO dengan PT Jaya Konstruksi baru mencapai 28,068 persen.
Jika ditemukan kerusakan atau lubang, akan ada pengurangan cicilan terhadap yang dibayarkan.

Dengan demikian, kontraktor atau badan usaha lebih tertantang untuk memberi layanan secara maksimal.

"Bukan lagi fisik yang kita beli, tetapi service," sebut Herry.

Saat ini, lanjut dia, skema tersebut baru dicoba untuk diterapkan di ruas Tol Salatiga-Solo. Ruas tol ini termasuk dalam Jalan Tol Semarang-Solo yang terdiri dari lima seksi, yaitu Semarang-Ungaran, Ungaran-Bawen, Bawen-Salatiga, Salatiga-Boyolali, dan Boyolali-Kartasura.

Ke depannya, menurut Herry, skema ini mungkin bisa digunakan untuk membangun jalan lainnya yang tidak komersial dari sisi investasi.

sumber :