javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Rabu, 22 Februari 2017

TOL SOLO-KERTOSONO : Empat Bulan Mangkrak, Begini Kondisi Proyek Underpass Tol Soker


ilustrasi


"Tol Solo-Kertosono, proyek tol Soker sudah empat bulan mangkrak."

Solopos.com, BOYOLALI — Semak belukar tumbuh liar di sekeliling underpass tol Solo-Kertosono (Soker) di Desa Dohohudan, Ngemplak, Boyolali. Di bawahnya, air menggenang berwarna cokelat kemerah-merahan.

Bak kolam pemancingan tak terawat, ikan-ikan kecil dan kecebong berkejaran di permukaan kolam sedalam dua meteran itu. Para petani penjemur gabah berteduh di bawah seng di sekitar proyek.


“Sudah beberapa bulan ini proyek tak dilanjutkan. Enggak tahu kenapa. Eman-eman [sayang] sekali,” ujar salah satu dari petani tersebut, Santoso, saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (21/2/2017).

Sudah empat bulan ini, proyek underpass tol Soker mangkrak. Tak terlihat pekerja proyek di sana, pun alat-alat beratnya. Yang ada hanya rangkaian besi-besi ulir berkarat karena terpapar terik mentari dan hujan saban hari.


Sebagian besi itu sudah tertuang semen cor. Namun, sebagian besar rangka belum dituangi semen. “Saya dengar ditolak sekelompok warga. Tapi, persisnya juga enggak tahu,” lanjutnya.

Berdasarkan catatan Solopos.com, proyek itu terhenti sejak Rabu (19/10/2016) malam atau empat bulan lalu. Saat itu, pekerja proyek yang tengah mengecor rangkaian besi mendadak didatangi sekelompok warga. Mereka langsung meminta pekerja menghentikan aktivitas.

Mereka berdalih ukuran underpass tak sesuai rencana awal. Mereka menuding ada indikasi korupsi dalam proyek itu dan melaporkan pelaksana proyek ke polisi.

Tuduhan itu sempat terbantahkan setelah tim teknis dari Pemkab Boyolali menjelaskan tahapan teknis proyek. Namun, warga enggan menanggapi keterangan tim dari Pemkab dan tetap berniat membawa kasus itu ke meja hijau.

“Kami tak mau berdebat soal ini [tahapan teknis pelaksaan proyek]. Biarlah penyidik kepolisian yang mengusut,” ujar salah satu perwakilan warga saat beraudiensi dengan pejabat pembuat komitmen (PPK) tol Soker dan jajaran Muspika saat itu.

Sejak itulah, proyek terhenti. Pekerja proyek mengalihkan pekerjaan ke lokasi lain yang tak bermasalah. Proyek underpass itu akhirnya dibiarkan terbengkalai.

Menanggapi hal ini, Kapolsek Ngemplak, AKP Joko Widodo, menegaskan polisi akan mengawal proyek nasional itu sampai tuntas. Kepolisian tak segan menerjunkan petugas guna mengamankan proyek jika sudah ada perintah.

“Kami siap mengamankan proyek nasional tol Soker. Jika proyek sudah dilanjutkan, kami akan terjunkan aparat ke lokasi untuk pengamanan,” paparnya.

Meski demikian, Joko berharap masalah itu bisa diselesaikan secara mediasi. Harapannya, warga dan satker bisa menemukan jalan tengah. Namun, jika mediasi tak membuahkan hasil dan warga bersikeras menghalang-halangi proyek, polisi tak segan menindak sesuai hukum. “Jika ada indikasi perbuatan pidana, ya akan kami proses hukum,” tegasnya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Tol Soker, Bedru Cahyono, memastikan proyek akan dilanjutkan secepatnya. PPK ditenggat sebelum Lebaran, tol harus sudah jadi untuk jalur arus mudik dan arus balik Lebaran 2017.

“Secepatnya akan kami lanjutkan. Kami akan meminta back up polisi untuk mengamankan pelaksanaan proyek,” ujarnya.

sumber :

Selasa, 21 Februari 2017

Menteri PU Targetkan Tahun Depan Tol Soker Harus Beroperasi


Tol Solo-Kertosono saat dibuka pada Juli 2016 lalu. 
Foto : Maksum NF

SRAGEN – Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPera) menargetkan ruas tol Solo-Kertosono (Soker) harus bisa beroperasi mulai 2018 mendatang.

Sementara, untuk menghadapi arus mudik Lebaran ini, Tol Soker ditargetkan sudah bisa dibuka dari Kartasura sampai ke Ngawi.

Hal itu disampaikan Menteri PU Pera, Basuki Hadimuljono seusai meninjau progres pengerjaan Tol Soker dari arah Kartasura menuju Sragen, Senin (20/2/2017).

Ia mengatakan, sidak kemarin juga melibatkan tim Komisi V DPR RI yang bersama-sama melakukan tinjauan infrastruktur di wilayah Sragen.

“Tahun 2018, Tol Soker harus sudah beroperasi. Jangka pendeknya pada arus mudik nanti harus sudah bisa dipakai,” paparnya kepada wartawan.

Menurutnya dari hasil tinjauannya kemarin, progres pengerjaan tol Soker dari mulai Kartasura sampai Sragen, sudah on the track. Menurutnya pembebasan lahan sudah mencapai 92 persen dan progres pekerjaan sudah sekitar 50 persen.

Ia optimis jalan bebas hambatan itu bisa dibuka pada arus mudik Lebaran nanti. Bahkan, nantinya untuk arus mudik, jalur akan dibuka menyambung sampai ke Ngawi.

“Tapi mudik itu baru untuk fungsional, belum operasionalnya. Kalau operasionalnya nanti dibuka 2018. Semua jalur tol Trans Jawa tahun 2018 harus beroperasi. Termasuk Tol Semarang-Solo,” jelasnya.

Perihal adanya protes dan aspirasi warga di beberapa titik di Sragen yang menghendaki tambahan jalan tembus maupun perubahan akses penghubung di Tol, Basuki tidak menampik hal itu.

Menurutnya dari laporan pihak penanggung jawab proyek Tol Soker, beberapa permintaan sudah diakomodasi dan sebagian lain masih dalam proses kompromi untuk diselesaikan.

Sementara, Pimpinan Proyek (Pimpro) PT SNJ, Iwan Rosa mengatakan, sebagian besar permintaan warga terkait akses penghubung di Tol Soker, sudah dipenuhi beberapa waktu lalu.

Menurutnya hanya ada beberapa saja yang saat ini masih dalam pembahasan dan menunggu keputusan dari Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) pusat.

“Karena permintaan itu tambah terus. Tapi yang kemarin-kemarin sudah dipenuhi, hanya tinggal satu dua saja yang belum,” jelasnya.

sumber :

Soal Exit Tol Tambahan, BPJT Sarankan Pemkot Salatiga Temui Ditjen Bina Marga

Menkeu Sri Mulyani meninjau proyek jalan tol Bawen-Solo 
di Desa Delik, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, 
Jumat (17/2/2017). 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI menyarankan Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga untuk dapat segera menemui dan berkoordinasi kembali secara intensif dengan Ditjen Bina Marga yang masih di bawah naungan KemenPUPR RI.

Saran itu disampaikan Humas BPJT Wisnu Priambodo terkait informasi adanya rencana Pemerintah Kota Salatiga hendak jemput bola menanyakan perkembangan nasib usulan sejak 2009 terkait pengadaan serta pembangunan pintu tol tambahan di Jalan Patimura Kelurahan Kauman Kidul Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga.

“Terkait dengan usulan penambahan exit tol tersebut, saat ini masih dievaluasi oleh rekan-rekan di Ditjen Bina Marga. Jadi, dapat kami sampaikan, untuk proses termasuk juga direalisasikan atau tidaknya usulan Pemkot Salatiga tersebut, bukan ranah kami, tetapi Ditjen Bina Marga,” kata Wisnu kepada Tribunjateng.com, Selasa (21/2/2017).

Sehingga, lanjutnya, apabila Pemkot Salatiga ingin segera memperoleh kepastian disetujui atau tidaknya penambahan exit tol yang diklaim sebenarnya telah memperoleh lampu hijau pada 2015 lalu, diharapkan untuk dapat segera dikomunikasikan dan dikoordinasikan lebih lanjut dengan pihak yang lebih berwenang.

“Saat ini kami sedang konsentrasi untuk penyiapan uji laik operasional di Ruas Tol Bawen-Salatiga. Kami juga sedang ngepush pihak PT Trans Marga Jateng (TMJ) untuk percepatan sehingga tim BPJT dapat segera turun ke lapangan. Hingga saat ini, kami masih menunggu kepastiannya. Target kami paling lambat akhir Februari 2017 ini bisa dilaksanakan,” ujarnya.

Sebelumnya, Pemkot Salatiga mengklaim berkait usulan penambahan pintu tol di perkotaan Kota Salatiga dalam proyek pembangunan Tol Semarang-Solo Seksi III Bawen-Salatiga sepanjang 17,6 kilometer tersebut sudah sejak lama disampaikan kepada Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI.

Bahkan dalam perkembangannya atau sekitar dua tahun lalu, untuk merealisasikan pintu tol tersebut, Pemkot Salatiga tidak akan mengeluarkan dana. Seluruhnya bakal ditanggung oleh Pemerintah Pusat. Adapun konsepnya yakni berupa pintu tol simpang susun atau interchain antara Bugel dan Kauman Kidul.

Namun, Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (BP3D) Kota Salatiga Tedjo Supriyanto menyampaikan apabila usulan penambahan pintu tol tersebut yang telah diajukan hingga saat ini belum memperoleh persetujuan secara resmi oleh Pemerintah Pusat. Proyek tersebut dapat terealisasikan ketika persetujuan itu telah ada.

“Berkait bagaimana nasibnya, kami masih menunggu. Hingga sekarang kami belum memperoleh informasi lagi berkait perkembangan ataupun tindaklanjut atas usulan yang telah kami sampaikan tersebut. Harapan kami, itu bisa disetujui dan dapat segera dibangun. Karena informasi terakhir, yang akan membangun pintu tol tambahan itu adalah Pemerintah Pusat,” ucap Tedjo. (*)

sumber :

Senin, 13 Februari 2017

Tol Bawen-Yogyakarta Harus Libatkan Pengusaha Lokal


Jalan tol. Foto/Ilustrasi/SINDOnews

YOGYAKARTA - Rencana pembangunan jalan tol Bawen-Yogyakarta sebagai penunjang pariwisata di wilayah ini disambut baik berbagai pihak. Hanya saja, Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) Daerah Istimewa Yogyakarta tetap meminta keterlibatan pengusaha lokal dalam proyek ini.

Plt, Sekretaris Daerah Yogyakarta, Rani Sjamsinarsi mengungkapkan akan mengundang Kadin Yogyakarta untuk dimintai pendapat terkait proyek tersebut. "Mungkin nanti dimintai pendapat seperti apa sebaiknya tol tersebut," tuturnya, Minggu (12/2/2017).

Meski demikian, Rani belum mengetahui secara detil rencana proyek tol Bawen-Yogyakarta. Tol tersebut sangat penting untuk memperlancar arus lalu lintas yang belakangan sudah mulai tersendat. Tol ini nantinya menyambungkan konektivitas Cilacap-Yogyakarta ke Solo ataupun ke Semarang yang kini sudah ada tol Semarang-Solo via Bawen.

Dengan keberadaan tol ini, diharapkan mampu memperlancar arus kedatangan wisatawan ke Yogyakarta. Borobudur sebagai salah satu sentra pariwisata di Jawa bagian Tengah ini akan semakin banyak dikunjungi. Karena tol ini bisa didesain melalui beberapa jalur alternatif menuju ke kawasan tersebut.

Sementara itu, Kadin Yogyakarta berharap agar proyek ini tetap melibatkan pengusaha lokal. Ketua Kadin Yogyakarta, GKR Mangkubumi menandaskan hal tersebut. Hanya saja, ia mengakui masih banyak keraguan dari pengusaha lokal untuk terlibat dalam hal tersebut. Karena memang kemampuan yang terbatas dari pengusaha lokal itu sendiri.

"Sederhana saja contohnya, proyek ini membutuhkan pasir 1.000 truk, tetapi pengusaha lokal hanya mampu sediakan maksimal 100 truk. Ini yang membuat pengusaha lokal 'minder', "tuturnya.

Sebenarnya, 'ketidakmampuan' pengusaha lokal tersebut bisa diatasi dengan membuat konsorsium, seperti Jogja Incoroporated yang terbentuk beberapa bulan lalu. Namun sampai saat ini belum ada langkah nyata menindaklanjuti Jogja Incorporated. Karena para pengusaha lokal masih terlibat dengan ego mereka masing-masing.

Pengusaha lokal sendiri masih enggan bekerja sama dengan rekan sesama pengusaha lokal karena berbagai hal. Hal ini tentu membuat lemah persaingan mereka dengan pengusaha dari Jakarta dan investor dari luar negeri.

"Ayolah kita bekerja sama. Kalau saya sendiri tidak bisa, saya ini anak Gubernur nanti dikira minta proyek. Saya hanya bisa mendorong teman-teman Kadin untuk segera mengambil langkah," tandasnya. (ven)

sumber :

Minggu, 12 Februari 2017

Tol Bawen-Yogyakarta Dilelang Awal 2018



Ilustrasi (Foto: Agung Pambudhy)


Jakarta - Jalan tol menuju Yogyakarta bakal dibangun oleh pemerintah lewat Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) untuk mendukung pengembangan wisata ke kawasan tersebut. Bagaimana kesiapannya saat ini?

Kepala BPJT Herry Trisaputra Zuna mengatakan, saat ini pihaknya tengah menyiapkan dokumen lelang investasi untuk mencari investor paling kompeten untuk mendanai proyek tersebut.

Bersamaan dengan itu, saat ini juga tengah dilakukan proses pembebasan lahan untuk kawasan-kawasan yang akal dilewati rute jala tol tersebut.

"Kita sekarang sedang siapkan dokumen pengadaan tanahnya. Sembari kita sedang siapkan dokumen lelangnya. Awal tahun depan (awal 2018) kita akan mulai lelang," kata dia dihubungi detikFinance, Minggu (12/2/2017).

Dari data BPJT, jalan tol ini bakal memiliki panjang mencapai 70 km. Biaya investasi untuk proyek ini diperkirakan mencapai Rp 10,72 triliun.

Jalan tol Bawen-Yogyakarta tidak akan berdiri sendiri karena akan terkoneksi dengan jalan tol yang saat ini telah beroperasi.

Sekedar informasi, di Bawen sendiri saat ini telah tersedia jalan tol Semarang-Solo. Tol Semarang-Solo, saat ini telah beroperasi dua seksi yakni seksi 1 Tembalang-Ungaran sepajang 16,3 km dan seksi 2 Ungaran-Bawen sepanang 11,3 km. Untuk seksi 3 Bawen-Salatiga, saat ini tengah dalam tahap konstruksi. Selain 3 seksi itu, tol Semarang-Solo memiliki dua seksi lagi yakni seksi 4 Salatiga-Boyolali sepanjang 22,4 km dan seksi 5 Boyolali-Kartosuro sepanjang 11,1 km.

Adapun persambungan dengan tol Bawen-Yogyakarta akan terjadi di ruas tol Ungaran-Bawen.

"Nanti dari Bawen pecah (ada persimpangan) ada yang ke Salatiga. Sekarang sedang tahap konstruksi. Nanti yang baru akan kita bangun Bawen-Jogja," kata Herry.

Bila seluruh rusa jalan tol tersebut terbangun, maka 3 kota yakni Semarang, Solo dan Yogyakarta akan tersambung jalan tol. Membuat waktu tempuh ketiga kota akan semakin singkat. (dna/dna)

sumber :

Selasa, 03 Januari 2017

TOL SEMARANG-SOLO : Blokade Jalan di Ngargosari Ampel Akhirnya Dibuka



Warga tutup Jalan Plumbon. (JIBI/Harian Jogja/Joko Nugroho)

"Tol Solo-Semarang, aparat kepolisian bersama warga akhirnya membuka blokade jalan di Ngargosari."

Solopos.com, BOYOLALI — Aparat kepolisian bersama jajaran perangkat Desa Ampel serta koramil Ampel akhirnya membuka portal yang menghalangi akses warga Dukuh Ngasemrejo, Desa Ngargosari, Ampel, Boyolali.

Polisi menjanjikan mediasi antara pemilik lahan dengan pelaksana proyek terkait status jalan tersebut. “Untuk sementara penutup jalan sudah kami buka kembali agar bisa dilewati pengguna jalan. Besok [hari ini] akan kami mediasi antara pemilik lahan dengan pelaksana proyek tol,” ujar Kapolsek Ampel, AKP Edi Sukamto, saat dihubungi Solopos.com, Senin (2/1/2017).

Seperti diketahui, pembebasan lahan tol Semarang-Solo di wilayah Ampel memicu masalah sosial. Salah satunya, akses di Dukuh Ngasemrejo, Desa Ngargosari, Ampel, Boyolali, diblokade sejumlah pemilik lahan lantaran uang sewa penggunaan lahan tersebut belum dibayarkan oleh pelaksana proyek.

Hal inilah yang memicu masalah sosial. Warga dari tiga dukuh, yakni Ngasemrejo, Gumukrejo, dan Dukuh tak bisa keluar masuk lewat jalan tersebut. Permasalahan ini sangat disayangkan sejumlah warga. Banyak pelaku usaha yang kini merugi lantaran kesulitan akses.


“Uang sewa lahan tersebut berakhir Desember lalu, namun hingga kini belum diperpanjang. Jadi, sekarang sedang diupayakan mediasi,” papar Kapolsek.

Kapolsek meminta warga agar tetap berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kepolisian jika menghadapi permasalahan. Dia mengimbau agar warga tak melakukan tindakan anarkistis yang bisa memicu masalah lebih runyam.

“Koordinasikan dengan [pemerintah] desa. Saya yakin masalah ini bisa diselesaikan,” terangnya.

Sementara itu, warga yang tinggal di pinggir jalan tersebut, Eko Verianto, mengaku sangat dirugikan atas penutupan jalan itu. Tak hanya dirinya, sejumlah usaha milik warga juga sepi pembeli dan gulung tikar lantaran permasalahan tanah tersebut.

“Di sana, ada banyak usaha milik warga. Ada pedagang makanan, toko kelontong, usaha jasa, dan lain-lain. Ada tiga dukuh yang terkena imbasnya,” paparnya.

Eko melanjutkan jalan yang ditutup tersebut saat ini sudah berupa jalan layak lengkap dengan drainasenya. Meski demikian, status jalan tersebut masih milik warga setempat alias belum dibebaskan.

“Kami tak tahu, apakah status tanah itu nanti tetap sewa atau dibebaskan untuk kepentingan umum. Yang jelas, jalan sudah siap dilintasi, namun sekarang diblokade oleh pemilik tanah,” ujarnya.

sumber :

Minggu, 25 Desember 2016

41 Ribu Kendaraan Lintasi Tol Ungaran

Pengguna Jalan Disarankan Istirahat di Restarea

Anggota Sat PJR Jateng X tengah mengamankan jalan tol
KM 32.200 ruas Bawen-Banyumanik karena di lokasi
tersebut ada bus yang kempes ban, Minggu (25/12) siang. 
(suaramerdeka.com/ dok PJR Jateng X)

UNGARAN, suaramerdeka.com – Sentra Komunikasi PT Trans Marga Jateng (TMJ) menyatakan, telah terjadi lonjakan arus kendaraan yang melintas di tol Banyumanik-Bawen pada, Sabtu (24/12) malam hingga Minggu (25/12) pagi. Dari data diketahui, total kendaraan yang melintas kemarin malam ada 41.809 unit kendaraan.

Sementara, Minggu (25/12) dini hari hingga siang dari tol Banyumanik mengarah ke Bawen tercatat ada 20.266 kendaraan yang melintas. Sementara dari tol Bawen menuju Banyumanik total kendaraan yang melintas 17.767 unit kendaraan.

“Kami baru menerima data jumlah kendaraan sampai pagi tadi. Adapun data siang hingga petang belum terlihat karena pergantian shift baru dilakukan pukul 22.00,” kata Nanda Firman, Minggu (25/12) petang.

Terpisah, Kasat Patroli Jalan Raya (PJR) Polda Jateng, AKBP Mahesa Sugriwo melalui Kasubnit PJR Jateng X Tol Banyumanik-Bawen, Iptu Ragil Irawan mengatakan, selama melakukan patroli kemarin pihaknya tidak menemukan kejadian menonjol.

Terlepas dari itu, Iptu Ragil menyarankan kepada semua pengguna jalan untuk beristirahat di restarea yang sudah disediakan engelola tol.

“Alhamdulilah negatif kejadian. Jangan istirahat di ruas jalan tol, silahkan rehat di restarea. Di sana kami nilai lebih representatif dan aman,” tegasnya. (Ranin Agung/ CN33/ SM Network)

sumber :
suaramerdeka

Tahun depan, Jasa Marga tutup 3 gerbang tol



JAKARTA. Operator tol pelat merah Jasa Marga Tbk akan membongkar tiga gerbang tol, tahun depan.

AVP Corporate Communication PT Jasa Marga Dwimawan Heru mengatakan salah satu yang akan dibongkar merupakan gerbang tol (GT) Karang Tengah di jalan tol Jakarta-Tangerang. Pembongkatan dilakukan untuk pemberlakuan integrasi sistem transaksi di jalan tol Jakarta-Tangerang dan Tangerang-Merak. Dengan pembongkaran tersebut, pengguna jalan tol hanya berhenti di satu gerbang transaksi.

"Integrasi ini merupakan cluster ketiga yang kami lakukan," ujar Heru kepada Kontan, Jakarta.

Menurut Heru, pihaknya telah melakukan integrasi cluster satu pada jalan tol Jakarta-Cikampek dan Cikampek-Palimanan. Selain itu untuk cluster dua dilakukan pada jalan tol Palimanan-Kanci, tol Kanci-Pejagan dan tol Pejagan-Pemalang.

Bukan hanya itu, perusahaan juga akan membongkar gerbang tol Cibubur Utama dan gerbang tol Cimanggis Utama pada pertengahan tahun depan. Pembongkaran juga dilakukan untuk mengatasi kemacetan.

GT Cibubur Utama dan GT Cimanggis Utama merupakan gerbang tol utama yang digunakan para pengguna jalan dan commuter di wilayah Jakarta untuk menuju ke arah selatan Jakarta atau sebaliknya. Karena peran strategisnya menjembatani lalu lintas dari dua kota besar yaitu Jakarta dan Bogor, pada saat jam sibuk, kepadatan di GT Cibubur Utama dan Cimanggis Utama cukup panjang dan dapat mencapai lebih dari 5 kilometer.

"Sehingga total terdapat tiga gerbang tol yang akan kami bongkar tahun depan," ujar Heru

Sementara itu, Heru mengatakan, pihaknya berencana mengoperasikan 235 tol baru pada tahun depan. Beberapa jalan tol yang akan beroperasi antara lain jalan tol Semarang-Solo (Bawaen-Salatiga sepanjang 17,5 kilometer.

"Untuk jalan tol Semarang-Ungaran dan Ungaran-Bawaen sudah beroperasi, sekarang Bawean-Salatiga akan kita buka tahun depan," ujar Heru.

Kemudian, jalan tol Surabaya-Mojokerto (Ssepanjang-Krian) sekitar 15,5 kilometer. Jalan tol tersebut melengkapi ruas yang telah beroperasi terlebih dahulu yakni Krian-Mojokerto dan Waru-Sepanjang. Dengan demikian, jalan tol Surabaya-Mojokerto akan beroperasi secara penuh pada tahun depan.

Jasa Marga juga akan mengoperasikan jalan tol Gempol-Pasuruan sepanjang 20,5 kilometer, tol Medan-Kualanamu-Tebingtinggi(Perbarakan-Seri Rampah) sekitar 41,69 kilometer, jalan tol Solo-Ngawi sepanjang 90,25 kilometer dan Ngawi-Kertosono sekitar 49,51 kilometer.

sumber :

Jumat, 23 Desember 2016

Harga Belum Deal, Rumah Bertahan di Lahan Proyek Tol


Warga yang sudah menerima ganti rugi rela membongkar 
bangunan miliknya.Dan sejumlah rumah lainnya memilih 
bertahan.|Yulianto-lintassolo.com

BOYOLALI,Lintas Solo-Pembangunan jalan tol ruas Solo- Semarang seksi Salatiga- Boyolali yang melintasi area pemukiman terus berlanjut.

Pelaksanaan terus dikebut, diharapkan segera terhubung dengan Tol Solo- Mantingan di Desa Denggungan, Kecamatan Banyudono.

Akan tetapi, di Dukuh Bukuning, Desa Mudal, Kecamatan Boyolali Kota, sejumlah rumah terlihat masih berdiri diantara puing-puing bekas rumah yang dibongkar karena terkena proyek jalan tol.

Menurut warga setempat, rumah tersebut seharusnya juga ikut tergusur karena jalan tol akan melewati lahan di atasnya. Namun, karena belum ada kesepakatan harga, bangunan tersebut tak kunjung dibongkar.

Salah satunya milik Purwanti (37) yang belum menerima ganti rugi. Sehingga, dia masih bertahan di rumah yang juga milik orang tuanya. Dia berharap pemerintah memperhatikan masukan dari warga.

“Di Bukuning masih ada delapan warga yang belum sepakat dengan ganti rugi. Kami masih bertahan meskipun sudah mendapatkan surat pemberitahuan dari pemerintah desa,”katanya,saat ditemui lintassolo.com,Jumat(23/12/2016).

Dia dan tujuh warga lain meminta ganti rugi sama dengan ganti rugi terbesar yang diterima warga yaitu sebesar Rp 550.000/m2. Namun tim appraisal hanya menetapkan ganti rugi untuk dirinya sebesar Rp 480.000/m2.

Berkait konsinyasi yang kini dititipkan di PN Boyolali, dia mengakus sudah mendengarnya. Namun, ia dan warga lainnya menyatakan belum sepakat dengan ganti rugi masih berharap ada musyawarah.

Sementara, warga yang sudah menerima ganti rugi rela membongkar bangunan miliknya. Bagian bangunan yang masih bisa dimanfaatkan diambil seperti kayu, genteng dan bata merah.

“Ini saya mencari bata merah di bongkaran rumah milik paman saya,” ujar Sri Narjo (45) salah satu warga.

Dirinya juga mengaku telah menerima ganti rugi untuk pekarangan rumah miliknya seluas 156 m2. Total ganti rugi termasuk tanaman sebesar Rp 74 juta. Uang tersebut sebaian dia gunakan untuk membeli pekarangan dan sisanya ditabung.

Demikian pula Ifah, warga lainnya juga mengaku sudah mendapatkan ganti rugi untuk rumah dan pekarangan seluas 500 m2. Hanya saja, dia enggan mengungkapkan nilai ganti rugi yang diterima. Alasannya, yang mengurusi adalah kakaknya.

“Rumah pengganti baru digangun, nanti kalau sudah jadi kami segera pindah,”ujarnya.

Informasi di PN Boyolali menyebut telah menerima 48 perkara dari total 68 perkara konsinyasi pembebasan lahan proyek jalan tol Solo- Semarang. Tiga pemilik lahan menyatakan menerima konsinyasi dan 45 lainnya belum ada kejelasan.

Menurut Humas PN Boyolali, Agung Wicaksono dari 68 perkara yang masuk PN, 15 perkara telah dicabut sebelum disidangkan. Sedangkan lima perkara didelegasikan kepada PN Jakarta Selatan.|Yulianto

sumber :
lintassolo

Lahan Terdampak Tol Soker di Ngemplak Boyolali Dikuasai Tuan Tanah Jakarta

Konstruksi pembangunan tol Solo-Kertosono di daerah 
Ngemplak, Boyolali saat difoto dari udara, 
Rabu (24/4/2013). (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)

"Sebanyak 70 lahan terdampak proyek Tol Soker di Pandeyan, Ngemplak, Boyolali, sudah dikuasai para tuan tanah di Jakarta."

Solopos.com, BOYOLALI — Sedikitnya 70 bidang lahan yang terdampak Tol Solo-Kertosono (Soker) di wilayah Desa Pandeyan, Ngemplak, Boyolali, bukan lagi milik warga setempat. Tanah-tanah tersebut rupanya telah dikuasai orang berkantong tebal dari luar desa dan orang-orang Ibu Kota Jakarta.

Kondisi inilah yang menyulitkan pemerintah desa dalam berkoordinasi dengan mereka dalam proses pembebasan lahan tambahan Tol Soker. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Desa Pandeyan, Sukasno.

“Saat ini misalnya. Proyek pembebasan lahan tengah dimulai, namun pemiliknya rata-rata bukan warga setempat. Kami kesulitan memberitahu pemilik lahan yang terkena tol. Karena mereka ada yang di Jakarta, dan kota-kota lainnya,” ujar Sukasno saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Jumat (23/12/2016).

Sukasno menjelaskan tanah-tanah terdampak Tol Soker di Desa Pandeyan semuanya berupa hamparan sawah. Sawah-sawah tersebut tetap digarap setiap tahun oleh warga setempat dengan sistem sewa. “Dulunya tanah-tanah tersebut milik warga setempat. Namun karena impitan ekonomi, tanah-tanah sawah produktif itu dijual kepada para konglomerat [orang kaya]. Jadi, warga desa sekarang hanya penggarap sawah saja,” paparnya.


Kondisi tersebut kini mulai berdampak serius terhadap keberlangsungan dunia pertanian di Desa Pandeyan. Salah satunya adalah hilangnya rasa memiliki dan lunturnya semangat petani dalam merawat pertanian. Sebab, mereka merasa hanya sebagai penggarap sawah saja dan bukan lagi sebagai pemilik lahan.

“Terus terang, pertanian di Pandeyan susah maju. Kadang merawat irigasi saja susah karena mereka merasa hanya sebagai penggarap saja,” paparnya.

sumber :