javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Rabu, 08 Juni 2016

Pemerintah Cicil Pembayaran Konstruksi Tol Salatiga-Solo


Kendati bisa digunakan, Indriyono menyatakan hanya 
kendaraan golongan 1 non bis yang bisa melalui Seksi 3 
Bawen-Salatiga tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagai bentuk dukungan terhadap percepatan pembangunan infrastruktur jalan tol, Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR) menggunakan skema availability payment (AP) atau Pembayaran Ketersediaan Layanan.

Skema ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 Tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur.

Menurut Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna, Pembayaran Ketersediaan Layanan ini, memungkinkan pembangunan jalan tol dibayar setelah beroperasi.

"Setelah itu, nanti pemerintah bayar. Bayarnya dicicil, 20 tahun misalnya," ujar Herry di Kementerian Koordinator Bidang Perekonmian, Jakarta, Rabu (8/6/2016).

Skema pembiayaan ini, lanjut Herry, bagus untuk diterapkan karena disertai syarat khusus, yakni kualitas jalan harus baik. Artinya, tidak boleh ada lubang pada jalan.


ilustrasi

Ridwan Aji Pitoko/Kompas.comTerakhir, progres fisik pembangunan paket 3.3D Sidorejo-Tengaran yang dikerjakan oleh PT Nindya Karya (Persero) KSO dengan PT Jaya Konstruksi baru mencapai 28,068 persen.
Jika ditemukan kerusakan atau lubang, akan ada pengurangan cicilan terhadap yang dibayarkan.

Dengan demikian, kontraktor atau badan usaha lebih tertantang untuk memberi layanan secara maksimal.

"Bukan lagi fisik yang kita beli, tetapi service," sebut Herry.

Saat ini, lanjut dia, skema tersebut baru dicoba untuk diterapkan di ruas Tol Salatiga-Solo. Ruas tol ini termasuk dalam Jalan Tol Semarang-Solo yang terdiri dari lima seksi, yaitu Semarang-Ungaran, Ungaran-Bawen, Bawen-Salatiga, Salatiga-Boyolali, dan Boyolali-Kartasura.

Ke depannya, menurut Herry, skema ini mungkin bisa digunakan untuk membangun jalan lainnya yang tidak komersial dari sisi investasi.

sumber :

JALAN TOL: Ruas Bawen-Salatiga Kemungkinan Belum Bisa Dilintasi Saat Lebaran

Ilustrasi

Bisnis.com, SEMARANG--Jalan tol seksi III Bawen-Salatiga kemungkinan belum bisa dimanfaatkan untuk jalur mudik pada Lebaran nanti.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan tidak akan memaksakan pengoperasian jalan tol yang merupakan bagian dari ruas tol Semarang-Solo tersebut.

"Progress tetap didorong. Paralel dengan itu, uji kelayakan juga dilakukan. Nanti dari hasil uji teknis, baru kita statement ke publik, apakah ini layak digunakan apa tidak. Kalau nggak, ya nggak boleh dipaksa," tuturnya seperti dikutip dari laman resmi, Rabu (8/6/2016).

Dia menilai akan sangat berbahaya jika jalan tol tersebut dipaksakan untuk segera dioperasikan. Menurutnya, pemudik dapat menggunakan laur lain yang sudah disiapkan keamanan dan kenyamanannya.

"Buat apa kita memaksakan satu jalur, tapi keamanannya mengancam. Kan bahaya. Lebih baik dituntaskan sampai betul-betul siap. Kalau siap, kita langsung pakai. Kalau tidak layak ya jangan," katanya.

Dia menuturkan akan diadakan rapat untuk memastikan area atau jalur-jalur yang disiapkan untuk dilintasi pemudik dalam waktu dekat ini. Termasuk, sambungnya, mengenai perkembangan pembangunan jalan tol Bawen-Salatiga tersebut. 
 
sumber :

Trans Marga Jateng Pasang "Inclinometer" Pantau Konstruksi Jembatan Penggaron



Kompas.com/ Syahrul Munir Pengerjaan fisik jalan tol ruas 
Bawen-Salatiga dikebut, termasuk jembatan tol Tuntang, 
Kabupaten Semarang sepanjang 370 meter dengan tinggi 56 meter. 
Foto diambil, Jumat (27/5/2016)
BAWEN, KOMPAS.com - PT Trans Marga Jateng (TMJ) sebagai operator Jalan Tol Semarang-Solo terus melakukan perkuatan struktur Jembatan Penggaron yang pernah mengalami retak rambut beberapa waktu sebelumnya.

Jembatan dengan panjang 400 meter ini berdiri di atas tanah Hutan Penggaron yang cenderung labil.

Direktur Teknik dan Operasi PT TMJ, Arie Irianto mengatakan, saat ini ada pekerjaan memperkuat struktur Jembatan Penggaron.

Untuk memperkuat struktur tanah telah dilakukan beberapa langkah, antara lain dengan perkuatan pilar melalui pemasangan pondasi bor pile, dan cut and file bukit untuk mengurangi tekanan daya dorong tanah.

Selain itu, PT TMJ juga memasang alat pengukur pergerakan tanah atau inclinometer di sejumlah titik yang dianggap rawan longsor.

"Secara umum di ruas Semarang-Ungaran ada lima wilayah rawan longsor. Yang empat sudah tertangani, satu masih dalam proses," kata Arie, Selasa (7/6/2016).

Kelima titik rawan longsor tersebut, lanjutnya, termasuk Jembatan Penggaron yang dimonitor selama 24 jam. Namun sejauh ini, imbuhnya, kondisinya masih aman untuk dilalui pengguna jalan tol.

"Pemeliharaanya masih tanggungjawab kontraktor, setelah tiga tahun baru kita," tuntasnya.
 
sumber :

Tol Bawen-Salatiga Belum Rampung, TMJ Siapkan Jalur Alternatif Mudik Lebaran 2016


Kompas.com/ Syahrul MunirRombongan peserta Rapat 
Koordinasi Kesiapan Tol Bawen-Salatiga Untuk Jalur 
Alternatif tengah meninjau jalan tol Bawen-Salatiga, 
Rabu (8/6/2016).

BAWEN, KOMPAS.com - Penggunaan jalur alternatif untuk memfungsikan ruas Tol Bawen-Salatiga pada arus mudik lebaran 2016 diragukan sejumlah pihak.

Hal itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Kesiapan Tol Bawen-Salatiga Untuk Jalur Alternatif yang digelar di Kantor Polres Semarang, Rabu (8/6/2016).

Rapat yang dipimpin oleh Kapolres Semarang AKBP V Thirdy Hadmiarso tersebut dihadiri juga oleh Dirlantas Polda Jateng Kompes Pol Herukoco, Bupati Semarang Mundjirin, serta jajaran terkait seperti PT Trans Marga Jateng (TMJ) sebagai pihak operator, Satlantas Polres Semarang, Satlantas Polres Salataiga, Dishubkominfo Kabupaten Semarang, Dinas PU Kabupaten Semarang dan pihak terkait lainnya.

Dalam paparannya, Pimpinan Proyek Seksi III Tol Semarang-Solo, Indriyono mengatakan, saat ini ada 4 titik pekerjaan yang harus dikebut agar ruas tol sepanjang 17,5 kilometer tersebut dapat dilalui sebagai jalaur alternatif pada arus mudik 2016 mendatang.

Keempat titik yang belum tersambung tersebut berada di dusun Pancuran, Jembatan Tuntang, Jembatan Senjoyo dan dusun Barukan, kecamatan Tengaran.

"Jembatan Senjoyo belum nyambung tapi estimasinya H-7 sudah rampung. Begitu pula didusun Barukan, terdapat simpang susun Salatiga sekitar 500 meter belum nyambung karena proses pembebasan tanahnya baru dibayarkan 31 mei kemarin," kata Indriyono.

Pihaknya saat ini masih mempunyai sisa waktu selama 14 hari kerja untuk menyelesaikan pekerjan di empat titik tersebut agar bisa dilalui sebagai jalur alternatif pada H-7 lebaran.

"Termasuk hari ini sampai cor terakhir. Sehingga pada tanggal 21 Juni 2016 kami selesai cor, pada tanggal 29 Juni 2016, harapannya sudah bisa dilalui pemudik," imbuhnya.

Sementara itu terkait penyiapan jalur alternatif untuk menghindari jembatan Tuntang, telah disiapkan pembukaan jalur dari sebelum pintu keluar Tol Bawen, lurus ke arah Tenggara menuju ke dusun Mangkelang, Bawen sepanjang 700 meter.

"Tepat sebelum jembatan Tuntang, kami arahkan ke kanan masuk ke perkebunan di lahan PTP IX, kemudian keluar ke arah jalan nasional Semarang-Solo," sebut Indriyono.


Kompas.com/ Syahrul MunirRapat Koordinasi Kesiapan 
Tol Bawen-Salatiga Untuk Jalur Alternatif yang digelar 
di Kantor Polres Semarang, Rabu (8/6/2016).

Pada titik ini, sebelum kendaraan bergabung dengan arus jalan Semarang-Solo, Indroyono memprediksi adanya konflik arus lalu lintas dengan jalan desa.

Pasalnya, di kawasan tersebut ada jalan makam warga dan sejumlah pedagang kaki lima. Pembukaan jalur alternatif melalui Dusun Mangkelang ini, lanjutnya, menimbulkan beberapa konsekuensi.

Di antaranya adalah penebangan ratusan pohon kopi produktif sepanjang 700 meter, dengan lebar 7,5 meter.

"Hari ini mulai ditebang. Sebenarnya dari pihak PTPN IX agak keberatan, tetapi karena sudah instruksi pak menteri, terpaksa dilakukan," katanya.

Berdasar data yang dipresentasikan Indroyono, tampak beberapa ruas jalan yang didokumentasikan menggunakan kamera nir awak (drone).

Ia pun memaparkan kondisi geografis jalan tersebut berupa tanjakan berkelok-kelok.

Dalam paparanya, pihak TMJ memperlihatkan citra udara ruas jalan tol Bawen-Salatiga dan sejumlah ruas jalur alternatif yang disiapkan.

Tampak beberapa ruas jalan yang didokumentasikan dari udara secara topografis jalan tersebut banyak terdiri dari tanjakan dan turunan tajam, serta jalur yang berkelok-kelok.

"Layak dan tidaknya sebagai jalur alternatif, kami serahan sepenuhnya kepada tim penilai." cetus Indriyono.


Kompas.com/ Syahrul MunirPengerjaan fisik jalan tol 
ruas Bawen-Salatiga dikebut, termasuk jembatan tol Tuntang, 
Kabupaten Semarang sepanjang 370 meter dengan 
tinggi 56 meter. Foto diambil, Jumat (27/5/2016)

Sementara itu menurut Bupati Semarang, Mundjirin, pemanfaatan Jalan Tol Bawen-Salatiga sebagai jalur alternatif pada arus mudik 2016 cukup dilematis.

Satu sisi pihaknya harus mengamankan kebijakan pemerintah pusat agar jalan tol tersebut dioptimalkan, namun di sisi lainya kondisi jalan tersebut ia nilai tidak layak dilalui.

"Ada kontradiksi dalam hati saya. Kalau saya ikuti instruksi dengan segala resiko kemungkinan tidak menyenangkan atau menyamankan pengunanya. Atau kita usulkan saja bersama-sama agar ini ditinjau ulang," ungkap Mundjirin.

Sejumlah ruas jalan alternatif untuk memfungsikan Tol Bawen-Salatiga tersebut, jika tetap dipaksakan dioperasikan, imbuhnya, membutuhkan upaya sungguh-sungguh dari semua pihak.

Misalnya, bila terjadi kecelakaan, maka harus dipastikan operasi penyelamatannya dapat dilakukan dengan baik.

"Andaikata ada kecelakaan, tidak mudah membawa korban ke rumah sakit. Sedangkan jalurnya sempit dan banyak bottle neck. Kalau jangan dipaksakan, kita pakai yang sudah ada gimana?," pinta Bupati.

Rapat koordinasi Kesiapan Tol Bawen-Salatiga Untuk Jalur Alternatif tersebut kemudian dilanjutkan dengan tinjauan lapangan untuk melihat progres fisik jalan tol Bawen-Salatiga serta jalur alternatif yang disiapkan.

Sebelumnya Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjamin ruas Seksi III Bawen- Salatiga sudah bisa beroperasi sebelum Lebaran tahun ini kendati belum rampung 100 persen.

Pembangunan jalan tol tersebut, lanjutnya, sudah dikebut meski ada beberapa titik yang mengalami keterlambatan akibat molornya proses pembebasan lahan.

sumber :

Mudik Lebaran 2016 : Yang Mau Mudik ke Solo Sekitarnya Wajib Baca Jalur Tol Terbaru Ini


Yang Mau Mudik ke Solo Sekitarnya Wajib Baca Jalur Tol Terbaru Ini 
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Pimpinan Proyek Jalan Tol Seksi III Bawen-Salatiga, Indroyono Soesilo menyiapkan rute untuk pemudik tujuan Solo maupun Salatiga melalui Dusun Mangkelang, Desa Asinan, Bawen Kabupaten Semarang.

Hal tersebut diutarakannya, sesuai arahan dari Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, M Basuki Hadimuljono, saat mengunjungi proyek tol Bawen-Salatiga, Jumat (27/5/2016) lalu.

"Sayangnya, pengerjaan di jembatan Tuntang kami perkirakan belum rampung pada H-7 Lebaran, sehingga harus dikeluarkan di dusun Mangkelang, dan bertemu dengan arus yang berada di jalan nasional Semarang-Solo," terangnya saat memaparkan presentasi dalam Rapat Koordinasi Kesiapan Tol Bawen-Salatiga untuk jalur alternatif di Mapolres Semarang, Rabu (8/6/2016) siang.

Indroyono menuturkan, perkembangan proyek tol saat ini mencapai 44 persen. Dengan kata lain, pekerjaan di jalan tol belum selesai. Sebagai informasi panjang proyek tol Bawen-Salatiga adalah 17,57 kilometer.

Ia menyebut, masih ada empat titik yang belum bisa dilalui kendaraan. Empat titik itu meliputi Dusun Pancuran, JembatanTuntang, Jembatan Senjoyo, dan Dusun Barukan, Kecamatan Tengaran.

"Untuk Jembatan Senjoyo, saat ini memang belum nyambung. Tetapi secara estimasi, kami prediksi pada h-7 akan rampung. Di Simpang Susun Salatiga ada sekitar 500 meter yang belum nyambung, karena pembebasan tanahnya baru dibayar Selasa (30/5/2016) kemarin," katanya.

Indroyono berujar, saat ini pihaknya masih mengupayakan agar jalur tersebut bisa dilalui saat H-7. Menurutnya, ia masih memiliki 14 hari kerja. "Termasuk hari ini sampai cor terakhir. Sehingga pada tanggal 21 Juni 2016 kami selesai cor, pada tanggal 29 Juni 2016, harapannya sudah bisa dilalui pemudik," harapnya.

Lebih rinci, Indroyono memaparkan jalur alterntif melalui Dusun Mangkelang. Dari pintu exit tol Bawen, akan dibuka jalan lurus ke arah Tenggara menuju ke dusun Mangkelang.

"Tepat sebelum jembatan Tuntang, kami arahkan ke kanan masuk ke perkebunan di lahan PT Perkebunan Nusantara IX, kemudian keluar ke arah jalan nasional Semarang-Solo," beber Indroyono.

Sebelum keluar bergabung dengan arus jalan Semarang-Solo, Indroyono memprediksi adanya benturan arus. Selain itu, di kawasan tersebut ada jalan makam warga dan sejumlah pedagang kaki lima.

Dia mengimbuhkan, pembangunan jalan alternatif melalui Dusun Mangkelang membutuhkan beberapa konsekuensi. Di antaranya adalah penebangan ratusan pohon kopi produktif sepanjang 700 meter, dengan lebar 7,5 meter.

"Dari pihak PTPN IX agak keberatan, tetapi karena sudah instruksi pak menteri, kami terpaksa melakukan penebangan," katanya.

Berdasar data yang dipresentasikan Indroyono, tampak beberapa ruas jalan yang didokumentasikan menggunakan kamera drone. Ia pun memaparkan kondisi geografis jalan tersebut berupa tanjakan berkelok-kelok. "Demikian paparan yang kami sampaikan, mohon dinilai apakah aman untuk pengguna jalan," ucapnya. (*)

sumber :

Progres tol Bawen-Salatiga berjalan lamban



ilustrasi

BAWEN. Progres pembangunan Jalan Tol Bawen-Salatiga berjalan lamban. Dalam sepekan, kemajuan fisiknya hanya 1,6 persen.

Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng, Arie Irianto mengatakan lambannya pengerjaan tol tersebut karena terkendala cuaca, yakni curah hujan yang tinggi.

Pekerjaan fisik di lapangan per 3 Juni 2016 masih berjalan 43,8 persen. Untuk bisa difungsikan sementara pada saat mudik Lebaran 2016, progres fisik harus mencapai 60 persen.

Artinya, TMJ hanya punya waktu tiga pekan lagi, untuk menggarap sisa target lebih kurang 16 persen. 

"Sekarang targetnya hanya terealisasi 1,6 persen. Padahal per minggunya harus 5 hingga 6 persen. Artinya kan tidak mengejar tiga minggu ini," kata Arie, Rabu (8/6/2016).

Arie mengakui pihaknya bergantung pada data prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk memantau perkembangan cuaca.

Tentang kesiapan Jalan Tol Bawen-Salatiga sendiri untuk arus mudik, pihaknya diundang oleh Polres Semarang untuk memaparkan progres tol serta penyiapan jalur alternatif tol.

"Rabu ini ada pertemuan melibatkan Kapolres Semarang, Kapolres Salatiga, Dishubkominfo, bersama Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) membahas kesiapan dan layak tidaknya jalur dilalui dilanjutkan tinjauan lapangan," papar dia.

Arie menambahkan, molornya pekerjaan fisik sebenarnya dipicu lambannya pembebasan tanah hingga delapan bulan dari target semula.

"Bayangkan coba delapan bulan mundur, dari Oktober 2015 hingga Juni 2016. Itu luar biasa lho. Sudah begitu yang belum bebas bukan tanah datar melainkan tanah kritis dan timbunan serta bobot konstruksinya tinggi," tuntas Arie.(Penulis: Kontributor Ungaran, Syahrul Munir)

sumber :

TOL BAWEN-SALATIGA : Pembebasan Lahan 99%


ilustrasi

Bisnis.com, SEMARANG—PT Trans Marga Jateng (TMJ) memastikan proses pembebasan lahan untuk proyek tol seksi III ruas Bawen-Salatiga mencapai 99% tercatat awal Juni 2016. 

Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng Arie Irianto mengatakan pembebasan lahan sampai sekarang masih terus berjalan. Dalam hal ini, pihaknya menyakini tidak ada masalah signifikan dalam proses pembebasan lahan yang berkaitan dengan lahan milik warga. 

Namun demikian, diakuinya, pembebasan lahan yang melalui tanah kas desa (TKD) masih belum beres dengan perkiraan persentase diangka 4%.

“Tinggal sedikit, hanya TKD yang belum clear tapi lahannya bisa dibikin konstruksi jalan,” papar Arie saat dihubungi Bisnis, Rabu (8/6). 

Menurutnya, hambatan proses pembangunan tol bukan lagi soal alotnya pembebasan lahan. Kendalanya, ujar Arie, karena faktor cuaca hujan yang tidak bisa diprediksi atau anomali cuaca. 

Semestinya, katanya, pada April sudah memasuki musim kemarau sehingga proses kontruksi berjalan lancar. 

“Prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika justru meleset. Ini justru yang menjadi kendala pembangunan,” terangnya.

Saat disinggung kesiapan jalur mudik Lebaran tahun ini, Arie menyerahkan kepada tim gabungan yang terdiri dari Kementerian Perhubungan, Polri dan stakeholder terkait.

Pada prinsipnya, katanya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sudah meminta kepada kontraktor menyelesaikan proyek pembangunan tol tersebut. 

“Kami serahkan kepada tim gabungan. Karena ini menyangkut keamanan dan kenyamanan pengemudi kendaraan,” paparnya. 

Jika sudah siap, kata Arie, jalur tol untuk menyambut pemudik Lebaran 2016 hanya dimanfaatkan untuk satu jalur untuk arus mudik dengan lebar jalan 7 meter.

Adapun, arus balik Lebaran akan diberlakukan pada H+1 Lebaran dengan ruas jalan sepanjang 17,57 kilometer. 

Ketua Tim Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) ruas Bawen-Salatiga Heru Budi Prasetyo mengatakan pembebasan lahan untuk TKD menunggu kebijakan dari pemerintah daerah setempat. Artinya, pembebasan lahan bisa ganti untung dengan uang atau diganti dengan tanah. 

“Hanya proses administrasi. Sesuai anjuran bupati bahwa lahan TKD bisa dikerjakan konstruksi 100%,” paparnya. 

Dalam proses pembebasan lahan, PPK mendapat dana talangan dari Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) TMJ karena dana pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak mencukupi untuk pembebasan lahan jalan tol. 

Besaran dana pembebasan lahan ruas tol Bawen-Solo, kata Heru, mencapai angka Rp500 miliar. Dia mengatakan pekan depan terdapat proses pembayaran lahan senilai Rp35 miliar kepada warga yang terdapat di empat desa di Kabupaten Semarang Jateng. 

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta pengoperasian jalan tol Bawen-Solo tidak boleh dipaksakan. 

“Uji kelayakan harus dilakukan. Nanti dari hasil uji teknis, baru statement ke public, ini layak digunakan atau nggak. Kalau nggak, ya nggak boleh dipaksa. Bahaya,” terang Gubernur Jateng.

Dia berjanji tidak akan mengizinkan operasional jalan tol, apabila kesimpulan dari kajian tim dinyatakan tidak layak. Dengan demikian, pemudik dapat menggunakan jalur lain yang sudah disiapkan keamanan dan kenyamanan.

“Jangan dipaksakan. Lebih baik dituntaskan sampai betul-betul siap. Kalau siap, bisa langsung pakai. Kalau tidak layak ya jangan,” tuturnya.

Secara keseluruhan, ruas tol Semarang-Solo sepanjang 72,64 km tersebut ditargetkan bisa beroperasi secara penuh pada tahun depan. Total investasi pembangunan diperkirakan mencapai Rp7,3 triliun.

Kontraktor proyek Semarang-Solo seksi III Bawen-Salatiga mencakup PT Adhi Karya (Persero) Tbk., PT PP (Persero) Tbk., PT Nindya Karya (Persero) dan PT Jaya Konstruksi (KSO).

Kini, kepemilikan saham di Trans Marga Jateng terbagi menjadi, PT Jasa Marga (Persero) Tbk. sebesar 73,9%, PT Astratel Nusantra 25%, dan PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah sebesar 1,1%.

sumber :

Tol Baru Trans Jawa Siap Digunakan untuk Mudik Tahun ini


Salah satunya Pejagan-Pemalang dengan panjang 57,5 kilometer.

Ilustrasi/Proyek jalan Tol Trans Jawa (Kementerian PU)

VIVA.co.id – Menjelang hari raya Idul Fitri, masyarakat berbondong-bondong kembali ke kampung halaman untuk berlebaran. Maka sejumlah jalan tol baru akan mulai dioperasikan secara penuh di jalur trans Jawa saat mudik Lebaran tahun ini.

Salah satu diantara ruas tol tersebut adalah ruas Pejagan-Pemalang dengan panjang 57,5 kilometer (km) yang terdiri dari empat seksi.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Herry Trisaputra Zuna, mengungkapkan bahwa tol ini setidaknya dapat dipakai sebanyak dua seksi saat mudik lebaran tahun ini, diantaranya adalah seksi satu dari Pejagan-Brebes Barat, dan Seksi dua Brebes Barat-Brebes Timur.

"Progres konstruksi dua seksi ini sudah mencapai 100 persen, sudah beroperasi penuh sepanjang 20,2 km," kata Herry kepada VIVA.co.id di Kementerian PUPR, Jakarta, Selasa 7 Juni 2016.

Selain itu, ia menambahkan bahwa ada beberapa ruas yang juga dapat digunakan secara fungsional. Artinya, jalan tersebut dapat digunakan sebagai jalan tol yang tidak berbayar. Namun, sebagai jalan fungsional yang tidak dipungut biaya, pemudik harus melewati jalan tersebut dengan kondisi jalan yang masih sedikit berkerikil.

Jalan tersebut diantaranya adalah ruas jalan tol Semarang-Solo yakni seksi tiga dari Bawean menuju Salatiga dengan panjang 17,57 km. Lalu, ruas jalan tol Solo ngawi sepanjang 24 km dengan dua segmen yaitu Solo IC-Karanganyar IC dan Karanganyar IC-Sragen IC. Lebih lanjut, yaitu ruas jalan tol Kertosono-Mojokerto segmen Mojokerto Barat-Mojokerto Utara.

"Untuk mendukung arus mudik, nanti ini difokuskan menjadi satu arah dan dua lajur, kalau musim arus balik ya kita balik," kata dia.

Sementara untuk tol ruas Mojokerto-Surabaya, saat ini seksi empat telah diresmikan dan dapat dioperasikan secara penuh. Tol ini terdiri dari lima seksi.

sumber :

Selasa, 07 Juni 2016

Tol Soker Ruas Solo-Sragen 25 Km Dibuka Gratis untuk Jalur Mudik


Foto: Dina Rayanti-detikFinance
Solo -Tol Solo-Kertosono (Soker) ruas Solo-Sragen sepanjang 25 kilometer (km) akan dioperasikan untuk jalur arus mudik dan arus balik Lebaran 2016. Karena belum sepenuhnya jadi, maka operasional dilakukan secara darurat untuk mengurai kemacetan di dalam Kota Solo. 

Jalur tersebut akan digratiskan dan hanya beroperasi pada siang hari karena belum ada penerangan lampu.

"Kami ditugasi oleh Kementerian PUPR untuk menyiapkan ruas tol Solo hingga Sragen sebagai alternatif jalur mudik secara terbatas sepanjang 25 Km. Biaya operasional sepenuhnya dalam tanggungan kami. Baru ruas itu yang bisa digunakan karena ruas Sragen-Ngawi masih terkendala pembebasan lahan," ujar David Wijayatno, Dirut PT Solo Ngawi Jaya selaku pelaksana proyek tol ruas Solo-Ngawi, kepada wartawan di sela koordinasi persiapan jalur mudik Lebaran 2016 di Solo, Selasa (7/6/2016).

David mengakui ruas tersebut belum sepenuhnya jadi. Perkerasan bidang jalan sebagian sudah beton penuh namun sebagian masih lantai kerja atau dalam pengerjaan. Selain itu juga belum ada penerangan jalan dan masih banyak persimpangan sebidang dengan jalan kampung. Karena itulah pengoperasiannya akan dilakukan secara darurat dan digratiskan. Hanya kendaraan roda empat jenis kecil yang boleh melintas dengan kecepatan maksimal 60 KM/Jam.

"Pintu masuk dari arah Solo dari kawasan Klodran. Bisa keluar tol di Kemiri (Karanganyar) atau di Pungkruk (Sragen). Dioperasikan secara darurat dan hanya mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB dari H-7 hingga H+7 Lebaran. Kami akan melakukan patroli penuh, berkoordinasi dengan RS terdekat dan menyediakan kendaraan derek. Semua proyek pengerjaan tol kami liburkan selama ruas itu digunakan untuk jalur alternatif mudik," lanjutnya.

Sementara itu Kabid Lalu-lintas Dishubkominfo Kota Surakarta, Baskoro, berharap dengan dioperasikannya jalur tol tersebut akan memperlancar lalu-lintas karena beban penumpukan kendaraan yang masuk ke dalam Kota Solo terkurangi. Pembukaan jalur alternatif itu diperkirakan akan mengurangi 20 persen beban kepadatan dalam kota selama selama arus mudik dan arus balik.

"Akan terjadi pengurangan kepadatan tengah kota. Semua kendaraan yang mengarah ke timur, tidak perlu masuk kota. Kami akan berkoordinasi dengan Pemkab Sukoharjo, Boyolali dan Karanganyar untuk mengarahkan arus lalu-lintas masuk Jalan Adi Sumarmo menuju kawasan Klodran dan selanjutnya masuk tol. Kendaraan dari arah Semarang dibelokkan di pertigaan Ngasem, sedangkan yang dari arah Yogyakarta dibelokkan di perempatan Kartosuro," ujar Baskoro.

sumber :

Kamis, 02 Juni 2016

Susur Jalur Mudik 2016, Ini Enam Lokasi yang Rawan Macet di Semarang


Kompas.com/ Syahrul MunirSeorang petugas dari Satlantas 
Polres Semarang tengah mencairkan keruwetan lalu lintas 
di Pasar Suruh, Kabupaten Semarang, Rabu (1/6/2016).

UNGARAN, KOMPAS.com - Satlantas Polres Semarang telah menandai enam lokasi yang diprediksi akan menjadi titik rawan kemacetan pada arus mudik Lebaran 2016. Enam lokasi itu didapat setelah Satlantar Poles Semarang bersama Dishubkominfo dan DPU Kabupaten Semarang, sepanjang Rabu (1/6/2016), melakukan susur jalur di jalan-jalan utama di wilayah Kabupaten Semarang.

Hal itu bertujuan untuk mengidentifikasi potensi kemacetan, sekaligus mencari solusi agar masyarakat pengguna jalan tidak terjebak macet.

"Enam lokasi itu meliputi simpang Bawen, exit ol Bawen, Pasar Sejambu, Tuntang-Blotongan, Pasar Suruh, dan Klero Tengaran. Selain lokasi wisata seperti Bandungan juga berpotensi terjadi kemacetan," kata Kasat Lantas Polres Semarang, AKP Dwi Nugroho.

Salah satu titik rawan macet adalah di Pasar Suruh yang berada dijalur alternatif dari Semarang menuju Sragen.

Pada hari biasapun dititik tersebut terlihat kemacetan akibat banyaknya angkutan desa yang ngetem serta parkir dibadan jalan. Rekayasa yang disiapkan untuk mengatasi kemacetan dilokasi ini adalah dengan melarang kendaraan parkir di badan serta bahu jalan.

"Di sini memang tidak ada alternatif lain, tapi ini merupakan jalur alternatif menuju ke Sragen. Mungkin upaya dari kita nanti, kita fokuskan petugas yang ada di ujung di kepalanya untuk menarik. Jadi nanti tidak ada lagi yang parkir-parkir, jadi paling tidak jalan yang sudah ada ini bisa lancar meskipun kecepatannya berkurang," jelasnya.

Kegiatan susur jalur tersebut menurut Dwi Nugroho, sengaja dilakukan terkait menjelang diberlakukannya Operasi Ramadanya (Ramadan dan Hari Raya) Candi 2016.

Selain jalur konvesional, pihaknya juga menaruh perhatian pada persimpangan sebidang pada jalur alternatif tol seksi III Bawen-Salatiga. Adanya jalur alternatif ini memungkinkan kendaraan dari tol Ungaran- Bawen tetap bisa melaju di jalur tol Bawen-Salatiga, tanpa harus melalui jembatan tol Tuntang yang diperkirakan belum rampung pekerjaan fisiknya pada H-7 lebaran 2016.

"Besok atau secepatnya kita akan undang PT Trans Marga Jateng (TMJ) untuk paparan di hadapan Kapolres Semarang. Sedangkan Dishubkominfo dan DPU sudah mengkaji beberapa ruas jalan termasuk ruas jalan penghubung tol," katanya.

sumber :