javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Jumat, 04 September 2015

Ini Alasan Ganjar Jual Jalan Tol Semarang-Solo


Foto: suaramerdeka.com/Hanung Soekendro
SEMARANG, suaramerdeka.com – Langkah Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang menjual saham jalan tol Semarang-Solo disayangkan banyak pihak. Menanggapi hal tersebut Ganjar beralasan bahwa penjualan tersebut dikarenakan saham jalan tol Semarang terus terdelusi atau mengalami penurunan setiap tahun.

“Daripada saham Pemprov Jateng setiap tahun terdelusi lebih baik dijual. Tapi kemu mempunyai opsi untuk bisa membeli kembali saham tersebut,” kata dia, sebagaimana rilis yang diterima suaramerdeka.com, Jumat (4/9).

Ganjar menegaskan penjualan saham jalan tol tersebut sudah dikomunikasi dengan DPRD Jateng. Menurut Ganjar, uang hasil penjualan saham senilai Rp 780 miliar menurut Ganjar dimasukan ke SPJT sebagai holding untuk investasi seperti peternakan, logsitik dan lainnya yang menguntungkan. “Sudah ada komunikasi dengan Dewan,” tukas dia.

Sebagai ifnormasi, saham milik Pemprov Jateng tersebut dijual kepada PT Astartel Nusantara dari Jakarta senilai Rp780 miliar. Pemprov Jawa Tengah (Jateng) melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) sebelumnya memiliki 26,09% saham, dengan penjualan tersebut, saham saat ini tinggal 1,09%. (Marlinda OE/CN38/SM Network)

sumber :

Pemerintah Teken Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol Sumatera dan Jawa Barat


Penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol untuk tiga ruas 
jalan tol, di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 
Jakarta, Jumat (4/9/2015).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR) menandatangani tiga Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) senilai Rp 21,6 triliun untuk pembangunan tol sepanjang 171,01 kilometer. 

Tiga ruas jalan tol tersebut adalah Bakauheni-Terbanggi Besar sepanjang 140,93 kilometer jalan utama dan 14,5 kilometer jalan akses, Palembang-Indralaya sepanjang 21,93 kilometer jalan utama dan 2,55 kilometer jalan akses dan Soreang-Pasir Koja 8,15 kilometer. 

Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Hediyanto Husaini bersama PT Hutama Karya untuk ruas Bakauheni-Terbanggi Besar dan Palembang-Indralaya serta gabungan PT Wijaya Karya, PT Citra Marga Nusaphla Persada, dan PT Jasa Sarana, yaitu PT Citra Marga Lintas Jabar untuk ruas Soreang-Pasir Koja. 

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono berharap, penandatanganan ini bisa memperlancar pembangunan jalan tol di waktu mendatang. "Setelah penandatanganan ini harus bekerja sama, supaya jadi satu kesatuan dan tidak terpecah untuk pembebasan lahan, pengerjaan konstruksi, dan mempercepat pembangunan," ujar Basuki usai menyaksikan penandatanganan kerja sama di Kementerian PUPR, Jakarta, Jumat (4/9/2015). 

Basuki melanjutkan, ketiga jalan tol tersebut akan menghubungkan pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan strategis lainnya seperti bandara dan pelabuhan. Dengan terhubungnya fasilitas-fasilitas tersebut, maka distribusi logistik akan lebih cepat dan biaya lebih murah. Dengan demikian, hal ini juga bisa meningkatkan daya saing. 

Pembangunan Bakauheni-Terbanggi Besar dan Palembang-Indralaya merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera. Untuk pembangunannya, diterapkan skema penugasan kepada PT Hutama Karya. Penugasan ini berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 100 Tahun 2014 tentang Percepatan Pembangunan Jalan Tol di Sumatera. 

Skema ini diberlakukan untuk ruas-ruas jalan tol yang layak secara ekonomi namun tidak layak secara finansial dan secara pendanaan pemerintah memiliki keterbatasan. Dengan skema penugasan untuk tol Bakauheni-Terbanggi Besar ini, ada bagian ekuitas yang harus dipenuhi PT Hutama Karya senilai Rp 8,7 triliun, sementara pinjaman perbankannya senilai Rp 8,07 triliun. 

Sementara untuk pembangunan Jalan Tol Palembang-Indralaya, PT Hutama Karya harus memenuhi bagian ekuitas sebesar Rp 2,31 triliun. Sumber dana lainnya berasal dari pinjaman perbankan senilai Rp 990,3 miliar.

sumber :

Kamis, 03 September 2015

Tol Semarang-Solo Seksi III Bawen-Salatiga Beroperasi Tahun 2016


PT Trans Marga Jateng (TMJ) menyatakan bahwa Jalan tol Semarang-Solo seksi III Bawen-Salatiga beroperasi tahun 2016. Menurut Direktur Teknik dan Operasional Trans Marga Jateng Ari Iriyanto, pihaknya optimis target pembangunan Seksi III tersebut tercapai.

Saat ini proses pembebasan lahan yang dilewati proyek Jalan Tol Bawen-Salatiga sudah mencapai 75 persen dari total sepanjang 17,57 km. “Mudah-mudahan pembebasan lahan Jalan Tol Bawen-Salatiga bisa selesai pada bulan Desember 2015 sehingga proses pengerjaan fisik bisa segera dimulai,” kata Ari Iriyanto.

Tol Semarang-Solo Seksi III Bawen-Salatiga Beroperasi Tahun 2016

Hal itu disampaikan Ari Iriyanto saat menerima kunjungan lapangan anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah di Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Rabu, 2 September 2015. Ari Iriyanto mengatakan, “Jalan Tol Bawen-Salatiga ditargetkan sudah bisa dioperasikan secara non komersial atau dilalui kendaraan pada arus mudik Lebaran 2016.”

Lebih lanjut Ari Iriyanto mengungkapkan bahwa proses pembebasan lahan untuk Jalan Tol Bawen-Salatiga masih menghadapi bebeberapa masalah seperti ada 17 titik tanah milik desa yang belum dibebaskan. “Untuk membebaskan tanah milik desa ini harus mendapatkan izin dari bupati sehingga kami meminta dukungan DPRD Jateng dalam penyelesaian masalah itu,” kata Ari Iriyanto.

Sementara itu Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Tengah Hadi Santoso memberikan masukan kepada PT Trans Marga Jateng. Menurut Hadi Santoso, area pintu keluar Jalan Tol Bawen-Salatiga di Kawasan Tingkir sempit sehingga bisa menyebabkan kemacetan lalu lintas. “Jalan keluar Jalan Tol Bawen-Salatiga perlu dilebarkan agar tidak terjadi kemacetan seperti yang terjadi saat ini di pintu keluar Jalan Tol Semarang-Ungaran,” kata Hadi Santoso.

Proyek pembangunan Jalan Tol Bawen-Salatiga dibagi menjadi beberapa paket yaitu Paket Bawen-Polisiri sepanjang 3,49 km, Paket Polosiri-Sidorejo sepanjang 6,8 km, dan Paket Sidorejo-Tengaran sepanjang 4,3 km. Jalan Tol Bawen-Salatiga merupakan bagian dari Jalan Tol Semarang-Solo (Somar).

Sebelumnya PT TMJ telah menyelesaikan dua seksi yaitu Seksi I Semarang-Ungaran sepanjang 11,3 km dan Seksi II Ungaran-Bawen sepanjang 11,95 km. Nantinya setelah proyek Jalan Tol Bawen-Salatiga selesai, akan dilanjutkan proyek selanjutnya yaitu Seksi IV Salatiga-Boyolali sepanjang 22,85 km dan Seksi V Boyolali-Kartosuro sepanjang 13,57 km.

sumber :

ADB Siap Utangi Jokowi US$ 2,2 Miliar untuk Infrastruktur

Vice President Asian Development Bank Bambang Susantono, Jakarta, 
Kamis (3/9). (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari)
.
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menyatakan siap mengucurkan pinjaman senilai US$ 2,2 miliar tahun depan kepada pemerintah Indonesia. ADB mensyarakatkan pinjaman yang alokasinya meningkat dibandingkan tahun lalu di angka US$ 1,4 miliar, untuk digunakan pemerintah membangun infrastruktur dan proyek energi baru dan terbarukan.

"Tahun ini ADB mengalokasikan US$ 1,4 miliar dan tahun depan kita tergantung program pemerintah tapi sudah ada pagu US$ 2,2 miliar ," ujar Vice President ADB Bambang Susantono saat ditemui di Jakarta, Kamis (3/9).

Pria yang baru diangkat menjadi pejabat ADB itu menjelaskan secara garis besar lembaganya meminta pemerintah untuk bisa memanfaatkan pinjaman tersebut untuk mendukung program ketahanan pangan melalui pembangunan infrastruktur dan energi baru dan terbarukan.

Nantinya, Bambang menjelaskan bantuan pinjaman diberikan langsung ke lembaga dan kementerian terkait, seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sebagai kementerian teknis pelaksana pembangunan infrastruktur.

Selain dengan pemerintah ADB juga akan bekerja sama dengan badan usaha milik negara (BUMN) PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) untuk melakukan pembiayaan antara pemerintah dan swasta (Public Private Partnership).

"Harapannya di infrastruktur dengan dua pendekatan ini kita bisa membantu pemerintah mengakselerasi dan mempercepat pembangunan infrastruktur," Bambang.

sumber :

Jalan Tol Bawen-Salatiga Dioperasikan Tahun Depan


Proyek pembangunan tol Semarang-Solo sesi 2 Ungaran-Bawen.
TEMPO/Budi Purwanto
TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Teknik dan Operasional PT Trans Marga Jateng (TMJ) Ari Iriyanto menyatakan bahwa jalan Tol Semarang-Solo seksi III ruas Bawen-Salatiga akan mulai dioperasikan pada 2016 sesuai dengan target pembangunan.

"Jalan Tol Bawen-Salatiga ditargetkan sudah bisa dioperasikan secara nonkomersial atau dilalui kendaraan pada arus mudik Lebaran 2016," kata Ari saat menerima kunjungan lapangan Anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah di Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Rabu.

Menurut dia, proses pembebasan lahan yang terkena proyek pembangunan jalan Tol Bawen-Salatiga sepanjang 17,57 kilometer sudah mencapai 75 persen.

"Mudah-mudahan pembebasan lahan jalan Tol Bawen-Salatiga bisa selesai pada Desember 2015, sehingga proses pengerjaan fisik bisa segera dimulai," ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa pembebasan tanah jalan Tol Bawen-Salatiga masih menghadapi beberapa kendala, seperti adanya 17 titik tanah milik desa yang belum dibebaskan.

"Untuk membebaskan tanah milik desa ini harus mendapatkan izin dari bupati, sehingga kami meminta dukungan DPRD Jateng dalam penyelesaian masalah itu," katanya.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng Hadi Santoso meminta TMJ mengkritisi sempitnya jalan pada pintu keluar jalan Tol Bawen-Salatiga di kawasan Tingkir, sehingga berpotensi menyebabkan kemacetan lalu lintas.

"Jalan keluar jalan Tol Bawen-Salatiga perlu dilebarkan agar tidak terjadi kemacetan seperti yang terjadi saat ini di pintu keluar jalan Tol Semarang-Ungaran," ujarnya.

Pembangunan jalan Tol Bawen-Salatiga dibagi menjadi beberapa paket pengerjaan, yakni paket Bawen-Polosiri sepanjang 3,49 km, paket Polosiri-Sidorejo sepanjang 6,8 km, paket Sidorejo-Tengaran sepanjang 4,3 km, paket Sidorejo-Tengaran sepanjang 0,8 km, paket Sidorejo-Tengaran sepanjang 1,0 km, dan paket Sidorejo-Tengaran sepanjang 1,2 km.

Setelah pembangunan fisik jalan Tol Bawen-Salatiga selesai, akan dilanjutkan dengan pembangunan jalan tol seksi IV untuk ruas Salatiga-Boyolali sepanjang 24,13 km dan seksi V untuk ruas Boyolali-Kartosuro sepanjang 72,64 km.

sumber :

Rabu, 02 September 2015

Warga Boyolali Cemas Rumah Ambruk karena Proyek Tol


11 rumah warga retak akibat proyek Tol Soker (Ilustrasi: Solopos)

BOYOLALI – Setidaknya 11 unit bangunan rumah warga di Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah dilaporkan mengalami retak akibat getaran alat berat yang dioperasikan selama pengerjaan tol Solo Kertosono (Soker) yang berada di kawasan tersebut. 

Kepala Desa Dibal, Budi Setiono mengatakan, 11 bangunan tersebut delapan di antaranya berada di wilayah RT 004/RW 001 dan 3 unit sisanya di RT 003/RW 008, Desa Dibal, Kecamatan Ngemplak, Boyolali.

Dia menerangkan lokasi bangunan-bangunan tersebut berada di “ring satu”, yakni yang berbatasan langsung dengan wilayah pengerjaan tol. Jarak antara bangunan dengan lokasi pengerjaan proyek tak lebih dari 5 meter.

Menurutnya, begitu mendapat laporan warga dia pun langsung menghubungi dan meminta pelaksana proyek tol Soker di wilayah tersebut, yakni PT Conbloc untuk menindaklanjuti laporan kerusakan dari para warga.

“Ini kami sama-sama meninjau ke lokasi, melihat dan mendengarkan langsung dari masyarakat, biar semuanya sama-sama jelas,” tutur dia di sela-sela peninjauan kerusakan rumah warga.

Safety Officer PT Conbloc, Irawan, menjelaskan, sejumlah catatan kerusakan akan kembali ditinjau satu pekan mendatang. Sejauh ini dirinya tidak dapat memberi kepastian kebijakan seperti apa yang akan diputuskan terkait permasalahan tersebut.

Menurutnya, dari hasil pantauan sementara, indikasi utama disebabkan oleh vibro atau getaran alat berat. Dia menambahkan pascalaporan warga, untuk sementara pihak pelaksana telah mengurangi aktivitas alat berat. Dia menambahkan keretakan tersebut bisa dipicu berbagai faktor termasuk struktur kepadatan tanah dan usia bangunan.

“Ini kami tinjau dulu bentuk kerusakannya seperti apa. Belum bisa mengambil keputusan. Pekan depan masih akan kami tinjau lagi, akan kami kaji apakah benar penyebab kerusakan karena vibro getaran alat berat. Kami juga serba salah karena jalan tidak bisa halus kalau tidak di-vibro,” terang dia saat diwawancarai Solopos.com di sela-sela peninjauan rumah warga, Selasa.

Sementara itu, salah seorang warga RT 003/RW 008 yang rumahnya retak, Agus (27) mengaku sempat menuntut pelaksana menghentikan sementara aktivitas alat berat pada Sabtu, 29 Agustus malam.

Dia dan sejumlah warga mengaku khawatir jika rumah tiba-tiba ambruk akibat dinding yang sedikit demi sedikit mulai retak tersebut. Betapa tidak, dia mengaku sampai menyangga balok pondasi atap rumahnya yang retak dengan bilah-bilah kayu.

sumber :

PROYEK TOL SOKER Inilah Penyebab 11 Rumah di Sekitar Tol Soker Retak


Ilustrasi proyek pembangunan tol Solo-Kertosono (JIBI/Solopos/Dok.)

Proyek tol Soker, pemilik rumah di sekitar proyek tol menghentikan aktivitas pembangunan karena rumah mengalami retak.

Solopos.com, BOYOLALI--Sebanyak 11 unit bangunan rumah warga di Desa Dibal, Kecamatan Ngemplak, Boyolali dilaporkan mengalami retak akibat getaran alat berat yang dioperasikan selama pengerjaan tol Solo Kertosono (Soker) yang berada di kawasan tersebut.

Kepala Desa Dibal, Budi Setiono, mengatakan 11 bangunan tersebut delapan di antaranya berada di wilayah RT 004/RW 001 dan 3 unit sisanya di RT 003/RW 008, Desa Dibal, Kecamatan Ngemplak, Boyolali. Dia menerangkan lokasi bangunan-bangunan tersebut berada di ring 1, yakni yang berbatasan langsung dengan wilayah pengerjaan tol. Jarak antara bangunan dengan lokasi pengerjaan proyek tak lebih dari 5 meter.

Menurutnya, begitu mendapat laporan warga dia pun langsung menghubungi dan meminta pelaksana proyek tol Soker di wilayah tersebut, yakni PT Conbloc untuk menindaklanjuti laporan kerusakan dari para warga.

“Ini kami sama-sama meninjau ke lokasi, melihat dan mendengarkan langsung dari masyarakat, biar semuanya sama-sama jelas,” tutur dia di sela-sela peninjauan kerusakan rumah warga, Selasa (1/9/2015).

Safety officer PT Conbloc, Irawan, menjelaskan pada survey kerusakan bangunan, Selasa (1/9/2015) tersebut, sejumlah catatan kerusakan akan kembali ditinjau satu pekan mendatang. Sejauh ini dirinya tidak dapat memberi kepastian kebijakan seperti apa yang akan diputuskan terkait permasalahan tersebut.

Menurutnya, dari hasil pantauan sementara, indikasi utama disebabkan oleh vibro atau getaran alat berat. Dia menambahkan pascalaporan warga, untuk sementara pihak pelaksana telah mengurangi aktivitas alat berat. Dia menambahkan keretakan tersebut bisa dipicu berbagai faktor termasuk struktur kepadatan tanah dan usia bangunan.

“Ini kami tinjau dulu bentuk kerusakannya seperti apa. Belum bisa mengambil keputusan. Pekan depan masih akan kami tinjau lagi, akan kami kaji apakah benar penyebab kerusakan karena vibro getaran alat berat. Kami juga serba salah karena jalan tidak bisa halus kalau tidak di-vibro,” terang dia saat diwawancarai Solopos.com di sela-sela peninjauan rumah warga, Selasa.

Sementara itu, salah seorang warga RT 003/RW 008 yang rumahnya retak, Agus, 27, mengaku sempat menuntut pelaksana menghentikan sementara aktivitas alat berat pada Sabtu (29/8/2015) malam. Dia dan sejumlah warga mengaku khawatir jika rumah tiba-tiba ambruk akibat dinding yang sedikit demi sedikit mulai retak tersebut. Betapa tidak, dia mengaku sampai menyangga balok pondasi atap rumahnya yang retak dengan bilah-bilah kayu.

sumber :

Jumat, 28 Agustus 2015

Pembangunan Jalan Tol Bawen-Salatiga Masih Terkendala Enam Bidang Tanah Belum Terbebaskan


ilustrasi
SALATIGA – Pembangunan konstruksi jalan tol Semarang – Solo seksi III Bawen – Salatiga hingga kini masih mengalami kendala. Salah satu kendalanya, penyedia jasa konstruksi pelaksana pembangunan jalan tol belum dapat melakukan perataan sejumlah bidang tanah dan bangunan yang terkena proyek tol di daerah Watu Agung, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Hal itu karena, lahan tersebut belum terbebaskan.

Akhirnya, bidang tanah dan bangunan tersebut dibiarkan meski berada di tengah lokasi pembangunan jalan tol. Untuk perataan tanah dan bangunan akan dilakukan setelah pembebasan lahan tuntas seluruhnya. Bangunan yang belum terbebaskan diantaranya berupa kandang ayam serta masjid, gereja maupun jalan umum.

“Untuk yang memang belum terbebaskan, kami tidak berani membongkarnya. Sementara ini, bangunan dan tanah itu kami biarkan saja dan akan meratakan setelah sudah terbebaskan,” kata Karsidi, perwakilan penyedia jasa konstruksi pembangunan jalan tol kepada Rakyat Jateng (Fajar Grup), Kamis (27/8).

Sementara itu, khususnya pembebasan lahan pembangunan jalan tol Semarang – Solo seksi III Bawen – Salatiga di wilayah Kota Salatiga hingga kini juga belum rampung seluruhnya. Sampai sekarang masih ada enam bidang tanah yang juga belum terbebaskan.

“Untuk lahan yang belum terbebaskan itu karena ada kendala pada bidang administrasinya. Keenam tanah itu hingga sekarang belum bersertifikat dan status tanahnya masih Letter D. Kondisi ini akhirnya mempersulit pembebasannnya,” tandas Drs Y Tri Priyo Nugroho, Wakil Ketua Panitia Pembebasan Tanah (P2T) Kota Salatiga, yang juga Asisten Sekda Kota Salatiga kepada Rakyat Jateng, Kamis (27/8). (hes)

sumber :

Senin, 10 Agustus 2015

Astra Jajaki Akuisisi 43,32 Persen Saham Nusantara Infrastructure


Ilustrasi jalan tol (Antara)
Jakarta– PT Astra International Tbk (ASII) melalui anak usahanya, PT Astratel Nusantara, serius menjajaki akuisisi 43,32 persen saham PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) milik Grup Rajawali dan Eagle Infrastructure. Sebelumnya, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) juga mengincar saham tersebut.

Direktur Astratel Arya N Soemali mengatakan, akuisisi tersebut mampu meningkatkan bisnis Astra di sektor jalan tol. Perseroan memilih akuisisi ketimbang mengikuti proses tender ruas jalan tol baru. Dengan akuisisi, waktu yang diperlukan cenderung tidak terlalu lama, dibandingkan mengikuti tender yang digelar pemerintah.

“Nusantara Infrastructure punya ruas jalan tol yang sudah beroperasi. Hal itu sejalan dengan bisnis kami. Selama ini, kami selalu melihat peluang akuisisi jalan tol baru,” kata Arya kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Arya mengakui, pihaknya telah menyatakan minat akuisisi kepada Rajawali melalui letter of interest. Sampai saat ini proses due diligence masih berlangsung. Namun, perseroan belum dapat menyatakan berapa besar dana akuisisi yang disiapkan. “Mudah-mudahan prosesnya selesai pada kuartal III ini. Sementara dana akuisisi akan dibantu oleh Astra sebagai induk kami,” jelas dia.

Seperti diketahui, Rajawali memiliki 21 persen saham Nusantara Infrastructure. Sedangkan Eagle Infrastructure mengantongi 22,32 persen saham.

Sebelumnya, Managing Director Rajawali Corpora Darjoto Setyawan membenarkan kabar Eagle Infrastructure yang juga berniat melepas kepemilikan sahamnya. Dengan begitu, jumlah saham Nusantara Infrastructure yang ditawarkan kepada investor baru mencapai 43,32 persen.

Namun, Darjoto membantah Eagle Infrastructure adalah perusahaan yang terafiliasi dengan Rajawali. "Meski nama perusahaan itu ada Eagle-nya, perusahaan itu tidak ada hubungan apapun dengan Pak Peter Sondakh atau Rajawali," ujar dia.

Sebelumnya, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) juga mengincar hingga 43,32 persen saham Nusantara Infrastructure. Surya Semesta akan mendorong perusahaan patungan (joint venture/JV) PT Lintas Marga Sedaya (LMS) untuk mengambilalih saham yang akan dijual oleh pemilik saham Nusantara Infrastructure.

Astratel telah menuntaskan akuisisi 25% saham PT Trans Marga Jateng (TMJ), operator yang memiliki dan mengelola ruas tol Semarang-Solo sepanjang 72,64 kilometer. Dengan demikian, kepemilikan jalan tol tersebut berubah menjadi PT Jasa Marga sebanyak 73,9 persen, Astratel 25 persen , dan PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah 1,1 persen. “Dana investasinya sekitar Rp 900 miliar. Ini adalah salah satu contoh bagaimana kami sukses mengakuisisi ruas tol. Proses akuisisinya cukup singkat, yakni sekitar tiga bulan,” kata Arya.

sumber :

● Pembebasan Lahan Tol : Ganti Rugi Selesai Pekan Ini

TOL SEMARANG - SOLO


PASANG PERINGATAN: Salah satu WTP Tol Semarang-Solo, Winarni (40)
 memasang papan peringatan di gerbang kandang ayam yang bakal
terkena proyek tol. (suaramerdeka.com/Ranin Agung)

TUNTANG – Ketua Panitia Pembebasan Tanah (P2T) Kabupaten Semarang, Gunawan Wibisono menyatakan, proses pencairan dana ganti rugi tanah milik 33 warga terkena proyek (WTP) Tol Semarang-Solo, Sesi III Bawen- Salatiga di Dusun Rembes, Desa Watuagung, Tuntang, Kabupaten Semarang akan selesai pekan ini.

Keterlambatan pembayaran tersebut, menurutnya, lebih dikarenakan imbas molornya pencocokan administrasi. “Proses administrasi dan pemberkasannya memang lama, apalagi tim kami juga mengalami kendala, seperti pemilik tidak ada ditempat. Tetapi saya yakin pekan ini selesai,” katanya melalui sambungan telepon, Minggu (9/8).

Selain kendala pemilik tidak ada ditempat, tim juga harus menunggu kajian tentang bukti sah kepemilikan tanah. Semisal, berkas C desa yang belum dipecah, padahal lahan yang dimaksud adalah tanah warisan keluarga. Disamping mengeluarkan kebijakan tadi, pihaknya jauh-jauh hari telah menerapkan teori nyebul balon.

Menyusul, kata dia, jalur tol seksi III dan IV berdasarkan data akan mengenai lahan milik PTPN IX sekitar 26 hektare, lahan milik perusahaan daerah (Perusda) Jawa Tengah seluas 13 hektare, sejumlah lahan bengkok milik desa, dan lahan perkebunan milik perorangan. “Hal itu harus diselesaikan dahulu agar akurat dan tidak melanggar ketentuan,” tandasnya.

Guna memantau perkembangan, sejumlah instansi dan perwakilan yang masuk dalam tim akan diundang setiap minggu untuk koordinasi membahas progres capaian.

Data dari Bagian Tata Pemerintahan Pemkab Semarang, menyebutkan, tol seksi III dan IV setidaknya akan mengenai sejumlah fasilitas umum dan fasilitas sosial, seperti masjid, mushala, gereja, dan sekolah. Ada satu sekolah dasar, satu madrasah, satu gereja, dan dua mushala yang terkena tol. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kata dia, pihaknya mengaku tidak ingin kecolongan, seperti yang terjadi di seksi II.

Status Kepemilikan

Terpisah, Kepala Desa Watuagung, Heryu Cahyono memaparkan, di desanya ada 337 bidang tanah yang terkena proyek tol.

Luasnya bervariasi, begitu pula dengan status kepemilikannya. “Ada yang satu orang pemilik satu bidang, ada pula seorang pemilik mempunyai lima bidang.”

Seperti diberitakan sebelumnya, aktivitas sejumlah alat berat dan pekerja yang bekerja dalam proyek Tol Semarang-Solo Sesi III Bawen-Salatiga terganggu karena belum dibayarnya uang ganti rugi tanah WTP. (H86-71)

sumber :