javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Rabu, 18 Februari 2015

Pembebasan Lahan Hambat Pembangunan Tol Trans Jawa


Para panelis tampil dalam seminar nasional Bedah Tol Trans Jawa 
yang digelar FWPJT dan Bank Jateng, Selasa (17/2). 
(sumber: Suara Pembaruan/Stefy Thenu)

Semarang- Pembangunan jalan tol trans Jawa lambat karena terbebani biaya pembebasan lahan. Sembilan proyek jalan tol sampai saat ini belum rampung, akibat beban biaya pembebasan lahan. Biaya pembebasan lahan menelan dana Rp 5,3 triliun.

Namun, Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, optimistis pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol Trans Jawa rampung pada tahun ini.

"Saat ini, sudah ada perubahan Permen PU dan Perumahan Rakyat di mana kini lahan yang akan digunakan sebagai lokasi pembangunan jalan tol pada APBN. Anggaran yan dibutuhkan untuk pebebasan lahan, RP 5,3 triliun," ujar Kepala Seksi Pengadaan Tanah Ditjen Bina Marga Kementerian PU dan Perumahan Rakyat, Sri Sadono seusai menjadi pembicara dalam Seminar Nasional "Bedah Tol Trans Jawa" yang digelar Forum Wartawan Pemprov dan DPRD Jateng (FWPJT) bekerjasama dengan Bank Jateng, Selasa (17/2).

Sri Sadono menjelaskan, setelah Permen PU Nomor 2 Tahun 2012 terbit, segala beban pembebasan lahan akan ditanggung oleh APBN dan atau Pemda setempat. Berbeda dengan aturan lama yang menyebut pembebasan lahan dibebankan dalam modal usaha.

"Dari pendanaan siap dan mudah-mudahan segera bisa dibangun. Beberapa proyek tol persentasenya ada yang masih kecil karena terkendala pembebasan lahan," tegasnya.

Menurut Sri Sadono, sesuai jadwal semua proyek tol dalam Trans Jawa bisa selesai tahun ini, kecuali Pemalang-Batang yang baru berjalan dua persen dan Batang-Semarang yang baru tiga persen pembebasan lahannya. Implementasi di lapangan, menurut dia, perlu tahapan yang panjang meski sudah menggunakan UU baru saat melakukan pembebasan lahan.

Hal senada diakui Direktur Teknik dan Operasional PT Trans Marga Jateng (TMJ) Ari Nugroho yang menyatakan, pembebasan lahan menjadi kendala utama dalam pengerjaan fisik jalan.

"Dulu pemerintah janji akan menyelesaikan pembebasan lahan Desember 2012. Ditjen Bina Marga di Kemen PU dan Perumahan Rakyat Binamarga mengalami kendala di pembebasan lahan, terutama fasilitas sosial dan fasilitas umum. Misalnya ada bangunan sekolah, sudah ada ganti ruginya, sudah dibangun bangunan penggantinya tetapi ternyata belum jadi sehingga kami tidak bisa melakukan pengerjaan," tegasnya.

Menurut Ari, saat ini TMJ melelang pembangunan Jalan tol Semarang-Solo seksi 3 (ruas Bawen Salatiga). Jalan sepanjang 17,3 Km ini dibagi menjadi tiga paket, di mana salah satunya memperoleh dukungan dari pemerintah.

Dia mengakui, lelang molor jauh dari target awal. Tol Semarang-Solo ditarget selesai pada akhir 2014. Kenyatannya, sampai saat ini baru sekitar setengahnya.

"Proses lelang baru bisa dilakukan, karena pembebasan lahan baru saja clear," ujarnya.

Sementara itu untuk pembangunan seksi 4 (Salatiga-Boyolali) sepanjang 24,13 Km dan 5 (Boyolali-Kartasura) sepanjang 8,41 Km, belum bisa dilakukan. Saat ini masih dilakukan pembebasan lahan dan proses ini ditargetkan selesai akhir tahun 2015. Jika target ini tercapai maka sesuai rencana, pembangunan seksi 4 dan 5 akan dimulai Januari 2016.

Di Kartasura akan dibangun simpang susun, menghubungkan tol Semarang-Solo, Solo-Mantingan, dan Solo-Yogyakarta. "Namun untuk tol Solo-Yogyakarta belum ada investor yang berminat,"kata Ari.

sumber :

Selasa, 17 Februari 2015

Pengerjaan Seksi III Tol Semarang Solo Dimulai Maret

Proyek jalan tol Semarang-Solo

Bisnis.com, SEMARANG - Pengerjaan fisik dalam proyek lanjutan jalan tol Semarang-Solo siap direalisasikan pada Maret 2015 menyusul dimulainya proses lelang pengerjaan Seksi III Bawen-Salatiga sepanjang 17,6 km.

Direktur Teknik dan Operasi Trans Marga Jateng Ari Nugroho mengatakan pihaknya telah memulai proses lelang paket pengerjaan pada pekan ini untuk segera menentukan kontraktor dan konsultan pengawas.

“Kami sudah diminta oleh pemerintah untuk melanjutkan pengerjaan fisik tahap Bawen-Solo dan sudah kami mulai seminggu lalu lelangnya,” katanya, Selasa (17/2/2015).

Dengan begitu, Ari menuturkan pihaknya menargetkan proses pengerjaan fisik dapat dimulai pada Maret atau April 2015. Untuk Seksi IV Salatiga-Boyolali sepanjang 22,85 km dan Seksi V Boyolali-Kartosuro (Solo) 13,57 km, jelas Ari, masih dalam tahap pembebasan lahan.

Kendati begitu, dia menuturkan Trans Marga Jateng optimistis proses tersebut dapat dirampungkan pada akhir tahun ini. Dengan demikian, lelang paket pekerjaan dapat direalisasikan pada awal tahun depan.

“Diasumsikan pembebasan lahan itu akan selesai dan awal 2016 Seksi IV serta V akan kami lelang,” ujarnya.

Dengan rencana tersebut, keseluruhan pengembangan fisik lanjutan ruas tol yang termasuk dalam jaringan Tol Trans Jawa ini ditargetkan rampung pada akhir 2017 atau paling lambat awal 2018.

Seperti diketahui, jalan tol yang mulai dikerjakan sejak 2007 dengan asumsi nilai investasi awal mencapai Rp6 triliun masih menyisakan pengembangan tahap kedua. Tahap pertama tol tersebut terdiri, yakni Seksi I Semarang-Ungaran sepanjang 11,3 km sudah beroperasi pada akhir 2011 dan Seksi II Ungaran-Bawen dengan panjang 11,95 km baru beroperasi April 2014.

Sementara itu, tengembangan tahap lanjut ini pada awalnya diperkirakan rampung akhir 2014, tetapi akhirnya belum juga direalisasikan akibat terhambat pembebasan lahan.

Adapun, PT Trans Marga Jateng (TMJ), sebagai badan usaha pengelola jalan tol tersebut merupakan anak perusahaan PT Jasa Marga yang berpatungan dengan BUMD Jawa Tengah, PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah, dibagi dalam dua tahap pembangunan.

sumber :

TMJ: jalan tol Bawen-Salatiga dalam proses lelang

ilustrasi : tol semarang ungaran
Semarang (ANTARA News) - Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng Ari Nugroho mengungkapkan bahwa proyek pembangunan jalan tol Semarang-Solo seksi III ruas Bawen-Salatiga saat ini masih dalam proses lelang yang diikuti oleh sejumlah kontraktor dan konsultan pengawas.

"Setelah proses lelang selesai, pembangunan fisik jalan tol Bawen-Salatiga sepanjang 17,30 kilometer itu baru dapat dimulai," katanya di Semarang, Selasa.

Menurut Ari, pada proses lelang pembangunan proyek jalan tol Bawen-Salatiga itu ada sebanyak 23 kontraktor yang mendaftar sebagai pelaksana proyek dan 28 konsultan yang mendaftar sebagai pengawas.

Ia memperkirakan proses lelang akan selesai pada April 2015 dan akan dilanjutkan dengan pengerjaan fisik selama 18 bulan atau ditargetkan selesai 2016.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan jalan tol Bawen-Salatiga dibagi menjadi tiga paket pengerjaan dengan anggaran tiap paket sekitar Rp400-500 miliar.

"Anggaran itu menyesuaikan dengan harga material dan upah pekerja saat ini atau sekitar Rp1,4 triliun," ujarnya.

Terkait dengan pembebasan lahan yang terkena proyek pembangunan jalan tol Bawen-Salatiga, Ari mengharapkan pemerintah segera menyelesaikan tahapan tersebut sebelum pengerjaan fisik dimulai.

"Pembebasan lahan itu juga meliputi penggantian fasilitas umum dan fasilitas sosial sehingga lahan yang akan kami terima untuk proyek jalan tol Bawen-Salatiga itu sudah clear and clean," katanya.

Setelah pembangunan fisik jalan tol Bawen-Salatiga selesai, kata dia, akan dilanjutkan pembangunan jalan tol seksi IV untuk ruas Salatiga-Boyolali sepanjang 24,13 km dan seksi V untuk ruas Boyolali-Kartosuro sepanjang 72,64 km.

sumber :

Kamis, 29 Januari 2015

Proyek Waduk Godang Sesuai Jadwal, Mulai Kepras Lahan PTPN IX


TINJAU WADUK: Gubernur Ganjar Pranowo dan Bupati Juliyatmono 
meninjau pembangunan Waduk Gondang di Kerjo. 
(suaramerdeka.com/Joko Dwi Hastanto)
KARANGANYAR, suaramerdeka.com – Proyek pembangunan Waduk Gondang di Desa Ganten, Kerjo diyakini akan sesuai jadwal penyelesaian. Sampai saat ini, pengerjaan yang sudah dimulai sejak September lalu, sudah memasuki pengeprasan dan penebangan pohon karet milik PTPN IX Kerjoarum. Ada sekitar 8.000 batang pohon karet di lahan milik PTPN Kerjoarum yang terkena proyek tersebut, dan kini sudah dalam proses penebangan dan pembersihan. Bahkan lokasi milik perusahaan perkebunan itu sudah sebagian dikeruk untuk keperluan waduk yang akan menampung 2,29 juta meter kubik air.

Waduk tersebut memakan lahan milik warga desa Ganten 38,75 hektar lahan. Terdiri dari 27 hektar milik warga Ganten dan Gempolan Kecamatan Kerjo serta 12 hektar milik warga Jatirejo, Kecamatan Ngargoyoso. Sisanya 43,8 hektar menggunakan lahan milik PTP IX Kerjoarum.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang meninjau lokasi pembangunan tersebut mengaku puas dan yakin waduk akan sesuai dengan jadwal penyelesaian pada akhir 2017. “Saat ini pelaksanaan masih on schedule, tidak ada yang terkendala. Kami sangat senang artinya partisipasi warga di sekitar lahan ini sangat bagus. Dengan kondisi yang sepenuhnya mendapat dukungan, maka proyek akan selesai tepat waktu, dan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat,” kata Ganjar.

Dia menegaskan lagi, proyek waduk itu bukan proyek Gubernur atau Bupati, melainkan proyek rakyat. Selama ini pertanian di Jateng semakin kekurangan air. Produksi beras secara nasional semakin menurun karena kebutuhan air selalu kurang.

Jika kondisi itu didiamkan saja, maka produksi pertanian akan semakin kecil. Karena itulah Jateng termasuk yang diperhatikan dengan pembangunan waduk di beberapa daerah yang menjadi sentra produksi beras. Antara lain Waduk Lohagung di Kudus, Waduk Jatibarang, dan Waduk Pidekso di Wonogiri, serta Waduk Gondang di Karanganyar. Waduk tersebut diharapkan akan bisa menjadi cadangan air untuk pertanian yang utama, dan juga menjadi sumber air bersih maupun wisata. (Joko Dwi Hastanto/CN38/SM Network)

sumber :

Sabtu, 17 Januari 2015

Menteri BUMN: Harga Semen Bisa Turun Rp 3.000 Per Zak

Ilustrasi:www.shutterstock.com
SRIPOKU.COM, JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno mengatakan telah mendapatkan laporan dari PT Semen Indonesia (Persero) bahwa dengan penurunan harga minyak dunia dan efisiensi produksi pabrik, harga semen bisa turun Rp 3.000 per zak.

“Mereka bisa menurunkan harga sebesar Rp 3.000 dari pabrik mereka per zak-nya. Dan tentu ke bawah, berapapun (harganya) dikurangi Rp 3.000 per zak. Harga sekarang di end user Rp 54.000 –Rp 56.000 per zak. Berarti menjadi Rp 51.000–Rp 53.000 per zak (pada Senin),” kata Rini kepada wartawan, Jumat (16/1/2015).

Rini menjelaskan, laporan dari Semen Indonesia Group itu lantas disampaikannya kepada Presiden Joko Widodo, sebelum pengumuman penurunan harga premium.

Selain melaporkan turunnya harga semen, Rini mengatakan dirinya juga melaporkan kepada Presiden bahwa PT Pertamina (Persero) akan menurunkan harga elpiji non-subsidi 12 kilogram.

Menurut Rini, keputusan Semen Indonesia Group untuk menurunkan harga semen adalah aksi korporasi, yang dilatarbelakangi turunnya harga minyak dunia.

Lebih lanjut dia mengatakan, Kementerian BUMN belum tahu pasti akankah Semen Indonesia Group kembali menurunkan harga semen jika minyak dunia terus turun. Sebab, Semen Indonesia Group juga butuh ekspansi.

“Karena mereka juga akan menambah kapasitas produksi baru, satu di Rembang, satu pabrik di Semen Padang, ini juga akan menambah kapasitas. Tujuannya pangsa pasar naik,” tutur Rini.

sumber :

Kamis, 15 Januari 2015

Jokowi Ambisi Bangun Jalan Tol 1.500 Km, Ini Prioritas Rutenya

(Foto: Bima Firmansyah/Liputan6)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PU-Pera) optimistis sanggup membangun jalan tol 1.500 kilometer (km) dalam lima tahun ke depan. Keyakinan ini melampaui target Presiden Joko Widodo (Jokowi) sepanjang 1.000 km hingga 2019. 

"Target Pak Jokowi ke Kementerian bisa bangun jalan tol 1.000 km selama periode lima tahun. Tapi Pak Menteri PU Pera targetnya 1.500 km," tegas Kepala Bidang Pengawasan dan Pemantauan, Sekretariat BPJT, CH Kornel M.T Sihaloho kepada Liputan6.com, seperti ditulis Kamis (15/1/2015). 

Lebih jauh dia merinci, pembangunan jalan bebas hambatan tersebut akan membentang di setiap koridor ekonomi. Pertama, di koridor ekonomi Sumatera, jalan tol yang akan digarap konstruksinya membentang rute Medan Kualanamu-Tebing Tinggi, Palembang-Indralaya. Totalnya sepanjang 346 km. 

"Yang sudah ditandatangani Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) untuk Medan Kualanamu, sedangkan Medan-Binjai kontrak PPJT belum diteken," ucapnya. 

Sementara pembangunan jalan tol di Jawa, lanjut Kornel, meliputi jalur Cikampek-Palimanan yang akan beroperasi sebelum Lebaran tahun ini. Selanjutnya rute tol Batang-Semarang, Semarang-Solo, Solo-Mantingan-Ngawi, Ngawi-Kertosono, Kertosono-Mojokerto-Surabaya, Surabaya-Gempol-Pasuruan dan Pasuruan-Probolinggo. 

Di samping itu, jalur tol lainnya akses Tanjung Priok, Bekasi-Cawang-Kampung Melayu, Cengkareng-Kunciran, Kunciran-Serpong-Cinere, Cinere-Jagorawi, Cimanggis-Cibitung, Cibitung-Tanjung Priok, Depok-Antasari, Bogor Ring Road Seksi 2B, Sunter-Batu Ceper, Sunter-Pulo Gebang-Tembeleng, Serpong-Balaraja. 

"Ada pula Ciawi-Sukabumi, Cileunyi-Sumedang-Dawuan, Gempol-Pandaan, Pandaan-Malang, Soreang-Pasir Koja. Itu di Jawa dengan total panjang 1.078 km dalam lima tahun," beber Kornel. 

Sementara di Kalimantan, tambah dia, dibangun jalan bebas hambatan sepanjang 99 km dari Balikpapan-Samarinda. Dan jalan tol di koridor Sulawesi, yakni Manado-Bitung sepanjang 39 km. 

"Total keseluruhan jalan tol yang bakal dibangun sampai 2019 mencapai 1.562 km," tuturnya. 

Terkait anggaran yang dibutuhkan, Kornel mengaku, masih dalam tahap perhitungan. Fokus pemerintah saat ini menyiapkan pembebasan lahan guna merealisasikan rencana besar tersebut.

"Kalau investasi kan bisa dari swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pemerintah siapkan pembebasan lahan saja," pungkas Kornel. (Fik/Gdn)

sumber :

Senin, 12 Januari 2015

Daftar Tol yang Tarifnya Bakal Naik Tahun Ini


ilustrasi
Jakarta -Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat sedikitnya ada 19 ruas tol yang akan mengalami kenaikan tarif pada tahun ini. 

Di awal 2015 akan naik tarif tol Semarang-Solo seksi II yaitu pada April 2015. Setelah itu, akan disusul kenaikan tarif tol pada Mei 2015 yaitu Tol Makassar seksi I dan Bogor Ring Road.

Kenaikan tarif tol lainnya akan terjadi pada Oktober, November hingga Desember 2015.

Berdasarkan data Kementerian PU dan Perumahan Rakyat, tentang Pengusahaan Jalan Tol, dikutip Minggu (11/1/2015), berikut daftarnya:


1. Ruas tol Jakarta-Bogor-Ciawi di Oktober 2015

2. Ruas tol Jakarta-Tangerang di Oktober 2015

3. Ruas tol Cawang-Tomang-Grogol-Pluit di November 2015

4. Ruas tol Cawang-Tanjung Priok-Pluit di November 2015

5. Ruas tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) di Oktober 2015

6. Ruas tol JORR W2-Kebun Jeruk-Ulujami di Desember 2015

7. Ruas tol Cikampek-Padalarang di Oktober 2015

8. Ruas tol Padalarang-Cileunyi di Oktober 2015

9. Ruas tol Palimanan-Kanci di Oktober 2015

10. Ruas tol Kanci-Pejagan di Desember 2015

11. Ruas tol Semarang Seksi A, B, C di Oktober 2015

12. Ruas tol Semarang-Solo Seksi I di Desember 2015

13. Ruas tol Surabaya-Gempol di Oktober 2015

14. Ruas tol Belawan-Medan-Tanjung Morawa di Oktober 2015

15. Ruas tol Serpong-Pondok Aren di Oktober 2015

16. Ruas tol Tangerang-Merak di Oktober 2015

17. Ruas tol Ujung Pandang Tahap I dan II di Oktober 2015

18. Ruas tol Pondok Aren-Ulujami di Oktober 2015

19. Ruas tol Makassar Seksi IV di Mei 2015

20. Ruas tol Bali-Ngurah Rai-Benoa di September 2015.

Kenaikan tarif tol yang berlaku setiap dua tahun sekali telah diatur dalam UU No. 38 tahun 2004 tentang Jalan, serta Peraturan Pemerintah No. 15 tahun 2005 tentang jalan tol yang kemudian diubah dengan PP No.43 tahun 2013.

Regulasi tersebut menyebutkan evaluasi dan penyesuaian tarif tol dilakukan setiap dua tahun berdasarkan tarif lama yang disesuaikan dengan pengaruh inflasi. Besaran tarif diatur oleh Peraturan Menteri Pekerjaan Umum.

sumber :

Jumat, 09 Januari 2015

Investasi Ruas Tol Semarang-Solo Diproyeksi Membengkak

peta tol semarang solo
SEMARANG – Investasi ruas Tol Semarang-Solo diproyeksi akan membengkak akibat molornya pengembangan tahap kedua yang terkendala pembebasan lahan.

Mulai dikerjakan sejak 2007, jalan tol dengan nilai investasi mencapai Rp6 triliun yang diusahakan oleh PT Trans Marga Jateng (TMJ), anak perusahaan PT Jasa Marga yang berpatungan dengan BUMD Jawa Tengah, PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah, dibagi dalam dua tahap pembangunan.

Tahap pertama jaringan jalan Tol Trans Jawa tersebut terdiri dari dua seksi, yakni seksi I Semarang-Ungaran sepanjang 11,3 km (beroperasi pada akhir 2011) dan seksi II Ungaran-Bawen dengan panjang 11,95 km (beroperasi April 2014). Sedangkan, tahap kedua terbagi dalam tiga seksi, yakni seksi III Bawen-Salatiga sepanjang 17,04 km, seksi IV (Salatiga-Boyolali) 22,85 km dan seksi V (Boyolali-Solo) 13,57 km.

Pengembangan tahap lanjut ini awalnya diperkirakan rampung pada akhir 2-14, namun akhirnya belum juga direalisasikan akibat terhambat pembebasan lahan.

Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng (TMJ) Ari Nugroho mengatakan nilai investasi ruas tol tersebut sudah jauh meningkat dengan alotnya proses pengadaan lahan.

Dia menyebutkan komponen biaya seperti bahan bangunan, upah tenaga kerja dan terutama bahan bakar minyak sudah tidak sesuai dengan asumsi pengembangan proyek sebelumnya.

“Otomatis naik dengan mundur 2 tahun, sehingga tidak bisa lagi disebut sama Rp6 triliun. Kami saat ini masih menghitungnya,” ungkapnya kepada Bisnis.com, Jumat (9/1/2015).

Oleh karena itu, Ari berharap lahan pengembangan tersebut dapat segera diserahkan agar pembangunan fisik bisa dimulai. Pasalnya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah optimistis pembangunan tahap kedua ruas Tol Semarang-Solo dapat segera dimulai menyusul progres pembebasan lahan yang sudah mencapai 95,5% pada akhir Desember 2014.

sumber :

Kamis, 08 Januari 2015

Tol Semarang-Solo, Pembangunan Tahap II Siap Dilanjutkan

ilustrasi : Exit Tol Ungaran
SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah optimistis pembangunan tahap kedua ruas Tol Semarang-Solo dapat segera dimulai menyusul progres pembebasan lahan yang sudah mencapai 95,5%.

Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sri Puryono menyatakan pengembangan lanjutan tersebut siap untuk direalisasikan pada awal tahun ini. Dia menuturkan hingga akhir Desember 2014 pembebasan lahan bagi pembangunan tersebut secara kumulatif hanya menyisakan 4,5%.

“Hingga 29 Desember 2014 pembebasan lahan sudah 95,5%. Jadi tinggal 4,5% saja,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (7/1/2015) malam.

Untuk merealisasikannya, Sri menuturkan Pemprov Jateng telah melaporkan progres pembebasan lahan kepada Kementerian PU dan Perumahan Rakyat.

Dia menjelaskan kementerian terkait melalui Badan Pengatur Jalan Tol akan menentukan apakah proyek tersebut dapat dilanjutkan dengan mengacu pada regulasi yang terdahulu.

Pasalnya, undang-undang No.2/2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum mulai berlaku pada 2015. Dalam aturan turunannya, yakni Peraturan Presiden No. 71/2012, setiap kegiatan pembebasan lahan yang masih berlangsung hingga 2015 akan mengacu pada UU tersebut.

Namun, dalam revisi aturan turunan, Perpres No. 40/2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum memberikan celah bagi proyek dengan progress pembebasan lahan di atas 75% hingga akhir 2014 untuk mengikuti aturan lama. Sebab, dengan UU yang baru proses administrasi mesti dimulai dari awal.

“Kita laporkan ke kementerian sebab mereka yang menentukan layak atau tidaknya proses pembebasan itu dan untuk dilakukan pembangunan fisik,” jelasnya.

Sri berharap proses pengerjaan fisik ruas tol tersebut dapat segera dimulai sehingga dapat rampung pada 2016. “Sebab Tol Semarang-Solo menjadi salah satu urat nadi yang menghidupkan perekonomian Jateng,” tegasnya.

sumber :

Pembebasan Lahan Tol Semarang-Solo Tak Sesuai Target


jalan tol semarang solo, 
foto: www.solopos.com
UNGARAN, Jowonews.com – Target pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol Semarang-Solo (SS) sesi III dan IV di Kabupaten Semarang tidak dapat selesai sesuai target akhir tahun 2014 . Di akhir tahun 2014 realisasi pembebasan baru mencapai 47 persen. Molornya pembebasan lahan ini berakibat pada molornya pembangunan dan membengkaknya biaya jalan tol.

Hal ini dibenarkan oleh Ketua Penitia Pembebasan Tanah (P2T) Tol Semarang-Solo Kabupaten Semarang, Gunawan Wibisono. “Progres pembebasan tol tahap IIIdan IV masih 47 persen yang terdiri dari milik masyarakat,” kata Gunawan yang sekaligus Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Semarang di Ungaran, Rabu (7/1).

Menurut Soni, begitu panggilan akrab Gunawan Wibisono, kendala yang dihadapi oleh panitia pembebasan ini diantaranya persyaratan administrasi yang belum komplit. Tidak jarang P2T menemui surat tanah atau sertifikat tanah bukan nama pemiliknya. Sehingga menyulitkan proses pemberkasan administrasi. “Tertib administrasi di masyarakat ini yang menjadi kendala kami di lapangan,” katanya.

Ketentuan mekanisme pembayaran uang pembebasan sesuai dengan nama dan alamat pemilik alas hak tanah atau sertifikat. “Sehingga jika nama sertifikat tidak sesuai dengan pemilik atau pengguna tidak dapat dicairkan,” ungkap Soni.

Soni mentargetkan dalam bulan Januari ini pembesan lahan dapat mencapai target hingga 75 pesen. Pasalnya di Januari ini lahan ada lahan milik instansi pemerintah dan masyarakat dibayarkan.

Sementara lahan milik instansi, yakni PTPN IX seluas 26,4 hektar, perusda seluas 26,4 hektar, akan dibayarkan di pekan pertama hingga dua Januari. Dan lahan milik desa, seluas 26 hektar belum bisa dimasukkan dalam progres pembebasan lahan lantaran pemerintah harus mencari lebih dulu tanah pengganti.

“Kalau ini semua dimasukkan, progres pembebasan lahan sebenarnya sudah lebih dari 75 persen. Karena untuk tanah instansi, secara umum pasti boleh, tinggal masalah administrasi saja,” tegasnya.

Sebelumnya, pengelola tol Semarang – Solo melalui Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jawa Tengah (TMJ), Ari Nugroho mengatakan molornya pembebasan lahan membuat biaya proyek pembangunan tol Bawen – Solo membengkak.

“Karena perencanaan biaya dilakukan pada 2010, dimana harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik belum naik,” katanya.

Sekda Provinsi Jateng, Sri Puryono menambahkan dari total lahan yang harus dibebaskan, hingga akhir Desember 2014 baru terealisasi 70%. Padahal untuk pengerjaan fisik, pembebasan lahan harus mencapai 75%. “Lahan yang belum selesai dibebaskan berada di Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Semarang,” imbuhnya.(JN01)

sumber :