javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Senin, 16 Juni 2014

Kejar Tayang, Panitia Pengadaan Tanah Umumkan Lahan Warga yang Terkena Tahap III-IV Tol Semarang-Solo


kompas.com/ syahrul munirIlustrasi pembangunan jalan tol
BAWEN, KOMPAS.com - Panitia Pengadaan Tanah (P2T) untuk jalan tol Semarang-Solo di wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, telah mengumumkan seluruh tanah warga yang akan tergusur untuk sesi III dan IV tol tersebut.

“Saat ini telah diumumkan langsung ke warga, sehingga pemilik lahan dapat mengetahui luas lahan mereka yang akan terkena jalan tol,” kata Ketua P2T yang sekaligus Plt Sekda Kabupaten Semarang, Budi Kristiono, Minggu (15/6/2014).

Sebelum pengumuman tersebut, kata Budi, sudah terlebih dahulu dilakukan pendataan dan inventarisasi pemilik maupun luas lahan. Adapun pengumuman kepada warga disampaikan lewat perangkat desa atau kelurahan, serta melalui internet.

Pengumuman ini, imbuh Budi, juga memberikan kesempatan kepada para pemilik lahan untuk memberikan sanggahan bila ternyata data yang diumumkan tak sesuai dengan data saat inventarisasi. 

Budi berjanji mengakomodasi setiap keberatan yang diajukan para pemilik lahan, untuk mempercepat proses penggantian kepemilikan lahan tersebut. Sesii III dan IV tol ini ditargetkan rampung pada 31 Desember 2014. 

Seperti diberitakan sebelumnya, pembangunan jalan tol Semarang-Solo ini dibagi dalam lima tahap. Dari lima tahap tersebut, tahap I Semarang-ungaran dan tahap II Ungaran-Bawen telah dioperasikan. 

Sementara itu, tahap III dan IV, Bawen-Boyolali sepanjang 24,15 kilometer masih dalam tahap proses pembebasan lahan. Untuk tahap ini, akan ada 7 kecamatan dan 22 desa di Kabupaten Semarang yang terkena proyek tersebut.

sumber :

Rabu, 04 Juni 2014

PROYEK JALAN TOL : Target Tuntas Akhir Tahun, Pembebasan Lahan Dikebut


Ilustrasi jalan (Dok/JIBI/Solopos)

Solopos.com, BOYOLALI–Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali mengintensifkan pendekatan dan negosiasi dengan para pemilik lahan yang terkena proyek jalan tol Solo-Semarang di wilayah Kota Susu. Hal itu untuk menuntaskan pembebasan lahan yang ditargetkan rampung akhir Desember tahun ini.

“Pemkab yang berperan sebagai fasilitator, ditarget bisa menyelesaikan persoalan pembebasan lahan untuk proyek jalan tol tersebut hingga akhir tahun ini,” ungkap Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali, Sri Ardiningsih, yang juga ketua Panitia Pengadaan Tanah (P2T) Boyolali, saat ditemui wartawan di Kantor Bupati Boyolali, Selasa (3/6/2014).

Target selesainya pembebasan lahan akhir tahun ini, jelas Sekda, karena mulai awal 2015 mendatang, proyek jalan tol tersebut sudah mulai pembangunan fisik.

Sebagai informasi, untuk wilayah Boyolali, proyek tol menerjang 1.979 bidang tanah dengan luas total mencapai 151,45 hektare. Proyek tersebut melintas di 17 desa di lima kecamatan, yaitu, Ampel, Boyolali, Mojosongo, Teras, dan Banyudono. Hingga kini, tanah yang sudah dibebaskan sebanyak 139 bidang.

“Yang sudah terselesaikan sebesaar 9,81 persen dengan total luas 10,9 hektare,” terangnya.

Sekda mengakui seputar pembebasan lahan untuk proyek jalan tol tersebut, tidak adanya kesepakatan tentang nilai ganti rugi kerap menjadi kendala. Persoalan lainnya di antaranya ahli waris yang tinggal di tempat yang jauh, hingga persetujuan pelepasan fasilitas umum (fasum). Namun demikian, Sekda menyatakan pihaknya terus melakukan pendekatan secara intensif kepada masyarakat, khususnya pemilik lahan. Sementara seputar proses pelepasan fasum, juga dilakukan dengan menjalin komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Jateng.

“Setiap pekan, kami intens laporan kepada Pemprov Jateng. Tentu saja, tentang nilai ganti rugi, perlu dimusyawarahkan lebih intensif,” imbuhnya.

Terpisah, koordinator warga yang terkena proyek jalan tol di Desa Mudal, Kecamatan Boyolali, Agus Hariyadi, 35, mengakui ada sekitar 30 bidang tanah di desa tersebut yang bakal dibebaskan. Seluruh tanah berada di Dukuh Bukuning. Pihaknya berharap pembahasan ganti rugi segera dilakukan. Namun demikian, pihaknya belum bisa menyampaikan nilai ganti rugi yang akan disampaikan kepada P2T. Alasannya, belum ada pertemuan guna membahas ganti rugi.

sumber :

Desember, Ganti Rugi Tol Solo-Semarang Ditarget Kelar


dok.timlo.net/byl

Proyek jalan tol Solo-Semarang yang 
menggusur tanah kas desa di wilayah
 Banyudono, Boyolali5

Boyolali – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali menargetkan proses ganti rugi jalan tol Solo-Semarang bisa kelar pada Desember 2014. Saat ini, panitia pengadaan tanah (P2T) tengah berupaya melakukan negosiasi dengan pemilik lahan yang terkena proyek jalan tol.

Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali, Sri Ardiningsih, mengatakan saat ini proses negosiasi terus dilakukan. Di wilayah Boyolali, proyek tol menerjang 1979 bidang tanah dengan luas total mencapai 151,45 hektar.

Proyek itu melintasi 17 desa di lima wilayah kecamatan, yakni Ampel, Boyolali kota, Mojosongo, Teras dan Banyudono. Sementara hingga kini, tanah yang telah dibebaskan sebanyak 139 bidang.

“Kami terus melakukan pendekatan agar target di akhir tahun ini bisa diselesaikan dan tidak ada masalah di kemudian hari,” ujar Sri Ardiningsih, ketika ditemui di Pemkab Boyolali, Selasa (3/6).

Ada sejumlah kendala yang saat ini tengah dihadapi panitia dalam proses ganti rugi. Di antaranya belum ada kesepakatan nilai ganti rugi dengan pemilik lahan, ahli waris yang tinggal di tempat jauh maupun persetujuan pelepasan fasilitas umum (fasum). Pasalnya, khusus untuk pelepasan fasum harus seizin gubernur.

“Tapi kami yakin target dapat terpenuhi,” tandasnya.

Sumber :

Senin, 02 Juni 2014

Tahun 2015, Tol Semarang-Solo Akan Dioperasikan


Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan
Mobil melintasi ruas jalan tol Semarang-Solo Sesi II Ungaran-Bawen, di Kalurahan Lemah Ireng, 
Kecamatan Bawem Kabupaten Semarang, Jateng, Jumat (4/4/2014). Jalan tol Ungaran-Bawen 
dengan panjang 12 kilometer resmi dibuka untuk umum dengan biasa masuk gratis hinga sepekan 
mendatang. Dengan difungsinya jalan tol ini jarang tempuh antara Semarang-Bawen hanya 
berkisar 30 menit dari yang sebelumnya bisa mencapai dua jam melintasi jalur umum. 
(Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan)

TRIBUNNEWS.COM,SEMARANG - Pembangunan Tol Semarang- Solo terus dikebut pengerjaannya.

Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah, Bambang Nugroho K mengatakan, target penyelesaian jalan bebas hambatan Semarang-Solo pada akhir tahun 2015. 

Sementara ini, paket pengerjaan masih terkendala pembebasan lahan sehingga belum bisa melakukan paket pengerjaan fisik.

"Target jalan Tol selesai tahun 2015, setelah itu langsung dioperasikan," kata Bambang di Semarang, Senin (2/6/2014).

Bambang menuturkan, berdasarkan rapat dengan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, terdapat kendala yang cukup mengganjal.

Yakni, ada satu kabupaten yang terlintas lahan Tol belum tintas pada upaya pembebasan lahan. 

Untuk itu, pihaknya terus mendorong agar daerah yang bersangkutan bisa bekerja lebih keras menyelesaikan persoalan lahan.

Di daerah itu, lanjutnya, perlu dukungan dari Pemerintah Provinsi.

"Masalahnya ada pada lahan. Kalau pengerjaan fisik, kita bisa diselesaikan satu tahun lebih dikit. Itu sudah selesai, tapi sekarang ini arahnya untuk pembebasan lahan. Kami juga rutin tiap minggu laporan ke gubernur," lanjutnya.

Paket pengerjaan Tol Semarang-Solo masih belum tuntas. Jalur terakhir yang sudah dioperasikan yakni Semarang-Ungaran dan terbaru jalur Ungaran-Bawen.

sumber :

Tuntut Pembangunan Lapangan, Warga Kalirejo Ancam Gelar Demo

ilustrasi
UNGARAN, suaramerdeka.com - Seluruh warga di Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Ungaran Timur menuntut realisasi pembangunan lapangan olah raga yang tergusur karena pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo. Mereka menunggu janji pihak pengelola jalan tol sejak 2008, mengingat pascatergusurnya fasilitas umum tersebut kini masyarakat tidak memiliki tempat terutama untuk olah raga.

Dikatakan Ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat (LKMK) Kelurahan Kalirejo, Bambang Muntaha, akibat tidak adanya lapangan yang representatif klub sepak bola kebanggaan warga Kalirejo, yakni Sport Cemara Club (SCC) akhirnya kesulitan untuk berkembang. "Lebih kurang sudah enam tahun masyarakat Kalirejo kesulitan beraktivitas, begitu pula SCC yang tidak bisa lagi latihan," katanya, Minggu (1/6). 

Warga menurut dia, telah mengirimkan surat ke Tim Pengadaan Tanah (TPT) Jateng termasuk kepada Panitia Pengadaan Tanah (P2T) Kabupaten Semarang, hanya saja belum ada perkembangan yang signifikan. Pihaknya khawatir, jika janji pembangunan lapangan tidak kunjung ditepati ke depan warga akan menggelar aksi unjuk rasa.

"Kalau berlarut tidak segera dibangun kami khawatir akan terjadi unjuk rasa. Mengingat saya sempat mendengar kabar tersebut terlontar dari beberapa warga," tuturnya.

Terpisah, Ketua P2T Kabupaten Semarang, Budi Kristiono menyebutkan, hingga sekarang memang masih ada sejumlah fasilitas umum dan fasilitas sosial yang tergusur proyek jalan tol kondisinya belum selesai dibangun. Itu dikarenakan, salah satunya faktor perlunya penghitungan dari tim apresial.

"Penghitungan dari tim apresial masih berlangsung. Kami berharap masyarakat bisa bersabar menahan diri mengingat saat ini masih dalam proses," tandasnya.

sumber :

Minggu, 25 Mei 2014

PEMBEBASAN TOL BAWEN – SOLO TUNTAS 2014



SEMARANG – INVESTORDAILY (20/05/2014) : Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan proses pembebasan tanah milik warga yang terkena proyek pembangunan jalan tol Semarang-Solo, ruas Bawen-Solo selesai pada akhir 2014. 

“Targetnya, pembebasan lahan bisa beres 2014 sehingga pembangunannya dimulai pada 2015. Dan, pertengahan 2016, jalan tol sudah dibuka untuk umum,” kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Semarang, Senin (19/5). 

Dia menjelaskan, konstruksi jalan tol Bawen-Solo yang melintasi Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Boyolali itu terbagi dalam tiga seksi serta sembilan paket pengerjaan. “Jika sembilan paket pengerjaan jalan tol Bawen-Solo itu bisa dimulai dan diselesaikan secara bersamaan, pembangunannya lebih cepat selesai,” ujar dia seperti dikutip dari Antara. 

Ganjar mengungkapkan, dari tiga daerah yang dilintasi proyek pembangunan jalan tol Bawen-Solo, perkembangan pembebasan lahan di Kabupaten Semarang yang paling lambat. Pembebasan lahan di Boyolali diyakini bisa cepat, karena pengalamannya bagus dan masyarakatnya relatif rasional. Demikian pula, pembebasan lahan di Salatiga juga akan cepat, karena tidak terlalu banyak lahan yang dibebaskan.

Sejauh Ini, sejumlah kendala yang ditemui tim pembebasan lahan di Kabupaten Semarang antara lain, sosialisasi yang kurang, ada tanah yang belum bersertifikat, sengketa antar keluarga, dan ada tanah yang disita Bank.

Direktur Utama PT Trans Marga Jateng (TMT) Djadjat Sudradjat mengharapkan pemerintah provinsi setempat mempercepat proses pengadaan tanah.

“Saat ini, pembebasan lahan jalan tol Bawen – Solo di Salatiga sudah mencapai 71%, Boyolali 7% dan Kabupaten Semarang baru persiapan untuk musyawarah”, ujar dia.

Pada proyek pengerjaan jalan tol Bawen – Solo dengan panjang total 49,81 kilometer itu memerlukan pembebasan lahan sekitar 350 hektare (ha) yang berada di 47 desa dan 34 kecamatan. Ruas jalan tol Bawen – Salatiga sepanjang 17,57 kilometer, salatiga – Boyolali 24,5 kilometer, dan Boyolali – Kartasura 7,74 kilometer.

Direktur Teknik dan Operasi TMJ Ari Nugroho menambahkan, setelah pembebasan lahan yang terkena proyek pembangunan jalan tol Bawen – Solo selesai dilakukan akan dilanjutkan dengan penelitian pada lapisan tanah untuk menentukan teknik yang digunakan. “Jadi, masing-masing tempat akan berbeda tekniknya sesuai dengan kebutuhan teknisnya di lapangan”, kata dia.

Sebelumnya pemerintah meresmikan jalan tol Semarang – Solo ruas Ungaran - Bawen sepanjang 12 kilometer (km). Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengungkapkan, ruas tol ini masuk dalam 10 jaringan jalan tol trans –Jawa itu. Dari 10 ruas tol trans-Jawa itu, sekitar empat ruas tol yang masih dalam proses pengadaan lahan, yakni tol Pejagan – Pemalang, Pemalang – Batang, Batang – Semarang, dan Solo – Kertosono.

“Kami minta kepada pemda dan stakeholders lainnya agar melakukan percepatan, sehingga pembangunan dapat selesai tepat waktu dan tepat biaya”, kata Djoko saat memberikan sambutan dalam peresmian ruas tol Ungaran – Bawen di Semarang, Jawa Tengah, belum lama ini.

Pembangunan jalan tol Semarang – Solo sepanjang 72,64 km dilakukan dalam dua tahap dengan investasi Rp 6,2 triliun. Sedangkan pinjaman dari sindikasi perbankan yang terdiri atas Bank BNI, Bank Mandiri, Bank BRI, dan Bank Jateng senilai Rp 4,7 triliun. (tm)

sumber :

Senin, 19 Mei 2014

Kebutuhan Tanah Jalan Tol Bawen-Solo 350 Ha

SEMARANG, suaramerdeka.com - Direktur Utama PT Trans Marga Jateng Djadjat Sudradjat, dalam rapat koordinasi pembebasan tanah jalan tol di Gubernuran, Senin (19/5) menjelaskan, jalan tol Bawen-Solo memiliki panjang 49,81 kilometer dengan kebutuhan tanah sekitar 350 hektare di 47 desa, 34 kecamatan dan tiga kabupaten kota. Rinciannya, ruas Bawen-Salatiga sepanjang 17,57 kilometer, Salatiga-Boyolali 24,5 kilometer, dan Boyolali-Kartasura 7,74 kilometer.

Disampaikannya, terkait usulan pintu keluar di Pringapus, sudah ada dalam rencana optional. Jika pemda setempat menginginkan terealisasi agar mengirim usulan tertulis. "Yang Pringapus kami menyebutnya Simpang Susun Bergas, masih optional tapi tanahnya sudah bebas 100 persen. Tinggal pengajuan usulan saja," katanya, Senin (19/5).

Direktur Teknik dan Operasi PT TMJ Ari Nugroho menambahkan, kondisi alam tol Bawen-Boyolali hampir sama dengan Semarang-Bawen yakni banyak lembah dan bukit. Maka sepanjang Bawen-Boyolali setidaknya dibangun sepuluh jembatan dengan bentang di atas 100 meter. Di samping itu juga banyak jembatan di bawah 100 meter.

Dengan demikian, potensi masalah seperti di Semarang-Bawen sangat besar.

Kondisi berubah di ruas Boyolali-Solo yang mana alamnya datar. "Jadi nanti masing-masing tempat akan berbeda tekniknya sesuai dengan kebutuhan teknisnya di lapangan," katanya.

sumber :

Sabtu, 17 Mei 2014

Proyek JSS dan Tol Sumatera Ditinjau Ulang

ilustrasi
TEMPO.CO , Jakarta: Chairul Tanjung, yang akan menjabat Menteri Koordinator Perekonomian menggantikan Hatta Rajasa, mengatakan akan meninjau ulang beberapa mega proyek seperti Jembatasn Selat Sunda (JSS) dan Jalan Tol Trans Sumatera. Kedua proyek raksasa itu memang belum jelas kelanjutannya.

Menurut dia, pembahasan akan menjadi salah satu prioritas pekerjaan dalam lima bulan masa jabatannya. "Nanti itu satu-satu akan dibahas. Misalnya Tol Trans Sumatera ini kan gantung. Saya lihat kalau seandainya APBN tidak bisa, bisa tidak kalau non APBN," kata Chairul Tanjung di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat, 16 Mei 2014.

Jika kelanjutan proyek tersebut bisa dikerjakan dengan non APBN, Chairul meneruskan, akan langsung berbicara dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Menko tidak bisa buat keputusan karena yang ada Keputusan Presiden. Tapi sebagai Menko saya akan bicara dengan presiden, kalau tidak bisa boosting dengan yang lain."

Nasib pembangunan proyek JSS yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera itu juga terkatung-katung. Dalam rapat koordinasi terkhir ada dua opsi yang disepakati yaitu pembuatan feasibility study akan dibiayai oleh APBN atau mengkolaborasikan BUMN dengan konsorsium pemrakarsa, PT Graha Banten Lampung Sejahtera, yang sebagian besar sahamnya dimiliki taipan Tomy Winata. Namun kedua opsi itu pembangunan proyek yang memubutuhkan investasi sekitar Rp 200 triliun hingga sekarang belum diputuskan. 

Soal pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto pernah memastikan proyek itu tak bisa dimulai pada tahun ini. Selain terkendala pembebasan lahan, pembangunan jalan tol terhambat oleh jaminan keuangan dan penyertaan modal proyek tersebut. "Itu kan nanti jadi pinjaman bank. Kami belum dapat kepastian kalau itu akan dijamin negara. Siapa yang mau jamin?" tutur Djoko pada Maret lalu.

Ia menjelaskan, draf perbaikan peraturan presiden mengenai penugasan kepada badan usaha milik negara membangun Jalan Tol Trans-Sumatera sudah diserahkan kepada Sekretariat Kabinet. Untuk tahap awal, ada empat ruas yang akan dimulai pembangunannya, yakni Medan-Binjai, Palembang-Indralaya, Pekanbaru-Dumai, dan Bakauheni-Terbanggi Besar. Djoko menyebutkan, dari keempat ruas tersebut yang paling siap adalah ruas Medan-Binjai karena lahannya sebagian besar sudah dibebaskan.

Jalan Tol Trans Sumatera adalah jalan bebas hambatan yang rencananya membentang dari Aceh hingga Lampung. Jalan ini akan menghubungkan kota-kota besar di Pulau Sumatera dan menjadi bagian dari proyek high grade highway Sumatera.

sumber :

Hanya 17 Tol 10 Tahun Terakhir

ilustrasi
MedanBisnis - Jakarta .Selama kurang lebih 10 tahun terakhir, pemerintah telah meresmikan sejumlah proyek tol di Indonesia. Terhitung sejak 2005 sampai April 2014 kemarin, ada 17 ruas tol yang diresmikan pengoperasiannya. Jumlah keseluruhannya mencapai 193,09 km. Dari jumlah 17 tol tersebut, ada beberapa seksi yang kini masih dalam tahap pengerjaan.
Berdasarkan data yang didapat wartawan dari Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum, Jumat kemarin, berikut daftar tol yang diresmikan selama 10 tahun terakhir.

Pertama Cikampek-Purwakarta-Padalarang. Tol yang biasa disebut Cipularang ini diresmikan tepatnya 20 April 2005, itu berarti sudah sekitar 9 tahun tol milik PT Jasa Marga Tbk ini beroperasi. Tol ini menjadi penghubung utama kota Jakarta dan kota Bandung. Panjangnya sendiri mencapai 58,5 km.

Kemudian JORR W2S. Jalan tol lingkar luar Jakarta atau Jakarta Outer Ring Road W2 Selatan diresmikan pada 1 November 2006. Tol milik PT Jasa Marga ini memiliki panjang sampai 5,72 km.

Disusul JORR S1 Utara Seksi 3. Tol yang juga dioperasikan Jasa Marga ini diresmikan hampir setahun setelah diresmikannya JORR W2 Selatan, yaitu pada 1 September 2006. Ruas tol yang merupakan jaringan tol lingkar luar Jakarta ini memiliki panjang 4,35 km.

Ada lagi JORR E3. Tol lingkar luar sepanjang 3,75 km ini diresmikan pemerintah pada 24 Mei 2007. Tol ini dioperasikan Jasa Marga. Kemudian JORR S1 Utara Seksi 4. Tol ini secara resmi dibuka untuk umum pada 28 Agustus 2007. Tol yang dioperasikan Jasa Marga ini memiliki panjang 3,75 km. Selanjutnya SS Waru-Juanda. Tol yang menjadi salah satu akses ke Bandara Juanda ini diresmikan pemerintah pada 27 April 2008. Tol milik PT Citra Margatama Surabaya ini terbentang sepanjang 12,8 km. Makassar Seksi IV, jalan tol yang dioperasikan oleh PT Jalan Tol Seksi IV ini diresmikan pada 24 September 2008. Tol ini memiliki panjang 6,05 km.

Ada lagi Jembatan Surabaya-Madura. Jembatan penghubung kota Surabaya dan Madura ini bisa dikenal dengan nama jembatan Suramadu. Ini menjadi jembatan tol pertama di Indonesia yang dibangun di atas perairan. Suramadu diresmikan pada 10 Juni 2009. Tol milik pemerintah ini memiliki panjang 5,40 km.

Ada pula tol Kanci-Pejagan. Tol sepanjang 35 km ini pernah dimiliki Bakrie dan beberapa waktu lalu diakuisisi dan kini dioperasikan oleh PT Semesta Marga Raya. Tol ini diresmikan pada 26 Januari 2010.

Selanjutnya ada JORR W1. Tol lingkar luar Jakarta W1 diresmikan pada 22 Februari 2010 dengan panjang 9,85 km. Tol ini dioperasikan oleh PT Jakarta Lingkar Barat Satu. Ada pula Surabaya-Mojokerto Seksi 1A. Tol yang juga biasa dikenal membentang dari Waru-Sepanjang ini diresmikan pada 26 Agustus 2011. Tol ini memiliki panjang 1,89 km dan dioperasikan oleh PT Marga Nujyasomo Agung.

Di Jawa Tengah ada lagi Semarang-Ungaran. Tol yang merupakan rangkaian dari tol Trans Jawa untuk ruas Semarang-Solo diresmikan pada 10 November 2011. Tol sepanjang 11 km ini dioperasikan oleh PT Trans Marga Jateng. Di Bogor ada Outer Ring Road Seksi 1. Tol BORR seksi 1 ini terbentang dari Sentul Selatan sampai Kedung Halang. Tol yang dioperasikan oleh PT Marga Sarana Jabar ini memiliki panjang 3,85 km. Tol ini diresmikan 29 November 2011.

Kemudian ada lagi Cinere-Jagorawi (SS Cimanggis-SS Raya Bogor). Pemerintah meresmikan ruas tol ini pada 3 Februari 2012. Tol sepanjang 3,50 km ini dioperasikan oleh PT Translingkar Kita Jaya. Seksi selanjutnya dari tol ini sedang dalam tahap pembebasan lahan.

Di Bali ada Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa. Tol yang diresmikan oleh Presiden Bambang Yudhoyono (SBY) pada 23 September 2012 ini memiliki panjang 10 km. Pada saat itu juga Presiden SBY memberi nama tol yang dioperasikan Jasamarga Bali Tol ini dengan nama Bali Mandara yang berarti aman, damai dan sejahtera. Tol ini melingkar-lingkar di atas perairan Bali dan diklaim tol terindah di Indonesia.

Kembali ke Jakarta, ada juga JORR W2 Utara Seksi Kebon Jeruk-Ciledug. Tol yang dioperasikan PT Marga Lingkar Jakarta ini sejatinya tersambung dari Kebon Jeruk-Ulujami. Tapi pada 27 Desember 2013 lalu, seksi dari Kebon Jeruk-Ciledug sepanjang 5,73 km sudah diresmikan pemerintah. Sedangkan ruas Ciledug-Ulujami ditargetkan beroperasi di kuartal 3 tahun 2014. Jika sudah beroperasi, maka jaringan tol lingkar luar Jakarta akan terkoneksi seluruhnya.

Terakhir ada Tol Semarang-Solo Seksi II (Ungaran-Bawen). Tol bagian dari Trans Jawa ini diresmikan pemerintah pada 4 April 2014. Ruas tol sepanjang 11,95 km dioperasikan oleh PT Trans Marga Jateng. (dtf)

sumber :

Jumat, 16 Mei 2014

Lagi, Pembebasan Tol Terkendala


ilustrasi
UNGARAN — Proses pembebasan tanah untuk proyek jalan tol Semarang-Solo sesi III dan IV dari Bawen-Salatiga-Kaliwungu belum beres. Masih banyak kendala yang ditemui tim pengadaan tanah.

Bahkan, ada sebuah lahan yang masih dalam sengketa kasus pidana. Yakni, di Desa Tlogo, Kecamatan Tuntang. Satu sisi, bendel buku tanah milik desa juga hilang, sehingga menyulitkan proses identifikasi tanah.

Padahal, target waktu penyelesaian pembayaran atau pembebasan lahan pada Desember 2014 mendatang.

Untuk diketahui, pembangunan tol Semarang-Solo meliputi lima tahap. Tahap I Semarang-Ungaran; dan tahap II Ungaran-Bawen. Sesi I dan II sudah jadi.
Sedangkan sesi III dan IV, akan dibangun jalan tol sepanjang 24,15 kilometer, membentang dari Bawen hingga Kaliwungu (perbatasan Boyolali).
Namun, pembangunan sesi III dan IV belum dilaksanakan, karena masih proses pembebasan lahan di 7 kecamatan dan 22 desa di Kabupaten Semarang. 

Kasubag Pertanahan Bagian Tata Pemerintahan, Vega Lazuardi, mengatakan, banyak kendala yang ditemukan di lapangan. Utamanya, proses identifikasi tanah.

Sebab, masih banyak tanah warga belum bersertifikat. Selain itu, proses jual beli tanah oleh warga, dilakukan di bawah tangan. Sehingga menyulitkan petugas lapangan untuk melakukan identifikasi. Parah lagi, buku berisi data tanah di kantor desa sudah hilang.

”Proses identifikasi itulah yang memakan waktu lebih lama. Sebab, yang sering terjadi, tanah waris belum disahkan secara hukum. Sehingga kami harus identifikasi dengan mengecek di lapangan, serta mendatangkan para pemilik dan ahli waris. Bahkan, lebih susah lagi karena ada buku bendel desa yang berisi data tanah hilang,” ungkap Vega, Rabu (14/5) kemarin.

Selain kendala tersebut, ada kasus penipuan tanah yang ternyata objek sengketa masuk dalam daftar yang akan dijadikan jalan tol. Yakni, objek tanah yang berada di Desa Tlogo Kecamatan Tuntang milik Komariah, 55.

Kasus tanah tersebut, masih ditangani penyidik Satuan Reskrim Polres Semarang. Akibatnya, proses pembebasan lahan butuh waktu lama. Jika nantinya harus segera dibebaskan, tetap akan dilakukan konsinyasi.

Ketua Panitia Pengadaan Tanah (P2T) Kabupaten Semarang, Budi Kristiono mengatakan, pihaknya kini tengah melakukan proses inventarisasi. Juga identifikasi tanah yang akan dibebaskan.

Tim mempercepat penyelesaian untuk mengejar tenggat waktu yang ditetapkan, yakni akhir Desember mendatang. Pihaknya optimistis, proses pembebasan lahan untuk jalan tol selesai tepat waktu.


”Kami terus bekerja keras, karena deadline penyelesaiannya sebelum 31 Desember 2014 harus sudah pembayaran seluruh tanah,” tutur Budi yang juga menjabat sebagai Plt Sekda Kabupaten Semarang. (tyo/isk/ce1)

sumber :