javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Rabu, 15 Juni 2016

Terlalu Berisiko Mengoperasikan Ruas Bawen-Salatiga


Konstruksi bangunan jembatan tol Bawen-Salatiga. 
Foto: Metrotvnews.com/Dhana Kencana

Metrotvnews.com, Semarang: Pengerjaan jalan Tol Semarang-Solo di seksi III, ruas Bawen-Salatiga, baru mencapai 44 persen. Jalur ini dipastikan tidak bisa digunakan pada musim mudik Lebaran 2016.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bilang, tidak perlu memaksakan ruas sepanjang 17,6 kilometer itu untuk jalur mudik. Faktor keselamatan pengendara, kata dia, harus diutamakan.

Kalau memang tidak bisa dipakai, ya, tidak perlu dipaksakan. Tapi proses tetap terus berjalan,” kata Ganjar di Semarang, Rabu (15/6/2016).

Ganjar belum bisa memastikan apakah bisa digunakan untuk arus mudik atau arus balik. Saat ini Ganjar masih menunggu hasil uji kelayakan dari pihak terkait.

Ganjar menolak untuk mengizinkan jalan tol tersebut digunakan jika memang dinyatakan tidak layak, karena bisa membahayakan bagi para pemudik. Meski demikian, pihaknya telah menyiapkan jalur lain yang siap untuk dilewati para pemudik dengan nyaman dan aman.

“Untuk apa kita memaksakan satu jalur kemudian mengancam keamanan? Berbahaya. Lebih baik diselesaikan betul. Kalau sudah siap, bisa langsung pakai, kalau belum layak, ya, jangan,” imbuh Ganjar.

Sementara itu, Direktur Teknik dan Operasional PT Trans Marga Jateng (TMJ), Arie Nugroho mengatakan pembukaan jalan tol masih menunggu keputusan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Arie menjelaskan, jika ruas Bawen-Salatiga dipaksakan beroperasi saat mudik, perlu pengalihan arus. Kendaraan diarahkan keluar sebelum jembatan Tuntang dan dibelokkan menuju jalan milik Perhutani. Hanya saja pilihan tersebut sangat berisiko bagi keselamatan pengendara.

”Jalan tol ini salah satu alternatif pengurai kemacetan. Kalau tidak dibuka tidak apa-apa, karena daripada menanggung risiko keselamatan,” ungkap Arie.

Dari data TMJ hingga awal Juni 2016, konstruksi fisik tol ruas Bawen-Salatiga baru mencapai 44 persen. Sedangkan tol layak dilintasi jika tahapan konstruksinya sudah mencapai 60 persen. Sementara estimasi pengerjaannya hanya sekitar 1,6 persen per minggu.

sumber :

Selasa, 14 Juni 2016

TOL SOLO-KERTOSONO : Pembayaran Ganti Rugi 14 Warga di Boyolali Bakal Dikonsinyasi


Seorang pelajar melintasi Jalan Tol Solo-Kertosono (Soker) 
di Wonorejo, Gondangrejo, Karanganyar, Senin (6/5/2013). 
Sebagian warga di wilayah itu mengaku belum menerima 
sertifikat tanah yang baru setelah proses pembebasan 
lahan berlangsung. (JIBI/SOLOPOS/Tri Indriawati)

"Tol Solo-Kertosono, ganti rugi lahan milik 14 warga akan dikonsinyasi di pengadilan."

Solopos.com, BOYOLALI–Pembayaran uang ganti rugi pembebasan jalan tol Solo-Mantingan bakal melalui proses pengadilan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Lahan Tol Semarang-Solo, Waligi, menyampaikan sudah ada 14 warga di Kecamatan Ngemplak yang proses pembayaran ganti rugi pembebasan jalan tol akan melalui proses konsinyasi di pengadilan.

“Warga sudah tidak bisa diajak berembug. Kami minta mengurus surat keberatan kepada pengadilan malah tidak mau. Untuk percepatan proyek tol Solo-Mantingan, kami akan menempuh jalur pengadilan. Ya, proses konsinyasi,” kata Waligi, saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (14/6/2016).

Dari data yang diterima Solopos.com, 14 warga itu berasal dari Desa Pendeyan dua pemilik lahan total seluas 747 meter persegi, Desa Dibal sebanyak lima pemilik lahan dengan total lahan seluas 3.580 meter persegi, Desa Sobokerto sebanyak tiga pemilik lahan total seluas 2.000 meter persegi, dan Desa Ngargorejo sebanyak empat pemilik lahan dengan total luas lahan 2.624 meter persegi.

“Total nilai ganti rugi yang akan kami titipkan di pengadilan adalah Rp6,608 miliar,” imbuh Waligi.

PPK telah membuat berita acara terkait proses konsinyasi terhadap 14 warga itu yang ditandatangani Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah, Wartomo, yang juga Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Boyolali. Dalam berita acara tersebut tertulis bahwa panitia telah melaksanakan musyawarah bentuk ganti kerugian antara pihak yang berhak (pemilik tanah) dengan pelaksana pembebasan tanah dengan mengikutsertakan instansi yang memerlukan tanah.

“Namun warga tetap menolak bentuk atau nilai ganti kerugian dan tidak mengajukan keberatan kepada pengadilan,” tutur Waligi.

Berdasarkan penolakan warga itu, instansi yang memerlukan tanah dalam hal ini pemerintah perlu menitipkan ganti kerugian kepada ketua pengadilan di wilayah lokasi pembangunan jalan tol.

“Ini sudah kami komunikasikan dengan Pengadilan Negeri (PN) Boyolali,” kata Waligi.

Menurut Waligi, selain Ngemplak, masih ada beberapa lahan untuk proyek tol yang hingga saat ini belum bebas. Salah satunya di wilayah Kecamatan Boyolali Kota yang meliputi Desa Mudal, Karanggeneng, dan Kiringan. Di Boyolali Kota, jika memang tidak ada titik temu, PPK juga akan menempuh langkah konsinyasi.

“Sebenarnya ini kan sudah masuk masa percepatan. Seharusnya, sebagian jalan tol di Boyolali seperti di Denggungan, Ngargorejo, Sobokerto, Ngesrep, Dibal, Sindon, bisa beroperasi saat Lebaran. Tetapi sampai saat ini belum bebas semua.”

Waligi berharap pembebasan lahan untuk jalan tol segera selesai apalagi sekarang PPK telah mendapatkan dana talangan dari Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) Trans Marga Jateng untuk menyelesaikan pembebasan lahan jalan tol di ruas Salatiga-Boyolali. Dana talangan yang disalurkan BUJT Trans Marga Jateng untuk wilayah Salatiga-Boyolali mencapai Rp292 miliar. Dana itu untuk pembebasan tanah jalan tol meliputi seluruh wilayah Boyolali mulai dari Ampel, Boyolali Kota, Mojosongo, Teras, Banyudono, termasuk Ngemplak.

sumber :

INFO MUDIK 2016 : Pintu Tol Tingkir Salatiga Berpotensi Macet


PINTU TOL: Petugas mengukur luasan exit tol di Jalan Raya Tingkir-Solo 
yang nantinya akan dipakai sebagai pintu keluar Tol Semarang-Salatiga. 
(suaramerdeka.com/Surya)

SALATIGA, suaramerdeka.com - Rencana dibukanya tol Bawen-Salatiga sebagai bagian dari kelanjutan proyek tol Semarang-Solo, perlu diantisipasi dengan melebarkan Jalan Raya Tingkir-Suruh. Bila pintu tol dibuka dan jalur tol Bawen-Salatiga dioperasikan, maka diprediksi Jalan Raya Tingkir-Suruh yang merupakan muara tol, bakal terjadi kemacetan parah. Kondisi tersebut berdasarkan pengalaman dibukanya tol Semarang-Ungaran, sekitar 3 tahun lalu.

Untuk itu, perlu melakukan berbagai upaya menghindari terjadinya krodit di jalan tersebut. Termasuk bagaimana menyiapkan jalur alternatif Salatiga-Suruh (PP) yang tidak bersinggungan dengan pintu tol Tingkir. Sebagaimana diketahui, tol Bawen-Salatiga rencananya bisa dioperasikan untuk keperluan arus mudik dan balik. Namun karena jembatan tol yang melintas di atas Sungai Tuntang belum bisa dipastikan selesai pembangunannya, maka penggunaan tol Bawen-Salatiga molor.

Berdasarkan pantauan suaramerdeka.com, sejumlah petugas masih menyelesaikan pembangunan jalan tol Bawen-Salatiga, di pintu tol Tingkir. Sejumlah truk pengangkut tanah masih hilir mudik membawa timbunan tanah untuk memperkuat pondasi jalan tol. Di sekitar pintu tol juga telah dilebarkan, namun perlu ditindaklanjuti dengan pelebaran Jalan Tingkir-Suruh.

Amin (42) warga Kelurahan Tingkir Tengah, Kecamatan Tingkir Salatiga, mengatakan, pemerintah harus menyiapkan sarana pendukung di Jalan Raya Tingkir-Suruh sebelum tol beroperasi di wilayah tersebut. “Pelebaran jalan Tingkir-Suruh itu sudah harus dilakukan. Lha sekarang saja jalan tersebut kerap macet, terutama saat arus mudik dan balik Lebaran. Apalagi ketika ada jalan tol,” kata warga Perumahan Mutiara itu.

Sebelumnya, Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng (TMJ), Ari Nugroho mengatakan, pihaknya dan konsultan terus berupaya untuk menyelesaikan pekerjaan jalan tol Bawen-Salatiga. Soal nantinya jalur tersebut dibuka atau tidak saat Lebaran 2016, masih menunggu izin beroperasi dan kelayakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). (Surya Yuli P/CN38/SM Network)

sumber :

Terkendala Tanah Bengkok, Pembebasan Lahan Tol Bawen-Salatiga Mandek

Tol Semarang-Solo Seksi III Bawen-Salatiga
 (Foto: Angling Adhitya P/detikcom)
SEMARANG, indopos.co.id – Persoalan pembebasan lahan ternyata menjadi salah satu sebab proyek tol Semarang-Solo Seksi III (Bawen-Salatiga) terganjal. Menurut Sekda Kabupaten Semarang, Gunawan Wibisono, ada lahan yang belum tuntas proses pembebasannya.

”Ada tanah bengkok (tanah untuk pengganti gaji petugas aparat desa, red) yang terkena imbas pembangunan tol, di mana ganti tanahnya masih menemui masalah,” katanya seperti yang diberitakan Jawa Pos Radar Semarang.

Ia memerinci, ada sembilan petak tanah bengkok terkena imbas pembangunan jalan tol Bawen-Salatiga. Namun, akhirnya tinggal satu petak tanah bengkok yang belum menemukan pengganti.

”Itu karena calon tanah yang akan dibeli pemkab untuk ganti tanah bengkok tersebut ternyata merupakan tanah sengketa. Sehingga pemkab memberikan ganti dalam bentuk uang cash Rp 300 juta ke pihak kelurahan untuk mencari tanah pengganti sendiri,” ujarnya.

Selain itu, kendala peoyek tol Bawen-Salatiga adalah pembangunan Jembatan Tuntang yang belum rampung. Akibatnya, kalaupun tol Bawen-Salatiga dipaksa untuk dioperasikan saat musim mudik, maka ada pengalihan arus.

”Jembatan Tuntang belum bisa dipakai. Sehingga nanti (pemudik, red) diarahkan ke Desa Asinan. Lalu masuk lagi ke Desa Telogo. Pakainya jembatan utama,” tuturnya.

Terpisah, Pimpro Tol Semarang-Solo Seksi III, Indriyono mengatakan, ruas tol Bawen-Salatiga melintasi Desa Kandangan, Ndelik, Pancuran, Tuntang, Bringin, Watuagung, Tlogo dan Pabelan, Kabupaten Semarang. Sedangkan yang masuk wilayah Salatiga meliputi Bugel, Kauman Kidul dan selesai di Tingkir.

Ia menjelaskan, tol Bawen-Salatiga memiliki panjang 17,6 km. Pembangunannya dikerjakan oleh sejumlah kontraktor besar. Misalnya, PT Nindya Karya yang mengerjakan sekitar 4 km.

Sedangkan untuk proses pembebasan lahan tol yang masuk Kota Salatiga sudah tidak ada persoalan lagi. Kabag Humas Kota Salatiga, Sri Satutik mengatakan, pembebasan lahan untuk tol di wilayahnya sudah sepenuhnya tuntas.

Untuk diketahui, luas total tanah warga yang terkena pembangunan jalan tol di Salatiga mencapai 140.980 m². Tanah tersebut milik 235 warga terkena proyek (WTP).

”Pembebasan lahan tol untuk wilayah Kota Salatiga sudah 100 persen. Kini pembangunan dilaksanakan oleh Trans Marga Jawa Tengah,” tuturnya.(jpg/ara/jpnn)

sumber :

Senin, 13 Juni 2016

Persiapan Mudik 2016, Ruas Tol Bawen - Salatiga Belum Siap




sumber :

LEBARAN 2016 :Tol Soker di Ngemplak Boyolali Batal Beroperasi Bulan Depan!



PENGENDARA SEPEDA MOTOR MELINTAS DI JALAN 
TOL SOLO-KERTOSONO (SOKER) YANG TELAH DISEBARI BATU 
OLEH WARGA DI DESA SINDON, NGEMPLAK, 
BOYOLALI, MINGGU (25/4/2016). 
(MUHAMMAD ISMAIL/JIBI/SOLOPOS)

"Lebaran 2016 bukan tahun bagi Tol Soker di Ngemplak Boyolali untuk beroperasi."

Solopos.com, BOYOLALI — Rencana pengoperasian tol Solo-Kertosono (Soker) di wilayah Ngemplak, Boyolali, pada Lebaran 2016 dipastikan batal dilakukan. Hal itu menyusul masih adanya sejumlah titik tol yang belum tersambung lantaran terkendala pembebasan lahan.

Demikian diungkapkan Kepala Satuan Kerja (Satker) Tol Soker, Aidil Fiqri, saat dihubungi Solopos.com, Minggu (12/6/2016). Aidil mengatakan pengoperasian tol Soker pada Lebaran 2016 baru direalisasikan pada wilayah Sragen-Klodran, Karanganyar. Adapun rencana pengoperasian tol Soker di wilayah Ngresep, Ngemplak, Boyolali, ditunda pada tahun depan.

“Tol yang bisa dioperasikan pada Lebaran 2016 baru Sragen-Klodran, Karanganyar, sepanjang 25 km. Kalau di Ngemplak belum bisa karena masih banyak titik yang belum terhubung,” ujarnya.

Ia mengatakan masih banyaknya lahan yang belum dibebaskan menjadi kendala utama dalam menyelesaikan pembangunan tol Soker, khususnya di wilayah Ngemplak. Segala upaya sudah ia upayakan dengan cara mengajak warga bermusyawarah. Namun, lantaran masih mentok, ganti rugi tanah terpaksa diselesaikan di pengadilan. “Ini juga memakan waktu lagi,” paparnya.

Aidil belum bisa menyebutkan secara pasti berapa titik lahan yang belum bisa dibebaskan. Namun yang jelas, kata dia, lebih delapan persen lahan yang belum bebas dari total lahan di sepanjang Boyolali. “Lokasinya menyebar di berbagai tempat. Ada di Pandeyan, Ngresep. Saya tak hapal,” paparnya.

Ia menargetkan Lebaran 2017 semua ruas jalan tol Soker di wilayah Boyolali sudah bisa dioperasikan. Pembebasan lahan akan diupayakan secepatnya untuk mengejar target. “Dulu kan terkendala dana, sekarang investor sudah menyiapkan dana cukup. Jadi, kami yakin tahun depan semua masalah pembebasan lahan klir,” paparnya.

Kapolsek Ngemplak, AKP Ahmad Nadiri, mengaku telah memantau langsung proyek tol Soker di wilayah Ngemplak beberapa hari lalu. Hasilnya, kata dia, sangat kecil peluang tol Soker di wilayah Ngemplak bisa dioperasikan pada Lebaran tahun ini. “Saya sudah cek langsung ke lokasi. Masih banyak tol yang belum terhubung,” paparnya.

Nadiri mengaku sempat kaget ketika mendengar kabar dari pejabat Menteri BUMN bahwa tol soker di wilayah Ngemplak dioperasikan Lebaran tahun ini. Padahal, berdasarkan pantauannya, kondisi tol belum siap dan belum dibangun sarana pintu masuk ke tol.

“Kapolda juga sempat tanya kami setelah dikabarkan oleh Bu Menteri. Padahal, kondisinya belum siap sama sekali, terutama dari Polsek Ngemplak ke arah barat,” paparnya.

Nadiri mencatat sedikitnya ada lima titik tol yang belum terhubung dengan tol berikutnya. Ada pun tol di wilayah timur Polsek Ngemplak terbilang sudah siap dan mulus. “Kalau kami selalu siap mengamankan wilayah selama arus mudik dan arus balik Lebaran,” paparnya.

sumber :

Sabtu, 11 Juni 2016

Diprediksi, 97.595 Kendaraan Lintasi Tol Semarang-Bawen pada Puncak Arus Mudik H-3


Ridwan Aji Pitoko/Kompas.com Terakhir, progres fisik 
pembangunan paket 3.3D Sidorejo-Tengaran yang dikerjakan 
oleh PT Nindya Karya (Persero) KSO dengan PT Jaya Konstruksi 
baru mencapai 28,068 persen.
UNGARAN, KOMPAS.com - PT Trans Marga Jateng (TMJ) memprediksi puncak arus mudik akan terjadi pada H-3 atau 4 Juli 2016.

Pada puncak arus mudik tersebut diperkirakan ada 97.595 kendaraan yang akan melintas tol arah Semarang menuju Bawen.

Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng, Arie Irianto mengatakan, pihaknya telah menyiapkan rencana operasional, pelayanan, dan pengaturan lalu lintas Lebaran 2016 demi mewujudkan kelancaran dan kenyamanan pengguna jalan tol Semarang-Bawen.

"Kami akan menambah petugas pelayanan menjadi 69 orang. Transaksi harus cepat, tepat, nyaman dan ramah," kata Arie, Sabtu (6/11/2016).

Selama pelayanan mudik Lebaran 2016, PT TMJ sudah menyiapkan sebanyak 12 jenis layanan. Yakni layanan kendaraan patroli jalan tol, kendaraan patrol jalan raya, derek besar, derek kecil, mobil ambulans, mobil rescue, mobil kamtib, kendaraan pemeliharaan, kendaraan kebersihan, truk tangki air, sepeda motor, dan layanan gardu transaksi.

"Kami juga menunggu keputusan jadi tidaknya ruas tol Bawen-Salatiga difungsikan sementara. Bila tidak jadi, otomatis beberapa item layanan termasuk personel akan dikurangi," imbuhnya.

Selain itu, pada sejumlah titik strategis didalam tol seperti simpang susun Bawen dan simpang Ungaran, PT TMJ juga akan menempatkan spanduk informasi dan peringatan.

"Keberadaan GTO juga bisa digunakan untuk transaksi tunai, kami akan menempatkan petugas di sana," imbuhnya.

Arie menambahkan, pihaknya juga telah memetakan potensi gangguan di ruas tol Semarang-Bawen yang diprediksi akan terjadi di 11 titik.

Antara lain, simpang susun Tembalang, gerbang tol Banyumanik, jembatan tol Susukan, jembatan Lemah Ireng I, Jembatan Lemah Ireng II, simpang susun Bawen, tempat istirahat di KM 22+200 A, gerbang tol Bawen, pertemuan ruas tol dan jalan nasional Bawen-Salatiga, serta gerbang tol dan akses keluar Salatiga di Tingkir.

"Gangguan di pintu keluar tol Salatiga karena akses jalan kabupaten yang relatif sempit hanya bisa bersimpangan satu mobil. Jalur tersebut juga merupakan alternatif dari Salatiga menuju Sragen-Ngawi, jadi cukup padat," pungkas Arie.

Sebelumnya, Kasat Lantas Polres Semarang, AKP Dwi Nugroho saat Rapat Koordinasi Kesiapan Tol Bawen-Salatiga Untuk Jalur Alternatif di Kantor Polres Semarang mengutarakan, lebih cenderung pengguna jalan tol diarahkan menuju jalan nasional melalui pintu keluar tol Bawen ketimbang melalui jalur alternatif Mengkelang, Bawen seperti yang sebelumnya diminta oleh Menteri PUPR.

"Kalaupun jalan utama macet akibat lonjakan volume kendaraan, kita sisati dengan koordinasi lintas sektoral maupun lintas wilayah untuk menentukan cara bertindak yang tepat," kata AKP Dwi Nugroho. 

sumber :

Kejelasan Tol Bawen-Salatiga Tunggu Kementerian PUPR


Ganjar Pranowo Gubernur Jateng.
Semarang, HARIANSEMARANG.com – Kepastian pengoperasian jalan tol Semarang-Solo ruas Bawen-Salatiga pada arus mudik Lebaran 2016, menunggu keputusan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Badan Pengatur Jalan Tol. “Pada detik-detik terakhir (sebelum seluruh pengerjaan pembangunan jalan tol Bawen-Salatiga dihentikan terkait arus mudik Lebaran), kami menunggu hasil inspeksi atau persetujuan dari Kemen PUPR dan BPJT untuk dinyatakan boleh atau tidak untuk dioperasikan,” kata Staf Utama Direktorat Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng Ari Nugroho di Semarang, Jumat (10/6/2016).

Ia mengungkapkan bahwa jaminan keselamatan pemakai jalan menjadi hal yang utama bagi PT TMJ selaku pengelola jalan tol. “Jaminan keselamatan pemakai jalan menjadi nomor satu, baru kemudian kelancaran, keamanan, dan kenyamanan, kalau tidak memenuhi itu (jalan tol) ya tidak akan dibuka,” ujarnya.

Kendati menunggu keputusan pengoperasian dari kementerian, Ari memastikan bahwa pembangunan jalan tol Bawen-Salatiga akan terus dilakukan agar bisa selesai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. “Kita tetap kejar target dengan bekerja siang dan malam untuk pelayanan arus mudik dan arus balik Lebaran,” katanya.

Kalau kementerian akhirnya tidak mengizinkan jalan tol Bawen-Salatiga dioperasikan karena berbagai pertimbangan, kata dia, para pemudik dari arah Semarang akan dilewatkan jalan kerja yang sudah disiapkan. “Dari Bawen keluar menghindari Tuntang melalui Asinan ke arah utara menyeberangi Sungai Tuntang dan masuk ke jalan proyek atau jalan kerja,” ujarnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak memaksakan pengoperasian jalan tol Semarang-Solo ruas Bawen-Salatiga pada arus mudik dan arus balik Lebaran 2016 demi keselamatan masyarakat. “‘Ngapain’ kami memaksakan satu jalur terus kemudian keamanannya mengancam, itukan bahaya, lebih baik dituntaskan sampai betul-betul siap, kalau siap langsung dipakai, kalau tidak layak ya jangan,” kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (Red-HS99/Ant).

sumber :

Antisipasi Kemacetan Arus Mudik, Tol Solo-Kertosono Dibuka H-7


Tol Solo-Kertosono
KARANGANYAR, Lintas Solo-Antisipasi kemacetan arus mudik dan arus balik pada saat lebaran, jalan Tol Solo-Kertosono (Soker) yang saat ini masih dalam proses pekerjaan, akan dibuka pada H -7 menjelang lebaran.

Namun pembukaan itu, dilakukan dalam situasi mendesak, karena memang proses pembangunan jalan tol belum sepenuhnya selesai dikerjakan.

Jalan tol ini hanya bisa dilalui mobil, mikro bis. Sedangkan truk dan sepeda motor, tidak diperkenankan melintas.

Kasat Lantas Polres Karanganayar, AKP Suryo, mengatakan, jika arus padat, para pemudik akan diarahkan dari pintu tol Klodran menuju ke Sidoharjo yang berada di Kabupaten Sragen.

Dijelaskan dia, pada saat dioperasikan, jalan tol ini hanya satu arah. Pada saat mudik, jalur mudik akan dimulai dari arah Barat menuju ke Timur.Dan pada saat arus balik, dari arah Timur ke Barat.

“Rencananya akan dibuka pada H -7 sebelum lebaran. Jalur ini hanya satu arah, karena memang belum seluruhnya selesai,” kata AKP Suryo, Jumat (10/6/2016).

AKP Suryo menambahkan, jalan tol ini mulai dibuka mulai pukul 06.00 pagi hingga pukul 17.00 Wib.Hal ini dilakukan, karena jalan tol ini, belum dilengkapi penerangan jalan.

“Pada saat beroperasi, akses tol di Klodran akan dibangun posko gabungan yang terdiri dari para pekerja dan Dishubkominfo Karanganyar,”ujarnya. |Iwan Iswanda

sumber :

Jumat, 10 Juni 2016

H-7 Lebaran Tol Solo-Sragen Dibuka

ilustrasi : Proyek Tol Soker SN-1A Sragen (Soklin)
SOLO - Jalan Tol Solo-Sragen akan dioperasikan saat arus mudik dan balik Lebaran meski belum sepenuhnya selesai dikerjakan. Jalan tol akan dioperasikan saat pagi hingga sore guna mengurangi kepadatan arus lalu lintas yang masuk ke Kota Solo. 

Direktur Utama (Dirut) PT Solo Ngawi Jaya David Wijayatno mengatakan, Jalan Tol Solo- Sragen kini sedang disiapkan sebagai alternatif mudik. Jalur akan dipakai dalam kondisi terbatas mulai H-7 dan H+7 Lebaran. Pintu tol akan dibuka dari Desa Klodran, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, dan keluar di kawasan Pungkruk, Kecamatan Sidoharjo, Sragen. Namun, bisa juga keluar di pintu tol di Desa Kemiri, Kecamatan Kebakkramat, Karanganyar. 

“Panjang Tol Solo-Sragen mencapai 25 kilometer,” ungkap David Wijayatno di sela-sela rapat koordinasi persiapan pemakaian Jalan Tol Solo-Sragen untuk arus mudik di Solo, Selasa (7/6) siang. Rapat koordinasi melibatkan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Solo, Karanganyar, Sragen, Boyolali, dan Kepolisian. Pemakaian Jalan Tol Solo- Sragen sebagai alternatif jalur mudik sesuai permintaan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. 

David memastikan pemakaian Jalan Tol Solo-Sragen tidak mengganggu pengerjaan proyek yang kini sedang berjalan. Sebab selama periode itu, pengerjaan proyek diliburkan. Karena belum sepenuhnya selesai, maka saat ini masih ada titik-titik yang rawan, yakni banyak jalan sebidang dengan jalan lokal atau jalan desa. “Kami menyiapkan ramburambu dan petugas khusus yang bersiap siaga di jalur itu,” katanya. 

Mengingat masih minim penerangan, jalan tol hanya dipakai mulai dari pukul 06.00- 18.00 WIB. Pengerjaan paket Jalan Tol Solo-Sragen terbagi dalam dua paket, yaitu paket Kartasura-Karanganyar yang pengerjaannya telah mencapai 85% dan Karanganyar-Sragen baru 38%. Pemudik nanti diminta berhati hati karena kekerasan jalan berbeda beda. “Ada yang kekerasan beton penuh, tapi ada beton lantai kerja,” katanya. 

Namun demikian, PT Solo Ngawi Jaya sebagai operator Jalan Tol Solo-Sragen tetap mengupayakan selandai mungkin. Agar tidak membahayakan, maka nanti dipasang ramburambu di kanan kiri jalan yang rawan. Pihak juga menyiapkan petugas patroli berkeliling, mobil derek apabila ada kendaraan yang mogok, serta berkoordinasi dengan rumah sakit (RS) terdekat. Karena sifatnya darurat, maka kendaraan yang diizinkan masuk adalah mobil sedan, jeep, dan minibus. 

Sedangkan bus dan truk tidak diperkenankan masuk. Kabid Lalulintas Dishubkominfo Solo Baskoro menambahkan, dioperasikannya Jalan Tol Solo-Sragen diharapkan bisa memperlancar lalu lintas serta mengurangi penumpukan kendaraan yang masuk ke Kota Solo. Pembukaan jalur alternatif diperkirakan akan mengurangi 20% beban kepadatan dalam kota selama arus mudik dan arus balik. 

“Akan terjadi pengurangan kepadatan di tengah kota. Semua kendaraan yang mengarah ke timur tidak perlu masuk kota,” ungkap Baskoro. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Pemkab Sukoharjo, Boyolali, dan Karanganyar guna mengarahkan arus lalu lintas masuk Jalan Adi Sumarmo di Kecamatan Colomadu menuju pintu tol di Desa Klodran. Kendaraan dari arah Semarang dibelokkan di pertigaan Ngasem, Colomadu, Karanganyar. 

Sedangkan dari arah Yogyakarta dibelokkan di perempatan Kartosuro, Sukoharjo. Pemakaian Jalan Tol Solo-Sragen selama arus mudik dan balik sifatnya masih gratis. Berdasarkan pengalaman, jumlah kendaraan yang masuk dalam Kota Solo saat lebaran mencapai 700.000 per hari.

sumber :