javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Tampilkan postingan dengan label Tol Salatiga Boyolai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tol Salatiga Boyolai. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2016

Pembebasan Lahan Tol Semarang-Solo Ditarget Rampung Juli 2016



Ridwan Aji Pitoko/Kompas.comBeberapa alat berat seperti ekscavator 
masih bekerja di lokasi pembangunan Seksi III Tol Semarang Solo 
Ruas Bawen-Salatiga, Selasa (26/4/2016).



SEMARANG, KOMPAS.com - Proses pembebasan lahan tol Semarang - Solo, terutama pembebasan jalur Bawen - Solo saat ini baru mencapai 63 persen.

Pembebasan seutuhnya atau 100 persen, ditargetkan pada Juli mendatang.

Direktur Utama PT Trans Marga Jateng Djadjat Sudrajat mengatakan, saat ini proses pembebasan masih 63 persen.

Namun demikian, pihaknya menargetkan seluruh tanah bisa dibebaskan pada Juli mendatang.

"Mudah-mudahan nanti nyambung," kata Djadjat, Senin (30/5/2016).

Anggaran pembebasan lahan pun kini telah tersedia melalui dana talangan.

Total dana talangan untuk Salatiga - Solo mencapai Rp 500 miliar.

Dana talangan, ujar dia, bisa digunakan secara bertahap untuk pembebasan semua lahan.

Sementara jalur Bawen - Salatiga yang tengah dibangun saat ini akan dioperasionalkan pada November 2016.

Artinya, seluruh pengerjaan akan selesai dalam beberapa bulan ke depan.

Direktur teknik dan operasi PT Trans Marga Jateng Ari Irianto mengatakan, di sepanjang jalur Semarang - Solo nantinya akan dibangun 9 tempat peristirahatan, atau rest area.

Tempat itu akan dibangun dengan pembagian di sebelah kanan maupun kiri badan jalan.

"Rest area saat ini baru dibangun satu, itupun belum jadi. Nanti ada 9 rest area yang dibangun," ujar Ari.

Terkait jalur Bawen -Salatiga yang akan dijadikan alternatif mudik, akan disiapkan sejumlah lampu penerangan.

Dalam perlintasan sebidang, PT Trans Marga juga akan menyediakan petugas penjaga.

"Kalau untuk arus mudik nanti disiapkan lampu penerangan. Di sana juga ada 12 perlintasan sebidang, nanti akan dikasih penjaga 24 jam," imbuh dia.

sumber :

Selasa, 05 Januari 2016

PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN JALAN TOL SEMARANG SOLO


Jalan Tol Semarang Solo merupakan jalan tol yang berada di Provinsi Jawa Tengah yang menghubungkan kota Salatiga, Semarang dan Surakarta. Tol Semarang Solo tersebut melewati 3 wilayah kabupaten , yakni Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali dan juga Kabupaten Sukoharjo. Tol Semarang Solo ini mulai dibangun sejak tahun 2009 yang dilakukan oleh Jasa Marga. Total lintasan Tol Semarang Solo ini kurang lebih sepanjang 72,64 km, Tol Semarang Solo ini bagian dari JTTS atau Jalan Tol Trans Jawa dan menghubungkan tol Semarang dengan tol Solo-Ngawi. Lantas seperti apa perkembangan Tol Semarang Solo saat ini? Simak dalam ulasan singkat berikut ini.
 
Progres perkembangan Jalan Tol Semarang Solo

Tol Semarang Solo yang ditargetkan akan selesai pembangunannya pada tahun 2017 mendatang ini menyerap investasi senilai Rp 6,1 triliun, biaya konstruksi Rp 2,4 triliun serta biaya pengadaan tanah Rp 800 miliar. Tol Semarang-Solo ini terbagi dalam 5 seksi, seksi 1 Tembalang-Unggaran sepanjang 16,3 km, seksi 2 Ungaran-Bawen sepanjang 11,3 km, seksi 3 Bawen- Salatiga sepanjang 18,2 km, seksi 4 Salatiga-Boyolali sepanjang 22,4 km dan seksi 5 Boyolali-Kartosuro sepanjang 11,1 km. untuk seksi 1 dan 2 saat ini sudah beroperasi sehingga akan langsung terhubung dengan jalan tol Semarang seksi C yang ada di wilayah Tembalang.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat memberi target untuk pengerjaan Tol Semarang-Solo dan Solo-Kertosono akan selesai pengerjaannya pada tahun 2017 agar nantinya kedua ruas jalan tol tersebut dapat terhubung. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo telah menginstruksikan agar kedua jalan tol tersebut bisa tuntas pengerjaannya dalam kurun waktu 2,5 tahun, sehingga di tahun 2017 tol Semarang-Solo dan Solo-Kertosono bisa terhubung, demikian kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono saat berkunjung ke Solo pada tanggal 1 Mei 2015. Pihaknya juga sangat optimis bisa menyanggupi target yang dicanangkan oleh Joko Widodo tersebut.

Basuki Hadimuljono menyatakan bahwa beliau diperintah secara langsung oleh Presiden Jokowi pada saat acara seremoni peletakkan batu pertama atau groundbreaking proyek pembangunan jalan tol di ngawi, Jawa Timur. Proyek jalan tol jalur Solo-Ngawi-Kertosono sendiri adalah bagian dari megaproyek JTTJ atau Jalan Tol Trans Jawa yang sebelumnya sempat mangkrak tak kurang selama 3 tahun, yang terjadi akibat dampak dari habisnya modal yang dimiliki oleh kontraktor. Namun pemerintah kini mengambil alih dan memberikan kepercayaan proyek tersebut kepada PT Jasa Marga dan juga Waskita Karya, imbuh beliau.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tersebut juga mengimbuhkan bahwa proses pembebasan lahan yang diperuntukkan guna membangun proyek tol Solo-Kertosono telah mencapai 93% dan untuk tol Semarang- Solo nyaris tiada hambatan yang berarti. Beliau juga menyatakan keyakinannya terhadap kedua kontraktor tersebut akan mampu menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan sesuai dengan target waktu yang sudah ditetapkan. Keseluruhan seksi tol Semarang-Solo tersebut ditargetkan bisa selesai tahap pembangunannya serta bisa dioperasikan pada akhir tahun 2017.

Keseluruhan seksi Jalan Tol Semarang Solo tersebut diharapkan selesai dikonstruksi serta bisa beroperasi pada akhir 2017, demikian kata Corporate Secretary PT Jasa Marga, David Wijayanto yang tersurat dalam keterangan tertulisnya. Beliau juga mengatakan bahwa untuk mencapai target yang telah dicanangkan tersebut pihaknya berencana akan segera menuntaskan 3 seksi yang masih tersisa dari total semuanya 5 seksi yang akan dibangun. Sekarang ini seksi 3 tol Semarang-Solo ruas Bawen-Salatiga dengan panjang 17,6 km yang telah selesai tender konstruksi. Dan selanjutnya dilakukan pengerjaan konstruksi pada akhir Juni 2015.

Progres pembebasan lahan ruas Bawen-Salatiga hampir selesai dan memasuki hampir 97%, dan akhir Juni ini pekerjaan konstruksi dimulai dan pada lebaran 2016 jalur ini sudah bisa digunakan. Kontraktornya paket 3.1 adalah PT Adhi Karya (persero) Tbk. untuk ruas Bawen-Polosiri, paket 3.2 PT PP (persero) untuk ruas Polosiri-Sidorejo dan PT Nindya Karya (persero) KSO dengan paket 3.3 PT Jaya Konstruksi untuk ruas Sidorejo-Tengaran, sebagai konsultan paket 3.1 PT Eskapindo Mata dan PT Dessa Cipta Rekayasa (KSO), paket 3.2 PT Yodya Karya (persero) dan paket 3.3 PT Mitra Pasifik Konsulindo International (KSO) dan PT Perentjana Djaja.

Untuk paket 3.3B untuk ruas Sidorejo-Tengaran masih dalam proses lelang konstruksi oleh PT TMJ, sedang paket 3.3 A serta 3.3 C untuk ruas Sidorejo-Tengaran proses konstruksi dan lelang dilakukan secara langsung oleh pemerintah. Untuk Seksi 3 ruas Bawen-Solotigo adalah kelanjutan dari seksi yang sebelumnya, yakni seksi 1 ruas Semarang-Ungaran sepanjang 11,3 km yang sudah beroperasi sejak 17 November 2011, sedangkan seksi 2 ruas Ungaran-Bawen sepanjang 12 km yang sudah beroperasi sejak 4 April 2014. Seksi 4 ruas Solotigo-Boyolali dengan panjang 24,40 km sekarang ini sedang dalam proses pembebasan lahan dengan progresnya mencapai 46,93%

Sedangkan untuk seksi 5 ruas Boyolali-Kartasura dengan panjang 7,64 km juga dalam tahap pembebasan lahan yang sudah mencapai 46,8% yang diharapkan seluruh seksi jalan tol tersebut segera selesai dikonstruksi serta bisa beroperasi akhir 2017. Tol semarang-Solo tersebut mempunyai arti strategis untuk pengembangan jarian jalan khususnya yang ada di Jawa Tengah serta untuk perkambangan jaringan jalan untuk skala regional. Jalan tol yang mempunyai nilai investasi tak kurang dari 7,3 triliun tersebut diharapkan bisa menjadi sarana untuk memperlancar jalur ekonomi wilayah yang dilaluinya, misalnya saja dari Ungaran sebagai daerah industri di Jawa Tengah.

Dan ditengah proses pembangunan tol Semarang-Solo tersebut Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo melakukan langkah yang mengejutkan dengan menjual saham yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Kalangan DPRD Jawa Tengah mempertanyakan langkah yang diambil oleh Ganjar Pranowo dengan menjual 25% saham Pemprov Jateng. Pasalnya pihak DPRD Jateng beranggapan langkah yang diambil Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jateng sangat tidak tepat, lantaran tol Semarang-Solo tersebut sudah beroperasi dan menghasilkan pemasukan.

Menanggapi permasalahan tersebut Secara terpisah keterangan didapatkan langsung dari Gubernur Jawa Tengah terkait dengan alasan penjualan saham Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap tol Semarang-Solo tersebut. Menurut Ganjar Pranowo, lebih baik menjual saham yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah daripada saham tersebut semakin terdelusi, karena toh pihak Pemerintah Provinsi Jawa Tengah masih mempunyai opsi untuk membeli kembali saham Jalan Tol Semarang Solo.
 
sumber :

Senin, 02 November 2015

Hindari Jadi Kota Mati, Salatiga Akan Punya Dua Pintu Tol


Ervan Hardoko/Kompas.com Gerbang Kota Salatiga, Jawa Tengah.

SALATIGA, KOMPAS.com — Upaya Pemkot Salatiga agar pengembang tol Semarang-Solo, PT Trans Marga Jawa Tengah (TMJ), menambah satu lagi pintu tol di Kota Salatiga membuahkan hasil.

Rencananya, pintu keluar tol Salatiga akan dikerjakan pada 2016. Alhasil, dalam proyek pembangunan ruas tol seksi III Bawen–Salatiga sepanjang 17,3 kilometer tersebut, Salatiga akan memiliki dua pintu tol, yakni di Kecamatan Tingkir dan Sidorejo.

"Bahkan dalam perkembangannya kami tidak dikenai biaya. Semua ditanggung oleh pemerintah pusat dan akan dikerjakan pada 2016 atau paling lambat 2017," kata Wali Kota Salatiga Yuliyanto kepada Kompas.com, Senin (2/11/2015).

Informasi tersebut, ungkapnya, disampaikan pimpinan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) ketika meninjau persiapan proyek di Salatiga beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, Pemkot Salatiga mengusulkan penambahan pintu tol di tengah kota agar Salatiga tidak menjadi kota mati.

Bahkan, pemkot saat itu siap mencari dana untuk merealisasikan keinginan tersebut. Kini pemerintah pusat sedang menyiapkan tenaga konsultan untuk penyusunan detail engineering design (DED).

"Konsep pintu tol dalam kota itu berupa pintu tol simpang susun atau istilah lain adalah interchange dan ditempatkan di sekitar Jalan Patimura, Kelurahan Bugel, Kecamatan Sidorejo, Salatiga," kata Wali Kota.

Yulianto menambahkan, dengan disetujuinya usulan tersebut, diharapkan menepis kekhawatiran sebagian pihak bahwa Salatiga akan menjadi kota mati pasca-beroperasinya jalan tol Semarang–Solo.

"Dengan beroperasinya pintu itu, semoga bermanfaat bagi warga kami dan warga wilayah sekitar Salatiga," ungkapnya. 
 
sumber :

Kamis, 22 Oktober 2015

Pintu Tol Simpang Susun Patimura Salatiga Tunggu DED

 ilustrasi :
 Aktifitas Proyek Pembangunan Jalan Tol Soker Paket 3.3a
di Salatiga yg saat ini dikerejakan oleh PT Brantas Abipraya 
(Foto : Pojok Soklin)




 
SALATIGA (Krjogja.com)- Pintu tol simpang susun Jalan Patimura Salatiga sebagai pintu tol dalam kota telah disetujui dan pihak Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) Pusat sedang menyipakan konsulta untuk menyusun Detail Engineering Design (DED). Hal ini ditegaskan Walikota Salatiga, Yuliyanto dihubungi Krjogja.com, Rabu (21/10/2015).

"Pada Selasa (20/10) saya ada undangan meeting dengan BPJT dan hasilnya pintu tol simpang susun Jalan Patimuran Salatiga yang membuka akses jalan tol Semarang-Solo ke dalam kota disetujui. Pihak BPJT sedang menyiapkan konsultan," tandas Yuilyanto.

Tahap berikutnya menurut, walikota pihaknya menunggu DED-nya dan pembangunan fisiknya. "Kami bersyukur akses tambahan pintu tol disetujui. Kepastian kedua pada meeting di Jakarta, Selasa (20/10/2015) lalu," tegas Yuliyanto, Rabu (21/10/2015) sore.

Terpisah, Wakil Ketua Panitia Pembebasan Tanah (P2T) Kota Salatiga, Tri Priyo Nugroho membenarkan bahwa akan dibebaskan lahan kurang lebih 5.000 meter persegi untuk akses pintu tol Patimura, "Dananya sudah disiapkan dan tentu akan disiapkan dengan secepatnya. Kemungkin pada perubahan anggaran 2016 baru bisa dibebaskan dan fisik 2017 awal dibangun pusat," katanya. (Sus)
 
sumber :

Rabu, 03 Desember 2014

Tol Salatiga - Boyolali, Lanjut


Penyelesaian jalan tol terus dilakukan sambil 
menunggu proses pembebasan tanah lainnya

BOYOLALI (KRjogja.com)- Pembangunan Tol Salatiga - Boyolali, terus berlanjut meski sedikit terhambat pembebasan tanah. Soalnya hingga kini,baru sekitar 23 persen dari total seluas 139 hektare, yang bisa dibebaskan.

Kepala Bagian Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah (PUOD), Setda Kabupaten Boyolali, Djoko Diyono mengatakan, luas tanah yang terkena proyek Tol Salatiga-Boyolali, yakni 139 ha itu, terdiri dari 1.940 bidang tanah yang meliwati empat daerah kecamatan di Boyolali.

"Realisasi pembebasan tanah baru sekitar 23 persen atau sekitar 495 bidang tanah, sedangkan lainnya masih nego," kata Djoko Diyono, Selasa (02/12/2014).

Dijelaskan, masih rendahnya realisasi pembebasan tanah untuk proyek jalan tol tersebut, karena permintaan harga tanah oleh masyarakat jauh di atas harga apraisal, sehingga proses nego cukup juga lama.

Selain itu, diakibatkan adanya status yuridis tanah yang belum lengkap, seperti kepemilikannya lebih dari satu orang karena tanah warisan. Tanah ketika dilakukan pembebasan prosesnya lama karena salah satu hak ahli waris di luar kota, sehigga butuh waktu lama.

Sepertri diketahui, proyek Tol Salatiga-Boyoali akan menerjang 17 desa di empat kecamatan di Boyolali terdiri dari Ampel (Desa Ngampon, Ngenden, selodoko, sidomulyo dan desa Ngargosari ), Kota Boyolali (Kiringan, Karanggeneng, dan desa Mudal ), Mojosongo (Methuk, Kragilan dan desa Brajan), Teras ( Mojolegi dan Gumukreko), Banyudono ( Tanjungsari, Trayu , Bangak dan Denggungan. 

Sedang pembebasan tanah jalan Tol Solo-Mantingan Jatim, yang menerjang wilayah Kabupaten Boyolali sudah mencapai sekitar 99 atau sekitar 1.036 hektare."Pembebasan tanah poyek Tol Solo-Matingan di Boyolali, masih sisanya satu persen atau 10 hektare," tegasnya. (Bdi)

sumber :