javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Tampilkan postingan dengan label INFO LALIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INFO LALIN. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Oktober 2017

Tak Ada Lagi Transaksi Tunai, 1.351 Petugas Gerbang Tol Tetap Dipekerjakan


Kendaaraan roda empat memasuki Gerbang Tol Otomatis (GTO) 
di Pintu Tol Ciledug, Jakarta, Kamis (13/10/2016). 
PT Jasa Marga (Persero) Tbk menargetkan akan menambah jumlah 
gardu tol elektronik (GTO) sebanyak 106 GTO sehingga jumlah 
GTO di akhir tahun 2016 mencapai 505 GTO atau 50% dari 
keseluruhan gardu operasi, peningkatan jumlah GTO dilakukan 
guna meningkatkan pelayanan di bidang transaksi, terutama 
dalam mendukung Gerakan Nasional Non-Tunai. 
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemberlakuan 100 persen transaksi non tunai di sejumlah ruas jalan tol di Indonesia berpotensi mengurangi jumlah karyawan Jasa Marga yang biasanya bertugas di gerbang tol.

Hal tersebut terjadi akibat dari sistem transaksi elektronik dengan memberlakukan gerbang tol otomatis (GTO).

Meski begitu, VP Operation Management Layanan Jasa MargaRaddy R Lukman menegaskan tidak akan serta merta melakukan pemecafan kepada 1.351 karyawan yang bekerja di ruas gerbang tol.


"Artinya komitmen direksi tidak ada phk bagi karyawan gerbang tol," kata Raddy saat acara diskusi di Galeri Nasional, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (30/10/2017).


Adapun sebanyak 577 orang masih akan dipekerjakan di Gardu Semi Otomatis (GSO).

Raddy menyatakan, mereka akan ditugaskan di luar gardu guna membantu pengguna jalan tol yang mengalami masalah saat membayar menggunakan uang elektronik.

"Jadi kami bertahap. Kami tempatkan petugas di GSO yang hanya mengerahkan petugas di luar. Jadi petugasnya ada. Tahap pertama ini sekitar 577 orang," ujarnya.

Kemudian sebagian dari mereka juga sudah memasuki masa pensiun lantaran tol jasa marga sudah beroperasi sejak tahun 1986.

Sedangkan karyawan yang lain akan dialihfungsikan ke sejumlah cabang maupun anak perusahaan milik Jasa Marga yang masih membutuhkan staf.

"Anak-anak perusahaan Jasa Marga terbagi menjadi 2, ada anak perusahaan jalan tol yang baru mengoperasikan jalan tol seperti di Semarang - Solo, ada juga Surabaya - Mojokorto. Itu masih membutuhkan karyawan. Kemudian anak perusahaan yang non tol, seperti Jasa Marga Pemeliharaan. Nantinya akan kami beri pembekalan. Bahkan yang mendaftarkan diri sudah melebihi dari kuotanya," tutur Raddy

sumber:

Jumat, 15 April 2016

Idul Fitri 2016, Tol Bawen-Salatiga Dibuka Sementara



PINDAHKAN BATU:Warga Desa Kandangan,Bawen, Kabupaten Semarang 
memindahkan batu pondasi rumah yang terkena proyek tol Semarang-Solo
seksi III Bawen-Salatiga untuk digunakan membangun rumah kembali, 
Jumat (15/4). (suaramerdeka.com/Ranin Agung)


UNGARAN, suaramerdeka.com - PT Trans Marga Jateng (TMJ) selaku operator dalam pembangunan megaproyek sekaligus pengelola Tol Semarang-Solo sampai pertengahan April 2016 masih berupaya menyelesaikan pembangunan tol seksi III Bawen-Salatiga.

Direktur Teknik dan Operasi PT TMJ, Arie Irianto memaparkan, kondisi pembebasan lahan di ruas Bawen-Salatiga masih sama dengan progres terakhir pada 31 Desember 2015. “Yakni 92,7 persen lahan yang sudah bebas. Sisanya ada sekitar 7,3 persen lahan yang belum bebas,” katanya, Jumat (15/4).

Ketika ditanya apakah memungkinkan digunakan untuk akses mudik-balik Idul Fitri 2016, Arie menjawab, bisa tidaknya digunakan lebih bergantung pada kapan lahan yang belum terbebaskan itu bisa clean and clear 100 persen. Dan semestinya, mau tidak mau pada pertengahan April 2016 ini sudah terselesaikan dan tidak ada masalah. “Jikapun dibuka untuk jalur Lebaran tahun ini, sifatnya dibuka sementara. Yang perlu menjadi perhatian adalah, kondisi ruas belum ideal 100 persen,” terangnya.

Artinya, lanjut dia, bagaimanapun juga aspek keselamatan jalan harus dipenuhi. Jangan sampai ada problem. “Idealnya, kami butuh waktu paling cepat tiga bulan setelah lahan bebas 100 persen untuk mengerjakan sisa pengerjakan fisiknya,” imbuh Arie.

Dari catatan PT TMJ, progres pengerjakan konstruksi fisik pada ruas Bawen-Salatiga masih tersisa lebih kurang 35 persen. Tanah kas desa yang belum dibebaskan mencapai lima persen. Hanya saja sudah dapat dilaksanakan konstruksi dengan memberikan Uang Ganti Rugi (UGR) Garapan atau kompensasi. Itu dilakukan sembari Tim Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) Tol Seksi III melakukan pembayaran.

“Secara umum, total tanah kas daerah yang belum bebas sekitar 44 bidang dan lahan warga sekitar 35 bidang,” tuturnya. (Ranin Agung/CN38/SM Network)

sumber :

Senin, 15 Juni 2015

LEBARAN 2015 : Tol Belum Rampung, Jateng Upayakan Jalur Alternatif

Ilustrasi tol (JIBI/Solopos TV)

"Lebaran 2015 seperti tahun-tahun sebelumnya akan diwarnai dengan arus mudik"

SEMARANG—Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan mengupayakan sejumlah jalur alternatif di wilayah yang belum tersambung dengan jalinan Tol Trans Jawa guna mengantisipasi lonjakan jumlah pemudik selama Lebaran 2015.


Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menuturkan pihaknya akan mendorong setiap kabupaten/kota di wilayahnya untuk menyediakan jalur alternatif bagi para pemudik. Langkah tersebut, jelasnya, dilakukan untuk mengurai tingginya volume kendaraan yang akan melalui jalan Tol Trans Jawa menyusul mulai dioperasionalkannya tol Cikampek-Palimanan.

Pasalnya, dengan beroperasi ruas tol tersebut, rangkaian tol di pulau Jawa sudah tersambung dari Merak, Banten, hingga Pejagan, Jateng. Sementara, tiga ruas tol dari Pejagan-Semarang dan ruas tol Semarang-Solo (seksi III,IV dan IV), serta Solo-Ngawai-Kertosono juga belum bisa difungsikan lantaran dalam tahap pengembangan, bahkan masih pembebasan lahan.

“Kami menyiapkan jalan alternatif agar nanti pada saat keluar pintu tol Pejagan [Tol Kanci-Pejagan] itu bisa lewat situ. Karena nanti itu berpotensi bottleneck. Di tiap-tiap kabupaten nanti kita minta carikan jalan-jalan alternatif untuk arus mduik,” ungkapnya, Jumat (12/6/2015).

Ganjar menuturkan langkah tersebut menjadi hal utama yang akan didorong pemkot dengan waktu persiapan yang relatif singkat. Untuk itu, sambungnya, pemprov akan membentuk tim untuk merealisasikan upaya penanganan arus lalu lintas mudik tersebut.

Terkait upaya penyediaan lahan di ruas tol Pejagan-Pemalang, Ganjar menuturkan pihaknya terus berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mendorong progress penyediaan lahan.

“Kita bantu selesaikan [ruas Tol Pejagan-Pemalang] karena Bupatinya ada kesulitan. Menyisakan tiga rumah di situ, tetapi masih akan ada banyak persoalan, persoalan dalam arti [pembebasan lahan] itu belum tuntas beres,” ujarnya.

Seperti diketahui, dua dari empat seksi pengerjaan dalam pengembangan ruas Tol Pejagan-Pemalang dengan total panjang jalan mencapai 58 km rencananya baru difungsikan pada 2017. Seksi I dan II sebenaranya akan diopersionalkan secara darurat selama Lebaran 2015, namun masih terkendala penyediaan lahan yang menyisakan sekitar 0,5%.

Sementara itu, pemerintah masih akan melakukan sosialisasi ulang untuk proses pembebasan lahan proyek jalan tol Pemalang-Batang dan Batang-Semarang. Proses ulang itu dilakukan karena proses pembebasan lahan kedua ruas tersebut sudah lama terhenti setelah badan usaha jalan tol kedua ruas tersebut memiliki masalah pendanaan.

Proses penyediaan lahan lahan itu diyakini tuntas sesuai target, yaitu Juli 2015 dengan adanya surat penetapan lokasi untuk pembangunan kedua ruas tersebut dari Gubernur Jateng.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menuturkan sebenaranya jumlah penumpang angkutan jalan diperkirakan turun hingga 5% selama Lebaran 2015. Penurunan jumlah penumpang tersebut diharapkan akan beralih pada penggunaan moda transportasi massal lain.

Karena itu, dia mengatakan pihaknya memperkirakan peningkatan jumlah penumpang yang menggunakan moda transportasi udara dan laut, yakni masing-masing 3% dan sekitar 2%-3%. Namun, dia menyatakan penurunan itu dikhawatirkan justru beralih kepada pemantan transportasi darat pribadi.

Salah satu pemicu peningkatan animo masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi, sebutnya adalah keberadaan infrastruktur jalan tol yang jauh lebih panjang dan lebih baik pada tahun ini.

“Selama Lebaran 2015 lonjakan pengguna transportasi pribadi diperkirakan berkisar 5%-7%.”

Data hasil pantauan tim posko lapangan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat di enam titik pemantauan arus lalu lintas menunjukan pertumbuhan mobil pribadi selama Lebaran tahun ini mencapai 5,80% atau menjadi 1,69 juta unit dibandingkan tahun lalu yang tercatat 1,59 juta unit. Jumlah sepeda motor bahkan diperkirakan lebih signifikan, yakni mencapai 7,77% menjadi 2,02 juta unit dari 1,88 juta unit pada tahun lalu.

sumber :

Minggu, 14 Juni 2015

Ada 9 Titik Macet dan 25 Pasar Tumpah di Mudik Lebaran

Kemenhub sudah antisipasi kemacetan saat musim mudik lebaran tahun ini.

ILUSTRASI

Dream - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Republik Indonesia memprediksi pada musim Lebaran 2015, akan terdapat sembilan titik kemacetan di Pulau Jawa.

Berdasarkan data Rencana Operasi Angkutan Lebaran 2015 Kemenhub, beberapa wilayah yang berpotensi besar memberikan hambatan lalu lintas para pemudik adalah Merak, Cikampek, Nagrek, Cirebon-Pejagan-Brebes, Ciregol, Sumpiuh, Akses Tol Semarang-Ungaran, Ambarawa dan Porong-Sidoarjo.

Selain itu, Kemenhub menambahkan, fenomena pasar tumpah juga masih akan jadi salah satu penyumbang besar kemacetan. Dari begitu banyak lokasi, ada 25 titik pasar tumpah yang diprediksi bakal meramaikan lalu lintas jalur Pantai Utara Jawa (Pantura).

Mulai dari Karawang hingga Cikampek, pasar tumpah tersebut antara lain, Pasar Johar Karawang, Pasar Cikampek, Pasar Simpang Mutiara, Pasar Simpang Tiga Cikampek, Pasar Sukamandi dan Pasar Ciasem.

Memasuki wilayah Pamanukan sampai Indramayu, beberapa titik pasar antara lain, Pasar Pusaka Negara, Pasar Sukra, Pasar Patrol, Pasar Eretan Wetan, Pasar Kandang Haur, Simpang Tiga Karang Sinom serta Simpang Tiga Jangga.

Sementara mulai dari Indramayu, Cirebon hingga ke ujung jalur Pantura di Losari, Jawa Tengah jumlah pasar tumpah yang diprediksi akan menyumbang kemacetan masih banyak. Diantaranya, Pasar Kertamaya, Pasar Tegal Gubug, Pasar Jamblang, Pasar Minggu, Pasar Plered dan Pasar Kue.

Selanjutnya masih ada Pasar Bangkir, Pasar Karangampel, Pasar Celancang, Pasar Mundu, Pasar Gebang, serta Pasar Losari.

Untuk menyiasatinya, Kemenhub bersama Korlantas Polri telah melakukan survei kondisi jalan sejak 5 Mei 2015. Kedua pihak terkait tersebut pun menjanjikan kondisi jalan akan lebih kondusif dari tahun sebelumnya.

Sebab, Kemenhub dan Polri menargetkan, armada pemeliharaan rutin sudah mulai beroperasi sejak H-50 Idul Fitri untuk melakukan beberapa pekerjaan. “Jalan bebas lubang, semua ruas teraspal tidak ada yang agregat, bermarka, bahu jalan rapi, median bersih, rambu-rambu cukup, serta kapasitas jalan tidak boleh berkurang dari kondisi semula,” tulis Kemenhub dalam Rencana Operasi Angkutan Lebaran 2015.

sumber :