javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Tampilkan postingan dengan label Pantura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pantura. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Mei 2017

Mudik Lebaran, Menteri PUPR Imbau Masyarakat Lewat Jalur Pantura


Pembangunan 4 jalan layang (Klonengan, Dermoleng, Kesambi, dan 
Kretek) di atas perlintasan kereta api akan rampung pada pertengahan Juni 
dan bisa dilalui saat Mudik Lebaran 2017. 
(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengimbau masyarakat menggunakan jalur pantai utara (Pantura) saat mudik Lebaran tahun ini. Karena, banyak beberapa jalan tol di Pantura yang sudah fungsional.

"Jalur Pantura, jalan nasionalnya sudah oke, jadi kami beri perhatian khusus kepada Pantura saat mudik. Namanya mudik juga tidak hanya ada di Jawa tapi di Sumatera," ungkap Basuki, d‎itemui di komplek perkantoran BI, Jakarta Pusat, Rabu 31 Mei 2017.

Salah satu jalan tol fungsional yang bisa dilalui pemudik pada tahun ini, yaitu ‎jalur Brebes Exit (Brexit) hingga Desa Gringsing, Weleri, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Jalur tol tersebut sepanjang 110 kilometer.

"Saya pastikan tol fungsional dengan lean concrete (LC) setelah Brebes Timur sampai Weleri, Kabupaten Batang. Itu panjangnya 110 km dengan enam pintu keluar, dua ke jalan nasional Pantura dan empat ke jalur selatan," ungkap Basuki.

‎Dengan menggunakan tol fungsional seperti itu, menurut Basuki, maka untuk rekayasa lalu lintas akan sangat mudah dan fleksibel jika menghadapi situasi kepadatan dan macet di jalur mudik tahun ini. Sebab, dari arah Pejagan ke Purwokerto ada tambahan empat jalan layang baru di perlintasan kereta api.

"Itu sangat signifikan karena di lintas sebidang itu dalam sehari ada 90 kali berhenti karena kereta api lewat dan jika saat mudik bisa bertambah jadi 97 kali. Kalau tiap kali berhenti lima menit berarti per hari delapan jam harus berhenti. Itu macetnya ke mana-mana. Untuk empat jalan layak itu, H-10 besok Lebaran sudah mulai beroperasi," tutur Basuki.

Lalu, lanjut dia, kondisi lalu lintas di Pejagan ke Purwokerto juga sudah sangat baik. "Jalur Pantura mantap siap dilalui pemudik. Hanya saja jalur selatan ada sedikit perbaikan di dua tempat, daerah Wangon dan dekat Cilacap. Juga ada Cilacap ke Yogyakarta, itu juga mantap," terang Basuki.

Adapun ruas tol Semarang hingga Solo sudah bisa beroperasi. Jangkauan perlintasannya hingga Salatiga. "Itu melengkapi Semarang-Ungaran, Ungaran ke Bawen, dan Bawen ke Salatiga," pungkas Basuki.

Sumber :
metrotvnews

Rabu, 31 Juli 2013

Mudik Lewat Pantura atau Selatan? Ini Perbandingan Jalannya

Para pekerja melakukan perbaikan jalur Pantai Utara (Pantura) di Jalan 
Ahmad Yani, Cikampek, Jawa Barat, Sabtu (27/7/2013). Rencananya 
proyek perbaikan ini akan rampung pada 10 hari sebelum Hari Raya 
Idul Fitri. | KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA

JAKARTA, KOMPAS.com — Anda yang ingin mudik ke sejumlah kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, atau Jawa Timur, ada baiknya mempertimbangkan kondisi jalan di dua jalur yang ada, yakni jalur pantai utara atau pantura dan jalur selatan.

Penelusuran Kompas.com beberapa waktu terakhir menunjukkan jalan selatan lebih mulus dari pantura.

Pantura dari Jakarta

Jalur pantura dimulai dari keluar tol Cikopo belok kiri ke arah Simpang Jomin-Indramayu-Cirebon-Tegal-Semarang, dan sebagainya. Meski secara umum relatif baik, kondisi jalan di sana penuh tambalan aspal hingga bergelombang.

Beberapa titik yang kondisi jalannya demikian antara lain di jalan setelah Simpang Jomin hingga ke Kandanghaur. Setelah itu, aspal baru mulus hingga Indramayu dan Cirebon.

Kondisi aspal penuh tambalan dan bergelombang kembali terjadi di Brebes selepas tol Kanci hingga ke Pemalang. Di Pemalang, kondisi jalan kembali mulus hingga Alas Roban dan kembali bergelombang hingga ke Semarang.

Meski demikian, jalur Pantura tergolong lebar dan telah dilengkapi dengan pembatas jalan yang permanen, marka jalan, serta rambu jalan. Hanya saja, masih ada beberapa ruas jalan yang penerangan jalan di malam harinya tampak kurang memadai, misalnya di Kota Pemalang hingga ke Alas Roban.

Dari segi pemandangan di sekitarnya, jalur pantura tergolong membosankan. Selain jalannya lurus dan jarang tikungan, keadaan di sepanjang jalur itu relatif sama, yakni deretan permukiman, rumah makan, atau bentangan sawah. Hal ini dapat memicu kantuk bagi pengemudi yang melintas pantura.

Data dari Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Jawa Barat, angka kcelakaan di jalur Pantura turun 17 persen antara tahun 2011 dan 2012. Tahun 2011 angka kecelakaan mencapai 65 dan di tahun 2012 angka kecelakaan menjadi 54 saja.

Jalur selatan


Untuk jalur selatan, dimulai dari Bandung keluar Cicalengka-Nagreg-Garut-Tasikmalaya-Ciamis -Banjar dan kota lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Berbeda dengan jalur Pantura yang penuh tambalan aspal dan bergelombang, jalur selatan memliki kondisi jalan yang tergolong cukup mulus. Hanya ada beberapa titik yang berlubang, tapi secara signifikan tak mengganggu arus lalu lintas.

Namun, struktur jalan di jalur selatan lebih sempit, berkelok-kelok, dan menanjak-menurun ketimbang jalur pantura. Itulah yang harus diwaspadai para pemudik, terutama melintas malam hari. Terlebih, ruas Nagreg hingga Ciamis, tampak tidak didukung penerangan yang cukup. Penerangan hanya dibantu lampu rumah di sepanjang jalan.

Keuntungan di jalur selatan ini, pengendara tidak lekas bosan dengan situasi jalan yang berkelok -kelok dan menanjak-menurun. Terlebih, pemandangan Gunung Ciremai serta desa-desa di kakinya memanjakan sepanjang perjalanan pemudik.

Data dari Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Jawa Barat, angka kecelakaan lalu lintas di jalur selatan meningkat 56 persen dari tahun 2011 hingga 2012. Jika di tahun 2011 angka kecelakaan mencapai 42, di tahun 2012 menjadi 60. Oleh sebab itu, pemudik diminta tetap waspada.

Selamat mempersiapkan mudik! 
 
sumber : 
 

Sabtu, 27 Juli 2013

36 Titik Rawan Bencana Alam di Jalur Mudik 2013

Injen Pol. Suhardi Alius. ANTARA FOTO/Reno Esnir
 TEMPO.CO, Bandung - Kepolisian dan Dinas Bina Marga Jawa Barat mencatat sedikitnya terdapat 36 titik rawan bencana alam longsor dan banjir di jalur mudik Jawa Barat. Di jalur Pantai Utara Jawa terdapat 8 titik rawan, jalur tengah 6 titik, jalur selatan 12 titik, dan jalur penyangga 10 titik.

Kepala Polda Jawa Barat Inspektur Jenderal Suhardi Alius memastikan polisi bersama pemerintah sudah menyiapkan antisipasi bila bencana tiba-tiba melanda jalur mudik. "Untuk antisipasi bencana longsor misalnya, kami berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menempatkan alat berat eskavator di daerah dekat titik rawan,"ujar dia saat jumpa pers di Bandung, Senin, 22 Juli 2013.

Juru bicara Polda Jawa Barat Komisaris Besar Martinus Sitompul menambahkan, selain menyiagakan alat berat, polisi dan Dinas Perhubungan sudah memasang rambu peringatan di jalur sekitar area. "Selain itu, kami juga sudah menyiapkan pengamanan terbuka dan tim evakuasi. Total personel yang disiapkan untuk menghadapi bencana alam sedikitnya ada 468 orang untuk 26 titik rawan bencana di jalur mudik," kata dia kepada Tempo, Selasa, 23 Juli 2013.

Berdasarkan data rapat koordinasi Polda dan Dinas Bina Marga Jawa Barat, bencana yang mengancam jalur mudik dan penyangga/alternatif adalah tanah longsor, lahan amblas, dan banjir. Beberapa titik rawan longsor dan banjir antara lain mengancam jalur Cileunyi-Cadas Pangeran-Sumedang-Cijelag. Jalur Nagreg-Limbangan -Gentong-Rajapolah dan Jalur Nagreg-Kadungora-Leuweung Tiis-Garut. Juga jalur Ciamis-Banjar-Batas Jawa Tengah.

Di jalur alternatif dan wisata, bencana longsor dan banjir mengancam jalur Majalaya-Cijapati-Garut. Jalur Bandung-Lembang-Tangkuban Parahu-Jalan Cagak-Subang. Jalur Purwakarta -Wanayasa-Cagak-Cikaramas-Sumedang. Jalur Cipasung-Kuningan-Waled-Ciledug-Losari. Jalur Majelengka-Talaga-Wado-Malangbong.

Jalur alternatif dan wisata Soreang-Ciwidey-Rancabali-Balegede-Naringgul-Cianjur Selatan. Jalur Cianjur-Sukanagara-Sindang Barang- Cianjur -Selajambe-Cobogo-Cibeet. Jalur Bandung-Pangalengan-Talegong-Cisewu-Rancabuaya Garut. Jalur Cikajang-Cilauteureun. Titik-titik rawan longsor dan tanah amblas juga terdapat di jalur tol Cikampek dan Purwakarta-Bandung-Cileunyi. Juga di jalur kereta api Jakarta-Purwakarya-Bandung-Garut-Tasikmalaya-Banjar. 
 
sumber :

Lelah saat Mudik? Polsek di Jalur Mudik akan Dijadikan Rest Area, Ada Pijat Refleksi

Jakarta - Polda Metro Jaya akan menyiapkan sejumlah Polsek, sebagai tempat 'rest area' bagi pemudik. Polsek yang disiapkan sebagai rest area ini, khususnya yang berada di jalur perlintasan bagi para pemudik.

Wakil Kepala Polda Metro Jaya Brigadir Jenderal Sudjarno mengatakan, pemudik dapat beristirahat di kantor Polsek yang dijadikan rest area itu untuk melepas lelah. Pemudik bisa mendapatkan pijat gratis dan juga pemeriksaan kesehatan oleh dokter Polda Metro Jaya.

"Kalau yang mau pijat, ada pijat refleksi gratis. Kalau yang mau salat, ada mushola, silakan gunakan saja," kata Sudjarno saat berbincang, Jumat (26/7/2013).

Sudjarno mencontohkan, Polsek yang berada di jalur perlintasan pemudik yang mengarah ke Merak, Banten seperti di Kedaung, Ciputat, Tangerang Selatan. Sejumlah Polsek di kawasan Bekasi yang menjadi jalur perlintasan pemudik menuju ke Jawa.

"Polsek ini nantinya akan dijadikan Posko pemudik," kata dia.

Selain mendirikan Posko, Polda Metro Jaya juga menyiapkan Pospam di beberapa titik di kawasan Jakarta dan sekitarnya.

sumber :

Ini Rencana Rekayasa Lalu Lintas di Cikampek saat Mudik 2013

Arus kendaraan yang padat di jalan tol Cikanpek (ANTARA)

Jakarta, GATRAnews - PT Jasa Marga bersama jajaran kepolisian akan merekayasa lalu lintas di sejumlah titik jalan tol milik BUMN Tol itu untuk memperlancar arus mudik dan balik Lebaran 2013. Rekayasa lalu lintas dilakukan menyusul perkiraan adanya lonjakan pengguna lalu lintas dari Jakarta, Bogor, Bekasi, dan Tangerang menuju Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

"Pengaturan lalu lintas tahun lalu di ujung Cikampek kurang baik karena itu, tahun ini sejumlah rekayasa lalu lintas tetap akan dilakukan dan diharapkan lebih baik karena Korlantas Polri tahun ini ikut bergabung. Beda dengan tahun lalu yang hanya Polda Jabar," kata Dirut PT Jasa Marga Tbk Adityawarman didampingi Direktur Operasi Hasanudin kepada pers di Jakarta, Kamis.

Menurut Adityawarman sejumlah titik yang akan dilakukan rekayasa adalah di Simpang Susun Cikunir dan menjelang Gerbang Tol (GT) Cikopo/Cikampek.

"Saat terjadi kepadatan pada arus mudik di GT Cikampek, maka di gerbang tol tersebut hanya difungsikan sebagai gerbang keluar saja. Kendaraan dari arah Cikampek menuju Jakarta yang akan masuk tol diarahkan melalui Kota Bukit Indah dan masuk melalui Gerbang Tol Kalihurip Selatan atau melalui GT Sadang," katanya seperti dikutip Antara.

Dikatakannya, bila terjadi kemacetan di ujung Tol Cikampek arah Pantura, yang diperkirakan imbasnya akan mencapai jalan tol Jakarta-Cikampek, maka Jasa Marga dan Kepolisian akan melakukan pengaturan pengalihan arus lalu lintas mulai dari Simpang Susun Dawuan.

Bila kepadatan kendaraan sudah mencapai Simpang Susun Dawuan, pengguna jalan tol yang hendak menuju arah Pantura diarahkan untuk belok ke arah Tol Cipularang dan keluar di Gerbang Tol Sadang. Untuk selanjutnya melalui Subang, Cikamurang, Kadipaten dan Cirebon.

"Dan apabila jalur Pantura macet total, Kepolisian akan mengatur kendaraan yang akan menuju Jawa Tengah atau Jawa Timur untuk melalui Lintas Selatan yakni masuk Cipularang, keluar di Gerbang Tol Cileunyi, Sumedang, Kadipaten dan Cirebon, bisa juga melalui Nagrek, Malangbong, Tasikmalaya, dan seterusnya," katanya.

Untuk mengantisipasi hal ini, tambah Adityawarman, Jasa Marga sudah menyiapkan petugas di titik-titik rawan kemacetan dan rambu-rambu di tempat-tempat strategis untuk memudahkan pengguna jalan tol mencari alternatif yang sesuai dengan tujuannya.

"Dengan demikian ada tiga jalur alternatif untuk menuju Cirebon, yaitu keluar Gerbang Tol Cikampek kemudian lewat Indramayu, keluar Gerbang Tol Sadang kemudian lewat Kadipaten dan keluar di Gerbang Tol Cileunyi kemudian lewat Sumedang. Pemudik bisa memilih jalur yang lebih lancar ketika jalur lainnya padat," katanya.

Adityawarman juga memastikan, saat arus mudik dan balik terjadi, maka sejumlah perbaikan jalan berlubang di sepanjang Jalan Tol Jakarta-Cikampek dipastikan sudah selesai sehingga pemudik bisa lebih nyaman.

"Jalan berlubang itu karena truk bermuatan lebih. Pastinya, kami sampaikan jalan tol kami, kondisinya jauh lebih baik dari Pantura," katanya. (DH)
 
sumber :

Siap Mudik? Jalur Pantura Sudah Aman DIlewati

Perbaikan jalan Pantura di kilometer 193,600 di Pejagan,
kecamatan Tanjung, Brebes, Selasa (16/7).
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Perbaikan jalan di sepanjang jalur mudik segera tuntas dalam beberapa hari. Kondisi jalan hampir seluruhnya siap menyambut pemudik. Meski begitu, macet dan longsor masih menjadi ancaman terbesar.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah melakukan pelebaran jalan, pembuatan flyover, dan underpass untuk memecah macet. "Kami sudah memberikan usul jalur berlawanan arus (contraflow) di jalan pantura ke Kementerian Perhubungan (Kemenhhub) dan kepolisian," ujar Menteri PU Djoko Kirmanto, kemarin.

Jalur pantura, kata Djoko, sudah aman dilewati pemudik. Pada jalur ini, setiap harinya melintas 44 ribu kendaraan. Ketika arus mudik mengalir, dia memperkirakan jumlah kendaraan yang melintas jalur pantura meningkat enam persen. Anggaran penanganan jalur pantura tahun ini sebesar Rp 1,2 triliun. Penyerapan anggarannya sudah sebesar 40 persen. Jalur pantura yang sudah dibeton sepanjang 229 kilometer.

Titik kemacetan di Sumatra berada di jalan Lingkar Barat Palembang, Sumatra Selatan, dan Jalan Soekarno-Hatta (Bandar Lampung bypass). Di dua ruas jalan itu, Kementerian PU meningkatkan kapasitas jalan dengan mengubah dua lajur menjadi empat lajur sepanjang 8,73 kilometer (km).

Kemacetan di Jawa Barat bakal terjadi di Cilegon-Pasauran, Cikampek-Jomin, dan Nagrek-Gentong. Solusinya bersifat klasik, yakni pengaturan lalu lintas. Di Jawa Tengah, potensi macet berada di Pejagan-Brebes, Semarang, dan Yogyakarta. Macet diurai dengan peningkatan kapasitas jalan dan pembangunan flyover.

Di Jawa Timur, macet terjadi di jalur Bulu-Tuban dan Jombang. Jalur Bulu-Tuban memiliki lebar jalan sempit. Sedangkan, potensi kemacetan di Bali terdapat di Simpang Dewaruci. Untuk mengurai macet, Kementerian PU membangun persimpangan tak sebidang antarruas padat.

"Jalan Nagreg dalam kondisi sudah baik dan jalan lingkar Gentong sudah dibuatkan jalur paralel yang berada di atas," kata Djoko. Kementerian PU melakukan penurunan grade tanjakan di Nagreg dengan membuat trase (sumbu jalan) baru dan pembangunan jalan layang kereta api.

Djoko menegaskan, seluruh jalur mudik dilintasi dengan baik. Pihaknya bertugas dalam penyelenggaraan prasarana jalan nasional sepanjang 38 ribu kilometer dengan anggaran tahun ini sebesar Rp 30 triliun. Dia mengatakan, pemeliharaan rutin berlangsung setiap tahun. Djoko mempersilakan lembaga hukum menelusuri adanya dugaan korupsi.

Jalur mudik belum terbebas dari bahaya longsor. Bahkan, jalur mudik di Jambi masih terdapat lokasi longsoran. Pemerintah telah melakukan pergeseran trase jalan. Potensi longsor di Jawa Tengah, seperti di kawasan Tonjong, dicegah dengan dinding penahan tanah. Di Sulawesi terdapat jalur Makale-Palopo yang masih rawan longsor. Ekskavator sudah siaga di lokasi itu.

Menteri Perhubungan Evert Erents Mangindaan melakukan peninjauan di Nagrek dan Gentong, kemarin. "Secara keseluruhan jalur tersebut (Gentong) sudah bisa dilalui saat arus mudik dan balik Lebaran," kata dia. Saat Mangindaan melakukan peninjauan, pekerja tengah melakukan pengaspalan dan pemadatan jalan sepanjang 200 meter.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menegaskan jalur Nagrek-Gentong selalu menjadi titik macet saat mudik. Karena itu, pemerintah pusat perlu memberi perhatian khusus. Untuk membantu pemerintah pusat, Heryawan sudah menginstruksikan jajarannya agar siaga selama arus mudik dan balik.
 
sumber :

Soal Jalur Pantura, DPR Sarankan Kemen PU dan Kemenhub Kerjasama

Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan
Pembatas Jalan: Sejumlah pekerja membuat beton pembatas jalan dijalur 
pantura jalan Kaligawe, Kota Semarang, Jateng, Rabu (24/7/2013). 
Pembuatan pembatan jalan sepanjang 160 meter ini guna mengantisipasi 
terjadi kecelakaan pada arus mudik lebaran.
 TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perbaikan jalur Pantura tengah menjadi sorotan. Sebab, perbaikan infrastruktur jalan tersebut seperti proyek abadi.

Wakil Ketua Komisi V DPR Mulyadi menyarankan agar ada penyatuan antara Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan dalam hal konstruksi dan pengaturan perhubungan demi perbaikan jalur Pantura.

"Di PU ada Bina Marga dan di Kemenhub ada Perhubungan Darat, itu harus disatukan agar tidak saling menyalahkan," ujar Mulyadi saat dihubungi,Jumat (26/7/2013).

Ia mengatakan Kementerian PU seringkali menyalahkan dinas Perhubungan soal kendaraan dengan muatan berlebih, begitu pun pihak Perhubungan menyalahkan konstruksi jalan yang berkualitas rendah. Sehingga secara institusi, perlu ada yang mengatur dalam satu kelembagaan antara kontraktor dan pengguna jalan.

Mulyadi juga menyarankan mengenai kontraktor yang berbasis pada kinerja berjangka waktu. Semisal, kontraktor bertanggung jawab untuk jalan overlay 5 tahun dan rehabilitasi jalan 10 tahun.

"Hampir di semua negara pakai kontrak berbasis kinerja, jadi kalau jalan rusak sebelum waktunya patut dipertanyakan. diluar negeri pun Bina Mara dan PU gabung," ungkapnya.

Mengenai KPK yang berencana mengusut dugaan penyelewengan proyek ini, Mulyadi menyambut baik. Namun, dalam kontek penegakan hukum, KPK pun harus mengajak ahli dalam menangani masalah yang berulang setiap tahunnya.

"KPK masuk itu bagus dan sah-sah saja, dalam konteks pemeriksaan apa masalah yang ada. Tapi, sebelum masuk, penegak hukum harus melakukan inventarisasi masalah," ujarnya. 
 
sumber :

Jalur Pantura Diklaim Sudah Selesai

JAKARTA - Perbaikan jalan di jalur pantura Jawa dipastikan sudah selesai. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto menjamin pemudik yang melintas di pantura tidak akan terganggu.

”Pengerjaan sudah selesai dong, nggak ada kegiatan su­paya tidak menganggu pe­mudik,” katanya ditemui di Kantor Kemenko Pereko­no­mian, Jakarta, Jumat (26/7).

Menurutnya, pihaknya sudah mengecek langsung perbaikan di jalur Pantura yang sudah selesai malam kemarin. ”Saya kira baru tadi malam itu terakhir saya sudah minta Pak Dirjen naik mobil dari Se­marang sampai sini (Jakarta), menurut beliau sudah selesai, sudah siap menghadapi Le­baran, Ok. Sudah tidak ada lubang,” tambahnya.

Seperti diketahui, perbaikan jalur pantura tengah menjadi sorotan. Bahkan, Komisi Pemberantasan Ko­rupsi (KPK) menduga ada dugaan penggelembungan anggaran di dalam proyek perbaikan jalan sepanjang jalur pantura.

Terkait dugaan itu, Djoko meyakinkan tidak ada permainan anggaran di proyek tersebut. Menurutnya, jalan di sepanjang pantura Jawa itu cukup panjang, sehingga butuh perbaikan yang berkelanjutan.

”Untuk peringatan dari KPK, terus terang saya belum dengar secara langsung. Saya tidak tahu kalau misalnya ada anggapan kalau proyek kami di pantura proyek bancakan atau proyek abadi. Tapi yang jelas, jalur di pantura panjangnya 1.300 km, dan itu perlu pembenahan secara berkelanjutan,” jelas Djoko.

Proses perbaikan jalan tidak sekali jadi langsung selesai. Jalan sepanjang itu butuh waktu bertahap untuk memperbaikinya. ”Nggak mungkin kami bisa melaksanakan proyek yang langsung selesai. Seperti misalnya menutup ak­ses jalan di situ kemudian kami selesaikan proyek. Jadi me­mang bertahap. Jadi kalau di­katakan proyek di situ terus menerus dilakukan itu di titik mana dulu, karena pantura ini kan panjang,” imbuhnya.

Djoko mencontohkan, ta­hun ini ada perbaikan di Bre­bes, di satu titik sepanjang 2 km. Sebagai kelanjutannya tahun depan, perbaikan itu dilakukan di titik lain.

Dua Bahan

Sedangkan untuk pendanaan, dijelaskan Dirjen Bina Marga Djoko Harjanto, untuk anggaran perbaikan pantura tahun 2013 ini adalah Rp 1,2 triliun. Hingga Juli 2013, anggaran sudah terserap 40 persen. ”Sudah digunakan buat bangun jalan layang dan memperbaiki jalan,” jelas Harjanto.

Sedangkan anggaran untuk bahan perbaikan jalan, Ke­menterian PU menggunakan dua bahan. Pertama adalah beton. Untuk anggaran beton ini menelan Rp 4 miliar sampai Rp 5 miliar per kilometer. ”Beton bisa tahan sekitar 10 ton (beban jalan), jangka waktu 10 tahun,” jelas dia.

Sedangkan bahan kedua, adalah aspal berkualitas tinggi, dengan anggaran 20 persen lebih murah dari anggaran beton per kilometer. Beban jalan dan jangka waktu pe­ma­kaian aspal ini sama dengan beton, 10 ton dengan waktu 10 tahun. ”Beton ada 229 km yang tersebar di 1.300 km, dan aspal 106 kilometer yang tersebar sepanjang 1.300 km,” jelas Harjanto.

Sementara, terkait adanya dugaan penggelembungan anggaran pihak KPK tengah melakukan analisis temuan tersebut untuk kemudian ditingkatkan statusnya menjadi penyelidik­an dan penyidikan.Badan Pemeriksa Ke­uang­an (BPK) juga akan melakukan audit kembali proyek jalan pantura tahun anggaran 2013. Audit sebelumnya pernah dilakukan tahun 2003 lalu. Ang­gota BPK Ali Masykur Musa menilai anggaran yang dilim­pahkan untuk memperbaiki jalur Pantura tidak di­man­faatkan secara optimal. Hampir setiap menjelang Le­baran, dana cukup besar di­keluarkan untuk memperbaiki jalan. (J10,dtc-25,90)
 
sumber :

Jumat, 26 Juli 2013

Ini Perbaikan yang Diselesaikan PU di Lintas Jawa

Mudik Lebaran 2013

Tribunnews.com/Hendra Gunawan
Kondisi jalanan di Ciasem, Subang Jawa Barat, di pagi hari. 
Pada saat siang hari, lubang galian jalanan yang cukup panjang menjadi 
penyebab kemacetan yang luar biasa.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum telah menyelesaikan beberapa ruas jalan di lintas Jawa. Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan para pemudik sudah bisa melewati beberapa jalur yang ada di lintas Jawa mulai hari ini.

Lintas Jawa terbagi atas dua lintasan yakni, lintas pantai utara Jawa (Pantura) dengan panjang 1.300 kilometer dan 1000 kilometer, serta lintas selatan dengan panjang 1.200 kilometer.

Tahun lalu, Djoko menjelaskan jalur Cilegon - Pasauran mengalami kerusakan. Saat ini, ia menyebut jalur yang berada di dekat kawasan Ciasem itu sudah dibeton dan bebas dari lubang. Sedangkan yang fenomenal menurutadalah jalanan antara Pejagan dan Brebes.

"Ada jalan yang sudah tua di lintas tersebut sehingga turun dan harus diperbaiki dengan jalan dibeton," ujar Djoko di kantor Kementerian PU, Jumat (26/7/2013).

Mengenai jalur Nagrek, pada masa mudik mendatang. Pemerintah pun, kata dia, sudah membuat jalan alternatif untuk mengatasi kemacetan di Simpang Gentong, Tasikmalaya. "Kemacetan diprediksi akan tetan terjadi di sekitar pasar tumpah," jelas Djoko.

Untuk Bandara Ahmad Yani di Semarang, biasanya terjadi kemacetan. Untuk itu PU membangun flyover Kalibanteng untuk mengalokasi kendaraan di sekitar bandara.

Meski sudah 100 persen selesai, namun flyover Kalibanteng masih butuh penyempurnaan. "Untuk fungsional sudah selesai 100 persen, tapi masih ada penyempurnaan di sana-sini," jelas Djoko.

Selain itu, PU juga sudah membangun flyover juga dibangun di Jombor untuk Yogyakarta dan Peterongan di Jombang. "Flyover Jombor sudah bisa beroperasi walaupun baru 50 persen atau dipakai untuk satu jurusan," ungkap Djoko 
 
sumber :

Ini Persiapan PU Hadapi Jalur Mudik Lintas Jawa dan Sumatera

Mudik Lebaran 2013

Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan
Pembatas Jalan: Sejumlah pekerja membuat beton pembatas jalan dijalur 
pantura jalan Kaligawe, Kota Semarang, Jateng, Rabu (24/7/2013). 
Pembuatan pembatan jalan sepanjang 160 meter ini guna mengantisipasi 
terjadi kecelakaan pada arus mudik lebaran.
 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menyelesaikan beberapa perbaikan dan penambahan jalan di seluruh daerah di Indonesia. Beberapa infrastruktur jalan sengaja dipercepat PU untuk membantu para pemudik bisa pulang ke kampung halaman dengan tenang.

Untuk lintas Sumatera dari Sumatera Selatan, yang tahun kemarin masih macet di lingkar barat Palembang, sekarang sudah bisa berfungsi empat jalur. Selanjutnya untuk jalan yang sempat terganggu karena longsoran di Jambi, sekarang sudah bisa dilewati dengan aman.

"Ada tiga lintas utama di Sumatera. Pertama, lintas barat sepanjang 2.500 kilometer. Kedua, lintas tengah sejauh 2.400 kilometer. Ketiga, lintas timur, yang memiliki panjang 2.700 kilometer sudah diperbaiki beberapa ruasnya," ujar Menteri PU Djoko Kirmanto, di kantornya, Jumat (26/7/2013).

Mengenai Jalan Soekarno-Hatta di Lampung yang semua menjadi titik kemacetan pun saat ini sudah bisa dilalui dengan lancar. Djoko mengatakan pekerjaan fisik Jembatan Kelok Sembilan di Sumatera Barat pun akhirnya selesai.

"Trailer bisa dengan nyaman dan lancar melakukan perjalanan di lintas tersebut. Jembatan Kelok Sembilan akan diresmikan setelah Lebaran," jelas Djoko

Untuk lintas Jawa Djoko mengatakan para pemudik sudah bisa melewati beberapa jalur yang ada di lintas Jawa. Lintas Jawa terbagi atas dua lintasan yakni, lintas utara dengan panjang 1.300 kilometer dan 1000 kilometer, serta lintas selatan dengan panjang 1.200 kilometer.

Tahun lalu, Djoko menjelaskan jalur Cilegon - Pasauran mengalami kerusakan. Saat ini, ia menyebut jalur yang berada di dekat kawasan Ciasem itu sudah dibeton dan bebas dari lubang. Sedangkan yang fenomenal menurutadalah jalanan antara Pejagan dan Brebes. "Ada jalan yang sudah tua di lintas tersebut sehingga turun dan harus diperbaiki dengan jalan dibeton," papar Djoko.

Mengenai jalur Nagrek, pada masa mudik mendatang. Pemerintah pun, kata dia, sudah membuat jalan alternatif untuk mengatasi kemacetan di Simpang Gentong, Tasikmalaya. "Kemacetan diprediksi akan tetan terjadi di sekitar pasar tumpah," jelas Djoko.

Untuk Bandara Ahmad Yani di Semarang, biasanya terjadi kemacetan. Untuk itu PU membangun flyover Kalibanteng untuk mengalokasi kendaraan di sekitar bandara.
Meski sudah 100 persen selesai, namun flyover Kalibanteng masih butuh penyempurnaan. "Untuk fungsional sudah selesai 100 persen, tapi masih ada penyempurnaan di sana-sini," jelas Djoko. 
 
sumber :