javascript:void(0)

your direction from here


View tol semarang ungaran in a larger map
happy chinese New Year 2021

cari di blog ini

Jumat, 19 September 2014

TOL SOLO-MANTINGAN : Pemerintah Gelontorkan Ganti Rugi Tanah Rp521 Miliar, Kurang Rp103 Miliar

SRAGEN – Dana senilai Rp521,57 miliar sudah dikucurkan pemerintah melalui APBN guna membayar biaya ganti-rugi tanah terdampak proyek jalan tol Solo-Mantingan di wilayah Sragen. Sementara, diperkirakan masih dibutuhkan anggaran hingga Rp103,609 miliar untuk membebaskan tanah terdampak jalan tol yang tersisa.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Lahan Tol Solo-Mantingan II, Sihono, tak menampik anggaran yang dikucurkan untuk membebaskan ribuan tanah tol yang tergusur proyek tol sejak 2008 lalu sudah mencapai Rp521,57 miliar. “Setiap dapat dana langsung kami bayarkan kepada para penerima,” kata dia, Jumat (19/9/2014).

Pihaknya juga membenarkan diperkirakan masih ada kebutuhan dana Rp103,609 miliar untuk membebaskan lahan terkena proyek tol yang hingga kini belum rampung. “Itu sebatas estimasi. Belum angka pasti,” ungkapnya.

Sihono menerangkan saat ini progress pembebasan lahan terkena proyek tol Solo-Mantingan di Sragen mencapai 90,48%. Berdasarkan data yang dihimpun Solopos.com, lahan yang sudah dibebaskan lantaran terkena proyek tol di wilayah Sragen mencapai 201,82 hektare meliputi lahan masyarakat serta tanah kas desa.

Sementara itu, tanah yang belum terbebaskan hingga kini sekitar 21,23 hektare. Lahan yang belum terbebaskan tersebut termasuk fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos).

Dia menjelaskan prinsip dalam proses pembebasan lahan terdampak lahan tol yakni subyek dalam hal ini pemilik lahan, objek yakni tanah yang bakal dibebaskan serta alas hak yakni administrasi seperti sertifikat tanah. Sihono menuturkan selain persoalan sertifikat yang digunakan sebagai jaminan di bank atau hilang, sejumlah warga terdampak proyek tol hingga kini juga belum bisa menerima nilai ganti-rugi yang ditawarkan.

Ditegaskannya, selama ini tim terus melakukan pendekatan kepada masyarakat agar mereka menerima nilai ganti-rugi yang ditawarkan guna mengejar target penyelesaian pembebasan 100% akhir 2014 ini. “Kami berharap masyarakat bisa suka rela menyerahkan tanah mereka dan menerima nilai ganti-rugi. Kami terus memberikan pengertian kepada masyarakat,” katanya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Sementara DPRD Sragen, Bambang Widjo Purwanto, mengungkapkan sejumlah warga terdampak proyek tol di wilayah Kebonromo, Ngrampal, Sragen, hingga kini enggan melepaskan tanah mereka. Dijelaskannya, para warga tersebut menghendaki ada penyesuaian harga ganti-rugi lantaran nilai yang ditawarkan merupakan harga yang ditawarkan pada 2010 lalu.

“Mereka meminta ada penyesuaian harga. Dulu tanah kelas I harganya Rp200.000 per meter persegi sekarang mintanya Rp600.000. Tanah kelas II dulu Rp120.000 per meter persegi sekarang menjadi Rp360.000. Begitu pula tanah kelas III dulu Rp110.000 sekarang naik Rp330.000,” ujarnya.

sumber :

Senin, 15 September 2014

PROYEK MP3EI : Tol Semarang-Solo Molor, Kerugian Capai Rp140 Miliar

Solopos.com, SEMARANG — PT Trans Marga Jawa Tengah (TMJ) tahun ini merugi sebesar Rp140 miliar akibat molornya proyek pembangunan jalan tol Semarang-Solo yang terkendala pembebasan lahan. Saat ini, proses pembebasan lahan dalam proyek tol sepanjang 49,81 kilometer (km) itu masih sebatas 8%.

Di satu sisi, pemerintah pusat telah menyiapkan alokasi dana pembebasan lahan Rp1,6 triliun untuk pembangunan jalan tol sejumlah ruas di Jawa Tengah dengan target penyelesaian lahan akhir 2014. Tol Semarang – Solo merupakan salah satu bagian jalan tol Trans Jawa yang merupakan bagian dari proyek Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3EI) dibangun mulai 2009 dan diharapkan selesai 2016.

Direktur Teknik dan Operasi PT TMJ Ari Nugroho mengatakan anggaran dana untuk proyek tol Semarang-Solo sebesar Rp5 tiliun yang diperoleh dari piutang dari lembaga perbankan. “Kami masih defisit tahun ini sekitar Rp140 miliar, karena operiasional tol Semarang-Solo belum berjalan,” papar Ari kepada Bisnis, Minggu (14/9/2014).

Ari menambahkan angka defisit diketahui dari perhitungan mundurnya proyek tol Semarang-Solo hingga akhir 2014. Apabila proyek itu kembali molor pada tahun depan, kata dia, PT TMJ bisa merugi lebih banyak. Dari keseluruhan proyek tersebut, kata dia, tol yang sudah beroperasi Semarang-Bawen dan Semarang-Ungaran. Pendapatan dari operasional tol tersebut yakni Rp300 juta per hari atau Rp9 miliar per bulan.

“Sementara kami harus bayar bunga Rp15 miliar per bulan dan angsuran pokok per tiga bulan Rp50 miliar. Pendapatan tol yang utama saat ini justru untuk membayar bunga dan pokok,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Ari, PT TMJ berupaya melakukan efisiensi dengan menekan biaya operasional supaya angka kerugian tidak membengkak. Dia mengakui kerugian akan berlangsung hingga tujuh tahun pertama beroperasinya proyek tol tersebut. Ari menjelaskan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut berpengaruh terhadap nilai investasi proyek tersebut.

Pasalnya, sejumlah harga kebutuhan pokok baik pasir, semen dan batu kerikil akan naik seiring dengan kenaikan tarif energi. “Dari perhitungan awal nilai investasi Rp5 triliun mungkin akan bertambah menjadi Rp7 triliun. Belum lagi upah buruh pasti menuntut naik akibat TDL dan BBM naik,” papar dia.

Menurutnya, PT TMJ semula menargetkan pembebasan lahan atas proyek tol Semarang-Solo bisa selesai sejak dua tahun lalu. Namun hingga saat ini, proses pembebasan lahan warga belum sepenuhnya selesai.

Ari memaparkan pada jalan tol ruas Bawen – Solo akan dibangun sepuluh jembatan dengan bentang di atas 100 meter, sedangkan yang di bawah bentang 100 meter lebih banyak lagi.
Dia menambahkan proyek tol sepanjang sekitar 50 km akan dibagi menjadi sembilan paket dengan pembagian masing-masing digarap oleh kontraktor yang telah memenangkan lelang. “Pada proyek pengerjaan jalan tol ini memerlukan pembebasan lahan sekitar 350 hektare yang berada di 47 desa dan 34 kecamatan,” terangnya.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, menuturkan prioritas diberikan untuk penyelesaian ruas Bawen–Solo kelanjutan tol Semarang–Solo. “Bupati dan walikota sudah menyampaikan progres, kalau duit sudah datang, pembangunan mudah-mudahan lebih cepat,” katanya.

Mekanisme pembangunan akan dilaksanakan bersamaan di beberapa ruas di setiap wilayah dengan prospek penyelesaian dua tahun dengan target operasional tol pada 2016. Jika pembebasan lahan berlangsung sesuai target akhir tahun, maka segera dilanjutkan pembangunan konstruksi dengan perkiraan 18 bulan hingga 24 bulan.

Sementara itu, pemerintah pusat menyiapkan alokasi dana pembebasan lahan Rp1,6 triliun untuk pembangunan jalan tol sejumlah ruas di Jawa Tengah dengan target penyelesaian lahan akhir tahun ini. Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung telah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak di Semarang salah satunya membahas percepatan proyek pembangunan jalan tol yang terkendala pembebasan lahan.

“Di Jawa Tengah saat ini masih mengalami kendala utama pembebasan tanah, hasil koordinasi telah disiapkan land capping Rp1,6 triliun dan saat ini sudah di tangan Dirjen Bina Marga,” tuturnya.

sumber :

Jumat, 22 Agustus 2014

Hutama Karya Akhirnya Garap Tol Trans Sumatera

ilustrasi
Jakarta -Proyek Tol Trans Sumatera akan mulai dibangun pada tahun ini oleh BUMN Hutama Karya (HK). Rencananya ada dua ruas tol yang akan groundbreaking di awal September 2014.

"Awal September 2014 ada dua ruas yang akan groundbreaking," kata Deputi Bidang Sarana dan Prasarana, Kementerian PPN/Bappenas Dedy S Priatna, di kantornya, Jakarta, Jumat (22/8/2014)

Ruas tersebut adalah Medan-Binjai dan Palembang-Indralaya. Dua ruas tersebut dianggap lebih layak untuk dibangun lebih cepat dari ruas tol lainnya. Kedua ruas ini juga sudah terbebas dari kendala lahan.

"Kenapa dua ruas ini, karena lahannya beres lebih dulu," sebutnya.

Pelaksana proyek sudah dipastikan jatuh ke tangan HK. Meskipun masih menunggu revisi Peraturan Presiden (Perpres) soal penugasan BUMN untuk pengusahaan jalan tol.

"Sudah pasti HK yang jalankan proyeknya," ujar Dedy.

Terkait dengan proyek ini, Menko Perekonomian Chairul Tanjung juga akan menemui semua gubernur wilayah Sumatera di Padang, Sumatera Barat. Koordinasi ditujukan agar proyek dapat berjalan tanpa hambatan.

"Jadi sekalian nanti ketemu seluruh gubernur, sekalian groundbreaking Tol Sumatera," tukasnya.

Awalnya, HK disebut-sebut akan mendapat penugasan oleh kementerian BUMN untuk menggarap proyek ini. Namun soal penugasan ini masih dirumuskan dalam perpres. 

Selain itu, proyek ini juga diminati oleh swasta termasuk investor asing seperti Khazanah Nasional Berhad dari Malaysia.

Program pembangunan jalan tol ini direncanakan berlangsung sampai 2025. Tol Trans Sumatera terdiri dari 23 ruas melewati 9 provinsi sepanjang 2.628 km dengan rincian koridor utama 1.833 km dan koridor pendukung 770 km serta ruas Batu Ampar-Muka Kuning-Bandara Hang Nadim 25 km.

sumber :

PU Tunggu Dana Pembebasan Lahan Jalan Tol

Masih butuh proses di Kementerian Keuangan.

Pembangunan jalan tol. [ilustrasi].(Antara/ Prasetyo Utomo)
VIVAnews - Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, Djoko Murjanto, Jumat 22 Agustus 2014, masih menunggu penyelesaian Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) dari Kementerian Keuangan. Upaya itu dilakukan agar dana untuk pembebasan lahan bisa segera diberikan kepada proyek jalan tol yang membutuhkan. 

Djoko berharap dana tersebut bisa cair setelah Lebaran, sehingga bisa langsung disalurkan. "Tapi, memang butuh proses di Kementerian Keuangan," ujar Djoko kepada VIVAnews.

Menurut Djoko, tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dana tersebut turun. Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) juga telah diminta menggunakan dana perusahaan terlebih dahulu untuk pembebasan lahan. 

Dalam hal ini, BUJT pun sudah setuju. Sebab, mereka sudah mendapatkan kepastian dana sebesar Rp1,6 triliun tersebut akan segera dicairkan. Djoko mengatakan, anggaran ini memang sudah masuk ke dalam APBN-P. 

"BUJT sudah tahu kalau dana itu turun akan langsung kami salurkan," kata dia. 

Sebelumnya, total realisasi penyerapan dana pembebasan lahan melalui land capping hingga akhir 2013 mencapai Rp2,52 triliun dari alokasi DIPA yang direvisi sebesar Rp4,56 triliun. Dengan demikian, sisa dana land capping sebesar Rp2,04 triliun akan dioptimalkan. 

“Sisa dana land capping yang belum diberi, nanti kami akan minta lagi. Tapi, kami optimalkan dulu dana yang ada sekarang ini,” imbuh Djoko.

Dari realisasi dana land capping 2013, sekitar Rp412,56 miliar diserap oleh proyek tol Depok-Antasari, disusul oleh tol Cinere-Jagorawi Rp205 miliar, dan tol Surabaya-Mojokerto Rp174,24 miliar. Sementara itu, sisanya diserap oleh tol Jakarta Outer Ring Road West 2 (JORR W2) Rp58,18 miliar, tol Semarang-Solo Rp32,72 miliar, tol Bogor Ring Road Rp29,14 miliar, tol Pejagaan-Pemalang Rp26,45 miliar, dan tol Gempol-Pasuruan Rp9,49 miliar. (art)

sumber :

Minggu, 10 Agustus 2014

TOL SEMARANG-SOLO : Tahapan Lelang Terganjal Pembebasan Tanah


Ilustrasi proyek tol (Dok/JIBI/Solopos)
SEMARANG—Proses pembebasan tanah milik warga di tiga kabupaten yang terkena proyek pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo ruas Bawen-Solo belum mencapai 100% sehingga tahapan lelang belum dapat dimulai.
“Sejauh ini lelang belum bisa dilakukan karena pembebasan lahan di beberapa wilayah masih di bawah 75 persen,” kata Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng Ari Nugroho seperti dikutip Antara, Minggu (10/8/2014).

Terkait dengan hal tersebut, Ari mengharapkan pemerintah segera menyelesaikan proses pembebasan tanah yang terkena proyek jalan tol Bawen-Solo yang melewati Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Boyolali.


Ari mengaku tidak mengetahui secara pasti berapa persen yang tanah yang saat ini sudah dibebaskan di dua kabupaten dan satu kota itu.

“Selama pembebasan tanah belum selesai maka proses lelang dan pembangunan konstruksi belum dapat kami mulai pengerjaannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pada jalan tol Bawen-Solo akan dibangun sepuluh jembatan dengan bentang di atas 100 meter, sedangkan yang di bawah bentang 100 meter lebih banyak lagi.


“Hal itu karena kondisi wilayah proyek jalan tol Bawen-Solo berupa lembah dan perbukitan,” katanya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan proses pembebasan tanah milik warga yang terkena proyek pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo ruas Bawen-Solo selesai pada akhir 2014 agar pengerjaannya dapat secepatnya dimulai. (JIBI/SOLOPOS/Antara)

sumber :

Pembebasan Tanah Tol Bawen-Solo Belum 100%


Sejumlah mobil melintas di Jalan Tol Semarang-Solo ruas Ungaran-Bawen
yang telah diresmikan pengoperasiannya di Kabupaten Semarang, Jumat (4/4).
Jalan Tol Semarang-Solo ruas Ungaran-Bawen sepanjang 11,95 km ini
merupakan salah satu dari enam ruas tol yang akan dioperasikan pada tahun ini.
Investor Daily/ANTARA FOTO/R. Rekotomo/ss/ama/14
SEMARANG - Proses pembebasan tanah milik warga di tiga kabupaten yang terkena proyek pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo ruas Bawen-Solo belum mencapai 100 persen sehingga tahapan lelang belum dapat dimulai.

"Sejauh ini lelang belum bisa dilakukan karena pembebasan lahan di beberapa wilayah masih di bawah 75 persen," kata Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng Ari Nugroho saat dihubungi melalui telepon di Semarang, Minggu (10/8).

Terkait dengan hal tersebut, Ari mengharapkan pemerintah segera menyelesaikan proses pembebasan tanah yang terkena proyek jalan tol Bawen-Solo yang melewati Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Boyolali.

Ari mengaku tidak mengetahui secara pasti berapa persen yang tanah yang saat ini sudah dibebaskan di dua kabupaten dan satu kota itu.

"Selama pembebasan tanah belum selesai maka proses lelang dan pembangunan konstruksi belum dapat kami mulai pengerjaannya," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pada jalan tol Bawen-Solo akan dibangun sepuluh jembatan dengan bentang di atas 100 meter, sedangkan yang di bawah bentang 100 meter lebih banyak lagi.

"Hal itu karena kondisi wilayah proyek jalan tol Bawen-Solo berupa lembah dan perbukitan," katanya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan proses pembebasan tanah milik warga yang terkena proyek pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo ruas Bawen-Solo selesai pada akhir 2014 agar pengerjaannya dapat secepatnya dimulai.

Konstruksi jalan tol Bawen-Solo yang terbagi dalam tiga seksi serta sembilan paket pengerjaan.

Pada proyek pengerjaan jalan tol Bawen-Solo dengan panjang total 49,81 kilometer itu memerlukan pembebasan lahan sekitar 350 hektare yang berada di 47 desa dan 34 kecamatan.

Ruas jalan tol Bawen-Salatiga sepanjang 17,57 kilometer, Salatiga-Boyolali 24,5 kilometer, dan Boyolali-Kartasura 7,74 kilometer. (ID/ant/ths)

sumber :

Jumat, 08 Agustus 2014

Trans Marga Desak Pemerintah Bebaskan Lahan untuk Tol


Trans Marga mendesak pemerintah bebaskan lahan untuk tol.
\ Foto: Ilustrasi/Istimewa

SEMARANG - PT Trans Marga Jawa Tengah berharap pemerintah segera menyelesaikan pembebasan lahan untuk proyek tol Semarang-Solo ruas Bawen-Solo. Pembebasan lahan itu di tiga wilayah, yakni Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Boyolali.

Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jawa Tengah Ari Nugroho mengatakan, sejauh ini lelang belum bisa dilakukan karena belum ada wilayah yang pembebasan lahannya di atas 75%.

"Belum sampai (75%). Kami berharap pemerintah mensegerakan pembebasan lahan itu," katanya saat dihubungi Koran Sindo melalui telepon selulernya, Jumat (8/8/2014).

Pihaknya, sudah siap termasuk perencanaan desain dan teknik apa yang digunakan nanti dalam pembangunan ruas tol itu. Ari menyebut, desain itu sudah disiapkan sejak tiga tahun lalu.

"Jadi begini, yang penting lahan bebas dulu. Baru bisa lelang dan konstruksi. Kalau sampai lima tahun pun pembebasan lahan belum bisa, ya kami belum bisa mulai," ujar dia.

Dia mengaku tidak mengetahui secara pasti berapa persen lahan yang sudah dibebaskan di dua kabupaten dan satu kota itu. Terkait kontur wilayah, Ari menyebut di ruas Bawen-Solo memang kondisinya banyak lembah dan perbukitan.

"Nanti akan ada 10 jembatan di atas bentang 100 meter, yang di bawahnya (bentang 100 meter) lebih banyak," ucapnya.

Pembebasan tanah di dua kabupaten dan satu kota itu adalah lokasi proyek jalan tol Semarang-Solo ruas Bawen-Solo yang saat ini tengah digarap. Ruas tol sebelumnya, yakni Semarang-Bawen sepanjang 11,9 km sudah selesai dibangun dan dibuka.

Pemprov Jateng sendiri menargetkan pembebasan lahan selesai di 2014, lalu 2015 mulai pembangunan dan 2016 harapannya sudah bisa beroperasi.

Ruas tol Bawen-Solo sepanjang 49,81 km itu dibagi menjadi sembilan paket pengerjaan, dan tiga seksi. Tiap paket, dokumen dan tendernya sudah siap. Total lahan yang diperlukan 350 hektare, ada di 47 desa dan 34 kecamatan. 

Tol Bawen-Salatiga panjangnya 17,57 km, Salatiga-Boyolali 24,5 km dan Boyolali-Kartasura 7,74 km. Pembebasan lahannya diperkirakan menelan biaya Rp500 miliar.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyebut pembebasan lahan terus dilakukan. Pihaknya juga terus memonitoring perkembangannya. Dia mengakui dari tiga wilayah yang akan dilintasi tol itu, Kabupaten Semarang masih tertinggal dalam pembebasan lahan.

"Masih proses negosiasi (di Kabupaten Semarang). Salatiga memang yang paling kecil (lahan yang dibutuhkan) jadi sudah cepat (pembebasan lahannya)," kata Ganjar.

Terkait pembangunannya, Ganjar menyebut akan bisa cepat. Pasalnya, akan dibangun pararel di tiap-tiap wilayah.

sumber :

Rabu, 23 Juli 2014

Proyek Jalan Tol Pejagan-Pemalang Dimulai

Proyek Jalan Tol Pejagan-Pemalang Dimulai
Proyek Jalan Tol Pejagan-Pemalang/
Ilustrasi: Koran Sindo
BREBES - Proyek pembangunan jalan tol Pejagan-Pemalang mulai dilaksanakan tahun ini dan ditargetkan rampung pada 2016. Keberadaan jalan tol yang menjadi bagian jaringan jalan tol Trans Jawa ini diharapkan mampu menunjang jalur pantura yang kondisinya semakin padat.

Jalan tol Pejagan-Pemalang direncanakan memiliki total panjang 57,50 kilometer (km). Proyek jalan ini melintasi Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kota Tegal, dan Kabupaten Pemalang. Pengerjaan proyek dengan nilai investasi sebesar Rp 4,08 triliun ini dilaksanakan oleh PT Waskita Toll Road yang merupakan anak usaha PT Waskita Karya.

Direktur Utama PT Waskita  Choliq mengungkpakan, pembangunan jalan tol Pejagan-Pemalang terdiri dari empat seksi. Tahun ini akan dimulai pelaksanakan pembangunan seksi I dan II sepanjang sekitar 20 km. "Pembangunan seksi I dan II akan selesai dalam dua tahun ke depan," kata Choliq di sela-sela Pencangan Pembangunan Jalan Tol Pejagan-Pemalang di Pejagan, Brebes kemarin.

Ruas seksi I dengan panjang 14,20 km meliputi wilayah Pejagan hingga Brebes Barat. Sementara seksi II meliputi Brebes Barat hingga Brebes Timur dengan panjang 14,20 km. Konstruksi jalan yang dibangun tersebut akan menggunakan perkerasan kaku (rigid pavement). "Pembebasan lahan untuk pembangunan dua seksi itu sudah mencapai 95 persen," ungkap Choliq.

Choliq berujar, pembangunan jalan tol Pejagan-Pemalang akan memperkuat jaringan transportasi darat khususnya dari wilayah Jabotabek ke wilayah Jateng dan sekitarnya.  Pembangunan tol ini juga diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. "Harapannya dengan sudah dimulai pembangunan, maka pembebasan lahan seksi III bisa segera dimulai. Kami juga mengharapkan kerjasama dengan MNC Group bisa terus berlanjut untuk membangun jalan tol lainnya," tandasnya.

Direktur PT MNC Infrastructure Syafril Nasution mengatakan, pembangunan jalan tol Pejagan-Pemalang merupakan kerjasama MNC Infrastructure dengan PT Waskita Karya dengan sistem turnkey. "Pembangunannya saat ini dilaksanakan oleh PT Waskita. Nanti setelah selesai, pengelolaannya dilakukan oleh MNC," kata Syafril.

Syafril menambahkan, teknis pembangunan konstruksi jalan tol sesuai dengan standar jalan tol yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dengan 2x2 lajur pada tahap awal dan 2x3 lajur pada tahap akhir. "Tentu ini jalan tol dengan standar pemerintah," ujarnya.

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto yang hadir untuk melakukan pencanangan mengatakan, pembangunan jalan tol Pejagan-Pemalang merupakan solusi untuk mengatasi kepadatan kendaraan di jalur pantura. "Saat ini jalan pantura sudah sangat padat dan tidak mungkin dilebarkan lagi karena ada aktivitas perekonomian warga di sekitarnya. Sehingga salah satu pemecahannya adalah pembangunan jalan tol," kata Djoko kemarin.

Menurut Djoko, kondisi jalur pantura sudah sangat kritis dan rawan terjadi kemacetan panjang terutama saat arus mudik Lebaran. Maka diperlukan pembangunan infrastruktur jalan lain agar kondisi di jalur pantura yang menjadi jalur vital di Pulau Jawa tidak semakin kritis. "Kalau jalan pantura mau longgar maka pembangunan jalan tol adalah solusinya," tandas Djoko.

Untuk itu Djoko meminta pemerintah daerah terus mendorong proses pembebasan lahan untuk sejumlah proyek jalan tol lain yang saat ini belum rampung seperti jalan tol Semarang-Solo. Hal ini agar ruas jalan tol bisa semakin bertambah dan mengurangi kepadatan kendaraan di jalur utama.


Jalan Tol Pejagan-Pemalang
Seksi I (Pejagan-Brebes Barat) panjang 14,20 km
Seksi II (Brebes Barat-Brebes Timur) panjang 6,00 km
Seksi III (Brebes Timur-Tegal Timur) panjang 10,40 km
Seksi IV (Tegal Timur-Pemalang) panjang 26,90 km

sumber :

Jumat, 18 Juli 2014

Semarang-Solo Kini Hanya 2 Jam

#INFOMUDIK2014

Tol Semarang-Solo seksi II ruas Ungaran-Bawen di Desa Lemah Ireng, 
Kabupaten Semarang, Jateng, pada foto awal Januari 2014 
(arsip/NTARA FOTO/R. Rekotomo)

Semarang, Antara Jateng - Waktu tempuh perjalanan Semarang-Solo saat ini hanya 2 jam bila menggunakan mobil pribadi melalui jalan tol Banyumanik-Bawen. 

Padahal, sebelum ruas tol Ungaran-Bawen beroperasi pada April 2014, waktu tiga jam lebih mengingat jalur non-tol Ungaran-Bawen amat padat dan dengan medan cukup berat

Namun, dengan beraoperasinya tol Ungaran-Bawen, waktu tempuh Semarang-Solo bisa lebih cepat satu jam bahkan lebih.

Waktu tempuh bisa lebih cepat selain karena tol Ungaran-Bawen sudah beroperasi, menurut pantauaan di lapangan hingga Jumat, kondisi permukaan jalan umum Bawen-Solo juga nyaris mulus.

Jalan bergelombang dan berlubang yang sebelumnya banyak ditemui di Jalan Lingkar Salatiga, misalnya, saat ini sudah dipermak hingga mulus sehingga kendaraan yang melinta di JLS ini, mulai dari sepeda motor hingga truk, bisa melaju cukup kencang.

Waktu tempuh Semarang-Bawen melalui jalur non-tol biasanya lebih dari 75 menit, apalagi bila saat jam masuk dan pulang kerja. Namun, dengan melintasi jalan tol dan membayar Rp13.500, para pengemudi dari pintu tol Tembalang Semarang ke Bawen hanya butuh waktu sekitar 21 menit.

Perjalanan dari Bawen ke Solo atau Surakarta pada saat ini juga relatif nyaman karena semua permukaan jalan yang sebelumnya bergelelombang dan berlubang juga sudah diaspal. Bahkan, memasuki Kota Salatiga, bahu jalan sudah dikeraskan dan diaspal sehingga menambah lebar jalan.

Yang sedikit mengganggu adalah mulai kaburnya garis marka di jalur Banaran. Padahal jalur ini berkelok dan naik-turun dengan volume kendaraan cukup banyak. Kondisinya lebih rawan pada malam hari karena marka jalan tidak terlalu tampak.

Dari Salatiga hingga Boyolali juga nyaman karena tidak ada lagi jalan berlubang. Hanya, lebar jalan di sepanjang jalur ini memang tidak mengalami perubahan berarti sehingga. Pengemudi dituntut ekstrahati-hati melintas di jalanan dengan kontrur turun-naik ini dan banyak dilalui truk bermuatan pasir dari kaki Gunung Merapi yang secara administrasi masuk Kabupaten Boyolali.

Kenyamanan di jalan semakin terasakan setelah keluar dari Boyolali menuju Surakarta. Jalan non-tol ini cukup lebar dengan kontur rata dan permukaan jalan mulus sehingga kendaraan bisa melaju kencang. Waktu tempuh Boyolal-Surakarta saat ini hanya 15 menit, bahkan bisa kurang bila melintas pada tengah malam.

"Saya kira waktu tempuh Semarang-Solo kelak bisa hanya sekitar satu jam bila ruas jalan tol Bawen-Boyolali-Solo selesai," kata Riyan, pengemudi Nissa Grand Livina.

Riyan juga menyarankan Jasa Marga segera menerangi jalan tol rute Bawe-Ungaran-Kota Semarang karena pada malam hari, terutama jika terjadi hujan, pemandangan berkurang tajam. "Apalagi bila dilanda kabut," katanya.

sumber :

Kamis, 17 Juli 2014

Waspadai Titik-titik Macet di Kota Semarang

#INFOMUDIK2014

Ilustrasi (Okezone)
Kota Semarang selalu menjadi perlintasan pemudik yang hendak menuju Yogyakarta ataupun Solo dan sekitarnya. Tak pelak, setiap menjelang maupun selepas Lebaran, Kota Semarang selalu dipadati kendaraan berpelat luar kota hingga kadang menyebabkan beberapa kemacetan di sejumlah titik.

Bagi pemudik yang menggunakan kendaraan roda empat atau lebih, mungkin tidak menemukan persoalan, karena pemudik dapat melintas di jalur Tol Semarang yang dimulai dari Krapyak Semarang Barat hingga tembus Bawen Kabupaten Semarang. Namun, bagi pemudik yang menggunakan sepeda motor, mau tidak mau harus berjibaku dengan kemacetan yang ada di Kota Semarang.

Pantauan KORAN SINDO di lapangan, beberapa titik kemacetan yang seringkali terjadi di Kota Semarang biasanya dimulai dari Krapyak atau sebelum pintu masuk Tol Semarang. Di lokasi tersebut, perjalanan pemudik biasanya terhambat karena banyak aktivitas kendaraan yang keluar atau masuk ke dalam tol.

Beberapa ratus meter dari titik kemacetan Tol Krapyak, pemudik akan kembali menjumpai titik kemacetan yakni di kawasan Kalibanteng. Di lokasi tersebut seringkali mengalami kemacetan karena durasi traffic light yang lama mengingat lokasi itu memiliki enam persimpangan.

Lepas dari kemacetan Kalibanteng, pemudik kembali harus melewati kemacetan di daerah Jatingaleh. Di lokasi ini, seringkali kemacetan terjadi begitu parah karena di hari biasa saja kendaraan di lokasi itu seringkali menumpuk.

Selain di lokasi itu, pemudik juga akan kembali menemukan kemacetan di pintu keluar tol yakni di Jalan Setiabudi Banyumanik Semarang. Di titik ini, pemudik akan kembali dihadapkan dengan kendaraan yang keluar masuk tol sehingga biasanya kemacetan akan terjadi di sana.

"Dari pengalaman Lebaran sebelumnya, titik-titik tersebut memang selalu mengalami kemacetan terutama di pintu Tol Krapyak dan pintu keluar Tol Banyumanik dan di kawasan Jatingaleh," ujar Kasatlantas Polrestabes Semarang, AKBP Windro Akbar kepada wartawan, Kamis (17/7/2014).

Bagi pemudik roda dua yang tidak ingin terjebak kemacetan di tengah kota tersebut, dapat melintas di jalur alternatif. Dari jalur Pantura selepas Kendal, pemudik dapat berbelok kanan melintas Ngaliyan, Mijen, Cangkiran, Gunungpati hingga tembus Ungaran. Meski cukup memakan waktu lama, jalur alternatif tersebut dapat menjadi pilihan untuk menghindari kemacetan di tengah kota.

Meski begitu, pemudik harus benar-benar waspada jika memilih melintas di jalur alternatif tersebut. Sebab, selain jalurnya sempit, kondisi jalan bergelombang dan banyak memiliki turunan serta tikungan tajam.

Selain mewaspadai titik-titik kemacetan, pemudik juga diharapkan mewaspadai titik-titik rawan kecelakaan sepanjang jalur Semarang-Ungaran. Untuk jalur tersebut, yang harus diwaspadai pemudik adalah Jalur Semarang Kendal tepatnya di Jalan Raya Tugu Km 12 sampai Jalan Raya Walisongo dan Jalur Semarang Ungaran, tepatnya di Jalan Setiabudi Banyumanik Semarang. "Di lokasi tersebut sering terjadi kecelakaan lalu lintas. Saat arus mudik-balik Lebaran tahun lalu, terjadi 14 kecelakaan di jalur itu," imbuh Windro.

Meski begitu, secara keseluruhan, kondisi jalur mudik Semarang-Ungaran relatif mulus. Beberapa perbaikan jalan di jalur-jalur tersebut telah dilaksanakan sehingga tidak menghambat pemudik.

Bagi pemudik yang memerlukan tempat istirahat, sepanjang jalur mudik Semarang-Ungaran pemudik akan melintasi dua rest area dari empat rest area yang telah disiapkan Polrestabes Semarang dan Dishubkominfo Kota Semarang. Dua rest area tersebut terletak di pintu masuk Kota Semarang yakni Terminal Mangkang serta kawasan Tugumuda.

Di tempat tersebut, pemudik dapat melepas sejenak lelah dengan beberapa fasilitas pendukung yang telah disiapkan. Selain istirahat, pemudik dapat fasilitas pijat gratis, tambah angin, peta jalur mudik dan fasilitas lainnya. "Bahkan kami menyediakan petugas yang nantinya akan mengawal rombongan pemudik itu. Untuk Kota Semarang, kami sediakan 10 motor pengawal agar para pemudik dapat melintas tanpa adanya hambatan," pungkas Windro. (zik)

sumber :